Ada Apa Dengan Anak Jalanan

Ada Apa Dengan Anak Jalanan
Makan malam keluarga


__ADS_3

Jarum jam terus berdenting, suara jangkrik terus bersahutan, semilir angin malam mengelus lembut di setiap sisi tubuhku, dan pijar lampu perkotaan di sebelah utara mewarnai gelapnya malam dengan indah. Tetap saja Harum masih belum juga memperlihatkan tanda-tanda kepulangannya. Ini bukan pertama kali dia pulang pada waktu jarum jam menunjukkan angka 7 seperti malam ini, hanya saja perutku sudah begitu laparnya dan tidak akan bisa makan sebelum adikku Harum pulang ke rumah.


Memikirkannya hanya membuatku semakin lapar. Oleh karena itu aku mencoba kembali fokus pada pekerjaanku sambil sesekali meminum coklat hangat buatan ibu. Ini merupakan perpaduan yang luar biasa ketika bekerja di atas balkon dan ditemani secangkir coklat hangat. Pekerjaan menjadi sesuatu yang menyenangkan.


Sembari sibuk berkutat dengan laptop, kuambil ponsel untuk sekadar melepas penat di mata dan jari. Kubuka aplikasi instagram untuk sekadar melihat postingan terbaru yang ada, sekaligus kembali melihat postingan yang baru beberapa hari ini kukirim melalui akun sosial mediaku itu. Sebuah potret kue yang bertuliskan “Met Milad! Aksa Sastra Pujangga”. Kue itu diberikan oleh teman-teman kantor tepat di hari ulangtahunku. Saat itu memang sangat tidak disangka akan mendapat kejutan dari teman-teman kantor, mengingat aku bukanlah petinggi di perusahaan, juga tidak terlalu sering menjadi pusat perhatian. Tapi akhirnya aku sadar, aku berteman dengan orang yang paling menjadi pusat perhatian di kantor ini, siapa lagi kalau bukan Bayu, pasti dia yang merencanakan semua itu.


“Home sweet home, rumah hijau yang menenangkan dari segala hiruk pikuk dunia luar”, suara intercom memecahkan lamunanku terhadap ponsel.


Itu pasti Harum pulang, batin ku.


Langsung saja kubalutkan jaket kulit, dan topi branded yang dibeli saat liburan tahun lalu. Kubuka pintu kamar dan kembali menutupnya, seraya menuruni anak tangga karena memang perutku juga sudah terasa lapar.


Di ruang keluarga terlihat ayah, ibu, dan adikku sudah menunggu untuk berangkat makan malam.


“Kita pergi sekarang?” gumamku.


“Ayok! Udah lapar nih bang, lama banget ditungguin,” balas adikku.


“Yee lo tuh yang kelamaan, dari tadi tinggal nungguin lo tuh.” Aku tak mau kalah.


Ayah langsung melerai dan langsung keluar rumah setelah menghabiskan secangkir kopi hangat buatan ibu tadi, disusul si Harum yang sejak tadi sudah memegang perut karena kelaparan sepertinya dan terakhir aku bersama ibu keluar rumah sambil memastikan pintu rumah telah terkunci rapat.


Mobil kami sebenarnya tidak terlalu mewah, hanya seperti mobil keluarga pada umumnya. Tapi sekali lagi memang berwarna hijau dengan jok dalamnya berwarna soft grey. Model kendaraan hits memang, karena segala aksesori mobil ini diambil alih dan diatur oleh Harum. Dia memang memiliki seleranya sendiri. Aku, ayah, dan ibu tidak ada masalah dengan itu, setidaknya di keluarga ini tidak pernah membatasi potensi dan kreatifitas.


Setelah semua siap berangkat, ayah langsung melajukan mobil ini ke lokasi makan malam kami yang biasanya. Sepanjang perjalanan tidak ada pembahasan yang penting, pembicaraan hanya seputar rutinitas masing-masing, dari ayah yang di kantornya sekarang sedang ribut para guru honorer meminta sertifikasi dan kenaikan pangkat, Harum yang semakin jenuh dengan tugas, makalah, artikel, revisi, dan dosen-dosen yang membuatnya tidak bisa menikmati masa kuliah dengan baik. Begitu juga dengan aku, belakangan ini para leader semakin tiba-tiba dalam memberikan tugas tanpa ada koordinasi ataupun bimbingan sebelumnya, ada kabar yang mengatakan para atasan perusahaan sedang ribut tentang saham dan investasi salah satu korporasi. Hanya ibu yang tampaknya baik-baik saja dalam rutinitasnya, mungkin di akhir tahun ajaran ini para siswa sudah tahu bahwa sekarang bukan waktunya lagi untuk bermain-main karena Ujian Akhir Semester hampir tiba.


