
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ★ ﷽❀“BITTERSWEET”❀﷽ ★ 💚
💚﷽“GEMINTANG DIMATAMU”﷽💚
💚 💚 ✮ ﷽ “GEMPITA”﷽ ✮ 💚 💚
💚 ★﷽“ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽★ 💚
💚 💚 ✮ ﷽ “BINTANG” ﷽ ✮ 💚 💚
💚💚💚 ✮ ﷽ “PART 6” ﷽ ✮ 💚💚💚
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
﷽ ❝AUTHOR POV❞ ﷽
“………���” Gita masih terdiam disalah satu sudut perpustakaan, menikmati gerimis dari balik jendela.
“Masih terbayang jelas ekspresi Kak Bintang, ketika di galery kemarin…��� Ada kebahagiaan pada sorot matanya…��� Tapi entah kebahagiaan dalam bentuk apa…���” Lirih Gita mendesaaah resah.
“Mencintai kenapa harus seberat ini…��� Menyimpan rasa cinta rapat~rapat demi kehormatan diri…��� Sementara yang dicintai begitu melesat tinggi, seakan sulit untuk kugapai…���” Batin Gita sembari menatap kosong.
📝 “Kepada hatimu yang entah milik siapa…��� Dosakah bila aku ingin memilikinya…��� Sudikah kau buka, bila aku ketuk perlahan pintu pertahanannya…��� Atau bagiku…��� Hanya cukup menikmati senyum dan wajahmu…���” 📝 Tulis Gita dalam buku tamu.
“Terima kasih, Mbak Gita…��� Kemarin sudah ajak saya ke galery…���” Ucap Mas Bintang tiba~tiba.
“………���” Gita sontak langsung menutup bukunya, ia tidak ingin Mas Bintang tahu apa yang dia tulis.
“Sama~sama, Kak…��� Panggil saja saya Gita…���” Pinta Gita.
“………���” Sejak pertemuan mereka.
“Sepertinya baru kali ini Mas Bintang memanggil namaku…��� Gita…���” Ucap Gita bermonolog dalam hatinya yang senang.
“Kenapa…���” Tanya Mas Bintang heran.
“Karena, saya lebih muda dari pada Kak Bintang…���” Sahut Gita menantang.
“Seseorang itu di hormati bukan dari bilangan umurnya, Git…��� Tapi dari kematangan sikap, adab, santun dan tutur katanya…���” Ucap Bintang menjelaskan hati~hati.
“Maksud Kak Bintang…���” Ucap Gita bertanya heran.
“………���” Bintang tersenyum.
“Saya menghormati Mbak Gita…���” Ucap Bintan dengan senyum.
“Huhhhh…���” Gita menarik nafas dalam.
“Degh… Degh…���”
“Maa Syaa Allah…��� Ada yang berdebar kencang dalam hatiku…��� Dan seolah semua sel~sel dalam tubuhku ikut berlarian melihat senyum yang kak Bintang berikan…���” Batin Gita bermonolog gugup.
“Huhhhh…���” Gita terus menghirup udara segar untuk menetralisir kegugupannya di depan Bintang.
“Kalau saja Tuhan menciptakan hati bisa di lihat oleh orang lain…��� Mungkin saat ini perasaanku akan terlihat sangat norak di mata Kak Bintang…���” Batin Gita terus bemonolog.
“Jangan bilang seperti itu kesembarang pada perempuan Kak…���” Ucap Gita berani.
“Kenapa…���” Ucap Bintang bertanya dengan bingung.
“Nanti mereka bisa jatuh cinta pada Kak Bintang…���” Jawab Gita sambil tersenyum.
“………���” Bintang membalas senyum Gita.
“Oh, ternyata kamu pintar membalas ucapanku…���” Ucap Mas Bintang tersenyum tipis sembari menggeleng lemah.
“………���” Bintang menatap sekeliling.
“Hening…���” Suasana hening kembali tercipta.
“Kenapa Kak Bintang menyukai galery itu…���” Tanya Gita memberanikan diri.
