365 Hari Brightwin

365 Hari Brightwin
bright kenapa?


__ADS_3

Win terbangun karna dia merasakan basah didahinya, perlahan membuka mata ternyata bright sedang mengompresnya.


"Kak Biaann." Suaranya kecil tapi bright bisa mendengarnya.


"Kenapa?? Haus??" Tanya bright tidak peduli siapa dirinya sekarang ini.


Seketika win ingat kejadian sebelumnya, dompet yang dia buka dengan kartu mahasiswa Bright Vachirawit bukan Bian Vachirawit.


Win menatap bright tajam dan memaksakan bangun karna kayaknya dia demam.


"Win kamu sakit." Bright mau membantunya tapi tangannya langsung dihempas.


"Lo bukan bian hiks... bian manaaa??" Lagi2 win menangis dengan keras sambil menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya.


"Win jangan kaya gini, terima kenyataan kalau bian udah gak ada." Ucap bright memeluk win dengan erat.


"Biaaann hiks... bian janji gak akan pernah ninggalin gue hiks..."


"Gue bakalan jadi biannya lo, gue bakalan lakuin apapun buat bikin lo bahagia," bright mengangkat dagu win dan mencium keningnya.


"Apapun!! kita kembali ke awal dimana gue beneran lupa ingatan, lupain kejadian kemarin, dipikiran lo cuma ada bian, gue bian yang akan jagain lo sampai kapan pun." Ucap bright menghapus air mata yang membanjiri pipi win.


"Tapi hiks..."


"Gak ada tapi, win gue bian ingat itu!! Ya??" Terus win ngangguk karna bian emng sesoft ini.


Win nggak percaya dengan kejadian kemarin, mungkin saja cuma mimpi dan bian sedang menjahilinya, ini bian, ini biannya yang soft dan perhatian, dia berharap suatu nanti ini semua cuma prank, soalnya bian bilang kalau dia bakalan terus jagain dirinya.


"Kamu dari kemarin belum makan, kakak masak bubur dulu."


"Jangan ditinggal." Win nahan bright karna tidak mau di tinggal lagi, walaupun setengahnya memang tidak percaya


"Masak dulu, sebentar ko." bright mengelus surat kecoklatan milik win.


"Hiks... ikut." Demi apapun win lucu, masih segukan nangis.


Wajahnya merah karna demamnya belum turun, bright menggendong win dan menuruni anak tangga dengan pelan.


"Kalau sudah makan, minum obatnya ya??"


"Hiks... nggak mau!! Pahit." Rambut acak2an, masih hiks hiksan, tapi win tetap menggemaskan.


Habis bergelut dengan win yang gak mau minum obat akhirnya bisa dipaksa juga, udah mau nangis lagi tapi bright tetap paksa itu anak minum obat.


•°•


Sekarang bright menggendong win kesofa terus menghidupkan tv karna katanya dikamar bosan.


"Pijitin." Ucap win tapi wajahnya natap tv.


"Pijitin." Ledek bright.


"Kamu ngeledekin aku??"


"Kamu, kamu, kamu!! Panggil yang bener." Ucap bright.

__ADS_1


"Ayolah kak biaaann kaki aku pegel." Rengek win. bright sedikit kaget karna yang di panggil bian, tapi karna demi kebaikan win dia harus bisa menahan rasa cemburunya.


"Iya iya." Bright memijat kaki win yang ada dipahanya sedangkan anaknya lagi santy nonton tv.


Kalau kalian kira bright tenang dan santai, jawabannya nggak!! Bright harus menyelesaikan masalah utamanya, kalau sampai drake berani nyentuh win lagi dia akan turun tangan.


•°•


Setelah kejadian itu bright biasa kesekolah, win juga tidak pernah membahas masalah itu karna semua sikap bright emng seperti bian.


"Bian udah lancar main gitarnya?? Acaranya hari rabu jangan lupa." Ucap bu guru.


"Cieee bian tampil terus tiap tahun." Ucap mike.


"Ini acara apa sih?? Gue dari kemarin latihan tapi gak tau acara apa." Ucapnya memainkan hpnya.


"Ingatan lo gak balik2?? Biasanya seminggu aja udah balik, ini udah 1 bulan lo belum ingat apa2." Ucap gun


Mike nampol kepala gun yang gak ngotak sama sekali.


"Lu kalau penasaran cobain kangker sana!! Temen gue dulu malah mening___" bright langsung berdiri menjauh dari mereka dan narik win yang lagi fokus nyalin materi kemarin2.


