Ada Apa Dengan Anak Jalanan

Ada Apa Dengan Anak Jalanan
Makan siang


__ADS_3

Pusat perbelanjaan yang kami datangi siang ini adalah sebuah mall yang cukup besar di kota kami. Terdiri dari dua belas lantai yang berdiri megah dan di setiap lantainya menyediakan berbagai macam kebutuhan serta hiburan. Seperti yang kukatakan pada malam kemarin, alasan untuk pergi ke pusat perbelanjaan ini adalah mencari beberapa perlengkapan keperluan kuliahku dan juga ingin membeli beberapa buku sebagai teman baca, karena memang buku-buku yang sudah bertengger di lemari sudah habis terbaca semua. Aku memang hobi membaca, bisa dibilang kesenangan itu bermula dari ketertarikan mengoleksi buku-buku best seller dan populer tanpa pernah membacanya. Buku-buku itu sejak dibeli selalu tersusun rapi di lemari, tanpa sekali pun pernah disentuh, apa lagi dibaca, bahkan plastik pembungkusnya masih melekat rapi pada buku tersebut, hanya Bang Aksa lah yang membuat buku itu tidak terbeli dengan sia-sia. Bang Aksa sejak kami kecil dulu sangat senang membaca, bahkan aku ingat ketika kecil dulu setiap sore hari setelah mandi bersama Ibu, aku melihat Ayah mendudukkan Bang Aksa di pangkuannya sambil membaca koran bersama. Memang terlihat sangat cocok hobi dua bersaudara ini. Si abang hobi membaca dan si adek hobi mengoleksi buku. Tapi seiring waktu aku merasa, Bang Aksa terlalu diuntungkan dalam hal ini. Dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk hobinya, hanya perlu mengambil dari lemari bukuku lalu letakkan kembali lagi. Ini seperti aku yang memenuhi hasrat membaca Bang Aksa. Lama-kelamaan aku coba untuk membaca buku yang kubeli agar tidak hanya Bang Aksa yang mendapatkan isinya.


Mulai dari sanalah aku tertarik membaca dan perlahan-lahan membaca menjadi salah satu hobiku.


“Jadi lo mau beli apa sih sebenarnya?” tanya Bang Aksa pada ku disaat aku sedang asik melihat keadaan mall siang ini.


“Niatnya sih gue mau nyari buku pedoman untuk matakuliah gue semester ini bang” jawab ku dengan santai sambil mata masih liar mengamati sekeliling.


“Kalau emang lo udah tau mau beli apaan, ngapain lo sibuk merhatiin toko yang lain?” gerutu Bang Aksa yang tampaknya merasa dijebak oleh ku.


“Iya kan niat awal gue aja yang mau beli buku pedoman, waktu tiba disini gue pengen nambah koleksi buku gue sekalian nyari parfum gue juga udah mau habis. Kan kebetulan gue pergi sama abang kesayangan gue” jawab ku sambil senyum senyum meluk tangannya Bang Aksa.


“Yee sembarangan lo. Gue belum gajian ni. Lo pakai morotin segala lagi,” gerutu Bang Aksa tak terima diporotin


Aku balas menyandarkan kepala ku dibahunya Bang Aksa.


Sebagai adik tentunya aku menghabiskan uang seorang abang adalah hal yang menyenangkan, apa lagi ketika memiliki seorang abang yang cuek, jarang punya waktu, dan pendiam. Maka ketika memiliki kesempatan untuk diperhatikan, menghabiskan waktu bersama, bahkan dicerewetin ketika biasanya dia pendiam akan aku maksimalkan agar momen yang jarang didapatkan ini bisa menyenangkan.


Walaupun Bang Aksa adalah orang yang sangat sulit menyisihkan waktu untuk keluarga, atau untukku khususnya. Dia akan jadi sangat menyenangkan jika memang sedang menghabiskan waktu bersama. Kebiasaan pendiamnya juga seketika seperti hilang, tapi aku tahu dia hanya menekan dirinya agar bisa menjadi abang yang baik untukku.


