
"Ibu... jangan tinggalkan Marsya, Bu. Marsya mohon. Maafkan Marsya. Ibuuuuu...."
Marsya berteriak memanggil Surti, yang hilang kesadarannya.
"Ibuuuu.....!"
Sontak warga sekitar mendengar teriakkan Marsya, hingga mereka berdatangan untuk memberikan bantuan kepada Surti. Tak pelak, Surti dinyatakan meninggal dunia saat dibantu oleh ketua rukun tetangga yang membantunya.
"Ibuuuu....!" Marsya kembali berteriak.
Seorang wanita paruh baya, justru mengusap lembut punggung gadis yang tampak shock, mendengar kepergian sang ibunda.
"Hubungi sepupumu Jasmine, apakah dia sudah tahu tentang kepergian Ibumu?" Istri Pak RT mengingatkan Marsya.
Wajah sembab itu mencari keberadaan handphonenya, memilih duduk disamping jenazah Surti yang sudah terbaring kaku, ditutupi dua helai kain panjang.
Waktu menunjukkan pukul 02.35 dini hari. Marsya terus menerus menghubungi Jasmine, namun belum ada jawaban. Dia berfikir untuk menghubungi Steiner, karena pria oriental itu, selalu menjawab panggilan telepon darinya.
"Mas, angkat...!" Marsya masih terisak.
Sekian lama Marsya menunggu jawaban dari pasangan suami istri itu, terdengar panggilan ulang dari nomor Steiner.
"Mas...!" Marsya semakin menangis.
"Ini Mba, Marsya. Kenapa?" Jasmine menjawab dengan sangat tenang.
"Mba, Ibu... Ibu Mba... Ibu meninggal...!" Tangis Marsya pecah.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun...! Jam berapa? Maaf, handphone Mba masih off. Baiklah, Mba bersiap siap dulu."
__ADS_1
Jasmine meletakkan handphone Steiner dinakas, mendekati suaminya, memberikan kabar duka itu kepada sang suami tercinta. Betapa terkejutnya dia, mendengar berita itu, karena tidak ada tanda tanda Surti akan meninggalkan mereka untuk selamanya.
Tidak butuh waktu lama, Steiner dan Jasmine, berada dikediaman Surti. Terlihat jelas, betapa hancurnya hati seorang Marsya, akan kehilangan sang ibunda. Berkali kali dia jatuh pingsan, saat akan melakukan ritual pada jenazah sang surganya.
Jasmine meletakkan kepala Marsya pada pundaknya, mengusap lembut kepala sepupu yang masih terlihat lemah.
"Maafkan Ibu, Mba. Aku bener bener minta maaf. Karena telah mengecewakannya sebagai seorang anak, yang tidak bisa berbakti. Malah membuat luka, bahkan Ibu pergi karena ulahku, Mba," Marsya menangis di dekapan Jasmine.
Jasmine menarik nafas panjang, "tenanglah, semua akan baik baik saja. Kamu harus ikhlas."
Marsya justru memeluk erat tubuh Jasmine. Hanya Jasmine yang dia miliki saat ini, setelah kepergian Surti.
Steiner justru tengah sibuk menyambut kedatangan keluarga jauh, bahkan keluarga terdekat yang ingin mengucapkan belasungkawa pada keluarga Marsya, terutama Jasmine.
Semua kebutuhan untuk pemakaman telah Steiner lengkapi, sesuai peraturan di kediaman Marsya.
Ba'da Zuhur, semua berkumpul di mesjid untuk menyolatkan jenazah. Betapa perihnya perasaan Marsya, saat pintu maaf, tidak terucap dari bibir sang ibunda. Itu menjadi tamparan keras bagi gadis yang berstatus single itu.
"Ibu... maafkan aku...!!" Marsya berteriak sekeras-kerasnya, membuat Jasmine kembali mendekap gadis itu.
Air mata enggan mengering dari kedua bola mata indahnya, takdir yang sangat menyayat hati, merupakan penyesalan terbesar bagi Marsya.
Waktu pemakaman sangat singkat, tidak terasa mereka sudah duduk disamping makam Surti. Tampak Marsya tengah bersimpuh disana. Ditemani Jasmine masih menemani sepupunya.
"Kita pulang kerumah Mba yah? Hari sudah siang, kita belum makan. Kita doakan Ibu dirumah. Jangan terlalu berlarut."
Jasmine masih membujuk gadis yang masih menangis dibatu nisan bertuliskan nama sang bunda.
Bagaikan petir menggelar, saat Surti menghembuskan nafas terakhir, tanpa ada tanda tanda akan pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Steiner, sejak tadi enggan untuk mendekati gadis itu. Dia lebih memilih meninggalkan mereka berdua, disebuah pondok yang tersedia diarea pemakaman. Begitu besar rasa penyesalan dihatinya. Hingga mampu menyakiti kedua wanita sekaligus.
Saat hari hampir sore, terik matahari masih bersinar terang, bahkan sangat menyengat, Steiner mendekati dua wanita yang masih berbalut kesedihan.
"Kita pulang?" Steiner mengusap lembut punggung Jasmine istrinya.
Jasmine mengangguk, "Marsya, kita pulang yah? Setidaknya kita bersih bersih dulu. Jika kamu mau kesini lagi, nanti Mba temanin."
Marsya menatap nanar kearah Steiner, matanya memerah, bahkan terlihat seperti marah dan kecewa. Dia berdiri menatap lekat wajah Steiner tanpa memikirkan perasaan Jasmine.
PLAAAAK,
Marsya melayangkan tamparan keras kearah Steiner.
"Marsya...!" sontak Jasmine terkejut menyaksikan sepupu menampar keras wajah suaminya.
"Aaaagh!" Steiner terdiam.
"Gara gara kejadian kita, Ibu pergi meninggalkan saya selamanya. Jujur saya kecewa sama kamu! Saya menyesali semuanya! Saya pastikan tidak akan pernah bersedia menjadi istrimu, Mas!" Marsya mengucapkan dengan suara lantang.
Jasmine menjawab pernyataan Marsya, "jangan pernah menyalahkan keadaan! Mba, enggak suka sama sikapmu!"
Marsya semakin menangis sekencang-kencangnya, dia enggan bersahabat dengan keadaan. Seketika tubuhnya melemah dan jatuh pingsan.
"Ko, gendong Marsya ke mobil."
Steiner melakukan semua perintah Jasmine, mengangkat tubuh mungil itu kemobil milik mereka.
Jasmine bergegas membukakan pintu mobil, kemudian berlalu meninggalkan pemakaman.
__ADS_1
Penyesalan selalu datang terlambat, bahkan setelah kita kehilangan orang yang paling berarti dalam kehidupan.
___________