
Hujan rintik-rintik membasahi rerumputan hijau, diterangi temaram memantulkan cahaya. Marsya tengah duduk disofa kamar tamu kediaman Steiner dan Jasmine, menikmati keindahan malam dengan lampu kamar menyala terang.
Sudah lebih dua minggu dia berada disana, tanpa mau bicara sepatah katapun, pada Jasmine atau Steiner.
Sinar lampu mobil terparkir, mengarah kearah Marsya, betapa terkejutnya Jasmine, saat menemukan sepupunya, tengah termenung dengan jendela terbuka lebar.
"Kemana Koko? Mobilnya ada, apa Koko belum pulang?" Jasmine cepat keluar, memasuki kediamannya, menyusul Marsya kedalam kamar.
Tok tok tok,
"Marsya....!"
"Marsya, buka pintunya sayang. Mba bawain cake kesukaan kamu," panggil Jasmine dengan suara lembut.
Marsya membuka pintu, membiarkan Jasmine memasuki kamarnya. Wajah cantik terlihat kusam, bahkan dia enggan untuk bersahabat dengan pemilik rumah.
Jasmine meletakkan bingkisan cake diatas ranjang, mengusap lembut punggung Marsya, yang kembali duduk disofa.
Cepat Jasmine menutup gorden, agar tidak terlihat dari luar. Pelan Jasmine menarik nafas panjang, memilih duduk disamping Marsya.
"Mba, enggak tahu mesti bicara apa sama kamu. Kalau berduka, kita sama sama berduka, tapi hidup terus berjalan, bahkan ini saatnya kamu bangkit, lebih mendekatkan diri pada yang kuasa. Jangan begini, please Marsya, hidup terus berjalan. Jika kamu enggak kerja, siapa yang ngerjain? Masak Koko mesti cari secretaris baru, buat gantiin posisi kamu?" Jasmine melirik kearah Marsya.
Marsya menunduk, pandangan kosong, bahkan tidak tampak semangat hidup dalam tatapannya.
__ADS_1
"Aku mau pergi aja, Mba!" Air mata kembali mengalir dipipi Marsya.
Jasmine meletakkan tangan di pundak Marsya, "kamu mau pergi kemana? Ada tujuan emangnya?"
Marsya menggeleng, dia bahkan tidak tahu akan kemana akan pergi, jika tidak bersama Jasmine.
Jasmine menatap wajah cantik sepupunya, "gini deh, besok kita jalan jalan, kebetulan kegiatan Mba tidak begitu padat. Jadi kita bisa berlibur berdua, bercerita seperti dulu. Nanti Mba ngomong sama Koko yah?"
Marsya mengangguk, "terserah mba aja deh. Aku ikut aja."
Jasmine menarik nafas dalam, mengusap lembut punggung Marsya, "Mba kekamar dulu yah? Mau mandi," senyumnya.
Marsya mengangguk, tanpa berani mengangkat kepalanya. Perasaan bersalah masih berkecamuk didalam hatinya, andai dia menolak kejadian malam itu, mungkin tidak akan terjadi seperti ini.
Jasmine, berlalu meninggalkan kamar yang ditempati Marsya, beradu tatap dengan Steiner, yang sudah berdiri didepan pintu kamar yang dihuni sepupunya.
Steiner tampak gugup, dia menunjuk kearah kiri dan kanan. Jasmine yang melihat suaminya salah tingkah, hanya tersenyum.
"Koko, mau masuk kedalam? Kali aja dengan ngobrol berdua, bisa mendapatkan ketenangan. Masuklah.... bagaimanapun Marsya akan menjadi maduku, Ko."
Jasmine mempersilahkan, dia justru berlalu menuju kamar tidurnya untuk membersihkan diri.
Steiner masih enggan untuk mengetuk lebih dulu. Dia hanya berdiri didepan pintu, meletakkan telinga, mendengar apa saja yang dilakukan oleh Marsya didalam kamar sempit itu.
__ADS_1
Cekreeek,
"Mas...!" Marsya sedikit menjaga jarak, saat wajah keduanya berdekatan.
Steiner tampak kelimpungan, wajah orientalnya seketika gugup, "hmm, bagaimana keadaanmu? Mas bisa ngobrol berdua sama kamu?"
Marsya hanya tersenyum, "kita ngobrol dimeja makan saja, Mas. Sambil menunggu Mba Jasmine. Enggak enak, kalau berdua dikamar. Nanti Mba Jasmine berfikir bahwa aku bener bener ngebet banget pengen rebut kamu."
"Sssst..." Steiner menutup bibir gadis itu dengan telunjuknya.
Marsya terdiam, matanya seketika merindukan sosok pria gagah dihadapannya. Teringat masa indah kebersamaan mereka, beberapa waktu lalu. Dia segera mengalihkan pandangan, agar tidak terlihat berharap, untuk memiliki suami sepupunya utuh.
"Mas, mau ngomong apa?" Marsya melangkah menuju ruang makan, untuk menyiapkan makan malam mereka.
Tanpa berfikir panjang, Steiner mengungkapkan perasaannya pada Marsya.
"Menikahlah dengan Mas, Marsya.."
Steiner mengeluarkan cincin berlian indah, membuat kedua bola mata wanitanya membulat seketika.
"Mas, bagaimana dengan Mba Jasmine?" Marsya masih belum mempercayai atas apa yang dia dengar dari Steiner.
Jasmine menjawab pertanyaan Marsya, membuat gadis itu benar benar terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Jasmine menarik nafas dalam, mencoba menata hati agar tetap tenang, saat mendengar suaminya melamar sepupu sendiri dikediaman mereka.
_________