A Crying Child

A Crying Child
7. Sevens Holy Angels (2)


__ADS_3

Evan bertarung dengan dua orang yang sangat kuat, dan bahkan dirinya dijadikan samsak oleh mereka, tubuhnya hancur berkali-kali, dan ia terus meregenerasi


Tidak seperti Immortal Hunter yang lainnya, biasanya mereka akan trauma setelah beregenerasi setelah mati sekali, namun Evan tak merasakan tersebut.


Melainkan, dirinya malah kegirangan, seakan-akan dia adalah orang yang berbeda dari sebelumnya, yang tadinya terlihat kalem, dan normal, kini berubah drastis, sikapnya menjadi seorang psikopat dan menjadi jahat.


Ia tak terkendali, tubuhnya bergerak sendiri dan ia menyerang Riel dan Malaikat tersebut dengan cara brutal, walaupun mata nya terbakar lagi akibat melihat Malaikat tersebut, namun kali ini ia tidak merasa kesakitan sama sekali, rasa sakit, serta yang lainnya tidak dirasakan oleh Evan saat ini, karena dia saat ini didalam mode "Destroyer" sehingga serangan apapun yang mengenai Evan tidak akan membuat Evan kesakitan, atau singkatnya, Rasa Sakit di tubuh Evan saat mode "Destroyer".


Kini, Evan menggila dan menyerang mereka secara membabi buta.


"Malaikat? Makhluk Dunia Lain?! Hahaha! Aku tak peduli! Selama itu orang yang menggangguku aku akan melawannya!!" Ucap Evan dengan lantang, di depan mereka sambil tersenyum jahat dan matanya masih terbakar.


"Kau... HAHAHA! INGIN MELAWANKU?! JANGAN BERCANDA, BUTUH 1 ABAD BAGIMU UNTUK MENGALAHKANKU!" Ucap Malaikat tersebut.


"1 ABAD? 1 JAM SAJA SUDAH CUKUP BAGIKU UNTUK MENGALAHKANMU!!!" Evan langsung menerjang Malaikat itu dengan gesit, dan langsung menebas punggung malaikat tersebut, namun serangan tersebut malah dipantulkan oleh Malaikat tersebut ke arah Evan sendiri.


Riel juga menyerang mereka semua dari belakang, ia menebas kepala Evan dan membelah tubuh Malaikat tersebut.


Namun semuanya sia-sia ia lakukan, karena mereka beregenerasi kembali, Evan yang kepalanya ditebas tiba-tiba kepalanya tersambung kembali, begitu juga dengan Malaikat tersebut.


"Huh?" Evan menoleh ke arah Riel dengan tatapan ingin membunuh sambil memegang lehernya.


Saat Evan lengah, Malaikat tersebut langsung menusuk kan pedangnya ke dada Evan, namun saat dia ingin menusukkan pedangnya tersebut, Evan menghancurkan pedang tersebut.


Sesaat setelah pedang tersebut dihancurkan, Evan langsung menyerang balik ke arah Malaikat tersebut, walaupun Eksistensi mereka berbeda, Evan berhasil melukai Malaikat tersebut, dan hampir membunuh Malaikat tersebut karena ia menggunakan sebuah tombak yang ia ciptakan sendiri dan ditusukkan ke Kepala Malaikat tersebut.


"Ini adalah pembalasanku terhadap kau karena telah membakar mata ku." Evan


Setelah itu, Evan juga menebas kepala Malaikat tersebut dan mengambil kepala tersebut serta menggantung nya di sebuah tiang.


"Ini adalah pembalasan untuk kau karena menggangu kami yang baru saja selesai bertugas dan mendapatkan jatah liburan." Evan


Dan sekarang sisa Riel dari dari Bubble Universe, namun dia melarikan diri entah kemana dia menghilang begitu saja seperti ditiup oleh angin.

__ADS_1


Setelah Malaikat itu di kalahkan, Evan menggantung kepalanya di tiang untuk menjadikannya sebagai tanda karena ia takut bahwa di masa depan kelak ia akan bertarung ditempat itu kembali, dan ia tak ingin melupakan pertarungan ini.


'Huh? Kenapa setelah pertarungan ini selesai tempat ini tidak kembali normal? Apakah terjadi kesalahan? Atau aku yang salah mengira?' Evan kebingungan dengan apa yang terjadi.


Ia salah mengira bahwa dengan membunuh Malaikat tersebut akan mengembalikan tempat tersebut menjadi normal.


"Apakah ini sebuah bug?? Oh ya, ini bukan game..." Evan kebingungan dan mencari cara untuk mengembalikan dunia menjadi normal.


'Tidak... Ini bukan Dunia yang dulu, ini pasti Dunia Pararel yang tercipta sendiri dan aku beserta yang lain dipindahkan kesini oleh seseorang... Tunggu, "Seseorang"? Apa mungkin ini perbuatan Orang yang tadi bertarung dengan Malaikat tersebut? Kalau iya... Berarti aku bodoh tidak membunuh orang itu tadi' Evan merasa bersalah karena tidak membunuh Riel dari Bubble Universe.


