
Keesokannya harinya.
Alisa mengeluh bosan kepada bibinya.
Alisa hendak membantu bibinya dalam menjual bunga, tetapi sayangnya ada banyak karyawan ditoko megah bibinya itu, hingga tak ada kegiatan yang harus dilakukan alisa dan syifa.
"Yasudah.
Syifa, bawa alisa berjalan jalan saja.! "
Kata bibi menyarankan.
"Wuahh, ide yang bagus bibi.
Ayo syifa, mumpung masih pagi.
Mungkin kita bisa berlari lari kecil, bagaimana? "
Tanya alisa semangat.
Syifa tersenyum sumringah.
"Baiklah,
Segera bersiap siap! "
Jawab syifa seraya berlangkah masuk kekamarnya hendak mengenakan pakaian olahraga.
Bibi zein merasa senang, pasalnya baru sehari mereka saling berkenalan tetapi pagi ini sudah akrab saja. Bibi zein berdoa semoga dua gadisnya itu selalu dipersatukan tuhan dalam kedamaian.
Keduanya telah bersiap siap sekarang. Mereka memakai setelan hampir bersamaan hanya saja berbeda warna. Alisa mengenakan trening berwarna pink sedangkan syifa berwarna coklat susu.
Keduanya berlari lari kecil menuju taman yang terletak tak jauh dari toko bibinya, meskipun berkurudung, tetapi tidak menghalangi kegiatan mereka untuk tetap berolahraga.
Injakan kaki yang serentak membuat alisa dan syifa semakin bersemangat dalam berlari, hingga jika diperhatikan, keduanya terlihat persis layaknya kembaran, senyuman cantik yang dimiliki wajah alisa juga tak membuat senyuman syifa jauh ketinggalan. Hanya saja yang membedakan mereka adalah, alisa memiliki warna yang lebih putih dibandingkan syifa.
Setelah merasa lelah, keduanya hendak beristrirahat sejenak disebuah kursi panjang yang telah disediakan di taman tersebut. Baru saja keduanya bersantai mengambil nafas, syifa malah berpamitan kepada alisa untuk membelikan dua escream. Alisa bersetuju saja, lagipula ia juga benar benar merasa sangat gerah sekarang.
Kini tinggalah alisa sendiri. Syifa sudah berpesan kepada dirinya untuk tidak meninggalkan kursi panjang ini, maka dari itu alisa bersetia duduk disana menanti syifa kembali.
Seketika alisa melamun, entah mengapa ia malah kembali memikirkan dimas sekarang. Padahal beberapa hari ini bayangan dimas mulai rapuh dari ingatannya, dan entah mengapa hari ini ia kembali memikirkan pria kejam itu.
Alisa membuyarkan lamunannya yang tak karuan, tanpa sadar ia malah berlangkah pergi dan kembali berlari. Fikirannya sibuk memikirkan dimas, hingga tanpa sadar alisa telah melupakan syifa yang berpamitan sebentar kepada dirinya tadi.
Alisa terus berlari dengan hati yang memanas. Bayangan tertawa sindiran dimas untuk dirinya dihari itu kembali menghantui fikiran alisa. Alisa menggertak giginya kesal, wajahnya benar benar memerah hendak memukul keras wajah dimas hingga berdarah. Dan tanpa sengaja, alisa malah menabrak seorang pria yang juga tengah berlari namun berlawanan arah dengan dirinya.
"Aww!! "
Pekik alisa menahan kesakitan akibat terjatuh.
"Aduh ya ampun.
Sorry mba, saya nggak sengaja! "
Ucap pria itu panik.
Pria itu hendak membangunkan alisa, dan dengan lembut alisa menolak.
"Tidak apa apa.
Ak aku baik baik saja! "
Jelas alisa gugup yang masih menahan sakit
"Dan kau lihat,
kakimu berdarah sekarang? "
Imbuh pria itu menyentuh pergelangan kaki alisa panik.
"Sudah tidak apa apa! "
Bantah alisa kembali dan menjauhkan jemari pria itu dari tubuhnya.
"Oh iya,
Kenalkan, nama saya Karan Dinatara.
Kau boleh memanggilku karan! "
Imbuh karan ramah seraya mengulurkan tangan.
Alisa menjabat tangan pria itu serta menjawab singkat
"Alisa! "
Ucap alisa lembut.
"Nama yang cantik, "
Goda karan menatap
Alisa mendadak bingung.
Bisa bisanya pria itu langsung memuji dirinya secepat itu.
"Ohia,
Aku lupa.
Aku meninggalkan temanku! "
Ucap alisa panik seketika mengingat syifa.
__ADS_1
Alisa berlangsung membalikkan tubuhnya dan berlari kencang menuju kursi panjang tempat berduduknya tadi
"Hei tunggu,
Aku belum tau dimana tempat tinggalmu! "
Teriak karan hendak menghentikan alisa.
Namun percuma saja, wanita itu sama sekali tidak menghiraukan teriakannya.
Sesampai disana alisa menemukan syifa yang nampak kebingungan. Alisa yakin jika syifa mesti tengah mencari keberadaannya yang menghilang tiba tiba.
"hei"
teriak alisa sumringah.
syifa membalikkan tubuhnya menghadap asal suara,dan benar saja,sosok yang dicarinya muncul kembali.
