
Win menatap bright yang sedang terbaring lemah di apartemen milik Tay temennya sendiri, dia gak tau harus berbuat apa soal penyakit bright.
Win juga harus bisa bantu bright supaya dia bisa pulang ke Amerika dan merawat penyakitnya, tapi apa dia harus pergi tanpanya?? Dia masih SMA dan sebentar lagi akan ujian Nasional, tapi bian sudah kembali dan bright sudah lulus SMA, dia akan kuliah di Swiss dan akan menemukan teman baru dan mungkin orang baru yang lebih bisa membuat dia bahagia.
"Maaf, maaf kak, maafin aku karna gak bisa jagain kamu hiks..." Win menundukkan kepalanya dan menangis di samping bright.
Namun tiba-tiba tangan yang hangat mengelus rambutnya dengan lembut.
"Kenapa nangis??" Tanyanya yang baru kebangun.
"Mata ku kelilipan." Air matanya terus mengalir.
Bright bangun dan menghapus air mata win dengan lembut, tangan besar itu mengelus pipi win dan mencium kelopak matanya.
melihat win menangis seperti ini membuat dadanya semakin sesak, mungkin dia sering memikirkan kata-kata bian, kakak sialannya itu yang selalu mengatur hidupnya.
bagaimana bisa dia tidak mencintai win yang cantik seperti ini?? bagaimana dia mencari tahu kalau dia benar-benar mencintai win dan menyukainya, hidupnya seperti akan hancur kalau dia tidak bersama win.
"Jangan nangis, nanti mata mu bengkak dan kelelahan." Bright memeluknya dan win makin menjadi menangisinya.
Dadanya sesak, nafasnya memburu, dia gak bisa liat bright menderita terus, dia harus berkorban juga seperti waktu itu dia mengijinkan bian menjalani operasinya.
bright terlalu berkorban untuk seseorang seperti dirinya, dia tidak mau membebani orang lagi, dia tidak mau memberikan luka kepada orang lain, dia menyayangi bright.
"Kak kamu harus pulang dan berobat sampai sembuh." Ucap win dengan nada kecilnya.
"Kakak baik-baik saja win, kamu tidak perlu khawatir." Bright menggenggam tangan win dan menempelkannya di pipinya sendiri.
"Aku suka suhu hangat tubuhmu, senyuman mu, tawa mu, kebaikan mu, aku suka semuanya, jadi jangan menyuruhku untuk pergi, hmmm??"
Bright bergeser dan membaringkan win di sampingnya, dia mengelus Surai rambut milik pacarnya itu dan mengecup keningnya.
"Semua akan baik-baik saja win, aku akan menjaga kamu dan aku akan tetap di sampingmu."
Win memeluk tubuh bright yang suhu tubuhnya lebih panas dari dia, dia memeluk erat tubuh bright, dia merasa bright akan ninggalin dia.
Dia menanamkan wajahnya di dada bright, bau bekas darah masih tercium tapi wangi tubuh khas bright lebih pekat, dia takut, dia takut kehilangan orang yang dia sayang, dia gak mau jauh-jauh dari bright, dia mau sedekat ini setiap waktunya.
•°•
Pagi tiba, win terbangun karena aroma wangi masakan yang lezat, dia berjalan keluar kamar dan melihat bian sedang memasak sarapan.
"Kak bian??" Ucap win merasa aneh.
"Kenapa?? Ko seperti aneh liat kakak disini."
__ADS_1
Sikap bian sekarang tidak bisa di tebak oleh siapapun, kadang mengutuk sang adik sendiri, meninggalkan adiknya dan marah-marah, dia juga meninggalkan dirinya, menjauhinya tanpa sepatah alasan dan sekarang dia sedang memasak sarapan??
"Bright masih tidur??" Tanyanya.
"Iya, kenapa??" Win duduk sambil melihat bian sedang menggoreng telur.
"Ini bubur buat bright dan ini sarapan untuk kamu, sehabis sarapan langsung siap-siap yah, kita akan jalan-jalan bareng bertiga." Ucapnya tersenyum ramah.
"HAH?????" win tercengo hampir menumpahkan gelasnya.
"cepat mandi dan bangunkan bright untuk sarapan." ucap bian.
