{Tree M} Milikku, Miliknya, Milik Kita

{Tree M} Milikku, Miliknya, Milik Kita
Chapter 5. Pertikaian tanpa berucap.


__ADS_3

Jasmine menatap wajah Steiner yang berdiri dihadapannya, meminta jawaban dari perbuatan mereka.


Steiner menggelengkan kepalanya, tidak ingin membahas, semua kesalahan yang telah dia lakukan beberapa waktu lalu.


Marsya mencium lembut tangan Surti, berpamitan mengikuti Steiner dan Jasmine, tak tahu arah tujuan akan menuju kemana.


Surti sebagai seorang Ibu, memiliki firasat yang kuat terhadap putri satu satunya, "apakah mereka merahasiakan sesuatu dari aku?" hatinya seketika berdetak merasakan sesuatu perubahan walau tidak berucap.


Mereka bertiga, berada dalam mobil yang sama, seketika Jasmine hanya diam membisu, tanpa mau berbasa-basi, karena kehadiran sepupu yang merupakan wanita lain dihati Steiner suaminya.


"Baby, apakah kita akan ke perpustakaan kemaren?" Steiner mengusap lembut punggung Jasmine.


Jasmine menatap Steiner, tatapan tak biasa yang diberikannya selama menikah.


"Are you oke, baby?" Steiner justru menanyakan, yang tidak semestinya dia tanyakan.


Jasmine tertawa menggelengkan kepalanya, bahkan sangat menyindir hati pria seperti Steiner.

__ADS_1


Marsya sedikit bingung, saat berada dalam mobil bersama pasangan suami istri yang masih dalam pertikaian tanpa berucap. Seketika dia meminta Steiner untuk menurunkannya disalah satu hotel yang berada dihadapan mereka.


"Mas..."


Sontak suara lembut Marsya memanggil sebutan Mas kepada Steiner, membuat Jasmine semakin terdiam membisu.


Steiner tidak menjawab, dia hanya menatap melalui kaca spion yang berada ditengah, sedikit membesarkan matanya.


"Aku berhenti disitu saja, kebetulan ingin bertemu dengan temanku," Marsya menunjuk kearah kiri badan jalan.


Jasmine tetap diam membisu, tak ingin menoleh, bahkan tidak mampu untuk bermanis wajah.


"Kamu hati hati, jangan pulang terlalu malam, kasihan Ibu," Steiner menegaskan pada Marsya.


Marsya mengangguk, sementara mengusap lembut bahu Jasmine, "Mba, aku permisi. Assalamu'alaikum."


Jasmine hanya menjawab salam, tak ingin menoleh, bahkan lebih banyak bersabar dalam menghadapi situasi ini. Tidaklah mudah baginya untuk menerima kenyataan bahwa dirinya telah dikhianati oleh suami dan sepupu sendiri.

__ADS_1


Steiner menarik nafas panjang, matanya melihat kearah Jasmine, "apakah baby masih marah padaku? Jika memang baby tidak ingin melanjutkan hubungan ini, dengan aku menikahi Marsya, lebih baik jangan kita lakukan. Aku tidak ingin menyakiti hatimu, baby," kecupnya pada jemari lentik istrinya.


Jasmine menatap wajah tampan suaminya, "jangan pernah mengecewakan hati seorang perempuan, Koko tahu dengan dosa, aku berusaha ikhlas, walau hati ini masih menolak. Maaf, biarkan aku belajar menerima kepahitan dalam kebahagiaan kita."


"Tapi keputusanmu, akan menyakitimu, baby. Bahkan seumur hidupmu, tidak akan pernah memaafkan ku! Kita bisa pindah ke Melbourne, kita menata hidup yang baru disana. Aku siap melakukan apapun asal kamu tersenyum seperti dulu, bahagia dengan ku, baby!" Steiner memohon kepada Jasmine.


Jasmine mengusap lembut wajah Steiner, "apa Koko pikir dengan pindah ke Melbourne aku akan melupakan semua? Apa dengan menghindari Marsya, kita akan hidup bahagia? Kita keluarga Ko, aku ini sepupu Marsya. Kamu tahu, apa kata keluarga jika mereka tahu bahwa suamiku telah merusak masa depan seorang gadis, hanya dengan satu malam, yang katanya Koko dinas ke Bandung, ternyata menghabiskan waktu bersama dia?"


Jasmine kembali menangis, "aku tidak pernah menyangka, Koko akan berlaku curang padaku. Koko orang kepercayaanku, pahlawanku, belahan jiwa dunia akhirat. Tapi apa yang Koko lakukan dibelakang aku? Saat ini, aku hanya butuh ketenangan. Biarkan aku berpikir, jangan pernah berubah. Bibir ini ikhlas, tapi hati ini tidak rela, Ko!" dengan suara tegas, Jasmine meminta secara tidak langsung agar Steiner meninggalkannya sendiri.


Steiner yang sangat memahami bagaimana, kondisi istrinya, mengangguk mengerti.


"Baiklah, maafkan Koko. Baby hati hati, jika sudah lega, kembali pulang, Koko permisi, assalamualaikum."


Seketika Steiner, keluar dari mobil, meninggalkan Jasmine masih menangis.


Jasmine hanya menjawab salam, dia mengambil alih distir kemudi, menuju suatu tempat, untuk mencurahkan segala isi hatinya.

__ADS_1


___________


__ADS_2