“BITTERSWEET MERRIAGE”

“BITTERSWEET MERRIAGE”
45. “Kau, Perempuan Berjuta Mimpi…���”


__ADS_3

💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


💚 ★ ﷽❀“BITTEŘSWEET”❀﷽ ★ 💚


💚﷽GEMINTANG DIMATAMU﷽💚


💚 💚 ✮ ﷽ “GEMPITA” ﷽ ✮ 💚 💚


💚 ★﷽“ĞÊMPÎŤÂ MÂŘÎŜŜ”﷽★ 💚


💚 💚 ✮ ﷽ “BINTANG” ﷽ ✮ 💚 💚


💚💚💚 ✮ ﷽ “PAŘT45” ﷽ ✮ 💚💚💚


–––––


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


                                                                        


                                                                         


                                                                         


﷽“AUTHOŘ POV”﷽


“………���”


“Alhamdulillah…��� Setahun sudah berlalu sejak di kerjakannya Proyek Perumahan Keluarga Samawa milik Gita…��� Akhirnya aku tetap menyerahkan proyeknya pada Indo Power…��� Karena terikat janjinya dengan Mas Faisal…���” Ucap Bintang penuh bersyukur.


“………���” Meskipun sudah setahun lebih tak diketahui Mas Faisal dimana, tapi baik dirinya maupun Pak Hamdan yakin bahwa ada hal lain yang membuat Mas Faisal menghilang.


“………���” Tanpa di ketahui Pak Jaya, Bintang dan Pak Hamdan membuat kesepakatan untuk mencari Mas Faisal.


“………���” Selagi Pak Jaya dan anak buahnya disibukkan dengan Proyek Gita, Pak Hamdan yang sudah tidak ada hubungannya dengan Indo Power akan menyelidiki hilangnya Mas Faisal.


“Saya sangat yakin ini ada hubungannya dengan Pak Jaya…��� Kalau kita bisa menemukan Faisal…��� Kita bisa menyeret Pak tua itu ke penjara…���” Kata Pak Hamdan.


“Menemukan…��� Bukannya Mas Faisal yang pergi sendiri Pak…���” Tanya Mas Bintang heran.


“Apa Pak Bintang fikir Faisal sepicik itu…��� Sekejam itu terhadap Gema…���” Ucap Pak Hamdan balik bertanya.


“………���” Bintang diam sesaat.


“Aku mengenang kata~kata Gema waktu di balkon gedung malam itu…���” Batin Bintang menerawang jauh.


“Saya selalu meyakini itu tidak mungkin…���” Jawab Bintang meragukan itu.


“Kenapa Pak Bintang ragu…���” Tanya Pak Hamdan.


"Karena Mas Faisal yang mengatakan sendiri kalau dia…���” Ucap Bintang terpotong cepat oleh sambaran Pak Hamdan.


“Bukan Mas Faisal…��� Tapi selembar surat yang diketik…��� Kalau bukan tulisan tangan, dari mana kita tahu kalau itu dari Mas Faisal…���” Potong Pak Hamdan.


“Tapi meskipun di ketik…��� surat itu di tanda tangani langsung oleh Mas Faisal sendiri…���” Ucap Mas Bintang dengan argumennta.


“………���” Pak Hamdan mengambil selembar kertas dan menandatanganinya.


“Inikan tanda tangan Mas Faisal…���” Ucap Pak Hamdan menambahi.


“Kenapa saya tidak berfikir sampai situ…���” Gumam Bintang berbisik.


“Yang pasti…��� Mas Faisal sedang dalam keadaan tidak baik~baik saja…���” Ungkap Pak Hamdan yakin.


“Apa kita lapor polisi saja, Pak…���” Ucap Mas Bintang bertanya langkah selanjutnya.


“Jangan…���” Jawab Pak Hamdan cepat.


“Apa Pak Bintang fikir…��� Pak Jaya ini orang biasa~biasa saja…���” Ucap Pak Hamdan menambahi.


“Huhhfft…���” Bintang menarik nafas dalam~dalam.


“Terima saja tawaran Pak Jaya…��� Biarkan Anto memimpin proyek ini…��� Mereka akan sangat~sangat di sibukkan dengan proyek Gita…��� Apa lagi Anto belum berpengalaman…��� Akan ada banyak gesekan antara mereka berdua…���” Ucap Pak Hamdan kemudian.


“Tapi Pak…���” Ucap Mas Bintang ragu.


