
Aku yakin notifikasi yang begitu banyak pasti berisi pembahasan panjang dan penting. Ini yang menyebabkanku mengurungkan niat untuk membuka grup Whatsapp itu.
“Hei, sibuk banget dengan ponsel gue liat,” Bang Aksa mengejutkanku dari belakang. Ternyata dia sudah selesai membayar di kasir.
“Enggak sih, Bang. Ini grup bina desa kayaknya ada pembahasan, soalnya notifikasi yang masuk sampai puluhan gini,” jawabku sambil memperlihatkan ponsel kepada Bang Aksa.
“Oo yaudah yuk kita jalan dulu, biar cepat kelarnya,” ajak Bang Aksa sambil mengusap kepalaku.
Aku merespon dengan bangkit dari kursi dan mengikuti langkah Bang Aksa di depan.
“Jadi kita mau kemana dulu nih? Lo bilang mau beli parfum dengan buku juga kan?” tanya Bang Aksa kepada sambil berjalan menyusuri pelataran mal yang megah ini.
“Kita ke toko buku aja dulu bang, soalnya di sana yang bakal lama banget ngabisin waktu,” jawabku sambil melewati langkah Bang Aksa untuk memimpin jalan di depan lebih cepat.
Bang Aksa tidak menjawab dan hanya menyejajarkan langkahnya.
Toko buku yang kami tuju terletak di lantai sembilan, sedangkan tempat kami makan tadi berada di lantai satu. Ini akan cukup memakan banyak waktu jika ditempuh setiap lantai dengan menggunakan escalator, walaupun sebenarnya lebih menyenangkan menyusuri setiap lantai dan melihat hal-hal menarik yang mereka tawarkan. Namun, karena aku juga harus cepat kami memilih untuk menggunakan lift saja.
Lift yang disediakan di dalam mal ini terdiri atas empat lokasi. Terletak di setiap sisi mal, mulai dari sisi depan, kanan, kiri, dan belakang. Lift di dalam mal ini juga cukup besar karena mampu mengangkut dua puluh orang dewasa sekaligus. Meskipun begitu lift didesain dengan ukuran yang lebih besar dari kapasitas maksimalnya. Hal ini bertujuan walaupun lift sudah mencapai batas kapasitas maksimal, tetapi kondisi di dalam lift tetap nyaman tanpa perlu berdesak-desakan antar pengunjung.
Setibanya di depan pintu lift, Bang Aksa menekan tombol buka yang menandakan akan ada pengunjung yang ingin menggunakan lift dari lantai kami, lantai satu. Selain kami, ada beberapa pengunjung lain yaitu sepasang kakek dan nenek, seorang ibu dengan anaknya yang masih berusia balita di gendongannya, dan beberapa ibu-ibu. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk lift sampai menjemput kami di lantai satu. Perlahan pintu lift terbuka dan beberapa orang dari dalam lift keluar terlebih dahulu, selanjutnya kami pengunjung yang menantikan lift masuk secara perlahan.
Lift yang dindingnya terbuat dari kaca transparan menjadikan pengunjung dapat melihat mal setiap lantainya. Terlihat pengunjung yang ramai hilir mudik di sepanjang lantai mal dan juga yang keluar masuk gerai dengan banyak kantong belanja. Besi besar bergerak ini dilengkapi oleh pendingin ruangan, sehingga walapun dalam kondisi tertutup dan berisi banyak orang tetap sejuk dan tidak pengap. Hal seperti ini yang menjadikan mal yang sedang kami kunjungi ini menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota kami.
Tidak beberapa lama kemudian, lift sampai di lantai sembilan. Perlahan pintu besi ini terbuka memperlihatkan berbagai macam orang sudah menunggu di depan pintu untuk bergantian menggunakan kotak besi besar ini. Perlahan pengunjung yang memang bertujuan ke lantai ini seperti kami keluar secara bergantian, diikuti dengan pengunjung yang sudah selesai menikmati penawaran di lantai ini ataupun mereka yang tertarik dengan lantai lain masuk ke dalam lift. Kini aku dan Bang Aksa berada di lantai sembilan. Lift mendesing pelan bergerak meninggalkan lantai ini menuju lantai yang lainnya.
