
Kedua insan saling mencintai, namun orang yang sangat penting dalam hidup seorang Jasmine, telah masuk dalam hubungan terlarang, dengan tega merusak kebahagiaan Mikaila Jasmine.
Tidak terasa keduanya terlelap, karena kedukaan yang baru pertama kali Jasmine hadapi selama pernikahan.
Pelan Jasmine turun dari ranjang, menuju kamar mandi, membersihkan diri seperti biasa di sepertiga malamnya.
Setelah melakukan ritualnya, Jasmine menatap wajah Steiner yang sangat dicintai.
"Jika dengan mengikhlaskan mu, syurga untuk ku, ikhlas hati ini menerima semua suratan takdir. Jangan pernah berubah dan jangan pernah tinggalkan aku."
Jasmine mengusap lembut wajah suami tercintanya, berlalu meninggalkan kamar, menuju dapur, untuk mempersiapkan sarapan pagi untuk Steiner.
Stelah semua Jasmine persiapkan dengan sempurna, dia kembali kekamar, bersiap siap menuju kediaman Ibu Surti.
Steiner yang baru selesai dengan ritualnya, tidak mampu berucap. Bibirnya seketika kelu. Bahkan terkunci rapat tanpa mau menyapa lebih dulu.
Jasmine mendekati Steiner, meminta maaf dan memohon izin pada suami tercinta.
"Aku kerumah Ibu Surti yah, Ko. Semua sudah aku siapkan. Mumpung libur, aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Kali ini, aku ingin bicara berdua sama Marsya. Koko stay at home," godanya pada puncak hidung Steiner.
Steiner hanya mampu memeluk erat Jasmine. Dia mengecup puncak kepala Jasmine, tanpa mau menjawab agar tidak melukai perasaan istri terbaiknya.
"Baby hati hati, atau Koko yang antar gimana? Biar Baby enggak kecapean," pinta Steiner.
Jasmine mengangguk setuju, "Koko mau sarapan dimobil atau dimana?"
"Dimobil saja, jika Baby tidak keberatan."
"Enggak suamiku yang tampan," senyum Jasmine.
Jasmine meninggalkan Steiner dikamar, bergegas dia mempersiapkan semua, untuk sarapan suaminya seperti biasa.
Mereka berdua berangkat menuju kediaman Ibu Surti, adik perempuan Almarhum Ayah Jasmine.
Selama diperjalanan, Jasmine menyuapkan Steiner, seperti biasa. Tanpa ada yang berubah, dia masih memanjakan Steiner seperti biasanya.
Mobil milik Steiner terparkir di halaman kecil yang tampak asri itu. Marsya berlari masuk ke dalam rumah, saat melihat Jasmine turun lebih dulu dengan sangat tenang. Dia menggandeng tangan suaminya, menghampiri pintu ruang tamu yang terbuka lebar.
Tampak wanita paruh baya, yang tengah duduk disofa ruang tamu, dengan balutan sweter, dibalut kain sarung batik dan tempelan koyok di kepalanya.
"Assalamu'alaikum, Ibu," Jasmine mendekati Surti yang tampak lemah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Jasmine. Apa kabar kamu nak? Terimakasih, karena kemaren sudah mengirimkan uang untuk Ibu beli obat, tapi kepala Ibu makin sakit," Surti menceritakan keadaannya.
Jasmine menarik nafas dalam, melirik kearah suaminya yang masih berdiri didepan pintu.
"Ko, Koko temanin Ibu dulu yah? Aku cari Marsya dulu kekamar, mungkin dia sedang bersih bersih."
Steiner mengangguk, melihat Jasmine berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamar sepupunya.
Jamine sampai di depan pintu kamar Marsya, lama dia termangu menyiapkan hati untuk berkata langsung dengan gadis itu. Pelan tangan Jasmine mulai mengetuk pintu, lalu muncullah wajah Marsya saat pintu mulai terbuka.
"Hai," Jasmine kembali tersenyum.
"Ha-hai Mba," tunduk Marsya dengan gugup.
"Hmm, kamu kok nggak cerita kondisi Ibu. Kita bisa bawa kerumah sakit, kasihan Ibu," Jasmine duduk dipinggir ranjang milik Marsya.
Marsya tidak berani memandang teduh wajah wanita idolanya, kedua tangannya saling bertaut, hati berdebar menanti kata yang keluar dari bibir tipis Jasmine.
"Mba."
"Hmm," Jasmine melirik kearah Marsya, membuat gadis itu serba salah.
Marsya terdiam, kepalanya menunduk, enggan untuk menjawab.
