
Seketika Steiner, keluar dari mobil, meninggalkan Jasmine masih menangis.
Jasmine hanya menjawab salam, dia mengambil alih distir kemudi, menuju suatu tempat, untuk mencurahkan segala isi hatinya.
Perperangan perasaan pada diri Jasmine sangat biasa, jika dihadapkan oleh wanita manapun di dunia ini. Jika mengetahui hubungan sudah terkhianati, akan sulit bagi istri untuk menerima kenyataannya.
Jasmine melakukan perjalanan spiritualnya disuatu tempat pengajian, yang tidak seorangpun mengenalnya. Dia lebih memilih menyendiri, hingga waktu isya.
Kali ini perasaan Jasmine sedikit tenang, karena telah bertemu dengan seorang wanita yang mengalami kejadian sama sepertinya. Tinggal satu rumah dengan dua madu sekaligus.
Jasmine hanya tersenyum, mendengar beberapa nasehat yang disampaikan wanita lebih muda darinya itu.
"Berdoalah, karena hanya doa yang menjadi sumber kekuatan kita, dalam menghadapi situasi apapun."
Kalimat itu terus terngiang ditelinga Jasmine, bahkan dia kembali bersemangat, menghadapi kehidupan nyata yang sewaktu waktu akan merubah takdirnya, karena kehadiran seorang madu didalam rumah tangga mereka.
Jasmine tiba dirumah pukul 21.00. Suasana rumah terasa sangat sejuk, saat Steiner menyambut kepulangannya dengan pelukan hangat seperti biasa.
Rumah desain minimalis modern itu, terlihat sangat rapi dan bersih.
"Maaf, Ko. Aku pulang agak larut malam begini. Bahkan tidak memberi kabar pada Koko," Jasmine mencium punggung tangan suaminya, mengecup bibir basah Steiner dengan penuh perasaan.
Steiner mencium kening Jasmine, memeluk hangat tubuh istrinya yang terasa lebih ramping akhir akhir ini.
"Baby, sudah makan? Besok, kalau baby tidak ada kegiatan, bagaimana menemani Koko dikantor? Kebetulan Koko tidak begitu sibuk, jadi kita bisa menghabiskan waktu diruangan. Kita bisa pesan makanan di restoran Jepang yang dekat kantor," Steiner membujuk istrinya.
Jasmine mengangguk setuju, dia menyentuh perut tipisnya yang sedikit lapar saat bertemu dengan suami tercinta.
"Aku lapar, Ko. Koko udah makan?" Jasmine mengusap wajah tampan suaminya.
"Hmm, masih nunggu baby. Kita makan sama sama? Masakan baby, tadi Koko hangatin lagi. Kita makan yah?" Steiner menggandeng tangan istrinya, menuju ruang makan kecil mereka.
Setelah duduk, Jasmine tersipu malu saat Steiner mengambilkan nasi dan beberapa lauk kesukaannya.
"Nih, makan yang kenyang baby. Biar kamu makin gemuk," goda Steiner pada puncak hidung Jasmine.
__ADS_1
"Hmm, terimakasih Koko. Oya, aku sudah menemukan, tempat yang lebih indah untuk pernikahan Koko dan Marsya. Mungkin setelah Koko menikah dengan Marsya, aku akan berlibur sebentar ke Turkey bersama sahabatku Reni. Bagaimana?" Jasmine mengusap lembut punggung tangan suaminya.
Steiner terdiam, dia menarik nafas panjang. Menatap wajah surganya mencoba mengiyakan permintaannya, "berapa lama kamu akan ke Turkey?"
"Hmm, mungkin dua minggu. Karena kami akan mengadakan seminar disana. Semua team ikut kok. Boleh yah Ko...!" Jasmine menatap mata Steiner penuh perasaan cinta.
Steiner hanya tersenyum, tidak mampu berucap. Jujur jika dia tidak mengikuti hasratnya beberapa waktu lalu, mungkin mereka masih bahagia, dengan berbulan madu bersama ke Timur Tengah menemani sang istri tercinta sambil bekerja.
