
Setelah kejadian itu, win di antar pulang lagi oleh bright ke rumahnya, rumah tempat dimana bian dan mamahnya tinggal, karna win sampai kapanpun tidak akan pernah bisa pulang ke rumah asalnya.
Bright juga seharusnya menasehati bian lebih keras, kenapa dia meninggalkan win sendirian? Sebenarnya apa yang bian lakukan?? Kemana dia pergi??
Mereka masuk ke dalam rumah, ternyata disana bian sedang duduk di sofa, dia berdiri dan menatap mereka berdua dengan tajam.
"Kalian dari mana??" Tanya bian.
"Minggir." Bian mendorongnya dan tetap merangkul win berjalan menjauhi bian.
"Win balik kesini." Titah bian.
Win berhenti berjalan dan mengeratkan pegangannya karna dia terlalu kaget dan menggenggam bajunya sangat erat.
"Win??" Panggil bian.
Suaranya meninggi membuat win takut, bian tidak pernah marah sama dia, selama bertahun-tahun dia tidak pernah membentak atau melarangnya, tapi sekarang bian seperti sedang marah kepadanya, nadanya tinggi dan kuat, tidak seperti biasanya yang lembut dan baik.
Mata win mulai memanas lagi, dia hanya membungkukkan kepalanya dan mendengar suara bian yang memanggilnya dengan keras.
"Win kembali kesini sekarang juga." Bentak bian yang membuat win marah.
"Gak usah dengerin bian, kamu masuk aja kedalam kamar." Ucap bright dengan lembut karna dia melihat badan win yang mulai bergetar ketakutan.
apalagi kejadian hari ini biasa membuat win tramu, kelakuan Drake sama win tidak bisa di maafkan dan sekarang kelakuan kakaknya membuat bright ingin sekali memukulnya supaya dia geger otak lagi dan lupa ingatan.
"Lo gak usah ikut campur, pergi dari rumah sekarang juga." Ucap bian.
__ADS_1
"wae bian, ucapan Lo semakin melewati batas, apa Lo gak takut win tau sikap Lo yang asli sekarang ini keluar??"
Sejak sakit bian memang selalu marah-marah, amarahnya kadang tidak terkontrol sama sekali, namun setelah dia dekat dengan win semuanya jadi berubah, bian menjadi seseorang yang lemah lembut lagi seperti biasanya.
Dia hanya membentak win sekali dan melarangnya dua kali, membentak karna win selalu mengganggunya, melarangnya masuk ke rumah aslinya karna ayahnya selalu memukulinya, melarangnya karna dia selalu berkata maaf karna selalu merepotkan bian.
Bian selalu marah ketika win selalu minta maaf, tapi sebenarnya dia selalu perhatian kepada win, bian selalu menjaganya sampai sekarang, sampai saat yang sekarang bian sedang membentak dia dan win tidak tahu alasannya, ntah itu karna dia dekat dengan bright, atau dia yang keluar dari rumah tanpa ijin.
"Hei bian, dari awal gue sudah bilang kalau gue suka sama win, kenapa Lo berani bentak dia di depan gue??" Urat bright yang menahan amarah sangat jelas.
"Win bukan siapa-siapa di mata Lo, Lo cuma obsesi sama dia, Lo gak berhak bilang suka sama win, suka, cinta, kasih sayang, semua yang Lo rasain itu palsu." Bian nunjuk dada bright dengan kasar.
"Dari awal Lo bilang Lo gak suka sama cowok, dari awal Lo cuma obsesi sama kuliah Lo di Swiss, gak ada ruang kosong buat win, Lo gak pernah punya hubungan yang normal, semuanya palsu, tau apa Lo tentang suka??" Bright diam sejenak.
Dari awal dia memang tidak pernah mempunyai hubungan yang normal, dia hanya obsesi dengan uang, main, dan bermain dengn cewek di Amerika, apa itu suka?? Apa itu cinta?? Bright gak pernah menerima rasa cinta dari siapapun.
"Rasa suka Lo sama win itu tidak nyata," bian menekankan kata-katanya lagi.
"Dan win gak pernah suka sama Lo, dia cuma menganggap Lo itu diri gue karna Lo bilang sama win kalau gue sudah mati, Lo pikir gimana perasaan win? Perasaan dia di ambang kebingungan gara-gara Lo."
Plak
Keduanya diam saat win menampar bian, air mata itu keluar dengan deras, bright kaget karna dia berani menampar bian setelah itu menangis dengan keras dan melihat dirinya.
"Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu kepada adik mu sendiri, bian??" Ucap win, nada suaranya bergetar, dia berbicara sambil menghapus air matanya.
"Apa kamu tidak sadar siapa yang salah??" Tanya win lagi.
__ADS_1
"Win kamu gak perlu....." Ucapan bright terpotong saat tatapan win menatapnya dengan serius.
"Untuk kalian, pikirkan baik-baik kesalahan kalian dan jangan temui aku......"
"....dan lagi aku mau jujur, sebenarnya susah sekali memaafkan kalian." Ucap win sambil pergi berjalan keluar dari rumah.
"Win kamu mau kemana??" Ucap bian matanya kosong sepertinya dia masih di kuasai amarahnya.
"Kamu siapa??" Suara dingin win menghantam amarah bian yang membuatnya terdiam.
"Mungkin yang di katakan bright benar, seharusnya aku memang harus melupakan mu kak, bian yang ku kenal tidak pernah bersikap egois." Win pergi dari rumah itu.
Bright diam karna ucapan bian membekas di dadanya, apa rasa suka dia sama win memang palsu?! Apa ini cuma obsesi semata??
Kenapa?? Kenapa hanya dia yang tidak boleh memiliki win?? Dia tidak pernah berpura-pura membahagiakan win, dia memang egois karna menginginkan win walaupun win adalah kekasih kakaknya.
Tidak mungkin perasaannya palsu, bright sangat menyayangi win, semua yang sudah dia lakukan sama win tidak ada kata-kata palsu atau pura-pura dan win juga menyukainya.
iya, dia juga menyukainya bukan karna dia mirip dengan bian, win sangat menyukainya karna dari awal bian menjaganya dan win juga bingung dengan perasaannya kepada bright, tapi win bilang kalau dia menyukainya, dia juga menerima kalau dia bright meskipun dia tahu waktu itu bian gak ada.
"Hahahaha, bian sialan." Gumam bright.
^^^TBC➡️^^^
...Hallo bian...
__ADS_1