Absured Class

Absured Class
Moment# Beribu alasan


__ADS_3

PoV


"Itu Cewek yang barisan paling tengah"


"Cahaya" sebut Melani "Eh" lanjutnya kaget yang ujung ujungnya bingung benar apa tidak.


"Eh bukan lah Lilik" ujar Anggun membenarkan sambil menoleh kebelakang barisannya.


"Cahaya lah gun" elak Lilik merasa bukan ditengah.


Cahaya yang duduknya dibelakang Lilik cuman noleh noleh bingung dengan tampang polos lugu seperti biasanya.


"Perasaan Cahaya diam aja deh" ujar Refina yang duduk dibelakang Cahaya sedari tadi menyadari.


"Eh bentar pak" sadar Lilik berasa ada yang aneh "satu dua tiga empat lima, berarti saya ti-gaa hehe saya" jawabnya yang sadar ternyata dialah yang ditegur mala cengegesan.


Pak Ahmad geleng geleng sambil masang tampang datar melihat tingkah anak murid didikan Pak Romi itu yang katanya terkenal aktif sekali dikelas.


Kelas kembali hening.


"Syutt wind" bisik Aldry dari tempat duduk pertama disamping dinding sebelah kanan tepat di samping pintu.


Windi langsung menoleh "no berapa?" Bisiknya yang sudah mengerti.


"Lima"


Windi yang berada di barisan tengah tepat didepan meja guru namun deretan kedua pun melihat lihat apakah Pak ahmad melihat kearahnya apa tidak. Dengan hati hati ia mengerakkan mulutnya tanpa suara.


"Kamu cewek tengah dua barisan didepan saya"


Windi langsung terdiam sambil senyum senyum sendiri karna tercyduk.


"Satu ya Al"


"Apa bapak ni gak ada ya" jawab Aldry walaupun dia terkekeh sendiri karna tercyduk.


"Apaan kamu nanya ke dia tadi"


"Nanya doang"


Pak Ahmad melongos kasar "Isi ajalah disitu jawabannya" katanya.


"Apalah bapak ini itu ketua kami loh gak boleh kayak gitu, dia tu cuman nanya" bela Lilik membuat Pak Ahmah menaikan sebelah alisnya heran.


"Nanya kok pas Ujian" jawabnya heran sambil geleng geleng ditempat duduknya.


"Bapak ni kami tu cuman menolong tau, menolong itu indah dapat pahala lagi" ujar Refina ikut membela.


Pak Ahmad diam sudah biasa melihat tingkah tingkah saat saat ujian, walaupun ia pertaama kalinya jadi guru tapi ia juga perna berada diposisi mereka.


Iya membantu teman dan meminta bantuan


Disaat ujian.


Namun matanya langsung terarah ketika melihat salah satu diantara mereka sudah bergerak gerik curiga.


"Ha ha tengok tu si Qory udah sok sok jatuhin penanya"


Qory tersenyum sambil tertawa karna kepergok "mana ada ya emang pak jatuh tauuu"


Asya yang berada dibelakang Kharin menoleh ke kanannya memanggil Lilik dengan pelan "nomor 15 sama 16 apa?"


"A sama C"


"No 7 sama 8?"


"D sama B"


"Kalau 24 itu yang mana soalnya kan ada dua?"


"Yang pertama yang kedua gak usah diisi"


"Lo tau dari mana, kalau yang kedua gimana?"


Lilik kesal dibalik satu tiang dinding didepannya yang menjadi tameng agar tidak keliahatan oleh Pak Ahmad. "Ikutin ajalah apa kata gue"


"Cewek yang ditengah itu kenapa kesel keselan sama yang disampingnya ngomel ngomel lagi"


Lilik langsung merasa dan jadi cengegesan "Enggak loh pak, biasanya tu saya duduk disamping Asya jadi si Asya tu kangen sama saya gitu pak" alibi Lilik membuat Asya ketawa tertahan.


"Pandai kali alasan kamu ya"

__ADS_1


"Ih bapak gak percaya"


"Emang enggak"


Wily dengan santai nonton Film dibelakang Ulfa, ponsel hitamnya ia senderkan kekursi milik Ulfa. Ia sudah membuat contekan jadi tidak usah bising bising seperti yang lainnya.


Sopik yang sudah siap hasil contekan hpnya itu tertarik dengan film Wily ia langsung menggeserkan mejanya sediki ke dekat Imah agar bisa ikut menonton dari belakang Wily.


Sementara Qory udah sibuk minta tukaran soal sama Padilah si anak yang kami paling percaya kalau nilai Padilah itu pasti tinggi.


Dan dengan gerakan cepat mereka berdua tukaran soal, dengan soal Padilah yang sudah disilang silang.


Shofi si anak baru yang masuk waktu kelas sebelas itu dari tadi sibuk dengan soalnya gak bising sama sekali padahal dirinya duduk paling belakang pojok tepat dibelakang Padilah.


"Tengok tu yang paling pojok belakang diem diem aja gak bising" tegur Pak Ahmad tiba tiba membuat semua noleh kearah Shofi dan gadis yang ditegur itupun ikut melongo bingung.


"Maksud saya belum jamnya tu, lihat aja entar lagi" lanjut Pak Ahmad lagi Shofi yang ada dibelakang itu sedikit terkekeh pelan.


Lagi lagi Lilik dipanggil namun kini sama Aldry membuat Lilik noleh.


"Nomor 15?"


"A"


"Lah kata Melani tadi B"


"Ya kalau gue sih A, terserahlah"


Aldry mangut mangut "terus 16 apa?"