Win mengernyitkan dahinya karna bright sedang menariknya terus mereka berjalan kearah UKS.


"Kakak kenapa?? Sakit lagi??" Ucap win.


"Kamu dengarkan percakapan gun sama mike??"


"Percakapan apa?? Soal apa?? Emng ada apa??" Tanya win aneh.


Bright menghela napas terus memeluk win dengan erat sampai win merasa aneh, tapi dia menepuk2 punggungnya.


•°•


"Hari ini langsung pulang aja, istirahat yang cukup." Ucap bright


"Iya iyaaaa." Bright menaiki motornya diekorin sama win.


Dijalan seperti biasa gak ngobrol, dijalan juga adem2 aja tapi nggak setelah beberapa orang menghalangi jalan mereka pantesan aja jalan yang dia lewati sekarang sepi.


"Kak kenapa berhenti??" Tanya win terus dia liat kedepan.


Bright turun begitupun win, wajah bright udah gak seperti biasa, sepertinya dia marah melihat orang2 yang sedang berdiri dihadapan mereka.


"Hidup lo gak akan tenang, kalau lu belum ngasih win sama gue." Ucap drake.


"Gue udah bilang, selagi gue masih hidup win gak akan pernah jatuh ketangan siapapun."


"Lo itu penyakitan, gak akan hidup lama, mending lo kasih win sama gue,"


Bright membalikan badanya menatap win dan memegang tangannya."kamu tunggu disini, kalau terjadi sesuatu sama kakak tlpn no ini." Ucap bright memberikan hp nya.


"Nggak!! Kakak tetap disini, kalau terjadi apa2 gimana??"


"Win, percaya sama kakak!! Kakak gak akan kenapa2." Ucap bright terus berjalan kearah mereka.

__ADS_1


Mau kabur tapi mereka bakalan ngejar, bukan kabur karna bright pengecut dan bukan menghadang mereka so jagoan, masalahnya win, win yang bakal terus2an diganggu sama mereka.


"Bian bian, lu emng gak pernah kenal takut." Ucap drake.


"Serang dia!!" Titahnya.


7 orang dengan kayu yang dipegangnya menyerang bright, untungnya dia bisa melawan, masa anak pembalap gak bisa gelut, otot kekar juga, cuma kalau bright lagi sakit ya sia2 aja.


Bughhhhh


Kepala bright dipukul oleh kayu membuat dia sedikit pusing, tangan win bergetar susah banget buat nlpn no tadi.


Bughhhh


Sekali lagi kepalanya dipukul membuatnya berdarah sampai mengucur kearah mata.


"****." Umpat bright melihat darah yang ada ditangannya.


"Arghhhhh." Dia menendang salah satu dari mereka, mengambil kayu dan menyerang yang lain.


Semuanya terkapar diaspal, dia benar2 marah melihat kelakuan drake.


"KAK AWAS!!!"


Bughhhhh


Punggung bright ditendang sampai jatuh, drake menginjakan kakinya diatas dada bright.


"Lo harus ingat, bukan cuma gue yang mengincar win, tapi ayah win juga mengincar nyawanya."


Bughhhh


Dada itu diinjak dengan kasar sampai bright mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Jadi lu gak usah so jago mau lindungin dia, keluarga dia aja gak pernah menginginkannya." Lagi2 tendangan itu dilayangkan.


Suara motor mendekati mereka, drake melihatnya kenapa bisa ada kendaraan datang kesini padahal jalanan ini sudah dia tutup.


"Sial." Ucapnya terus dia kabur bersama teman2nya tapi mereka menyusulnya sedangkan gulf memberhentikan motornya diarah bright.


Win juga lari dengan tangisnya menghampiri bright yang lagi merintih kesakitan.


"Bian?? Bian lu gak papa kan??" Gulf mau membangunkan bian tapi anak itu terus merintih.


"Kak?? Kak bian???" Win mendorong gulf terus merangkul bright yang masih terbaring.


"Kak hiks... kak bian kenapa??" Bright terus memegang dadanya.


Gulf terus2an menghubungi ambulan karna kayaknya bright kesakitan banget.


"Kak bright hiks... kakak kenapa?? jangan tinggalin aku." Tangis win makin keras.


Kepalanya berdarah tapi win malah liat bright terus2an memegang dadanya sampai merintih sesakit ini.


^^^TBC➡^^^

__ADS_1


Cape banget nulisnya, deg degan



__ADS_2