"CINTA TAK SEPUTIH KAPAS SYURGA"

"CINTA TAK SEPUTIH KAPAS SYURGA"
Episode 8


__ADS_3

Hari berganti hari,waktupun silih berganti.


Alisa masih terduduk termenung memikirkan karan yang beberapa hari ini tidak ada kabar. Sebenarnya ia ingin mundur dari hubungan ini,namun rasa dihatinya semakin hari semakin tumbuh dan tumbuh.


tokk tokk tokk tokk..


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan alisa.


Alisa bangkit dari tepi jendela berjalan hendak membuka pintu,


"bibi,kau.


aku kira syifa yang kemari!"


sapa alisa.


bibi zein tersenyum ramah seraya masuk kekamar alisa.


"Kenapa kau terlihat sangat murung sekali?"


tanya sang bibi


Alisa mengambil tempat persis disamping bibi untuk ia tempati.


"Tidak,


aku hanya tak ingin kemana-mana untuk beberapa hari ini!"


jawab alisa seadanya.


"Ehhm,yasudah.


Lalu bagaimana dengan keputusanmu terhadap karan?"


tanya bibi hati-hati


"Dimana dia?"


alisa berbalik tanya.


Ia sengaja menanyakan keberadaan karan sebab ia memang sangat cemas memikirkan karan sekarang.


Bibi tertawa renyah.


"Kau ini,


tidak bisa menutupi lagi cintamu kepada karan dihadapan bibi.


Saat ini,karan sudah terbang menemui orangtuamu,dan menunggumu disana!"


jawab bibi lembut.


"Apaa???"


potong alisa terkejut


"Kenapa kau kaget begini,


bibi berkata benar!"


jawab bibi kembali


"Bibi,apa kau sedang membohongiku"


tanya alisa kembali


bibi tersenyum simpul


"Tidak sayang,


bibi tidak membohongimu!"


"Lalu aku harus bagaimana sekarang?"


tanya alisa gugup


Jauh dilubuk hatinya sebenarnya ia senang,namun bayangan syifa juga mengganggu pikirannya.


"Kau pulanglah.


Ibumu sangat setuju kau menikah dengan karan.


Dia adalah pria yang baik"


Ucap bibi lembut.


Mulanya senyum bahagia mulai menghiasi bibir alisa ,


"Tap tapi bi,


aku bingung sekarang?"


Eluh alisa cemas.


"Apa yang kau bingungkan?"


tanya sang bibi khawatir.


"Aku ingin bibi merahasiakan ini.


Bi,syifa juga sangat mencintai karan!"


Adu alisa lesu


"Bibi tau itu,tapi karan lebih mencintaimu.


Dalam cinta, mencintai saja tidak akan cukup jika tidak dicintai!"

__ADS_1


bujuk bibi memberi nasihat.


Alisa mencoba mencerna.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang,


Aku tidak ingin menghianati syifa!"


ucap alisa cemas.


Bibi menyentuh dua bahu alisa


"Dengar,


kau pulang dan menikahlah dengan karan.


Bibi akan menemani syifa disini sampai ia akan menemukan pria yang lebih baik dari karan nanti!"


Alisa mencoba membantah


"Dan kalian tidak akan hadir dipernikahan aku bi?"


tanya alisa kaget.


"Ini demi untuk kebaikan bersama.


kau tau kan,mengorbankan perasaan itu sangatlah sakit .


Bibi bisa merasakan apa nanti yang akan dirasakan syifa jika ia ada disana!"


jawab bibi zein sedih.


Alisa mencoba menerima,bibi memang berkata benar .


Tapi ia sendiri juga tidak ingin dihari pernikahannya sang bibi dan syifa tidak hadir disana


"Bibi akan merahasiakan pernikahan kalian dari syifa sebaik mungkin, percayalah!"


bujuk bibi kembali.


Alisa mencerna kembali.


Bibi memang berkata benar, tapi bagaimana jika suatu hari nanti syifa tau,dia pasti akan sangat kecewa kepadaku,


Oh Tuhan,


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Jerit hati alisa gelisah.


"Sebaiknya bersiap-siaplah.


habiskan waktumu sebaik mungkin .