“Hanya itu jalan kita Pak Bintang…��� Selagi mereka sibuk bersama Anda…��� Saya sendiri yang akan mencari Mas Faisal…��� Pak Bisri sudah siap membantu…���” Ungkap Pak Hamdan yakin.


“Sebenarnya saya tidak bisa bekerja sama dengan orang seperti mereka…��� Tapi demi Mas Faisal saya setuju…���” Ucap Bintang menyerah.


“Baiklah…��� Saya minta jangan katakan ini pada Gema…���” Ucap Pak Hamdan.


“………���” Bintang melirik Pak Hamdan sesaat.


“Kenapa…���” Tanya Mas Bintang.


“Saya tidak tau pasti apa alasan surat itu datang dan seolah~olah Mas Faisal menceraikan Gema…��� Tapi saya tahu maksudnya mereka tidak suka Mas Faisal dan Gema bersama…���” Ucap Pak Hamdan menelisik.


“………���” Mas Bintang mendengar dengan seksama.


“Memberi tahu Gema sama halnya dengan menghapus kebencian Gema terhadap Mas Faisal…��� Itu akan membuat rencana mereka gagal…��� Dan mereka akan mencari rencana baru…���” Ucap Pak Hamdan.


“Jadi saya harus membiarkan Gema membenci Mas Faisal…���” Ucap Bintang bertanya serius.


“………���” Pak Hamdan mengangguk.


“Ya…��� Hanya untuk sementara…���” Ucap Pak Hamdan yakin.


“Huhhft…���” Bintang menarik nafas dalam~dalam.


“Alhamdulillah…��� Pencarian Pak Hamdan hampir mendekati titik terang…��� Pelan tapi pasti…��� Kenyataan jika Mas Faisal di culik oleh Pak Jaya sedikit demi sedikit menemukan bukti…��� Proyek Gita juga kurang lebih tinggal 15℅…��� Dalam tiga bulan kedepan proyek ini akan selesai…��� Dan karena aku yang begitu optimis untuk mewujudkan mimpi Gita…��� Perlahan Gita mulai membuka hati untukku…���” Batin Bintang bermonolog.


“………���” Mas Bintang tersenyum.


“Beberapa bulan ini aku bisa merasakan rumah tangga yang sebenarnya…��� Gita memperlakukanku dengan sangat baik…��� Meskipun hanya di kursi roda…���” Ucap Bintang bermonolog senangg.


“………���” Mas Bintang kembali tersenyum dan masuk ke dalam lamunannya.


“………���” “………���”


“………���”


“………���”


“………���”


“Saya benar~benar minta maaf Kak, semoga Allah mengampuni dosa~dosa saya yang telah menyia~nyiakan suami sebaik Kakak…���” Sesal Gita disuatu malam.


“………���” Bintang hanya tersenyum.


“Apakah kakak sudi memaafkan Gita…���” Tanya Gita getir.


“………���” Bintang menggenggam tangan Gita.


“Istriku, ibarat rasa benci dan cinta di dalam hati terkumpul menjadi satu…��� maka kebencian itu akan malu menampakkan dirinya…��� karena wujudnya yang teramat kecil…���” Jawab Mas Bintang.


“………���” Gita tersenyum.


“Seharusnya Gita bersyukur…��� bukan malah membenci…��� Maaf untuk waktu kita yang terbuang karena keegoisan Gita…���” Ucap Gita sangat menyesal.


“………���” Mas Bintang tersenyum mengingatnya.


“Rasanya sudah tak sabar untuk segera menyelesaikan proyeknya…��� Dan meminta Gita memotong pita untuk meresmikannya…���” Ucap Bintang dalam hatinya.


“Tang…��� Kamu ngelamun…���” Tanya sebuah suara yang akrab di telinganya.


“Hm…���” Bintang menoleh.


“………���” Gema tengah berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


“Kamu belum pulang…���” Tanya Bintang tersenyum malu.


“………���” Gema menggeleng.


“Barusan ada rapat internal…���” Ucap Gema sembari merapikan filenya.


“Apa…���” Ucap Bintan datar.


“Besok kamu juga tahu…���” Jawab Gema menyeringai.


“Tapi setidaknya saya bisa mempersiapkan untuk besok…���” Ucap Bintang penasaran.


“Aku tidak tahu…��� Ini berita baik atau buruk…��� Tapi semoga tidak membuat proyek ini semakin memburuk…���” Ucap Gema sembari menghela nafas berat.


“………���” Perkataan Gema mendadak merubah suasana hati Bintang.


“Maksudnya…���” Tanya Bintang tak mengerti.


