
"Mas, aaagh...!" dessahan gadis cantik itu terdengar sangat menggaairahkan.
Marsya masih berada dalam kungkungan pria bertubuh atletis, yang sejak dua jam lalu membongkar pertahanan kesuciannya.
"Mas, bagaimana kalau Mba Jasmine tahu? Aku takut....!" tangis Marsya dipelukan pria berwajah oriental itu.
"Tenanglah sayang, kita tidak akan ketahuan, jika kamu masih seperti biasa pada Mba mu."
Pria itu mengecup lembut kening Marsya, kemudian terlelap dalam pelukan tubuh mulus itu, setelah percintaan dahsyat dengan sepupu istrinya.
.
.
Mikaila Jasmine, biasa disapa Jasmine, seorang wanita berusia 26 tahun. Berstatus sebagai istri seorang Direktur Utama di salah satu perusahaan asing.
Steiner Aliansyah pria mapan, berwajah oriental, berusia 27 tahun, keturunan Tionghoa yang memutuskan menjadi seorang mualaf. Kepribadiannya yang hangat, menjadikan dia tampak lebih berwibawa dimata kaum Hawa.
Pernikahan pasangan romantis ini sudah berjalan satu stengah tahun. Namun belum memiliki keturunan. Kesibukan yang padat, membuat keduanya tidak memiliki waktu untuk bersama. Mereka hanya bertemu saat malam, dan berpisah saat pagi. Rutinitas yang indah menurut rumah tangga mereka, tanpa ada perasaan curiga yang terbesit dipikiran keduanya.
Hari ini Steiner memutuskan menemani Jasmine, setelah berhasil dibujuk oleh istri tercinta.
Jasmine memberikan motivasi kepada para siswa sesuai jadwal yang dia terima beberapa waktu lalu, disekolah yang berbeda seperti saat ini.
Wajah tenang seorang Jasmine, sangat membius mata hati Steiner membuat tidak berkedip, menatap wajah istrinya yang sangat anggun.
Setelah mengisi beberapa kegiatan disekolah ternama di Jakarta Selatan. Steiner berjalan beriringan menuju parkiran, membukakan pintu mobil, mempersilahkan istri tercinta masuk, menahan atas kendaraan dengan tangannya, agar kepala Jasmine tidak terbentur.
“Terimakasih, Ko.”
“Hmmm.”
Bergegas Steiner menuju stir kemudi, memasuki kendaraannya, meninggalkan sekolah ternama itu, menuju kantornya.
“Kita ke kantor dulu yah, Baby. Ada yang mau Koko tanda tangani disana.”
Tentu diangguki setuju oleh Jasmine, yang tengah sibuk berbalas pesan pada layar handphone miliknya.
Steiner melajukan kecepatannya, untuk segera tiba di gedung perkantoran berlantai tiga puluh itu.
Saat tiba di kantor, mata Jasmine melihat Marsya, sudah menanti dipintu loby. Sepupu yang sangat akrab menemani suaminya selama di kantor, sebagai secretaris pribadi atas permintaan Jasmine kala itu.
__ADS_1
Kehidupan Marsya yang tumbuh sebagai gadis muda yang memiliki kemampuan dalam bernegosiasi dengan beberapa klien terbaik, menjadi raport baik bagi Steiner selama bekerja di perusahaan yang dia kelola.
Marsya Ayunda gadis berusia 22 tahun, bertubuh mungil, berkulit putih, bulu mata lentik, lulusan manajemen bisnis di salah satu universitas ternama di Jakarta, mampu memikat hati Steiner dalam diam.
Jasmine memilih turun dari mobil, menemani Steiner yang lebih dulu menemui Marsya.
“Hai Mba,” peluk Marsya pada Jasmine, setelah memberikan beberapa berkas pada Steiner.
“Hai,” Jasmine membalas pelukan Marsya.
Sementara Steiner tengah duduk disofa loby, menandatangani beberapa berkas sedikit tergesa gesa.
Jasmine mengusap lembut punggung keponakannya, “kok nggak ada kerumah lagi? Nginap, atau gimana gitu. Kangen tahu, masak asal mau ketemu, mesti di loby terus.”
“Iya, ntar aku mampir deh. Masih sibuk sama Pak Bos. Belum bisa main main,” ceritanya pada Jasmine dengan wajah sedikit menekuk.
Jasmine hanya mengangguk-anggukan kepala, sambil bersenda gurau seperti biasa.