Ayah pun mulai menurunkan kecepatan mobil karena di sebelah kiri sudah terlihat jelas papan besi bertuliskan “Teras Dapur”. Mobil memasuki pekarangan yang sudah dipenuhi oleh kendaraan bermotor lainnya, baik yang roda dua maupun yang roda empat. Tampaknya semua orang hari ini sedang kelelahan, sehingga memilih makan malam yang lebih praktis disini.


Setelah semua keluar dari mobil, kami langsung disambut oleh seorang pelayan wanita lengkap dengan seragam resto ini. Baju kaos berwarna merah dan celana span hitam mengilat lengkap dengan topi berlogo restoran ini.


“Makan disini atau dibawa pulang?” tanya pelayan.


“Gimana? Mau makan disini atau kita makan dirumah aja?” tanya ayah.


“Udah deh, makan disini aja yah. Kita juga udah pada turun semua nih, lagi pula aku udah laper banget,” keluh Harum.


“Jadi maksud kamu, kalau kita makannya dibawa pulang tadi cukup ayah aja yang mesen gitu?” sindir ayah.

__ADS_1


“Ngapain ayah yang mesen, bang Aksa dong yang mesen harusnya. Ya kan bang?” sambil mencolek lenganku.


“Iyaa gue yang mesen sendiri, tapi punya kamu enggak abang pesen” balasku.


“Yee, jahat banget lo sama adek imut lo ini,” jawabnya sambil memajukan bibir.


Langsung saja aku cubit bibirnya yang di monyong-monyongin, sehingga menghasilkan teriakan dan pukulan telak dibahuku.


Perkelahian antar kakak-beradik memang kerap terjadi di antara kami. Bahkan karena hal sepele seperti menentukan makan dengan dibungkus atau makan di tempat.


Tetapi untung saja perkelahian yang tidak bermutu ini segera dihentikan oleh ibu dengan mengambil keputusan untuk makan di tempat sebagai antisipasi agar tidak perlu lagi mencuci atau menyiapkan alat makan di rumah. Selain itu, dengan makan di tempat tentu kami bisa langsung beristirahat ketika sampai di rumah.


Restoran ini cukup besar. Restoran tipe keluarga yang banyak memiliki meja panjang dan bundar, terdiri dari dua lantai. Khusus lantai atas itu lesehan dan lantai bawah makan menggunakan meja dan kursi. Mengenai menu di restoan ini cukup beragam dan bervariasi, serta harganya pun tidak terlalu mahal, sebanding dengan suasana yang disajikan bersama alunan musik lembut, tanaman tinggi menjulang, pendingin ruangan, dan aroma bumbu rempah yang tercium dari dapur sangat ampuh untuk membuat para pelanggan tidak berhenti makan sampai benar-benar tidak lagi mampu makan.


Aku sendiri terhitung sudah belasan kali makan disini dan sebagian besar dari itu tentu dengan orang-orang tercinta ini. Restoran ini katanya merupakan tempat ayah dan ibu merayakan ulang tahun pertama pernikahan mereka. Sejak saat itu restoran ini menjadi tempat langganan keluarga mereka, bahkan ketika aku dan Harum lahir kami sering makan disini kalau memang sedang ingin makan di luar rumah. Walaupun sebenarnya sangat jarang sekali kami makan di luar rumah karena rumah kami pun merupakan tempat ternyaman di dunia dan masakan ibu merupakan makanan terenak di dunia, karena itu memang tidak ada alasan kami untuk makan di luar rumah sebenarnya.


Setelah menikmati tempat pilihan ayah ini, ibu memanggil pramusaji yang berdiri di sekitar meja kami.


“Ini menunya, bu. Boleh saya tahu pesanannya?” ramah pramusaji.


“Sebentar saya lihat dulu ya,” jawab ibu.


“Baik terimakasih. Nanti saya panggil lagi.” Ibu menenggakhiri.


Ibu langsung membagikan menu itu kepada kami bertiga. Aku membolak-balik menu itu satu persatu dan melihat berbagai macam menunya. Rasanya saat ini aku butuh asupan hewan laut, karena itu aku memesan “Tongseng Cumi Kari Ayam”. Aku lihat Harum juga sudah selesai memilih menu makan malamnya. Oleh karena itu, ibu langsung memanggil kembali pramusaji yang tadi memberikan menu kepada kami.


“Boleh saya tahu pesanannya?” kata pramusaji sambil mengeluarkan catatannya.


Ibu menyebutkan pesanan kami satu persatu dan dengan sigap pramusaji itu mencatat setiap kata yang keluar dari mulut ibu. Setelah semua pesanan terlihat tuntas dicatat oleh pramusaji itu, ia mengulangi kembali pesanan yang sudah tercatat guna menghindari kesalahan. Ibu mengangguk sebagai isyarat bahwa semua pesanan kami sudah dicatat oleh pramusaji.Sepertinya malam ini para pramusaji cukup sibuk melihat banyaknya pengunjung restoran.