“Kok lo gitu banget sih sama gue? Perhitungan banget sama adek sendiri, lagian koleksi buku gue kan lo juga yang baca, Bang,” jawabku dengan nada yang kubuat mengiba.


“Iya deh, tapi awas lo belanjanya kelewatan. Kerjaan gue mesti pakai duit juga,” gerutu Bang Aksa yang akhirnya mengalah pada adik imutnya ini.


“Yeayy, makasih banyak abang. Sayang deh sama abang” jawabku dengan manja sambil memeluk erat tangannya.


Bang Aksa hanya membalas dengan wajah bete yang dibuat-buat.


Mal siang ini cukup dipadati oleh banyak orang, sesuai dengan lahan parkir yang juga dipenuhi oleh kendaraan. Salah satu pusat perbelanjaan terbaik di kota dengan berbagai macam gerai yang tersedia memanjakan para pengunjung untuk bersantai atau sekadar menghabiskan waktu jeda dari segala rutinitas sibuk perkotaan. Lantai satu merupakan bagian kuliner, berbagai macam gerai maupun kios menyediakan tawaran dari menu andalan mereka. Mulai dari makanan tradisional, western, chinesse, dessert, atau sekadar tempat minum yang menawarkan bermacam varian. Bang Aksa yang tinggi dan tampan sebenarnya sudah menjadi alasan yang cukup untuk memiliki seorang teman wanita yang spesial. Namun sampai hari ini bahkan aku tidak pernah tahu dia pernah punya pacar atau tidak. Bahkan ayah dan ibu juga sudah sering bertanya, tetapi laki-laki ini selalu menghindar.


“Bang, gue mau nanya deh.” Aku menyenggol sikunya.


“Tanya apaan?” jawab Bang Aksa lagi-lagi cuek.


“Lo udah berapa kali ke sini?” tanyaku singkat sambil terus berjalan menyusuri berbagai macam gerai kuliner.


“Buat apa lo nanya?” Pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan oleh pria menyebalkan ini.


“Iya soalnya lo kan jarang banget punya waktu kosong, apa lagi bisa jalan berdua bareng cewek, walaupun itu adek lo sendiri. Gue bingung aja, lo emang terlalu banyak pilih cewek atau jangan-jangan ...?” jawabku dengan kembali bertanya sambil sedikit menjauh dari Bang Aksa.


“Gila lo ya mikir yang enggak-enggak tentang gue. Pulang gue ni?” ancam Bang Aksa sambil memajukan kepalanya dekat kepalaku seraya berbisik. Seperti biasa, dia berusaha untuk seminimal mungkin tidak menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Aku hanya menggeleng dan menyunggingkan sedikit senyum jahil.


Memang sejak dulu Bang Aksa lebih sering berkegiatan dan belajar dari pada bermain atau sekadar hang out dengan teman-temannya. Walaupun aku juga sering berkegiatan, tetapi aku tetap menyempatkan untuk bergabung bersama teman-temanku. Namun Bang Aksa, ketika tidak memiliki daftar kegiatan yang mesti diikuti, dia lebih memilih menghabiskan waktu di kamar untuk belajar atau sekadar membaca buku. Bukannya tidak pernah kulihat Bang Aksa keluar kamar, karena memang Bang Aksa juga termasuk orang yang tidak bisa diam di satu tempat. Maka ketika bosan di kamar, dia akan berpindah ke taman belakang, jika kembali bosan dia akan memakai jaket atau sweater serta menyandang tas yang tentunya berisi laptop dan buku. Perpustakaan adalah salah satu tempat favoritnya. Namun, karena perpustakaan memiliki batas waktu di jam kerja, cafe juga merupakan tempat pelariannya di kala bosan di rumah dan lagi-lagi semua itu dilakukan sendiri.


Jika dilihat dari caranya menghabiskan waktu kosong, maka tepat sekali apabila dikatakan bahwa Bang Aksa adalah orang yang tertutup dan tidak senang bersosialisasi. Mungkin mengenai dia orang yang tertutup memang benar, tetapi jika dikatakan tidak senang bersosialisasi maka itu salah. Hal ini dikarenakan Bang Aksa kerap aktif dalam berbagai kegiatan literasi, baik pelatihan, diskusi, maupun kemasyarakatan.