Namun, kenyataannya, walaupun Evan berhasil membunuh Riel dari Bubble Universe itu sama sekali tidak membuat ia kembali ke Dunia asalnya, karena sesungguhnya tempat itu tidak disebabkan Riel maupun Malaikat tersebut


Penyebab semua ini adalah...


POV ZULKARNAIN


"Kita diteleportasikan kemana? dan terlebih lagi, dimana Evan?" Ucap Ezekiel sambil kebingungan dan mencari Evan.


"Kami tidak tahu" Ucap kami serentak sambil menatap langit yang saat ini gelap semenjak beberapa menit yang lalu.


"Uhuk, apa-apaan itu? Apakah mungkin itu Sebuah benturan senjata yang mengakibatkan angin sedashyat ini? Tapi aku tidak melihat apapun disekitar sini walaupun aku sudah mengobservasi daerah sekitar sini menggunakan kekuatanku.


Tunggu, apa mungkin badai? tapi tidak mungkin di daerah seperti ini ada Badai, terlebih lagi disini wilayahnya lumayan cerah.." Ucap Ezekiel sambil memandang ke langit


"Ya, memang benar disini tidak ada tanda-tanda akan terjadinya badai, kemungkinan besar penyebab angin dashyat tersebut adalah pertarungan mereka.. sepertinya Evan mulai menunjukkan taringnya." Ucap Gabriel sambil tersenyum menghadap ke Utara.


"Evan dan orang-orang aneh itu sedang bertarung di sana, aku tidak tahu pasti jarak kita dengan lokasi pertarungan tersebut, namun aku dapat merasakan bahwa kita berada di tempat yang jauh dengan mereka, aku bisa melihat perbatasan dari sini.." Gabriel


"Perbatasan..? Mungkinkah?!" Aku terkejut dengan pernyataan Gabriel


"Ya, kita diteleportasikan ke dekat Perbatasan antara Dunia Manusia atau Human World dengan Dunia Iblis atau Devil Realm.." Gabriel


"Bagaimana mungkin bisa seorang Immortal Hunter yang tak ada pengalaman sama sekali menggunakan kekuatan teleportasi sejauh itu? Bahkan Tetua (Riel) saja membutuhkan banyak stamina dalam menggunakan kekuatan Teleportasi sejauh ini." Evarost

__ADS_1


"Di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin. Evan adalah anak jenius, dia dapat menggunakan teknik orang lain hanya dengan melihatnya, terlebih lagi ia dapat meniru Eien milik seseorang. Dia benar-benar.. Anak yang memiliki Potensi tidak terbatas." Ucap Gabriel dengan senyum penuh kemenangan.


"Kita beruntung karena menemukan serta mendidik anak itu." Gabriel lagi lagi tersenyum dan sambil memegang pedangnya.


"Mungkin kau benar, kita beruntung karena menemukan anak itu, jika tidak maka Immortal Hunter tidak akan seperti sekarang." Ucap Steve


"Tunggu, kenapa "Mungkin"? Apakah ada yang salah?" Gabriel


"Itu karena aku mencurigainya." Steven


"Huh? Kau mencurigai seorang anak Yatim Piatu? Apa alasannya?" Gabriel


"Sebab, dia mengatakan bahwa dia bertahan hidup 12 tahun tanpa seseorang disampingnya, aku curiga bahwa itu cerita karangan, terlebih lagi mustahil bagi seorang anak menjelajah dunia serta bertahan hidup tanpa partner atau orang disampingnya." Steven


"Hah? pfft, jadi itu alasanmu mencurigai nya? Bukankah sudah dibuktikan dengan ketulusan serta isi hatinya? Jika kau lebih tua darinya pasti kau sadar." Gabriel


Aku hanya bisa terdiam sambil menunggu Evan kembali.


***


POV EVAN


"Ini sulit... bagaimana aku bisa berbuat ceroboh seperti tadi? Terlebih lagi sia-sia aku menggunakan "Destroyer Mode" dan hampir memakai 20% dari kekuatanku, namun hasilnya nihil.." Aku menyesal karena sudah membunuh Malaikat tersebut.


"Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, mau gimanapun caranya aku tidak bisa menghidupkan nya kembali, karena dia adalah Makhluk Ilahi, aku tidak punya akses seperti para Dewa atau semacamnya untuk menciptakan Makhluk Ilahi seperti Malaikat." Ucapku sambil berjalan menelusuri tempat itu untuk mencari petunjuk tentang Dunia yang Suram ini.


Aku berjalan menelusuri tempat itu sambil memakan buah apel yang baru saja ku ambil dari pohon dekat aku bertarung.


Setelah 1 gigitan, aku merasa tubuhku di rasuki oleh sesuatu, dan entah kenapa rasa apel ini berbeda dengan Apel di Desa Kecil maupun Dunia Manusia, walaupun aku ragu sebenarnya apakah ini Dunia Manusia atau bukan.. Karena tidak ada hewan, ataupun Makhluk lain seperti di Bumi yang hidup.


Disini suasanya lebih suram dibandingkan Bumi setelah Kiamat.


"Aku tidak bisa merasakan keberadaan makhluk hidup disini."

__ADS_1


 


__ADS_2