{Tree M} Milikku, Miliknya, Milik Kita

{Tree M} Milikku, Miliknya, Milik Kita
Chapter 3. Aku siap dimadu.


__ADS_3

Malam yang dingin, disinari cahaya lampu temaram yang berada di taman kecil, membuat ketiga insan itu terdiam tanpa mampu berkata-kata.


Steiner semakin merasa bersalah, air mata yang sejak tadi akan jatuh berderai, namun tertahan karena melihat wanita terbaiknya berdiri dengan tatapan yang sangat tenang.


Seketika Jasmine mendekati Marsya, "kamu kenapa? Kita ngobrol didalam?"


Kali ini Steiner sedikit tegas, dia ingin menjaga perasaan Jasmine. Tangan kekar itu menahan lengan istrinya, agar tidak membawa Marsya masuk kedalam rumah mereka.


"Biar Koko yang mengantarkan Marsya pulang, dia kebetulan lewat, baru selesai membeli obat untuk ibu," Steiner bergegas mengambil kunci mobil didalam rumah mereka.


Jasmine mengusap lembut punggung Marsya, "kamu kalau ada apa-apa, ngomong sama, Mba. Jangan sungkan, kita ini keluarga."


Marsya memeluk Jasmine, menangis sejadi-jadinya, menyesali semua perbuatan yang dia lakukan dibelakang wanita sebaik sepupunya.


"Mba, maafkan aku!" tangis Marsya membuat Jasmine tampak bingung.


Jasmine mendekap erat, tubuh mungil Marsya, keponakan Almarhum Ayahnya.


Marsya yang memiliki kepribadian sedikit kekanak-kanakan, namun penyayang, baik dan sedikit egois, karena tumbuh dari tangan orang tua yang sangat berbeda dari Keluarga Jasmine.


Seketika Steiner semakin tidak mengerti dengan apa yang dia saksikan di teras rumah miliknya.


"Baby, Koko antar Marsya pulang dulu yah," Steiner mengusap punggung Jasmine yang masih memeluk Marsya.


Jasmine tersenyum tipis menatap Steiner, berbisik ketelinga Marsya, "kita ngobrol didalam?"


Marsya menunduk melepas pelukannya, "aku pulang dulu, Mba. Mungkin besok siang aku kesini. Ibu sendirian di rumah."


Jasmine kembali tersenyum, mengusap lembut kepala sepupunya, "hati hati yah, kalau ada masalah hubungi, Mba."


Marsya mengangguk. Berlalu mengikuti langkah Steiner, memasuki mobil, sambil menatap kearah Jasmine.


"Hati hati Ko," Jasmine melambaikan tangan kearah mereka.


Jasmine menarik nafas dalam, "hmmm, aku tahu apa yang mereka sembunyikan. Aku hanya ingin kalian jujur, tanpa berdusta."


Jasmine kembali masuk kedalam rumah, dengan mata berkaca-kaca, masih tersenyum tipis melihat foto pernikahannya yang terpajang di ruang tamu.


"Kenapa mesti ada dia, Ko?" Jasmine berbicara sendiri, menatap foto pernikahan mereka.


***

__ADS_1


Steiner dan Marsya berdebat panjang, membahas hubungan terlarang mereka.


Pria berwajah oriental itu, tidak mampu menahan, yang dia rasakan sangat memalukan baginya.


"Marsya, kita tidak mungkin menikah. Jasmine terlalu baik, sangat baik. Aku akan mencarikan pria yang benar-benar bisa menerima mu. Aku mohon, jangan hancurkan rumah tanggaku!" Steiner tidak mampu berfikir jernih, bahkan tampak seperti pria bajingan, hanya bisa memanfaatkan seorang gadis lugu.


"Mas! Aku kecewa sama kamu. Tega kamu melakukan ini sama aku!" Marsya menutup wajah dengan kedua tangannya, tidak ingin memaksa keadaan.


Steiner tak kuasa membendung perasaannya sendiri, seketika dia membawa gadis muda itu kepelukannya.


"Maafkan Mas, tolong kasih Mas waktu untuk jujur pada Jasmine. Jujur Mas tidak mampu untuk menyakitinya. Dia wanita baik, yang telah merubah kehidupan Mas. Mas janji, akan segera menikahi kamu, walau hanya menikah sirih," Steiner mengecup pelan puncak kepala Marsya.


Marsya mengangguk setuju. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat ini, yang jelas keduanya telah melakukan kesalahan yang fatal, tanpa mereka sadari sudah menyakiti wanita baik di sudut sana.


Steiner mengantar Marsya hingga didepan rumah, tak lupa pria baik itu, mengecup lembut bibir kekasihnya. Memastikan bahwa wanita itu sampai dengan selamat.