“Hmm…��� Bintang diam sambil menatap tumpukan buku di atas meja begitu lama, tapi aku tahu pikiran Bintang sedang tidak disini…���” Batin Gita bermonolog.
“………���” Gita terus memperhatikan Mas Bintang yang seolah tak ditempat itu. Bintang tidak merespon ucapan Gita.
“Kadang perasaan suka memang tidak butuh pertanyaan “kenapa”…���” Ucap Gita menjawab sendiri pertanyaannya.
“………���” Bintang tersadar dari lamunannya.
“Saya tidak setuju…���” Sahut Bintang menyanggah.
“Kenapa…���” Ucap Bintang bertanya.
“Memang Mbak Gita mau di sukai tanpa alasan…���” Ucap Bintang balik bertanya.
“………���” Gita menautkan kedua alisnya, heran.
“Bukankah mencintai apa adanya juga tidak butuh alasan…���” Ucap Gita melanjutkan.
“………���” Ucap Bintang menggelengkan kepalanya.
“Segala sesuatu di dunia ini pasti ada alasannya…��� Termasuk mencintai apa adanya…��� Seperti halnya kebetulan, tidak mungkin kita tiba~tiba jatuh cinta pada seseorang…���” Jawab Bintang menguraikan penjelasan diplomatisnya.
“Bisa saja…��� Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama…���” Ucap Gita menyangkal.
“Apa setiap memandang orang Mbak Gita akan jatuh cinta…���” Tanya Mas Bintang menyeringai.
“………���” Gita menggeleng cepat.
“Tentu saja tidak…���” Ucap Gema melanjutkan.
“Berarti pasti ada syarat untuk jatuh cinta pada pandangan pertama 'kan…���” Jawab Mas Bintang cepat.
“Nah syarat itu bisa jadi sebuah alasan…���” Ucap Mas Bintang kembali sambil senyum.
“………���” Gita mengangguk~anggukkan kepalanya, paham.
“Percakapan kita sepertinya semakin jauh…��� Lalu apa alasan Kak Bintang menyukai galery itu…���” Ucap Gita tak patah arang.
“Nah sayangnya…��� Tidak semua alasan bisa dikatakan…���” Jawab Mas Bintang sambil menyiratkan senyumnya pada kedua bola matanya.
“Kalau kamu mau ajak Mas Bintang berdebat…��� Kamu bukan saingan yang imbang buat beliau, nduk…���” Sebuah suara menengahi pembicaraan Bintang dan Gita.
__ADS_1
“Oh, Pak Mukhlis…���” Sapa Bintang reflek berdiri dari duduknya begitu melihat siapa yang datang.
“………���” Begitupun Gita.
“Saya sudah menyimak dari tadi…���” Kata Pak Mukhlis setelah Bintang menyalami tangannya.
“………���” Bintang hanya tersenyum.
“Saya permisi dulu kalau begitu…���” Ucap pamit Gita.
“Jangan…��� Kamu di sini saja…��� Duduklah lagi…���” Pinta Pak Mukhlis.
“………���” Bintang mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Oh iya, Pak…��� Saya sudah bertemu orang yang Bapak sarankan kemarin…���” Kata Bintang sambil menyodorkan dokumen dihadapan Pak Mukhlis.
“Wah…��� Jadi mereka sanggup untuk membuat Rumah yang berbasis pesantren tersebut…���” Ucap Pak Mukhlis sumringah.
“………���” Gita tersentak mendengar apa yang dibicarakan Pak Mukhlis.
“Iya pak…��� Dan rencana pembangunannya In syaa Allah di daerah Tangerang…��� Tapi nantinya perumahan itu akan mereka prioritaskan untuk karyawannya terlebih dahulu…���” Jawab Bintang antusias.
“Kenapa…���” Ucap Pak Mukhlis heran.
“Karena Pak Faisal sendiri masih ragu akan daya jualnya…��� Tapi beliau cukup tertarik dengan konsepnya…���” Ucap
“Mereka juga bersedia membangun fasilitasnya…���” Ucap
“Seperti yang Bapak bicarakan waktu itu…��� Mereka setuju…���” Ucap
“Termasuk potongan harga untuk ustadz…��� atau yang hafal Al~Quran…���” Ucap Pak Mukhlis mengarahkan.
