
Mata Jasmine melihat layar handphone milik suami, seketika merubah posisi duduknya. Dia menarik nafas dalam, menatap kearah Steiner dengan wajah tersenyum.
“Marsya?” Jasmine meminta jawaban yang jujur dari Steiner.
Tak pelak Steiner menghapus pesan yang dikirim Marsya padanya, menelan saliva dengan sangat cepat. Menatap wajah Jasmine dengan tatapan penuh perasaan bersalah.
“Hmm, oke. Bisa kita bicara baik baik, tanpa ada yang harus Koko tutupi?” Jasmine kembali menatap kearah Steiner dengan wajah tenang.
Steiner mengusap kasar wajahnya, mendengus kesal. Merutuki kebodohan yang dia lakukan.
Jasmine tersenyum sumringah, “Koko kenapa? Apa ada yang aku tidak tahu? Coba ceritakan, mungkin aku bisa menemukan solusinya.” dia meyakinkan Steiner agar jujur padanya.
Steiner terlihat, seperti pria bodoh dihadapkan dengan wanita sebaik Jasmine. Perasaannya kini bercampur aduk, bahkan lebih buruk dari yang dia pikirkan.
“Baik, Koko sebelumnya minta maaf sama, Baby.” Steiner masih berat untuk berbicara, seketika tenggorokannya mengering seperti sedang berada di padang tandus.
Jasmine menggenggam erat jemari Steiner, mengusap manja wajah suami yang sangat dia cintai.
"Aku selalu mencintai Koko, dari awal kita jumpa dan berjanji di depan penghulu," Jasmine berucap lembut.
Steiner semakin tidak bergeming, wajahnya memerah, bahkan terlihat sangat gelisah.
“Baby, kamu terlalu baik buat Koko. Maafkan Koko,” kecupnya pada punggung tangan istrinya.
Jasmine tersenyum, “Terimakasih jika Koko mengakui aku baik. Koko juga suami terbaik yang selalu setia padaku.”
Mendengar kalimat itu, seketika dada Steiner semakin bergemuruh, merasakan sesuatu yang sangat mengiris hati, bahkan dia telah berani menoreh luka kecil pada hati seorang Jasmine.
Wanita yang selalu lembut padanya, tidak memiliki kekurangan apapun, tapi dia telah berani mengkhianati istri terbaiknya, hanya karena perasaan nyaman.
Steiner memeluk Jasmine erat, mata sipit itu memerah, membendung air mata yang akan mengalir dari kelopak mata. Berkali-kali dia menciumi puncak kepala Jasmine yang tertutup hijab.
Jasmine mengusap lembut punggung suaminya. Merasakan kedamaian dan kehangatan yang tak pernah berubah, diberikan Steiner setiap hari padanya.
“Oke, kalau Koko tidak bisa bicara hari ini, tidak mengapa. Mungkin butuh waktu untuk jujur padaku. Aku percaya Koko, sampai kapanpun.”
Steiner semakin tidak melepaskan pelukannya, wajah oriental itu semakin mengecup wajah syurganya dengan sangat bahagia.
“Pasti Koko akan bicara pada baby, janji!” Steiner mendekap pipi mulus istrinya, mengecup lembut bibir itu tanpa perasaan sungkan.
Kriuk, kriuk, kriuk..
Perut keduanya saling bersahutan, membuat mereka mengalihkan perhatian pada perut yang tengah berdemo, meminta asupan gizi, setelah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Jasmine tertawa, menggoda puncak hidung suaminya dengan manja, menepis semua pikiran negatif tentang Steiner dan Marsya.
__ADS_1
Setelah menyantap beberapa hidangan yang mereka pesan, akhirnya Jasmine dan Steiner memilih meninggalkan perpustakaan sekaligus cafe terbaik didaerah Kuningan, mereka memilih untuk kembali kerumah.
Steiner yang masih diselimuti perasaan bersalah, hanya bisa pasrah menghadapi semua tantangan yang akan menjadi penyebab retaknya hubungan gelapnya dengan Marsya.
Pria itu tidak melihat perubahan pada istrinya, yang selalu manja, membuat Steiner semakin merasa bersalah.
“Ko, kita ke rumah Ibu Surti yah, kebetulan aku ada sedikit rejeki, jadi ingin membantu keponakanku Marsya untuk membeli obat. Bagaimanapun hanya mereka yang aku punya,” pinta Jasmine bersandar pada bahu Steiner dengan suara lembut.
Steiner tersenyum tipis, mengiyakan permintaan Jasmine, walau hatinya berkata tidak.
“Kita berhenti dulu yah, beli buah,” Jasmine menunjuk satu supermarket yang berada dihadapan mereka.
Steiner berusaha tenang, walau wajahnya tampak kaku. Dia menghentikan mobil diparkiran, bergegas membuka pintu mobil, seperti biasa untuk sang istri.
Perasaannya semakin tidak menentu saat bahunya ditepuk oleh teman lamanya.
“Assalamualaikum, Ko Steiner. Mana Marsya, ini siapa?” sapa pria yang biasa disapa Joan.
