
“Hei! Lihat disana!” seru Bayu sembari menunjuk ke arah persimpangan jalan disana.
Aku pun mencari tahu apa yang sebenarnya ditunjuk oleh temanku satu ini.
Disana terlihat ada sekumpulan anak jalanan yang berlarian dikerjar oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Sekitar 8-10 orang anak yang berumur dibawah 10 tahunan itu berlarian di pinggir persimpangan jalan menghindari panggilan dari para petugas yang sedari tadi sudah berteriak menyuruh mereka untuk berkumpul.
“Kasihan mereka ya.” Bayu mengalihkan pandanganku terhadap aksi kejar-kejaran pihak satpol pp dan anak jalanan itu.
Aku pun turut merasa kasihan, walaupun sebenarnya aku kurang mengerti siapa yang salah dan siapa yang benar. Satpol PP aku pikir mereka memang mendapat perintah dari atasannya dan anak jalanan itu sendiri kupikir hanyalah seorang anak-anak.
Tak lama setelah itu, kami meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Kami memang selalu melewati persimpangan jalan itu setiap sore sepulang dari kantor. Perjalanan sore itu pun cukup menyita perhatianku. Mulai dari kenapa anak-anak itu dijalanan, apa yang mereka lakukan, dimana orang tua mereka, sampai dimana sebenarnya mereka tinggal.
“Aku duluan ya!” kata Bayu sambil menepuk pundakku yang sontak membuatku kaget dan membuyarkan lamunanku.
“Iya bay, hati-hati dijalan. Salam sama bibi!” aku melepas kepergian temanku satu itu, karena memang kami setiap sore selalu pulang bersama dari tempat kerja, tetapi tinggal di blok yang berbeda.
Aku memperhatikan punggung teman karibku itu berlahan menjauh dari persimpangan blok ini.
Dia Bayu, Bayu Setia Negara namanya. Teman dekat sejak di kampus dulu. Orangnya aktif, berjiwa sosial, dan hobi memancing keributan. Sesuai namanya, dia orang yang sangat protektif dan up to date terhadap berita nasional kenegaraan, bahkan di tempat kerja dia sering memaki-maki sendiri saat membaca koran yang ujung-ujungnya pasti selalu berakhir keributan karena karyawan lain terganggu.
Bukan perkara besar, tetapi setiap pagi ketika jam coffe break dan sambil membaca koran, dia selalu emosi membaca berita yang lagi-lagi tentang permasalahan bangsa, dari bencana alam, penyakit masyarakat, utang negara, harga barang naik dan lain sebagainya.
Aku sendiri setiap jam coffe break lebih suka menemani secangkir kopi dengan buku dan pena. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk mengumpulkan inspirasi, apalagai ditemani secangkir kopi hangat di rest area kantor yang memang penuh dengan tumbuhan ini, sehingga kombinasi antara aroma kopi dan pagi merupakan perpaduan yang baik dalam memberi inspirasi menulis. Ditambah lagi didampingi oleh karib yang satu itu, dia paling handal mengomentari dan mengoreksi dari setiap sisi tulisanku, mungkin ini hasil dari rajinnya membaca dan berkegiatan.
Yah. Aku sendiri memang suka menulis. Mulai dari puisi, cerpen, cerita seri, novel, opini, essay atau bahkan komentar dari orang-orang sekitar, kebetulan sekali aku berteman dekat dengan komentator nomor satu di negara ini, setidaknya ditempat kerja ini.
Hubunganku dan Bayu sebenarnya tidak begitu dekat, selain karena satu kampus juga yang menjadikan kami dekat. Untuk masalah hobi dan aktifitas selama di kampus dulu juga sebenarnya kami tidak ada kesamaan yang begitu berarti. Aku dulu aktif dalam kegiatan literasi dan keilmuan, sedangkan Bayu aktif diberbagai kegiatan, baik sosial, kewirausahaan, olahraga, bahkan literasi sekalipun.
Bayu Setia Negara dikenal sebagai aktifis yang kerap mengajak dan berdiri menyuarakan agar para mahasiswa di kampus kami dulunya itu tidak hanya menjadi mahasiswa 'kupu-kupu' atau biasa disebut mahasiswa yang kuliah pulang – kuliah pulang. Semacam mahasiswa yang tipenya hanya mengejar nilai, mengejar gelar, tanpa tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Bayu adalah tipe orang yang emosian kalau dikatain mahasiswa sok sibuk, karena memang dia tidak pernah melewati hari tanpa ada kegiatan, walaupun itu hanya sekedar kegiatan diskusi.