Steiner mengusap kasar wajahnya, tampak lebih kusut dari biasa. Pelan dia meninggalkan kediaman orang tua Marsya.


Steiner meraih handphone miliknya, menghubungi Jasmine.


"Assalamu'alaikum, Ko,"-Jasmine.


"Kamu mau beli makan malam, kayak ketoprak, atau bubur ayam, atau...?"-Steiner.


Jasmine tertawa, "hmm, Koko cepet pulang saja, kebetulan masih kenyang."


"Hmm, oke baby, wait," Steiner menutup telfonnya, menambah kecepatan mobil menuju rumah.


"Ya Allah, jika ini merupakan takdir ku, mohon lapangkan hati istriku, menghadapi segala ujian, yang aku lakukan dengan sadar. Aku mohon ampuni dosaku," Steiner menangis sepanjang perjalanan sambil mengendarai kendaraannya.


Benar saja, setiba dikediamannya, Steiner melihat lampu ruang tamu masih menyala. Steiner memasuki rumah, mengunci pintu utama, mencari keberadaan Jasmine.


"Baby," panggil Steiner.


Mata mereka saling bertemu saat Jasmine tengah asik mempersiapkan susu soya yang menjadi kegemarannya.


"Baby belum tidur?" Steiner mendekati Jasmine.


"Belum, Koko mau aku buatkan apa?" Jasmine menatap wajah suaminya manja.


Steiner menggelengkan kepala. Mereka meninggalkan dapur menuju kamar indah, yang tertata rapi sesuai permintaan Jasmine.

__ADS_1


Steiner mendekat pada Jasmine saat mereka duduk dipinggir ranjang.


"Hmmm, Baby, Koko bisa bicara dari hati ke hati?"


Jasmine kembali tersenyum, "hmm, bicaralah. Dari tadi siang aku meminta Koko untuk bicara, jujurlah, agar hati merasa tenang, tanpa perasaan bersalah."


Steiner mengalihkan pandangan, berkali kali dia menelan ludah, mengusap kasar wajah tampannya, melirik kearah Jasmine yang masih tetap tenang sambil tersenyum menikmati segelas soya.


Jasmine meletakkan gelas dalam genggaman dinakas, mendekati pria yang sudah stengah tahun mendampinginya.


"Ada apa dengan Marsya? Apa kalian memiliki hubungan dekat?" Jasmine meletakkan kepalanya manja dibahu Steiner.


Perasaan Steiner semakin tidak karuan, wajah tampannya memerah, menahan amarah, merutuki dirinya sendiri.


"Maafkan Koko. Telah berani menghadirkan dia dirumah tangga kita. Koko, benar benar minta maaf sama kamu, Baby." tangis penyesalan Steiner tampak jelas.


Jasmine tak bergeming, air matanya jatuh tanpa diminta, kejujuran pria yang sangat dia cintai sangat menyayat dilubuk hati paling dalam. Bagaimana mungkin, Steiner yang tidak pernah berubah dalam bersikap, selalu baik dan romantis, seketika memiliki perempuan lain dibelakangnya.


Marsya sang sepupu yang dia bantu, menjadi secretaris Steiner, seketika mampu menghujamkan sembilu kelubuk hatinya.


Jasmine membiarkan air mata mengalir, tanpa mengalihkan kepalanya dari bahu kokoh pria yang sangat dia cintai.


Steiner terdiam.


Mereka masuk kepikiran masing-masing, tanpa tahu apa yang akan mereka lakukan.


Jika ingin Jasmine meminta kepada Sang Pemilik Alam, saat ini dia ingin di jemput oleh malaikat pencabut nyawa, agar dapat berkumpul dengan kedua orangtuanya.


Perempuan mana yang sudi mendengar kejujuran suaminya secara nyata. Jika memang cinta itu menuntut sebuah kesetiaan, mungkin tidak akan ada pihak ketiga yang menjadi pemicu hilangnya kepercayaan atas nama cinta.


Jasmine mengambil tangan Steiner, mencium punggung tangan itu dengan rasa hormat sebagai istri.


"Menikahlah dengan Marsya, Ko. Jangan sakiti sepupuku. Bagaimanapun dia gadis baik," Jasmine kembali tersenyum meyakinkan suaminya.


Sontak Steiner semakin tidak mengerti, atas apa yang dia dengar dari bibir syurganya, yang sangat baik dan tulus.


"Tinggallah disini, bersihkan nama baik Koko dan Marsya dari segala fitnah. Aku siap dimadu."


Steiner mendekap erat tubuh Jasmine, dia menangis sejadi-jadinya. Jika waktu bisa berputar kembali, mungkin dia tidak ingin melakukan kesalahan hanya karena nafsu sesaat, yang menimbulkan luka pada belahan jiwanya.


_______

__ADS_1


__ADS_2