Lantai sembilan ini merupakan lantai khusus toko atau gerai yang menyediakan perlengkapan hobi, seperti toko kaset, toko lukisan, toko olahraga, dan tentunya juga toko buku yang akan kami kunjungi saat ini.
Toko buku yang kami cari tidak jauh dari lift sisi belakang, tepatnya disebelah toko olahraga. Sebuah toko yang cukup besar dengan panjang sekitar 20 meter dan terdiri dari banyak rak-rak buku serta kursi membaca yang juga disediakan oleh manajemen toko. Pemandangan di dalam toko buku bisa terlihat dari luar karena secara menyeluruh dinding toko ini terbuat dari kaca transparan. Aku sangat menikmati menghabiskan waktu di toko buku, bahkan sejak kecil dulu aku sering diajak dan ditemani oleh ibu ataupun ayah ke toko ini, selain karena memang besar, toko ini juga memperbolehkan pelanggannya untuk membaca sampel produk yang disediakan.
Toko ini tidak hanya menyediakan beragam model buku saja, melainkan juga alat bantu belajar dan alat tulis kantor (ATK). Mulai dari papan tulis, screening, papan belajar, lampu meja, dan lainnya. Mengenai buku yang ditawarkan sangat banyak macamnya, mulai dari buku keilmuan, buku fiksi,sejarah, novel, koran, majalah, komik dan segala macamnya. Oleh karena itu, toko buku ini merupakan tempat terbaik yang menjadi langgananku jika sudah kehabisan teman baca atau koleksi buku baru.
“Eh lo rencana mau beli buku apa’an hari ini?” tanya Bang Aksa sesaat setelah kami membuka pintu toko. Tampaknya langsung khawatir adiknya ini akan melakukan tindak pemerasan.
“Yaelah lo takut banget. Gue ambil lima buku standar tengah ya?” jawabku sambil mengangkat kedua jempol.
Bang Aksa tiba-tiba menarik lenganku dan menatap dengan tatapan kesal yang selalu ditunjukkan ketika aku menjahilinya. Memang antara aku dan Bang Aksa selalu silih berganti saling menjahili, menjadi semacam kebanggaan tersendiri bagi kami, mampu lebih menjahili satu sama lain. Jelas sekali tatapan yang ditunjukkan itu karena rencanaku untuk membeli lima buku standar tengah. Buku standar tengah ini merupakan buku yang dijual dengan harga berkisar delapan puluh hingga seratus lima puluh ribu rupiah. Harga standar bagi buku-buku yang dijual di sini karena memang termasuk toko buku besar yang ada di kota kami. Oleh karena itu, klasifikasi yang kami lakukan ini terjadi karena seringnya kami kalap ketika sudah di toko buku. Agar saat berburu buku, bisa menyesuaikan dengan uang yang tersedia. Selain standar tengah, ada dua standar lagi klasifikasi yang aku dan Bang Aksa lakukan, yang pertama ialah standar murah dan yang terakhir itu standar mahal. Untuk buku standar murah itu merupakan buku yang memiliki harga sekitaran delapan puluh ribu ke bawah atau harga di bawah buku standar tengah. Sebaliknya, untuk buku standar mahal merupakan buku yang memiliki harga berkisar seratus lima puluh ribu ke atas atau lebih mahal dibandingkan buku standar tengah.
“Gila lo ya? Buku standar tengah lima buah. Bisa-bisa ludes langsung lo bikin tabungan gue,” keluh Bang Aksa setelah merasa tatapannya tidak memengaruhiku.
“Yaudah. Entar gue pilih buku gue, trus diliatin deh ke elo. Gimana?” tawarku kepada Bang Aksa.
“Okelah, gue juga mau liat buku soalnya. Jadi entar buku gue juga mau gue bayar.” Bang Aksa mengeluh atas kekhawatirannya.
Aku hanya menjawab dengan senyuman manja.