Mungkin semua pengalaman yang didapatnya selama menjadi mahasiswa itulah yang mampu melejitkan karirnya di tempat kami bekerja, selain hobi membuat keributan dia juga menjadi karyawan andalan para atasan, karena memang dia tekun juga dalam bekerja. Aku sendiri bisa bertahan di tempat kerja ini memang karena kedisiplinan yang dikedepankan dalam melaksanakan semua tugas dari atasan.
__ADS_1
Aku merasa kejadian sore ini akan membuat dia merencanakan sesuatu untuk dilakukannya dan pasti aku akan terlibat dalam rencana itu. Bukan karena aku temannya, tapi karena aku sangat memahami tabiat temanku satu itu sedari dia aktif di kampus dulu.
Tak terasa, dengan memikirkan dia membuat aku menyusuri jalan pulang tanpa menyadari aku sudah tepat berdiri di depan pintu rumah. Sebuah rumah bertingkat dua itu memiliki daun pintu berwarna hijau dan intercom yang akan menyapa saat kita memasuki rumah,
"Home sweet home, rumah hijau yang menenangkan dari segala hiruk pikuk dunia luar, ” begitulah yang akan selalu terdengar setiap ada yang memasuki rumah.
Benar-benar rumah hijau, karena memang di rumah ini serba hijau. Mulai dari warna interior, sofa, dan beberapa tanaman hias juga banyak di setiap sudut rumah. Warna hijau memberi ketenangan pada yang lelah dan memberikan kesejukan pada yang butuh inspirasi.
Aku dan Bayu bekerja disebuah perusahaan start up pendidikan berbasis semi korporasi. Bayu merupakan Asisten I Manajerial Lapangan dan aku sendiri merupakan staff di bagian research gate. Oleh karena itu aku memang harus selalu memiliki ide segar untuk menjawab pertanyaan ataupun tantangan perusahaan.
Nampaknya seisi rumah ini masih belum pulang. Selain aku, di rumah ini juga tinggal ayahku yang bekerja di Dinas Pendidikan Pemerintah, ibuku bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah favorit dan ada seorang adik perempuanku kini kuliah di sebuah kampus terbaik di kotaku. Sejenak memang terlihat kehidupanku sangat baik. Mulai dari pekerjaan yang bagus, teman yang hebat, kehidupan keluarga yang mapan, rumah yang bagus, dan lainnya. Ya begitulah jika dilihat sekilas, karena semua yang dilihat sekilas tentu akan terlihat hebat sekali atau buruk sekali. Dalam kasusku mungkin terlihat hebat sekali, tanpa tau di baliknya ada apa.
Kamarku berada di lantai 2, memiliki balkon yang menghadap ke daerah puncak. Balkon ini biasanya aku gunakan untuk menulis atau sekadar mencoret-coret kertas.
Aku masuk ke kamarku dan meletakkan tas serta segala barang bawaanku di atas kasur. Hari ini aku cukup banyak membawa pekerjaan pulang. Bukan karena aku malas-malasan dikantor, tetapi home sweet home, rumah adalah tempat terbaik untuk bekerja.
Setelah merapikan semuanya, aku mandi karena memang sangat gerah sekali seharian bekerja dikantor, ditambah lagi sore ini cukup terik. Sejenak, sebuah benda kecil di atas kasur menarik perhatianku. Ponsel yang sudah kugunakan sejak di masa kuliah dulu. Tak sadar ternyata sudah banyak chat masuk ke ponselku. Kubiarkan saja notifikasi chat menyibukkan benda kecil itu, sedangkan aku langsung masuk ke kamar mandi untuk kembali menyegarkan diri sebelum melanjutkan pekerjaan kantor tadi. Selepas mandi dan segala urusan pribadi itu, aku mengambil ponsel sembari mengumpulkan mood untuk lanjut bekerja sembari scrollwall chat di ponselku. Ternyata sesuai dugaan, Bayu mengirimku pesan.
Sudah kukatakan, Bayu adalah tipe orang yang tidak mau diam, biasa orang kebanyakan menyebut manusia seperti ini hiperaktif. Anak-anak yang disebut Bayu adalah teman-teman dekat kami yang dulunya satu kampus dan sering buat kegiatan bareng selepas lulus.
Aku balas saja chat-nya dengan singkat,
“Yo’i! Lo atur aja, gue ngikut. Asal jangan bikin gue ninggalin kerjaan gue aja. Deadline nih, abis gue kalau telat.”
Tak lama setelah itu chat-nya masuk lagi. Seperti biasa untuk hal semcam ini dia bakal gerak cepat sekali, kalau sudah urusan lain saja akan menyebalkan menyuruhnya untuk cepat.