“Bagaimana kuliahmu hari ini Harum?” ayah membuka percakapan.


“Semuanya baik-baik saja, yah. Walaupun banyaknya tugas cukup melelahkan,” keluh Harum sambil mengembuskan napas seakan memang hal yang dialaminya sangat berat.


“Jadi kapan mau ke desa lagi?” tanya ibu menambahkan.


“Minggu depan, bu. Minggu ini aku off dulu ke desa karena ngejar deadline tugas nih.” sambil bertopang dagu memandang langit malam.

__ADS_1


“Minggu depan ya? Gue ikut dong. Ada yang mesti gue kerjain disana kayaknya” sergahku bergabung ke dalam percakapan.


“Kerjaan apa lagi kamu Aksa? Bukannya kamu kerja cuma di depan laptop aja ya?” tanya ayah.


“Iya, yah. Soalnya ada program pengembangan yang mesti Aksa tawarkan juga ke atasan untuk perusahaan, mana tahu di desanya si Harum, Aksa bisa dapat ide,” jelasku.


“Kamu sesekali coba ambil cuti dan pergi liburan Aksa. Ibu lihat kamu sibuk sekali dengan kerjaan kamu itu. Apa enggak capek?” tanya ibu sambil memerhatikan wajahku yang tampaknya mulai tirus.


“Ah enggak apa kok, bu. Entar kan ada waktu libur juga. Sekarang emang lagi banyak kerjaan juga,” belaku agar tidak terkesan mengada-ada alasan.


“Kamu tu ya Aksa, jangan kerjaan aja yang dipikirkan. Pikirkan juga ayah sama ibu. Siapa yang mau kamu kenalin? Enggak pernah tuh ayah liat kamu deket sama temen perempuan kamu.” Tiba-tiba saja ayah langsung menyinggung permasalahan hubungan asmaraku.


“Iya nih, Bang Aksa. Aku kan juga pengen punya kakak perempuan,” goda Harum sambil tertawa licik.


“Eh lo ngapain pakai ikut-ikutan” sergahku.


“Enggak papa kali Aksa, si Harum kan pengen ada kakak tempat berbagi cerita. Lagian kamunya sibuk terus aja.” tambah ibu menimpali.


Bingung karena diserbu habis-habisan oleh mereka. Aku berpura-pura mengangkat telepon seakan ada yang memanggil via seluler. Langsung saja aku mengambil kesempatan ini untuk segera kabur dari pembicaraan ini. Aku sendiri masih belum tertarik untuk memikirkan hal begituan, yang saat ini terpikirkan hanyalah bagaimana pekerjaan bisa selesai, dan segera lanjut kuliah di luar negeri. Yah itu memang cita-citaku, tapi melihat kondisi sendiri terkadang menjadi ragu.


Setelah sekian lama pura-pura mengobrol dengan ponsel, aku memperhatikan meja makan malam kami sambil menunggu pesanan diantar oleh pramusaji.


Tak lama setelah itu harapanku terkabul. Pramusaji itu datang dengan membawa nampan besar yang di atasnya tersusun dengan rapi mulai dari Ayam utuh Saus Nenas pesanan ayah dan ibu, Kepiting Blackpepper pesanan Harum, Tongseng Cumi Kari Ayam pesananku, serta piring-piring kecil berisi nasi sebagai pelengkap makanan. Melihat itu aku pura-pura mematikan ponsel dan mendekati meja makan.


“Eh pesanannya udah datang?” tanyaku seakan kaget.


“Barusan aja nih” jawab ayah yang kelihatannya memang sudah lapar sekali.


“Alah lo sok kaget segala, padahal dari tadi lo merhatiin kan? Pesanan udah dianter atau belum.” Harum mencibir.


“Iiihhh apaan sih kamu adek abang yang bawel tapi imut” sambil mencubit pipinya.


Si Harum hanya teriak kaget karena tiba-tiba aku mencubit pipinya.


“Gila lo, Bang! Ngeselin banget pakai nyubit pipi segala. Sakit tau!” cecar Harum sambil terus mengelus pipinya.


“Iya deh gue minta maap, sebagai gantinya besok gue ajak ke toko buku deh, gue belikan satu” rayuku sambil memeluk pundak adik kesayanganku itu.

__ADS_1


Dia cuma menjawab dengan kegirangan yang dilebih-lebihkan kurasa.


Aku kembali fokus pada menu makan malamku, semangkok tongseng cumi yang disiram kuah kari kaldu ayam, yang aromanya mampu membuat pelanggan di meja seberang juga mampu mencium aromanya. Langsung saja kusendok sepotong cumi lengkap dengan kuah karinya ke dalam mulut. Daging cumi yang empuk dan segar terasa nikmat dipadukan dengan kuah kari ayam ini. Aku kira malam ini bisa beristirahat dengan tenang setelah kenyang memakan makanan lezat.


__ADS_2