Wajah Steiner semakin serba salah, saat Joan sahabat Marsya, menanyakan keberadaan gadis itu dihadapan Jasmine.
“Ooogh, hmmm, eeeegh.”
Bibir Steiner seketika sulit untuk menjelaskan, berkali kali dia menjadi salah tingkah dihadapan Jasmine, yang masih tersenyum menatap wajah suaminya dan Joan bergantian.
Jasmine mengulurkan tangannya pada Joan, “Perkenalkan saya Jasmine, sepupunya Marsya, istri Ko Steiner.”
Seketika wajah Joan berubah, menatap lekat mata Steiner, hanya tersenyum tipis pada Jasmine.
“Senang berkenalan dengan Mba, saya sahabat Marsya. Bekerja disalah satu hotel daerah sini. Ini kartu nama saya,” Joan memberi kartu nama pada Jasmine.
Jasmine melihat kartu nama yang Joan berikan, “Baiklah, kami ke dalam dulu yah, senang berkenalan denganmu.”
“Sama sama Mba,” Joan memilih berlalu lebih dulu dari hadapan Steiner dan Jasmine.
Sementara pasangan suami istri itu, memasuki supermarket untuk membeli beberapa makanan kecil.
Steiner mengirim pesan pada Marsya, saat Jasmine tengah sibuk memilih beberapa makanan untuk kebutuhan rumah mereka.
[“Mas akan mampir kerumah bersama Jasmine,”]
Jasmine tengah asik memilih, seketika menghentikan langkahnya, mencari keberadaan Steiner sedikit menjaga jarak darinya.
“Hmm Ko,” panggil Jasmine.
Steiner memasukkan handphone miliknya kedalam saku celana, membantu Jasmine mendorong troli. Pura pura mencari sesuatu di rak yang berbeda, untuk menutupi rasa bersalahnya.
__ADS_1
Perlahan Jasmine mengusap lembut punggung Steiner, membuat pria oriental itu terlonjak kaget.
“Baby, kaget lhoo. Kalau Koko jantungan gimana?” goda Steiner mengusap dadanya.
Jasmine tersenyum, memeluk tubuh Steiner dengan perasaan nyaman.
Steiner terpaku, kembali mengecup kepala istrinya, mengusap lembut punggung Jasmine.
“Kita pulang aja yah? Untuk obat Ibu, nanti Koko transfer saja ke rekening Marsya. Tiba tiba pengen istirahat sama kamu, menghabiskan waktu. Mumpung malam minggu, kita nonton sambil menikmati chicken nugget,” Steiner meyakinkan Jasmine.
Jasmine mengangguk setuju. Baginya weekend seperti ini adalah moment yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama suami tercinta, karena belum memiliki keturunan.
Steiner memberi kabar kepada Marsya, mentransfer uang sesuai permintaan Jasmine.
Mereka meninggalkan supermarket setelah melakukan pembayaran, menuju kediaman sederhana, namun sangat indah bagi pasangan suami istri yang senantiasa memberikan kesejukan bagi keluarga kecil mereka.
Seperti biasa, Jasmine selalu mempersiapkan semua kebutuhan Steiner, dengan sangat baik. Dia menyediakan beberapa menu pilihan yang diminta suami, setelah melakukan kewajiban sebagai seorang muslim.
Jasmine meletakkan beberapa cemilan, dimeja keluarga, mencari film yang menjadi candu keduanya.
Saat mereka tengah asyik menikmati indahnya kebersamaan, seketika bel rumah berbunyi.
Steiner dengan sigap membuka pintu ruang tamu, melihat gadis yang merupakan keponakan Jasmine ada dihadapannya.
“Marsya?” Steiner kaget bukan kepalang.
“Mas, aku pengen ketemu sama kamu,” Marsya masih berdiri dihadapan Steiner.
Steiner menarik tangan Marsya, sesekali melirik kedalam rumah, “Dengar, Mas ingin kita mengakhiri hubungan ini. Jasmine terlalu baik, jangan sakiti hatinya, Mas enggak mampu.”
Mata Marsya seketika membulat, menatap kaget kewajah Steiner.
“Setelah Mas rusak masa depan aku, terus kita harus mengakhiri hubungan ini?” Air mata Marsya tak terbendung.
Steiner semakin merasa bersalah, wajah tampannya seketika memucat, “Dengar Marsya, kita akan bicarakan ini besok. Mas janji, akan menyelesaikan semuanya dengan sangat baik.”
Steiner berbicara dengan sangat pelan, agar tidak terdengar oleh Jasmine, namun.
Wanita yang tengah memperbaiki kerudungnya, keluar dengan wajah sedikit kaget melihat kehadiran keponakan ada dihadapan Steiner, tengah mengusap wajah cantiknya.
“Marsya...? Koko...?” sapa Jasmine melihat dua insan yang tampak salah tingkah.
Steiner semakin merasa tidak nyaman, wajahnya benar-benar gugup dan tidak mampu berucap. Tangannya memutih menggeram dengan kesal.
Sementara Marsya masih berdiri di hadapannya dengan wajah sembab.
__ADS_1
___________