Selanjutnya aku berpisah dengan Bang Aksa dan menelusuri rak demi rak secara terpisah, karena dua orang kakak beradik ini cukup agresif jika sudah berhubungan dengan buku. Terasa tidak nyaman saja jika seandainya menelusuri rak secara bersama-sama. Ini karena kami nanti harus saling menunggu satu sama lain dan hal seperti itu membosankan bagi kami. Terkadang saat melihat ada buku yang menarik menurut salah satu di antara kami dan memutuskan untuk melihat sampelnya, tapi menurut salah satunya lagi buku tersebut tidaklah menarik, tentu itu artinya salah satu dari kami akan membuang-buang waktu sementara salah satunya lagi menikmati bukunya. Karena alasan itulah kami lebih suka menelusuri rak buku secara terpisah dan nanti akan bertemu kembali sebelum ke kasir dengan tumpukan tiga sampai lima buku biasanya di tangan. Selanjutnya tentu kami akan memeriksa dompet dan melihat kemampuan ekonomi dalam memenuhi hasrat terhadap buku di saat itu, jika dari uang yang tersedia ternyata kurang untuk membayar tumpukan buku yang sudah kami kumpulkan, biasanya di sana akan terjadi perdebatan sengit antara abang dan adik yang akan menarik perhatian pengunjung di sekitarnya.
Adapun yang menjadi perdebatan tentunya adalah tentang buku siapa yang harus dikorbankan dan dikembalikan ke rak semula. Biasanya perdebatan itu akan berakhir dengan beberapa penyelesaian, yang pertama dengan membandingkan harga setiap buku, jadi kami akan membagi dua sama banyak uang yang ada dan itu akan dijatahkan kepada setiap masing-masing kami untuk memilih sendri buku mana yang mau dikorbankan. Namun, cara pertama ini kerap gagal karena biasanya buku pilihanku selalu lebih mahal, sehingga aku hanya bisa membeli satu buku, sedangkan Bang Aksa bisa mendapatkan hingga tiga buku. Penyelesaian yang sering terjadi adalah dengan cara yang kedua, yaitu dengan cara memberikan janji dan harapan. Biasanya ini langkah penyelesaian yang aku lakukan jika buku pilihanku cukup mahal, dengan berjanji akan mengganti uang Bang Aksa atau mentraktir dia makan, atau bahkan melayani dia di rumah selama seminggu penuh. Yah cari terakhir ini kerap berhasil dan Bang Aksa selalu mengalah untukku.
Saat sedang asyiknya melihat buku-buku, ponselku berdering.
‘Juang’ nama kontak yang tertera pada layar ponsel memperlihatkan siapa yang menelepon.
__ADS_1
Pasti dia nelpon karena gue enggak ada ikut pembahasan di grup.
Sejenak aku ragu harus menjawab panggilan ponselnya atau membiarkan saja terlebih dahulu sampai aku benar-benar menyelesaikan urusan di mal ini. Kubuka aplikasi media sosial Whatsapp dan ternyata notifikasi untuk Whatsapp Group komunitas sudah mencapai ratusan. Wajar saja jika Juang langsung menghubungi.
Aku langsung mengurungkan niat untuk mencari buku dan bergegas mencari keberadaan Bang Aksa.
‘Juang’. Layar ponsel kembali menampilkan nama itu.
Waduh, kayaknya sesuatu yang penting banget ni sampai Juang nelponin gue berkali-kali enggak kayak biasanya.
Dengan cepat aku menyusuri berbagai macam rak yang ada dan memperhatikan sekeliling untuk mencari keberadaan abangku itu.
Di bagian ujung toko terlihat Bang Aksa di bagian rak buku-buku sosial.
Harusnya aku tahu dia ada di rak bagian ini.
Langsung saja aku berjalan menghampiri Bang Aksa.
“Lah, lo belum ada jumpa buku yang lo cari? Tumben,” kata Bang Aksa setelah melihat aku menghampirinya tanpa membawa sebuah buku pun.
“Iya. Enggak ada yang buat gue tertarik dari tadi,” jawabku sambil menutupi bahwa sebenarnya aku hanya kepikiran dengan Juang yang sedari tadi sudah menghubungi ponsleku dan juga komunitas yang dari tadi masih terus melakukan pembahasan online di Whatsapp Group.