"Besok kita bahas yah? Koko enggak mau bahas masalah pernikahan disini," Steiner menegaskan.
Jasmine mengangguk setuju, "baiklah. Kita mulai lembaran baru yang bahagia, aku mencintaimu tanpa syarat."
Steiner kembali mengecup punggung tangan istrinya, penuh perasaan bahagia, "jangan pernah tinggalkan Koko kayak tadi yah? Seperti ditinggal dipinggir jalan, dan sangat menyakitkan."
Jasmine tertawa geli, "jadi tadi pas turun dari mobil, orang orang pasti mikirnya kita lagi berantem. Padahal kita masih saling cinta," dia merengek manja, membuat Steiner semakin jatuh cinta.
"Kamu tuh sangat menggemaskan, Koko semakin sayang, bahkan pengen menghabiskan malam bersama," Steiner memberikan isyarat, agar istrinya merasakan sesuatu.
"Hmm, ya-ya-ya... Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan Koko," Jasmine mengangguk setuju.
Steiner begitu hangat, bahkan tidak pernah berubah memperlakukan Jasmine, dari awal menikah hingga saat ini.
Segala kekurangan dan kelebihan pada keduanya, mampu memberikan kesan bahwa mereka baik baik saja.
Malam semakin larut, suasana didalam kamar yang beraroma lavender, memberikan sesuatu perasaan yang berbeda bagi pasangan suami istri, Steiner dan Jasmine.
Tubuh ramping dan tegap, saling terbalut selimut tipis, menutupi bagian keindahan nirwana surga dunia dibawah sana. Kedua insan dewasa tengah menikmati indahnya kebersamaan penuh perasaan cinta dan bahagia.
Sentuhan tangan yang mampu mendamaikan hati yang seketika hancur, kini mampu memberikan kesan bahwa mereka saling mengisi dan membutuhkan.
"I love you Jasmine," Steiner mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
Wanita cantik itu sangat menikmati belaian lembut suaminya, saat mengusap keringat yang membasahi pipinya.
"Love you more, Ko," Jasmine memeluk erat Steiner dengan kecupan kecil nan manja.
__ADS_1
Terasa nikmat bahkan sangat enggan mengakhiri suasana hangat nan indah, yang menjadi candu bagi keduanya.
.
Sementara dikediaman Surti, Marsya tengah dihadapkan dengan beberapa pertanyaan oleh sang Ibu, yang merasa melihat perubahan terhadap putrinya.
"Jawab Ibu jujur Marsya...!" Surti membentang putri satu-satunya.
Marsya meringkuk dipaha Surti, memohon maaf kepada sang ibunda.
"Maafkan Marsya, Bu..." tangis Marsya pecah.
"Jawab Ibu, siapa laki laki yang merusak kamu? Jawab Ibu...!" Surti membentak keras sang putri.
"Ibuuu... Maafin Marsya!" suaranya semakin bergetar hebat.
Surti tersenyum lirih, menatap nanar wajah Marsya yang bersimpuh dihadapannya.
"Ibu tahu wanita yang sudah tidak suci, Ibu melihat perubahan kamu. Malam kemarin kamu diantar oleh Steiner, dan Ibu melihat kalian berciuman! Jawab Ibu jujur! Apa yang telah kamu lakukan di belakang Jasmine?" Surti semakin geram.
Marsya benar-benar tidak mampu berucap, bibirnya tidak bisa membantah, semua praduga Surti padanya.
"Jawab Ibu, Marsya...!" Suara Surti seketika terhenti.
Tubuhnya menegang kaku, sulit untuk bernafas, dada terasa sangat sesak, bahkan tidak mampu menahan tubuhnya yang akan tumbang.
Bhuuuug,
Surti tertelungkup dilantai, dipangkuan Marsya sang putri.
"Ibu... jangan tinggalkan Marsya, Bu. Marsya mohon. Maafkan Marsya. Ibuuuuu...."
Marsya berteriak memanggil Surti, yang hilang kesadarannya.
"Ibuuuu.....!"
__ADS_1
_________