“Mulai awal bulan besok…��� Penanggung jawab Proyek di gantikan anak Pak Jaya yang baru pulang dari Amerika…��� Padahal proyek ini hampir selesai…���” Ucap Gema menjelaskan ke khawatirannya.


“………���” Bintang hanya diam.


“Huhhhh…��� Selama ini aku mengira…��� Kalau orang yang menggunakan segala cara…��� Untuk mendapatkan apa yang mereka mau hanya ada di dalam cerita drama saja…��� Tapi saat ini, aku menemukannya di dalam sosok Pak Jaya…���” Batin Bintang bermonolog kesal.


“Kamu nggak kaget…���” Tanya Gema heran.


“Memberikan proyek ke Indo Power di bawah kepemimpinan Pak Jaya…��� Berarti harus menerima segala konsekuensinya…���” Jawab Bintang datar.


“Kamu nggak apa~apa proyek ini jadi jembatan anaknya Pak Jaya…���” Tanya Gema menelisik heran.


“………���” Bintang menggeleng.


“Dari pada itu…��� Bagaimana dengan Anto…���” Tanya Bintang mengalihkan pembicaraan.


“Ya Anto protes_lah…��� Itu sama saja memperalat…���” Ucap Gema tersenyum geli.


“………���” Bintang tersenyum.


“Hm…��� Benar dugaan Pak Hamdan…��� Akan ada gesekan antara Anto dan Pak Jaya…��� Karena keduanya sama~sama haus kekuasaan…���” Ungkap Bintang datar.


“………���” Gema tersenyum senang membayangkan keruwetan Anto.


“Mereka bertengkar…���” Tanya Bintang menelisik keadaan Anto.


“Hanya sebentar…��� Setelah itu Anto mengalah…��� Geregetan aku…��� Padahal jelas~jelas Anto marah…��� Tapi dia nggak bisa berkutik di depan Pak Jaya…���” Gerutu Gema dengan wajah sinis.


“Kamu maunya Anto melawan Pak Jaya…���” Goda Bintang menyeringai.


“Nggak gitu juga…��� Tapi kalau Mas…���” Ucap Gema menggantungkan kata~katanya.


“Huhhh…���” Gema menghembuskan nafas lelah karena tiba~tiba ia kembali teringat Mas Faisal.


“………���” Mendadak mata Gema kembali berkaca~kaca.


“Huhhh…��� Sejak kepergian Mas Faisal…��� Sudah menjadi hal biasa bagiku melihat Gema menahan tangis…��� Selalu ada moment yang mengingatkan Gema akan suaminya.…���” Desis Bintang dalam hatinya.


“………���” Di hati Bintang yang paling dalam,


“Subhanallah, selalu ingin menjerit melihat kedua mata itu menahan luka…���” Ungkap Bintang membatin.


“………���” Bintang memaksakan senyum anehnya.


“Ini akan menjadi pembelajaran untuk Anto…���” Ucap Bintang mengalihkan kesedihan Gema dengan mengajaknya bicara.


“………���” Gema mengangguk pelan.


“Semalam aku ketemu, Mas Faisal…���” Gema kembali membuka omongan.


“Maa Syaa allah, Yang bener…���” Bintang membelalakkan matanya tak percaya.


“………���” Gema mengangguk sembari tersenyum tipis.


“Di lobby apartemen…���” Jawab Gema datar.


“Tapi Mas Faisal tidak tahu kalau kamu tinggal di apartemen…���” Ucap Bintang menelisik.


“………���” Gema tersenyum tipis menyembunyikan luka. Meskipun sia-sia.


“Mungkin Mas Faisal…��� Mungkin juga bukan…���” Ucap Gema menerawang dengan tatapan kosongnya.


“Maksudnya…���” Ucap Bintang heran dan penasaran tidak mengerti.


“Yang ini terlihat lebih kurus…��� Dan nggak kenal sama aku…���” Ucap Gema menitikkan air matanya.


“………���” Bintang hanya diam, tapi pikirannya menerka~nerka.


“Entah kenapa…��� Aku masih merasa aku ini istrinya Mas Faisal…���” Ucap Gema melanjutkan.


“………���” Bintang hanya bisa diam seribu bahasa mendengarkan isi hati Gema.


“Huhhh…��� Tapi Mama selalu minta aku memulai hidup baru dengan yang lain…��� Agar aku bisa kembali bahagia…���” Ucap Gema kemudian.


“………���” Bintang tersenyum pilu.


“Huhhh…���” Gema menyeka air matanya dengan kedua tangan.