"Alisa,kau membuatku khawatir.
kau pergi kemana?heum?"
tanya syifa sedikit kesal.
Alisa tersenyum tipis seraya meletakkan pantatnya dikursi panjang tadi,syifa mendekat,dan menyodorkan satu escream untuk alisa.
"Ini,untukmu!"
"terimakasih!"
ucap alisa sembari mengambil.
syifa juga menduduki pantatnya persis disamping alisa,seraya menikmati escream ditangannya.
"ayo jelaskan,
kemana kau pergi tadi?"
tanya syifa kembali.
Alisa menoleh menatap syifa,ia sendiri bingung,kemana ia pergi tadi. Alisa hanya mengingat jika tadi ia menabrak seorang pria,tapi yasudahlah,sepertinya kejadian itu tidak perlu untuk diceritakan,pikir alisa.
"Aku tadi hanya berlarian sebentar kesana,
aku hanya penasaran saja!".
jawab alisa tersenyum asal.
"Ckk,kau ini.
seharusnya menungguku kembali.
kau ingat,kau tidak boleh mengulangi kejadian ini!"
"iyaiya!!"
jawab alisa mengiyakan.
Setelah keduanya menghabiskan escream,Alisa dan syifa kembali berlari lari kecil. Seraya berlari mereka juga saling berbagi kisah kehidupan dan juga pengalaman,dan dari sini alisa tau,jika ternyata syifa sudah sedari kecil kehilangan kedua orangtuanya
Banyak sekali yang bisa alisa petik dari cerita kehidupan syifa,bahwa kunci dari kehidupan adalah kesabaran,bukan memaksa kehendak untuk selalu berpihak pada kita.
"Inilah kehidupan.
setiap roda itu selalu berputar.
tidak selamanya bahagia itu milik mereka yang punya kedua orang tua dan juga orang kaya.
karna sesungguhnya,kebahagiaan itu adalah saah kita mampu bersyukur atas setiap takdir Allah"
ucap syifa tersenyum lembut.
Setumpuk airmata terlihat bernaung dikelopak mata alisa,alisa mendekati syifa dan memeluknya cepat,sepertinya berteman dengan syifa adalah sebuah keberuntungan kehidupan.
"Kenapa memelukku.
kau tau,aku sangat bau sekarang!"
ujar syifa mencoba melepaskan alisa dari tubuhnya .
"Kenapa menolak,
kau juga taukan,kalo aku sendiri juga sangat bau sekarang!"
jawab alisa mencium amis bau tubuhnya sendiri yang sudah dipenuhi keringat.
Syifa tertawa keras, melihat tingkah alisa yang terlihat seperti anak anak saja.
"Ayo pulang,
sepertinya cacingku sudah pada kelaparan!"
ajak alisa datar.
Syifa kembali tertawa
"Tidak adakah kiasan kata kata yang lebih indah dari itu?"
tanya syifa tak percaya.
Alisa tersenyum licik
"Ada!"
__ADS_1
"Apa?"
ucap syifa singkat
"Ayo pulang,
Bibi pasti sedang menungguku anak tersayangnya sekarang!"
Ucap alisa tertawa mengejek.
"Heh,!"
ucap syifa kesal dan mengejar alisa yang tengah mengejeknya.
"Ampun ampun!"
melas alisa akhirnya karna kewalahan berlarian.
"Hah,
serasa tenagaku sudah habis sekarang!"
tambah syifa yang sedang menetralkan nafasnya
*****
Syifa dan Alisa telah sampai kembali pulang.
Bibi zein menatap heran kedua putrinya itu yang begitu dipenuhi keringat.
"Mengapa keringat kalian sebanyak ini?
Astaga,sejauh mana kalian berlari?"
tanya bibi zein keheranan.
Alisa tersenyum kecut.
"Tidak jauh,
hanya saja sinar matahari sangat terik hari ini!
iyakan syifa?"
tanya alisa licik.
Syifa mengangguk lesu,tubuhnya benar benar lelah sekarang.
"Sudah sudah,
sekarang bersihkan diri kalian dahulu,
dan baru makan,oke!"
tambah bibizein yang tak sanggup mencium bau masam dari kedua tubuh wanita muda ini.
"Mengapa harus menyuruh²,
padahal kita sudah bukan anak kecil lagi!"
merepet alisa sambil berlangkah masuk.
Mendengar cemohan alisa,bibi zein dengan keras melempar sebungkus bunga hingga terkena tepat dikepala alisa
"Awww!!"
pekik alisa kesakitan sambil membalikkan tubuhnya kembali menghadap bibi.
"Hayyyoloohh,
bibi tidak sengaja.
kau bukan anak kecil lagikan,jadi tahanlah sedikit sakitmu itu ya!"
imbuh bibi zein tanpa merasa bersalah.
Syifa tertawa keras melihat nasib alisa yang begitu malang.
"Inikah yang dinamakan nasib anak kesayangan?"
ejek syifa sumringah
"Heh,
Kau sedang menertawakanku,
awas kau ya!"
Alisa kembali mengejar syifa yang nampak sangat kencang menghindari dirinya
*
*
*
*
*
Hallo..
ini episode 4.
__ADS_1
jangan lupa like dan komentar kalian