“Tenang aja! Entar waktu kumpul bareng ‘anak-anak’ lo sampaikan aja yang cocok buat lo. Jangan sampai ujung-ujungnya kerjaan lo gue yang ngerjain tau.”
Aku paling malas kalau sudah diskusi bareng Bayu, apa lagi yang didiskusikan itu berasal dari rencananya, dari A sampai Z itu sudah dipertimbangkan sama dia, jadi akan selalu saja ada bantahan dan tanggapan balasan dari dia kalau kita ada nanggapin rancangan tersebut. Tapi dengan begitu aku senang kerja bareng dia, karena Bayu merupakan orang yang sangat memperhatikan detil untuk urusan seperti ini, jadi kemungkinan untuk salah perhitungan itu kecil, semua tim tinggal memaksimalkan kerja dilapangan saja.
Selesai 'bernegoisasi' dengan Bayu, kuletakkan ponsel di samping, dan mengambil laptop serta berkas-berkas pekerjaan hari ini. Dengan semua berkas dan laptop yang di tangan langsung menuju ke balkon kamar. Balkon ini sudah seperti ruang kerja bagiku, karena dia nyaman dan tenang, suasana yang sangat cocok bagiku untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan.
__ADS_1
Tak lama kemudian saat jari-jariku sibuk dengan laptop, intercom rumah berbunyi. Kurasa orang tuaku sudah pulang. Kutinggalkan laptop dibalkon dan keluar kamar menuruni tangga menyambut kepulangan mereka.
Terlihat ayahku sudah terduduk di atas sofa, dengan pakaian dinas yang masih lengkap dan sepatu yang masih terpasang. Kupikir ayah pasti sangat sibuk sekali sekarang mengingat sudah akhir tahun ajaran dan pastinya para pegawai dinas akan disibukan dengan laporan akhir dan mempersiapkan tahun ajaran baru. Tak kulihat ibu di ruang keluarga. Ternyata ibu sudah sibuk menyiapkan minum untuk ayah, begitulah ibuku, dia orang yang sangat hebat, bahkan ketika seharian mengajar di sekolah dan pulang di ujung petang ini, ibu bahkan tidak perlu istirahat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang 'istri dan ibu'.
“Udah pulang dari tadi sa?” ibu menyapa.
“Lumayan bu, udah sempat lanjut ngerjain kerjaan kantor juga tadi, ” jawabku.
“Kamu belum makan kan aksa?” ayahku menyahut dari ruang keluarga.
“Belum yah, emang masih ada kerjaan diatas tadi.”
Ibu langsung memberiku secangkir coklat hangat untukku.
“Entar kalau adikmu Harum udah pulang, kita makan malam diluar.” sambil memberikan kopi hangat untuk ayah.
“Sekarang kamu selesaikan buruan kerjaan kamu di atas, entar kalau adikmu pulang kita langsung berangkat” sergah ayah.
“Baik yah.” Aku langsung naik ke atas dengan secangkir coklat hangat.
Kukira ayah dan ibu sangat kelelahan karena pekerjaannya hari ini sehingga mengajak makan malam di luar yang lebih praktis.
Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sebentar lagi si Harum pasti balik. Dia memang biasa pulang malam sekitar jam 7-8 malam.
Harum Atika Budaya, adik perempuanku satu-satunya yang saat ini berkuliah di salah satu kampus ternama di kotaku. Saat ini dia sedang menjalani kuliah di semester 2. Selain kuliah dia juga aktif di komunitas bina desa, yang mana dia selalu rutin setiap minggu pergi ke desa yang ada di pinggiran kota kami untuk melakukan beberapa program kegiatan.
Dia juga mengajar privat di sekitaran rumah. Yah, tipe-tipe orang yang busy memang, tapi itu bukan menjadi masalah, bagi keluarga kami, jika sibuk untuk hal-hal yang baik semua mendukung, karena jika hanya melakukan satu hal saja kita akan semakin miskin kompetensi dan nantinya akan tergerus sendiri oleh persaingan.
Begitulah adikku, bahkan ketika saat semua orang sudah berada di rumah, dia masih saja berada di luar dengan beragam aktivitasnya. Bagi sebagian orang mungkin berpikir tidak baik jika anak perempuan pulang kemalaman, tapi itu tidak berlaku di keluarga kami karena mengembangkan diri memang sepantasnya di luar rumah, jika di rumah saja maka tidak akan ada namanya perkembangan diri.
......***......
__ADS_1