"Menikahlah dengan Koko. Mba merestui hubungan kalian. Jangan lakukan kesalahan. Kasihan Ibu, dia sudah melahirkan kamu, merawat kita dari kecil hingga dewasa."
Jasmine menundukkan kepalanya, air mata seketika menetes tanpa bisa tertahan lagi.
"Mba, maafkan aku. Ini salah aku, Mba," Marsya bersimpuh di paha Jasmine menatap wajah kakak sepupunya.
"Aku yang sudah membuat rumah tangga Mba hancur begini. Aku mohon maaf," tangis Marsya pecah.
Jasmine menghapus air matanya, "bersiaplah. Mba tunggu diluar, kita akan bertemu teman Mba, yang akan membantu untuk pernikahan kamu dengan Koko."
Marsya seketika menangis sejadi-jadinya, dia mendekap erat tubuh Jasmine, "bagaimana dengan Ibu, Mba? Ibu pasti akan murka sama aku. Aku belum siap untuk menjadi istri kedua!"
Sontak ucapan Marsya, membuat Jasmine semakin tidak mengerti, "apa maksudmu? Apakah kamu mau, Mba sama Koko berpisah? Marsya, kamu tahu apa yang kalian lakukan?"
Jasmine ternganga, lidahnya seketika kelu, pikirannya seketika melayang, ucapan tidak ingin berbagi yang keluar dari bibir sepupunya, membuat dia berfikir negatif sebagai seorang wanita dewasa.
"Dengar Marsya, ni pintu," tunjuk Jasmine pada pintu kamar Marsya yang tertutup.
__ADS_1
"Kamu, kalau mau masuk kekehidupan Mba, masuk sekalian, kalau mau keluar, pergi sekalian. Tapi jangan berdiri didepan pintu, karena menghalangi kami yang mau keluar ataupun masuk. Paham....!!"
Jasmine menggelengkan kepalanya, memilih meninggalkan Marsya yang tampak kebingungan.
"Mba, Mba...!"
Marsya berusaha menahan lengan Jasmine, tapi wanita itu hanya tersenyum lirih menatap lekat wajah sepupunya.
"Jika aku mengikuti kemauan pribadi, aku tidak peduli dengan kehidupanmu. Aku rela dimadu karena aku ingin terhindar dari segala fitnah dan dosa yang dilakukan suamiku diluar sana. Aku bukan wanita yang mau berbagi, tapi karena kamu adalah sepupuku, aku ikhlaskan."
Jasmine mengusap lembut wajah Marsya, "pikirkanlah," dia berlalu.
Steiner yang tengah berbincang dengan Surti, melihat Jasmine tengah menyeka wajahnya. Seketika pria oriental itu mendekati Jasmine istrinya.
"Kamu baik baik saja, Baby?" Steiner merangkul lembut bahu Jasmine.
Jasmine mengangguk, "yuuk, kebetulan aku ada kerjaan. Kita ketempat kemaren yah, Ko," senyumnya menatap wajah Steiner.
Jasmine mendekati Surti, mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, "Ibu, aku pulang dulu yah, kebetulan ada kegiatan. Nanti kita kesini lagi. Ibu kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku, atau pinta Marsya hubungi Koko."
Surti mengusap lembut wajah Jasmine, "sampean persis dengan mendiang Ibu mu. Sangat baik, semoga kalian bahagia selalu hingga maut memisahkan. Tanpa ada orang lain yang merusak kebahagiaan keluarga kecil kalian."
Jasmine tertawa geli, "merusak nggak ada Bu, Koko sangat baik. Makanya banyak hati yang ingin menjadi bagian dalam hidupnya."
Surti menatap lekat wajah Steiner, "jangan pernah kamu sakiti putri ku, dia yang telah sabar merubah hidupmu. Dari nol, hingga seperti saat ini. Jadi jangan kecewakan Jasmine."
Jasmine mengusap lembut punggung tangan Surti, mengecup berkali kali, "enggak ada Ibu, jikapun ada, itu sudah menjadi pilihan ku."
Surti menggelengkan kepalanya, menegaskan tidak setuju, "jika itu terjadi, ibu nggak akan mau ketemu kalian lagi!"
Jasmine tersenyum, menarik nafas panjang, mengecup kedua pipi Surti, berpamitan.
Saat mereka tiba didepan pintu ruang tamu, seketika Marsya keluar dari kamar.
"Mba," panggil Marsya.
Jasmine menatap wajah Steiner yang berdiri dihadapannya, meminta jawaban dari perbuatan mereka.
Steiner menggelengkan kepalanya, tidak ingin membahas, semua kesalahan yang telah dia lakukan.
__________
__ADS_1