2 hari lagi kau harus pulang,kau taukan, selepas kalian menikah karan akan membawamu pergi jauh dari bibi dan juga ibumu ."


Alisa terdiam dan tak bisa berkata kata.


"Dengarkan nasihat bibi baik baik.


Setelah nanti kau menjadi seorang istri, kau harus bisa lebih sabar dalam menghadapi suamimu ataupun anak anakmu kelak.


Jangan terlalu gegabah dalam mengambil tindakan yang nantinya akan menghancurkan kehidupanmu!"


Sambung bibi kembali.


Alisa tersenyum renyah,dan lalu menghamburkan pelukan kepada bibinya.


tokk tokk tokk


Ketukan pintu kamar kembali membuat alisa dan bibi zein setengah kaget,keduanya pun langsung melepaskan pelukan satu sama lain.


"Bibi,kau disini?"


tanya syifa seraya menaruhkan talam dimeja nakas alisa


"Bibi hanya merasa cemas karna alisa sangat murung beberapa hari ini!"


jawab sang bibi tersenyum


"Alisa,kau sudah membuat bibi cemas."


ucap syifa tersenyum


"Aku bawakan roti dan susu kekamarmu,makanlah!"


sambung syifa kembali


"Ckk,kau ini.


jangan terlalu memanjakanku seperti ini.


Aku bisa keluar dan makan disana!"


jawab alisa merasa tak enak hati


"Tidak masalah.


Lagipun,aku merasa bosan jika tak ada pekerjaan seperti ini!"


jawab syifa acuh


Bibi bangkit dari duduknya


"Bibi harus keluar.


jika memang kalian merasa bosan,keluarlah dan habiskan waktu bersama!"

__ADS_1


ucap bibi zein seraya hendak keluar.


*****


"Alisa,kau ini kenapa?"


tanya syifa yang keheranan melihat tingkah alisa sedari tadi mondar mandir dihadapannya.


Alisa menatap syifa.


ia bingung harus mengatakan bagaimana agar syifa tidak terkejut dengan pernyataannya.


"Syiffa!"


panggil alisa lembut seraya berjalan mengarahnya


"Dengar,


kau jangan terkejut dengan pernyataan ku ini!"


ucap alisa cemas


"Apa yang ingin kau katakan?"


syifa berbalik tanya.


"Aku akan pulang lusa!"


ucap alisa sedih.


"Apaa??"


jawab syifa tersentak kaget.


"Dengar,


aku harus pulang dan melanjutkan pendidikanku!"


eluh alisa berbohong


Syifa menatap alisa melotot.


"Secepat itu?"


tanya syifa tak percaya


"Hmm"


jawab alisa berdehem sedih.


Alisa bisa melihat,raut wajah syifa mulai diselimuti kesedihan


"Itu artinya kau akan meninggalkanku disini"


ucap syifa berkaca kaca


Alisa terenyuh,ia takut,bagaimana jika suatu hari nanti syifa tau tentang ini dan ia akan membenci dirinya


"Aku berjanji akan sering² mengunjungimu disini!"


bujuk alisa pilu.


sebenarnya ia sendiri juga tak tega harus melakukan ini.


Syifa tak lagi mampu berkata kata,dengan segera ia menghamburkan pelukan kepada alisa


"Pulanglah,


pendidikanmu jauh lebih baik,karna itu akan menyangkut dengan masa depanmu!"


ucap syifa diselasela pelukan.


Alisa hanya diam dan menikmati pelukan dari sahabatnya itu


"Maafkan aku yang telah membohongimu seperti ini!"


teriak batin alisa.


*****


Malamnya, ketiganya nampak sama sama murung dimeja makan,tak satupun dari mereka yang berbicara,ketiganya saling bungkam seolah-olah mereka menyimpan rasa pilu yang cukup dalam dengan kepergian alisa.


Alisa sendiri semakin risih,entah cara yang dijalaninya ini adalah jalan yang terbaik,atau malah mungkin semakin memperburuk kehidupannya.


"Oh Tuhan,


aku menyerahkan semua ini kepadamu!"


jerit batin alisa.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo,


ini episode 8

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya


__ADS_2