"maksud kakak apa?? kakak yang berani ninggalin adiknya pas lagi sekarat sekarang tiba-tiba masakin sarapan buat kita.
bian berjalan mendekati win dan membenarkan Surai rambutnya yang berantakan, ntah kapan terakhir kali bian bersikap lembut padanya sampai win lupa rasanya.
dia tahu dirinya sangat egois, namun perubahan bian yang kemarin juga membuat win aneh dan semakin gila, dia seperti orang lain yang ingin buru-buru melakukan sesuatu tapi tidak bisa karena ada halangan dan melampiaskan amarahnya kepadanya dan bright, apa yang di lakukan anak ini??
"jangan melamun, sana sarapan dan mandi, nanti kakak kirim lokasinya." senyum bian dan pergi dari apartemen, dia bisa melihat bahu lebarnya seperti menaruh beban yang berat, tatapan matanya agak kosong tapi dia selalu ceria di depannya.
•°•
Win memberikan sarapan bubur kepada bright yang baru bangun, rambutnya berantakan seperti ank singa, tapi dia suka dan sudah terbiasa melihat tampilan bangun tidur bright yang seperti ini.
"Aku?" Cicitnya dengan suara kecil.
"Benarkah?? Tapi setiap kamu masak akan ada bau gosong." Godanya membuat win ingin mencubit lelaki kekar namun terlihat lemah di matanya.
"Bian anak sialan pasti tadi kesini kan??" Tanya bright mengelus pipi win yang sedikit merah.
"Emmm, tadi dia masakin sarapan buat kita."
"Dia makin hari makin kaya anak setan." Umpat bright
"Kakak gak marah dia kesini?" Tanya win.
"Marah?? Buat apa?? Dia kan kesini khawatir sama kamu." Bright terus memainkan rambut win yang sedikit berantakan.
"Nggak, mungkin dia benci sama aku dan khawatir sama kakak." Ucap win terus menyuapi bright.
"Dia khawatir sama kamu, takutnya kamu di terkam sama kakak." Godanya lagi.
Setelah selesai sarapan mereka bersiap-siap karena bian menyuruh mereka bersiap-siap untuk jalan-jalan???
Ting
__ADS_1
Notif hp masuk, bian mengirimkan alamat kepada win dan mereka berangkat walaupun bian tahun bright belum mendingan dan bright ngotot banget pengen ketemu bian.
"Jangan berantem!!" Ucap win.
Mereka naik taksi karena win melarang bright naik motor, tadinya bright sudah ngotot banget kalau dia sehat dan gak kenapa-kenapa karena dia tidur nyenyak semalaman sama win.
Setelah sampai win bisa melihat bian yang cuma kaosan berwarna putih, aura kalemnya seperti balik lagi ke awal dan itubadalah bian yang win kenal, walaupun cuma diam tapi bian kelihatan kalem berbeda dengan sang adik, bright seperti namanya cerah, dia walaupun pakai jaket bright sudah menjadi tontonan banyak orang meskipun baru keluar dari taksi.
...bian
...
...Bright...
tatapannya seperti berkata "Lo mau ngomong apa?" (teruntuk bian)
Win mengusap wajahnya karena dia diantara mereka yang terlihat keren dan dia cuma pake baju rajut biasa dan berjalan masuk caffe baru.
"Gimana kabar kamu?" Tanya bian yang posisi duduknya win sama bright sampingan dan bian di depan mereka sendiri.
Bright memalingkan wajahnya kearah win dan win hanya tersenyum mencubit bright.
"Kak bright udah mendingan ko." Senyum win.
"Kalau gitu Lo harus pulang ke Amerika."
Brakkkk
"Sudah berapa kali gue bilang, gue gak mau dan Lo jangan terus-terusan ngatur hidup gue." Ucap bright.
"Kak, tenang!!" Ucap win.
"Okey kalau Lo gak mau pulang," ucap bian membuat mereka berdua merasa aneh.
Bian malah memesan ice cream kesukaan win dan mereka memesan 2 kopi dan roti khas caffe ini.
^^^**TBC➡️^^^
...Gereget ya liat TBC hehehe.......
aku minta maaf karena udah lama gak update🙏 soalnya ada beberapa hal penting yang harus di selesaikan, btw selamat membaca**
__ADS_1