“Tumben banget. Padahal tadi lo waktu sebelum makan siang semangat banget buat ke toko buku,” kata Bang Aksa santai sambil masih terus asyik melihah satu demi satu barisan rak.
“Lo udah selesai belum? Balik yuk,” pintaku kepada Bang Aksa.
“Lah ngapain lo buru-buru banget? Ada kelas lo siang ni?” tanya Bang Aksa.
“Eh tunggu dulu, gue kan belum milih satu buku pun,” keluh Bang Aksa sambil mengikuti tarikanku.
“Lain kali kan lo bisa kesini lagi. Gue masih bakal nagih janji lo juga kok bang. Urusan gue di mal ini belum kelar,” jawabku kepada Bang Aksa sambil terus menuntunnya keluar toko buku.
Akhirnya Bang Aksa pasrah dan menyerah untuk bertahan di toko buku walaupun sangat jarang sekali dia keluar dari toko buku tanpa membawa sebuah buku pun. Setidaknya uang di dompetnya aman untuk saat ini.
Parkiran masih ramai seperti saat kami sampai di sini. Segera aku masuk ke dalam mobil saat Bang Aksa masih tertinggal di belakang. Segera setelah Bang Aksa duduk di belakang kemudi mobil dan mesin menyala perlahan kami meninggalkan area parkir. Di perjalanan, aku menelepon kembali Juang yang sedari tadi sudah menghubungiku berkali-kali.
“Halo?Harum? Lo kemana aja di grup enggak muncul, ditelpon enggak diangkat” serbu Juang sesaat setelah dia mengangkat panggilanku, bahkan sebelum aku sempat mengatakan ‘Halo’ kepadanya.
“Iya maap, dari tadi gue sedang pergi dengan Bang Aksa, jadi enggak sempet ngecek ponsel. Ini kami baru jalan balik, makanya gue telpon balik lo,” jawabku kepada Juang.
“Emang ada apaan kalau gue boleh tau?” Secara langsung lagi pertanyaan kepada Juang sebelum dia sempat merespon dengan berbagai macam bualannya.
“Lo sekarang di mana?” balas Juang balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Gue di jalan, masih disekitaran mal, sih,” jawabku mengalah.
“Lo bisa ke Warboss sekarang?” tanya Juang sekali lagi.
“Iya gue bisa. Entar gue minta Bang Aksa nganterin.”
“Oke lo langsung kesini aja. Gue dengan anak-anak udah pada mau kesini. Lo enggak usah tanya kenapa, entar di sini gue jelasin. Dah.” Juang langsung mematikan telepon sebelum aku merespon ajakannya.
Kok kayaknya penting banget ya, enggak biasanya Juang kek gini, gumamku sendiri.
__ADS_1
“Kenapa?” Bang Aksa bertanya setelah dari tadi hanya melihatku sibuk sendiri dengan ponsel sambil gelisah.
Aku menjelaskan mengenai panggilan dan notifikasi WhatsApp Group yang sedari tadi memenuhi dan berulang kali menarik perhatianku.
“Oh jadi karena itu lo pengen buru-buru balik?” tanya Bang Aksa dengan ringan.
“Iya bang. Gue enggak enak aja kalau misalnya gue sebegitu dicariin sama orang, tambah lagi tadi Whatsapp Group komunitas sibuk banget, notifikasinya aja sampai seratus lebih. Gue khawatir ada yang penting,” jelasku sambil memandang jalan yang sibuk.
“Trus tadi lo nelpon Juang apa katanya?” tanya Bang Aksa.
“Iya tadi dia ngabarin kalau anak-anak pada ngumpul di Warboss, jadi dia nyuruh gue nyusul kesana.”
“Warboss yang dideket simpang jalan Sudirman itu kan? Yang deket kantor pos kota” tanya Bang Aksa memastikan nama tempat yang aku sebut.
“Iya bang. Lo bisa nganterin gue kesana?” pinta ku kepada Bang Aksa.