"C"


"17"


"B"


"18"


"D"


"Sem-"


"Aiss tinggal bilang 15 sampai 20 apa susahnya sih!" Ujar Lilik sebal sendiri dibalik tiang.


"Heh itu Cewek ditengah saya mala bising lagi"


"Eh kok saya lagi pak"


"Ya emang kamu, Kamu tadi kasih tau si Aldry kan"


"Saya bukan kasih tau, tapi beri tahu"


"Sama aja"


Aldry mala terkekeh karna Lilik yang terkena marah bukan dirinya "Eh Aldry kamu ya sekali lagi minta jawaban sama si Cewek tengah itu saya catat nama kamu, kasih ke Pak Romi"


Aldry langsung terdiam "eh eh jangan lah pak"


"Kamu udah dua"


Mendengar peringatan dari Pak Romi membuat Aldry jadi terdiam walaupun didalam hatinya mengerutu kesal.


Venny yang duduk dibelakang dan sukses mendapat contekan dari ponselnya itu harus melihat kearah kanannya karna ada panggilan dari Refina yang meminta jawaban.


"Nomor berapa?" Bisiknya pelan.


"35 sampai 40"


"A C C-"


"Kamu Cewek Cantik paling belakang jangan kasih tau teman sebelahnya"


Belum sempat kelima nomor itu selesai Venny sebut udah ditegur Pak Ahmad membuat Venny jadi senyum senyum.


Lilik yang merasa tidak terima tiba tiba protes "Issss bapak ini tiba Venny pake kata Cantik lah tiba saya 'Itu Cewek ditengah" ujar Lilik yang diakhir kalimatnya niru gaya Pak Ahmad.


Ahmad geleng geleng "saya kan ga tau nama kamu"


"Ya masak manggilnya Cewek ditengah, apalah bapak ini"


"Jadi lo mau dipanggil apa ha?" Tanya Anggun

__ADS_1


"Aiss peka lah kalian, Lilik tu mau dipanggil pacarnya Raka" ceplos Melani yang ada dibelakang.


"Oooo pacar kamu si Raka anak TKJ itu, kok mau dia sama kamu?"


Aldry ketawa membuat Anggun ikut tertawa disamping deretan absen tempat duduknya "Parah bapak ni" celetuk Anggun terkekeh.


Membuat Lilik jadi cemberut.


Anggun yang duduk paling depan itu memanggil manggil Windi dengan bisikan kecil setelah ia yakini Pak Ahmad tidak melihat kearahnya.


"Apa gun?"


"28 apa?"


"C"


Aldry nyari kesempatan pas Windi ngasih tau Anggun "10 wind?"


Windi langsung jaga jaga dan sedikit nunduk menutupi kepalanya dari badan Inyong yang ada didepannya "B"


"11"


"C"


"Dua-"


"Itu Cewek dibelakang Inyong mau saya kempesin?"


Satu kelas mendadak tertawa


"Tiga kali kamu Aldry"


"Kalian ini ya, tinggal jawab aja apa adanya baca bismillah" Pak Ahmad mendadak meranjak dari bangku dan berjalan kearah meja Inyong "Atau gak cap cip cup sapa tau beruntung"


"Kalau salah bapak tanggung ya" jawab Inyong membuat Pak Ahmad jadi terkekeh.


"Kok saya?"


"Yakan bapak yang ajarin" sambung Anggun.


Mata Ahmad tiba tiba terarah ke barisan paling belakang pojok dekat buku buku "itutu lihat meja yang paling belakang tu udah mereng deket ke si Wili"


Sopik yang asik nonton bareng Wili jadi tersadar dan langsung cepat cepat mengembalikan mejanya ketempat semula membuat Melani yang ada didepannya terkekeh renyah.


Tiba tiba


Prank


Wili ngumpat tanpa suara melihat ponselnya terjatuh kelantai akibat Ulfa yang mendadak memajukan kursinya.


"Wossss babang Wili" Lilik tepuk tangan


"Mantap kalee hp mahal jatuh" ujar Anggun ikut ikutan.


"Tenang Wil, beli lagi" saut Aldry yang mala tertawa.


"Efek nyontek gitu hpnya jatuh" ujar Pak Ahmad yang kini berjalan kearah Wili


"Eh,, mana ada saya lihat hp" elak Wili jujur yang masih melihat lihat kelayar ponsel apakah ada lecet atau tidak. Memang benar dia tidak lihat ponselnya melainkan bosan dan mala nonton film.


Qorry yang melihat Pak Ahmad ketempat Wili langsung mencari kesempatan. Sedari tadi Ani sudah bisik bisik manggilin Qorry untuk minta jawaban namun Qorry diam saja karna takut ketahuan.


"Sini Ni soal lo" ujar Qorry cepat membuat Ani gelagapan dan cepat cepat mengasih soalnya ke Qorry.


Berasa ada yang gak beres dari kubu kiri mata Pak Ahmad langsung mengarah ke meja Qorry yang kini tiba tiba menjatuh kan penanya dengan sengaja.


"Eh jatuh" ujar Qorry sambil cekikikan genit dengan perkataan yang dia buat buat membuat Pak Ahmad geleng geleng kepala.


"Apa lagi lah alasan kamu Qorry"


"Jatuh pak" Qorry berdiri dan mengambil pena hitamnya yang jatuh dilantai.


"Udah kumpulkan semuanya"


"WHAT!"


-


Iya ini tu ujian tapi sempat kita bising wkwkw


Miss :))

__ADS_1


-cathpins


__ADS_2