“Padahal…��� Entah dengan siapapun aku berumah tangga lagi…��� Aku tetap nggak akan bisa bahagia, sebelum aku tahu kebenaran Mas Faisal…���” Ucap Gema bermonolog sedih.


📞✆︎ “………���” Bintang hendak memberikan sapu tangannya pada Gema.


📳 “Assalamu'alaika Yaa Rasulallah…���” handphone Bintang berbunyi.


📞✆︎ “………���” Ucap salam diseberang.


📞 “Wa'alaikumussalam…���” Ucap Bintang menjawab salam dari seberang.


📞✆︎ “………���” Mendadak wajahnya pucat.


📞 “Innalilahi wainnailaihi raaji'un…���” Ucap Bintang mengucap kalimat toyyibah.


📞 “Tut… Tut… Tut…���” Mas Bintang mematikan handphonenya.


“Tap… Tap… Tap…���” Mas Bintang bergegas pergi tanpa mempedulikan Gema disampingnya.


“Brem… Breemm… Breeemmm…���” Mobil Bintang melaju kencang mencoba menyalip setiap kendaraan yang menghalanginya.


“Tes…���” Air matanya mengalir begitu saja.


“Yaa Allah, jangan lakukan hal ini lagi padaku…��� Tolong dan selamatkan istriku, Yaa Allah Rabbul Aalaamiin…���” Ucap Bintang dalam hati, dia terus berdo’a untuk keselamatan istrinya.


“………���” Sepanjang perjalanan rumah sakit Bintang berdoa, berdzikir dan berdoa.


“Âllohummâ Shâlli Wâsâllim Wâbârik Âlââ Sâyyidinââ Muhâmmâd Wâ Âlââ Âliih Wâ~Âshâbih Wâ~Âswâjih Wâ~Ummâtihi~Âjmâin…���” Ucap Mas Bintang meredam rasa khawatirnya yang berlebihan.


“………���” Mas Bintang mengemudi mobil dalam keadaan tertekan.


“Âllohummâ Shâlli Wâsâllim Wâbârik Âlââ Sâyyidinââ Muhâmmâd Wâ Âlââ Âliih Wâ~Âshâbih Wâ~Âswâjih Wâ~Ummâtihi~Âjmâin…���” Ucap Bintang saat membelokkan mobil kedalam gedung rumah sakit.


“Alhamdulillah…���” Ucap Bintang setelah sampai dengan selamat.


“………���” Tak lama kemudian mobilnya terparkir di salah satu parkiran rumah sakit.


“ambulans yang membawa Gita juga masih terparkir di UGD…���” Ucap Bintang menatap dikejauhan.


“………���” bintang segera berlari menghampiri sahabat istrinya.


“Mbak Nurul…��� Bagaimana keadaan Gita Mbak…���” Tanya Mas Bintang begitu melihat Nurul yang tengah berdiri di depan pintu UGD.


“………���” Nurul menggeleng lemah.

__ADS_1


“Begitu saya sampai di rumah kalian…��� Gita sudah terjatuh dari kursi rodanya…��� dan kepalanya terbentur lantai…���” Jawab Nurul sedih dengan air mata yang menggenang.


“………���” Bintang lemas seketika.


“Innalillahi…���” Ucap Bintang mengusap wajahnya.


“………���” Nurul masih terisak.


“Bagaimana bisa, Mas Bintang membiarkan Gita di rumah sendirian…���” Ucap Nurul emosi.


“Tidak mungkin…��� Gita bersama Bi Asih, Mbak…���” Sanggah Mas Bintang cepat.


“Bi Asih bilang Mas Bintang menyuruh dia belanja ke pasar…��� Karena klien Mas Bintang mau ke rumah…���” Potong Nurul sangat marah.


“Astaghfirullah Al~Azhiim…���” Ucap Bintang menggeleng pelan.


“Tidak mungkin…��� Astaghfirullah Al~Azhiim…��� Aku benar~benar tidak tahu, Mbak…���” Ucap Bintang lemah sembari menjambak rambutnya.


“Mana yang benar…��� Kamu betul~betul suami tidak bertanggung jawab, Mas…���” Teriak Nurul.


“Akkkhhh… sialan…���” Ucap Bintang lalu ia hanya diam sesaat.


“………���” Nurul terisak dalam kesedihannya.


“Saya tidak pernah meminta Bi asih melakukan itu…��� Saya sedang sibuk mengurus proyek Gita di kantor…��� Lagi pula buat apa saya meminta pertemuan di rumah…��� Lebih baik saya selesaikan semua masalah pekerjaan di kantot saja…���” Ucap Bintang menjelaskan.