“Yaudah kebetulan temen gue yang punya ni mobil minta dijemput di jalan Sudirman juga, jadi ya sekalian aja gue ngantarin lo,” jawab Bang Aksa.
“Makasih banyak bang. Sayang deh sama lo, baik banget jadi abang. Tapi utang lo belikan gue buku masih ada lo ya” ucapku kepada Bang Aksa sambil mengingatkan dia tentang rencana belanja buku yang tertunda pada hari ini.
Bang Aksa hanya menjawab dengan senyuman sambil terus mengemudikan mobil dengan baik. Pada tingkatan ini sebenarnya Bang Aksa sudah layak memiliki mobil sendiri, tapi kembali lagi dia lebih senang dengan angkutan umum, berjalan kaki, angkutan online, atau bahkan meminjam kendaraan seperti yang dilakukannya kali ini. Mungkin saja dia hanya tidak mau repot dengan merawat mobil yang sekali lagi sebenarnya dengan penghasilan Bang Aksa, ia mampu menyewa jasa perawatan mobil secara rutin.
Perjalanan dilanjutkan dengan tenang, karena jalanan yang biasanya macet entah kenapa siang itu terasa lengang dan tidak menghambat perjalanan sedikit pun. Sepanjang jalan kami mengobrol tentang buku-buku keluaran terbaru yang nantinya akan kami beli sebagai ganti belanja buku yang siang ini tertunda karena urusanku.
Namun, pada jalanan yang tidak begitu ramai ini terdapat pemandangan yang kurang menyenangkan. Aku melihat banyak sekali anak-anak yang tidak terurus berkeliaran dari satu toko ke toko lain dengan membawa botol plastik yang diisi kerikil dan pasir. Bukan hanya itu, hampir di setiap persimpangan jalan juga terdapat hal yang sama. Jujur saja, aku sebagai orang yang aktif dalam pembinaan masyarakat dan generasi muda terpukul melihat kondisi seperti itu, ingin rasanya berbuat sesuatu.
Tak terasa perjalanan sudah berlangsung lama dan kami pun sudah hampir tiba di tempat tujuan, Warboss yang dimaksud Juang adalah sebuah coffe shop yang memang biasa tempat kumpul anak-anak kampus, lokasinya enggak jauh dari persimpangan jalan utama.
“Kita dah sampai ni ke tujuan lo. Yang ini kan?” tanya Bang Aksa memastikan.
Terlihat papan nama toko bertuliskan Warboss tegak kokoh di pinggir jalan.
“Iya bang. Makasih buat makan siang dan udah nganterin gue nya ya,” jawabku sambil mengambil tas yang kuletakkan di kursi belakang sejak tadi.
“Jadi nanti lo gue jemput atau pulang sendiri?” tanya Bang Aksa.
“Entar gue minta anterin sama Juang aja, mana tau lo nanti bisa ngobrol bareng dia di rumah,” jawabku mengingat sedari tadi malam Bang Aksa selalu bertanya tentang Juang sambil bergegas membuka pintu mobil dan beranjak keluar.
“Oo yaudah. Kirim salam gue sama Juang ya. Dan ingat lo jangan pulang kemalaman,” tutupnya sembari menutup kembali pintu mobil yang kubuka tadi dan langsung berlalu menuju jalanan ramai.
Mobil hitam itu melaju meninggalkanku dan bergabung bersama kendaraan yang lain memenuhi padatnya jalan raya.
Warboss kelihatan cukup ramai siang menjelang sore ini, hal itu terlihat dari parkiran pelanggan yang cukup ramai diisi oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Bergegas aku mengambil ponsel dari dalam tas untuk menghubungi Juang.
Menghubungi Juang saat ini tidaklah sulit karena memang ia sudah menunggu sejak tadi, hanya berselang sekali nada dering Juang langsung mengangkat telpon dari ku.
“Halo?” sapa Juang dari seberang telpon di sana.
“Halo, Juang. Gue udah di depan nih,” balasku.
“Yaudah lo langsung masuk aja, anak-anak udah pada d isini nih,” jawab Juang.
Aku langsung masuk ke Warboss yang terlihat dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
__ADS_1