“………���” Bintang mengangguk.
“Kapan realisasinya…���” Tanya Pak
“Mungkin tahun depan…��� Karena sekarang mereka sedang ada proyek pembangunan gedung baru, di Yayasan Al~Bina…���” Ucap
“Nantinya…��� Proyek itu akan menunjang pengembangan Proyek Perumahan ini…���” Ucap
“Mantap sekali…��� Ada yang perlu saya bantu…���” Ucap
“Mungkin untuk proposal ke investor saja, Pak…���” Ucap
“Itu saja…���” Ucap
“Pak Faisal ingin bertemu dengan bapak dan anak bimbing Bapak…���” Ucap
“Gampang itu…��� Bisa diatur…��� Kapan…���” Ucap
“Secepatnya…���” Ucap
“Kamu siap nduk…���” Tanya Pak Mukhlis.
“………���” Gita kembali dibuat kaget, pelan tapi pasti dia mengangguk.
“Hmmm…���” Mas Bintang mengerutkan keningnya.
“Irgie Tamami, itu Mbak Gita…���” Ucap Mas Bintang bertanya kaget.
“………���” Gita tersenyum dan kembali mengangguk.
“Saya fikir…���” Ucap Mas Bintang ragu.
“Hahaha… Hmm…���” Mas Bintang tertawa sambil mengangguk.
“Jadi Mas Bintang belum tahu kalau ini skripsi Gita…���” Tanya Pak Mukhlis.
“Sama sekali belum tahu Pak…���” Ucap Mas Bintang membenarkan
“Kalau skripsi itu bukan punya Gita…��� tidak mungkin Gita mendekati Mas Bintang hahaha…���” Ucap Pak Mukhlis menerangkan.
“Hmmm…���” Lagi~lagi Bintang tersenyum, dan matanya berbinar.
“………���” Gita hanya mencuri pandang dalam diamnya.
“Aku sangat menyukai mata Kak Bintang ketika tersenyum…��� Seolah berkilauan seperti permata…���” Batin Gita bermonolog penuh sanjungan.
“………���” Gita mengangguk mengerti.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ★ ﷽❀“BITTERSWEET”❀﷽ ★ 💚
💚﷽“GEMINTANG DIMATAMU”﷽💚
💚💚💚✮﷽ “GEMPITA”﷽✮💚💚💚
💚 ★﷽“ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽★ 💚
💚💚💚✮﷽ “BINTANG” ﷽✮💚💚💚
💚💚💚💚✮﷽ “PART 6” ﷽✮💚💚💚
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
﷽“AUTHOR POV”﷽
“………���” Gema masih memandang foto Bintang di depan galery.
“Kenapa sangat sulit untuk bertemu denganmu, Bintang…��� Seolah semesta tidak lagi mendukung pertemuan kami…��� Aku menyesal waktu itu hanya diam saja ketika di bandara…��� Aku belum meminta maaf atas kelakuanku padamu dulu, Bintang…��� Karena kenangan yang buruk ketika perpisahan…���” Membuatku tidak bisa bersikap biasa saja padamu, Bintang…��� Dan sampai sekarang, aku tidak menemukan alasan pasti…��� Kenapa aku belum bisa melupakanmu…���” Gumam Gema berbisik lirih.
“Entah karena kebodohanku…��� Atau karena perasaan bersalah yang terus menghantui…���”
(Gema)
“Huhhh…���” Gema meraup oksigen sebanyak~banyaknya untuk menetralisir perasaannya.
“Gem, lihat Jihan…���” Ucap Mas Faisal bertanya keberadaan sepupunya.
__ADS_1
“………���” Suara Mas Faisal menyadarkan lamunan Gema.
“Hmmm…���” Gema menoleh.
“Hm…��� Sepertinya Mas Faisal tengah tampak kebingungan…���” Batin Gema bermonolog.