Mungkin kebiasaannya yang selalu menghabiskan waktu sendiri menjadikannya sebagai lelaki yang tidak mampu mengungkapkan perasaan kepada lawan jenis. Tidak mengherankan sebenarnya jika seorang pria tinggi, tampan, pintar, aktif, pekerjaan mapan, keluarga berada, ditambah lagi adik perempuan yang keren tetap tidak bisa memiliki pasangan.


“Jadi lo mau makan dulu atau mau keliling dulu?” tanya Bang Aksa sambil menunjuk sebuah tempat makan western food yang kupikir cukup mahal sepertinya. Inilah salah satu kelebihan Bang Aksa. Dia memang cuek dan jarang memiliki waktu untukku, tapi sekalinya menghabiskan waktu bersama, dia pasti akan memberikan yang terbaik.


Mungkin itu cara dia mengganti waktu yang tak bisa dihabiskan setiap saat denganku adiknya.


“Gue lapar sih bang selepas kuliah pagi tadi. Tapi kan itu harganya mahal, gue enggak ada duit” jawabku sambil manyun.


“Alah, lo sok mikir enggak ada duit, padahal lo ngajak gue kesini kan emang mau morotin gue,” jawab Bang Aksa sambil berjalan menuju tempat makan yang kami bicarakan.


“Hehe gue kan mikirin lo, biar enggak abis duit banyak karna gue.” Aku mengikuti Bang Aksa dari belakang.


“Yaudah lo liat dulu tuh menunya, entar langsung pesan sekalian,” kata Bang Aksa sambil memilih meja untuk kami.


Aku menuruti permintaan Bang Aksa dan melakukan pesanan di kasir dan ternyata memang sesuai dugaanku harganya cukup mahal untuk sekadar makan siang.


Setelah selesai memesan makanan, aku menyusul Bang Aksa dan duduk di meja yang telah dipilihnya.


“Sesekali gue bisa pergi bareng lo, jadi biar gue kasih makan enak. Biar lo masih ngakui gue sebagai abang lo,” jawab Bang Aksa sambil datar.


“Lo enggak nilap uang perusahaan kan?” curigaku kepada Bang Aksa sambil memandang sinis.


“Sekali lagi lo godain gue. Lo bayar sendiri makanan lo,” ancam Bang Aksa kepadaku.


“Hahaha kok lu jadi marah, lo godain gue berkali-kali gue santai aja,” jawabku sambil menyenggol siku Bang Aksa.


Meskipun saat ini merupakan jam makan siang. Namun, tempat makan yang kami singgahi ini tidak berisi banyak orang, berbeda dengan tempat makan lain yang ada di sekitar kami, hampir penuh dan sesak oleh orang-orang yang harus mengisi kembali perutnya setelah bekerja ataupun beraktivitas selama setengah hari.


Tak lama kemudian pelayan datang ke meja kami sambil membawakan pesanan.


Untuk sesaat kami tenggelam dalam santapan masing-masing dan menikmati suasana semi resto yang disajikan tempat ini, dengan nuansa taman bunga dan dilengkapi penampilan live music membuat setiap suapan makanan ini terasa sangat nikmat. Interior yang bernuansa putih dan hijau selaras dengan berbagai hiasan taman bunga di setiap sudut tempat memberi kelembutan. Selain itu pendingin ruangan yang diatur dengan air flow mengembuskan angin sejuk. Serta pelayanan pramusaji yang ramah dan menyenangkan membuat pengalaman makan di sini semakin baik. Wajar saja sebenarnya jika harga setiap menu di sini cukup mahal dan menguras kantong.


“Jadi komunitas lo itu kerjanya ngapain sih? Kok, bisa instansi pemerintahan lebih tertarik sama komunitas lo, padahal kan komunitas sejenis banyak banget di kota kita ini,” tanya Bang Aksa sambil mengunyah Beef Steak yang sudah kebanyakan saus itu.