Hubungan Jasmine dan Marsya sangatlah dekat, Almarhum Ayah Jasmine dan Ibu Marsya, adik kakak, mereka berdua adalah sepupu, keponakan dari Ayah Jasmine.
“Sayang....”
Panggil Steiner pada salah satu wanita yang masih saling bercerita akrab.
Dua wanita dihadapan Steiner, seketika melihat dengan tatapan penuh makna. Tersirat dalam benak tidak biasa, namun merupakan awal yang indah, kalimat itu keluar dari bibir seorang yang dicinta.
Jasmine menatap iris mata brown milik Steiner dari kejauhan, yang terdiam membisu, saat kedua wanita itu menoleh padanya.
Bibir Steiner terkunci rapat, tenggorokan tercekat, dadanya bergemuruh, merasakan sesuatu, saat mata mereka saling menatap.
“Ko,” Jasmine tersenyum sumringah menatap Steiner dan Marsya bergantian.
“Oogh, ya.”
Steiner gugup, melirik kearah Marsya, menjadi salah tingkah mendekati istrinya. Dia memberi berkas yang sudah ditandatangani, menjelaskan beberapa hal, kemudian merangkul pinggang Jasmine.
“Mba, permisi yah, kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan bersama?”
Jasmine menatap Steiner dan Marsya bergantian, merasakan perbedaan dari gerak tubuh keduanya.
“Ko, Koko kenapa? Melamun?” Jasmine mencairkan suasana, tetap berfikir baik, walau hatinya merasakan sesuatu.
__ADS_1
“Ooogh, enggak. Kita jalan saja. Marsya, saya jalan dulu. Nanti kabarin saya saja.”
Steiner tersenyum tipis, meninggalkan gadis itu, setelah mendapat anggukan dari secretarisnya.
Sebelum meninggalkan loby, Jasmine memeluk Marsya, meraih lengan Steiner sudah berbalik lebih dulu.
Saat sudah meninggalkan loby gedung perkantoran menuju parkiran, terdengar Steiner membuang nafas panjang.
“Koko, kayak ketahuan selingkuh!” tawa Jasmine, mengusap lembut lengan suaminya sedikit menggoda.
Steiner semakin salah tingkah, seketika keringat dingin keluar dari tubuhnya, berkali kali dia mengusap lembut kening, agar tetap tenang saat Jasmine menggoda dengan ucapan tidak biasa.
Steiner membuka pintu mobil, mempersilahkan Jasmine masuk lebih dulu, menatap kearah loby, terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan kearahnya.
“Huufgh, untung enggak ketahuan saat aku manggil sayang pada Marsya,” Steiner mengusap dadanya pelan, berjalan menuju stir kemudi.
Jasmine, menatap kearah Steiner, menyambut suaminya dengan penuh kasih sayang, tangan halus nan lembut itu senantiasa memberikan kesejukan didalam hati suami tercinta.
“Kita ke perpustakaan sekalian cafe biasa yah, Ko. Kebetulan aku rindu sama nuansa disana, atau Koko pengen makan siang apa?” tangan halus itu masih berada dibahu suaminya.
“Hmm, boleh deh. Koko juga mau menyelesaikan pekerjaan disana. Baby mau ketemu siapa?”
Steiner fokus pada stir kemudi, menatap lurus ke depan.
“Hmm, hanya mengisi kegiatan secara virtual untuk satu perusahaan. Kemaren permintaan mereka baru aku terima melalui email,” Jasmine masih tersenyum.
“Ya.”
Mereka saling bercerita seperti biasa, walau dihati Jasmine selaku istri, memiliki feeling yang sangat berbeda, saat mengingat kembali panggilan sayang, yang tidak pernah dilontarkan Steiner padanya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di perpustakaan yang terletak di daerah Kuningan.
Jasmine masih disibukkan dengan berbagai kegiatan secara virtual dengan salah satu perusahaan ternama, sementara Steiner masih fokus membalas email pekerjaannya.
Lebih dari dua jam mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, akhirnya Jasmine menutup tablet android miliknya, meletakkan kepala dibahu sang suami dengan manja.
Tiiing,
Pesan whatsApp masuk kelayar handphone milik Steiner.
[“Mas, aku sudah pulang. Sekarang sudah dirumah. Jangan lupa nanti malam mampir yah. Love you.”]
__ADS_1
__________