“………���” Nurul hanya diam saja.


“Huhhh…��� Seharusnya dari awal aku sadar…��� Aku tengah berhadapan dengan siapa…��� Seharusnya aku lebih memikirkan orang~orang di sekitarku sebelum bertindak lebih jauh…��� Akhhh… Sialan juga kau Pak Tua…���” Ucap Bintang dalam hatinya.


“Jaya…���” Bisik Bintang penuh dendam.


“Tolong minta Kak Bintang untuk mengakhiri kelicikan ini…���” Gumam Nurul lembut.


“Maksud Mbak Nurul…���” Tanya Mas bintang heran.


“Itu yang Gita katakan tadi sebelum Gita benar~benar tidak sadarkan diri…���” Ucap Mbak Nurul dalam isaknya.


“………���” Bintang terdiam.


“Huhhhh…���” Mas Bintang berdeesah nafas lemah.


“Âllohummâ Shâlli Wâsâllim Wâbârik Âlââ Sâyyidinââ Muhâmmâd Wâ Âlââ Âliih Wâ~Âshâbih Wâ~Âswâjih Wâ~Ummâtihi~Âjmâin…���” Ucap Mas Bintang meredakan rasa sedih.


“………���” Mas Bintang diam karena dendam sedang bergejolak di dalam hatinya.


“Huhhhh…��� Gita benar, seharusnya aku tidak pernah menyesali apa yang aku lakukan kemarin…��� Tanganku sendirilah yang akan menghancurkan kelicikan Jaya…��� Setelah Mas Faisal di temukan…��� Aku pasti akan memberi pelajaran pada laki~laki tua itu…���” Batin Bintang bermonolog.


“………���” Mbak Nurul duduk menahan isaknya.


“Astaghfirullah Al~Azhiim…���” Ucap Mas Bintang frustasi.


“………���” Bintang larut dalam kekecewaan ppada dirinya.


“……���”


                                                                         


                                                                         


                                                                         


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


💚 ﷺ “…TO BE CONTINUED…” ﷺ 💚


💚☆ ﷽ ✮ “CEK IT OUT” ✮ ﷽ ☆💚


💚☆﷽ “TO BE CONTINUED” ﷽☆💚


💚﷽“GEMINTANG DIMATAMU”﷽💚


💚 ★ ﷽❀“BITTERSWEET”❀﷽ ★ 💚


💚﷽ “SILENT RELATIONSHIP” ﷽💚


💚✮﷽ “ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽✮💚


💚 ❀ ✮ ﷽ ✷ “ĞÊM” ✷ ﷽ ✮ ❀ 💚


💚 ✮﷽ “BÎÑTÂŇĞ MÂHÊŜ” ﷽✮ 💚


💚 ✮ ﷽ ❀ “BÎÑTÂŇĞ” ❀ ﷽ ✮ 💚


💚💚💚 ✮﷽ “PART45” ﷽✮ 💚💚💚


–––––


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


                                                                         


                                                                         


                                                                         


﷽“AUTHOR POV”﷽


                                                        


                                                        


“………���” “………���”


☆ ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜÂ AGUSSALIM > Ğêmâ


☆ BÎŇŤÂÑĞ MÂHÊŜÂ PUTRA > Bîñtâňğ


✮ ÎRGÎ ÂTH~TÂMÂMÎ SUDIRMAN > Ğîtâ


✮ FÂÎŜÂL ARIFIN PUTRA> Fâîŝâl


★ MÂЎÂ ANGGŘENI SOFIAN > Mâўâ


★ ÂŜŤŔÎĎ SOŘÂYÂ BÂCHTIÂŘ > Âŝťŕîď


❀ JÎĤÂÑ > Jîĥâñ


❀ ŇÛŘÛL > Ňûřûl


✷ PÂK MÛKĤLÎŜ > Pâk Mûkĥlîŝ


✷ RÂDITH >


♬ BÂNG HER> Bang Herman >


♬ RÂMÂ > Rama


...ﷻﷻﷻ...


♬♪♫♫♪♬


“Âllohummâ Shâlli Wâsâllim Wâbârik Âlââ Sâyyidinââ Muhâmmâd Wâ Âlââ Âliih Wâ~Âshâbih Wâ~Âswâjih Wâ~Ummâtihi~Âjmâin…���”


“………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���”


                                                                         


                                       

__ADS_1


__ADS_2