“………���” Gema menggeleng.
“Ada yang perlu di bantu Mas…���” Ucap Gema menyadarkan Mas Faisal.
“Hehh…���” Ucap Mas Faisal tersentak kaget.
“Gem, bisa ke Al~Bina sekarang…���” Ucap Mas Faisal.
“Tapi Pak Hamdan minta saya buat handle project amal tahun depan Mas…���” Ucap Gema menyahuti permintaan Mas Faisal.
“Kapan meetingnya…���” Ucap Mas Faisal menelisik dan menimbang.
“Tadi saya hubungi Pak Mukhlis, dan beliau minta besok…��� Ini sedang saya siapkan RABnya…���” Ucap Gema menerangkan dengan santai.
“………���” Mas Faisal menekan keningnya lama, raut wajahnya tak tenang.
“Ada apa Mas…���” Tanya Gema ragu~ragu.
“Tanahnya sengketa, Gem…���” Jawab Mas Faisal lemas.
“Bukannya itu tanah wakaf…���” Ucap Gema heran.
“Iya, tanah wakaf…��� Tapi Ahli waris menuntut hak atas tanah itu…���” Ucap Mas Faisal menjelaskan.
“Tapi dokumen kepemilikannya sudah lengkap 'kan Mas…���” Ucap Gema penasaran.
“Mereka juga punya…��� Dan anehnya dokumen Yayasan hilang semua…���” Ucap Mas Faisal merasa pusing.
“Huhhh…��� Gema menarik nafas berat.
“Diam~diam tidak tega juga melihat Mas Faisal kebingungan…��� Apa lagi dulu yang mengurus dokumen di notaris adalah aku dan Jihan…��� Jadi aku harus ikut untuk mengurus semua…���” Ucap Gema membatin.
“Ya sudah…��� Ayok kita kesana Mas…���”
“Pekerjaan kamu…���” Ucap Mas Faisal bernada penuh tertekan.
“Nanti saya kabari Jihan untuk handle…��� Sedikit lagi selesai…���” Ucap Gema menjawab.
“Hm…���” Mas Faisal mengangguk dan langsung beranjak keluar.
“………���” Gita mengangguk mengerti.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ★ ﷽❀“BITTERSWEET”❀﷽ ★ 💚
💚﷽“GEMINTANG DIMATAMU”﷽💚
💚💚💚✮﷽ “GEMPITA”﷽✮💚💚💚
💚 ★﷽“ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽★ 💚
💚💚💚✮﷽ “BINTANG” ﷽✮💚💚💚
💚💚💚💚✮﷽ “PART 6” ﷽✮💚💚💚
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
﷽“AUTHOR POV”﷽
📞✆︎ “Seorang ulama besar Imam Annawawi berkata…��� Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu…��� Jika hilang agamamu maka hilang pula cintaku padamu…���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ﷺ “…TO BÊ COŇTÎŇUÊD…” ﷺ 💚
💚💚 ﷻ “…BERSAMBUNG…” ﷻ 💚💚
💚☆ ﷽ ✮ “CÊK ÎT OUT” ✮ ﷽ ☆💚
💚☆﷽ “TO BÊ COŇTÎŇUÊD” ﷽☆💚
💚﷽“ĞÊMÎŇTÂŇĞ DÎMÂTÂMU”﷽💚
💚 ★ ﷽❀“BITTÊRSWÊÊT”❀﷽ ★ 💚
💚﷽ “SÎLÊŇT RÊLATÎOŇSHÎP” ﷽💚
💚✮﷽ “ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽✮💚
💚 ❀ ✮ ﷽ ✷ “ĞÊM” ✷ ﷽ ✮ ❀ 💚
💚 ✮﷽ “BÎÑTÂŇĞ MÂHÊŜ” ﷽✮ 💚
💚 ✮ ﷽ ❀ “BÎÑTÂŇĞ” ❀ ﷽ ✮ 💚
__ADS_1
💚💚💚 ✮﷽ “PÂRT 6” ﷽✮ 💚💚💚
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