“Gue enggak tau juga sih di bagian mananya komunitas kami bisa dipilih mereka untuk ambil proyek ini, tapi kalau harus ada sih bisa dibilang bagian eksternal kami luar biasa banget, Bang. Setiap kami turun ke desa, pasti mereka selalu bawa lembaga otonom, perusahaan start-up, perusahaan swasta, atau donatur sebagai sponsor dalam kegiatan. Terus kami juga merangkul semua aparatur desa dari Kades, Pemdes, UMKM, Koperasi dan lain sebagainya,” jelasku kepada Bang Aksa.

__ADS_1


“Emang udah berapa lama komunitas lo itu?” tanya Bang Aksa lagi-lagi sambil mengunyah makanannya, seakan-akan ini hanya obrolan basa-basi.


“Yang gue tahu katanya udah ada 6 generasi, masuk angkatan gue itu generasi ke 7,” jawabku sekali lagi dengan seksama, berbeda dengan Bang Aksa yang mendengarkan sambil melahap makan siangnya.


“Berarti masih bisa dibilang baru juga ya, kan?” kali ini Bang Aksa bertanya sambil memandangku dan meletakkan garpu dan psiaunya di piring.


“Iya gitu deh, Bang. Tapi satu lagi yang luar biasa dari komunitas gue ini, kami punya target,” kataku sambil gantian melahap menu makan siang.


Spaghetti bolognese ini enak sekali untuk ukuran diriku yang terbiasa dan lebih suka makan nasi.


“Target gimana maksud lo?” tanya Bang Aksa lagi-lagi belum menyentuh makanannya.


“Iya, kami punya target 1 desa 1 tahun dan sudah 6 desa binaan kami, selalu memperlihatkan hasil terbaik,” jawabku yang lagi-lagi sambil mengunyah potongan daging empuk di atas tumpukan mi ini.


“Tapi kalian enggak rutin turun ke desa, kan?” tanya Bang Aksa kali ini sudah memegang kembali garpunya. Tampaknya rahangnya yang pegal karena mengunyah steak ini sudah siap untuk kembali mengunyah, bukan karena dia memperhatikan penjelasanku atas pertanyaannya.


“Rutin kok. Sekali dalam 2 minggu,” jawabku kali ini yang melepas sendok makan.


Mengetahui Bang Aksa tidak memberikan sikap memperhatikan yang baik dalam obrolan ini membuatku sedikit jengkel.


“Tapi bukannya lo udah hampir sebulan enggak ke desa?” tanya Bang Aksa sambil gantian menyeruput lemon tea-nya kali ini.


“Itu kan gue, tapi teman-teman gue yang lain tetap turun,” jawabku sambil melanjutkan makan siang yang nikmat ini. Masa bodoh dengan sikap Bang Aksa. Sejak awal sikapnya memang seperti itu, terlihat datar, dingin, dan tidak peduli.


“Berarti enggak ada kewajiban untuk terus ikut gitu, ya?” tanya Bang Aksa yang sudah menyelesaikan makan siangnya.


“Enggak ada sih bang, tapi ya buat mereka yang enggak bisa berbuat apa-apa atau enggak bisa memberi apa-apa, tetap dikeluarkan bang,” jelasku kali ini sambil menyeruput Milkshake-ku.


“Jadi minggu depan lo turun ke desa mau ngapain?” tanya Bang Aksa sambil terus memaksa untuk menyeruput lemon tea yang hanya tersisa es batu dan mengahsilkan bunyi berisik yang sangat mengganggu dan memalukan.


“Eh lo kalau masih haus, ini milkshake gue masih ada, Bang. Ngapain lo paksain tuh es batu sampai mengekerut, bikin malu aja lo,” gerutuku sambil melirik ke sekitar berharap tidak ada yang memandang sinis ke meja kami.


“Namanya juga haus,” balas Bang Aksa sambil mengambil minumanku dan menghabiskannya tak bersisa.


Heran dengan kelakuan abangku satu-satunya ini. Untuk masalah wajah, Bang Aksa tidak kalah dengan model-model pria. Untuk karir juga aku liat dompet Bang Aksa juga tidak pernah tipis, apa lagi Bang Aksa bekerja di perusahaan start-up yang sedang naik daun. Terkadang sikapnya yang dingin, datar, cuek, dan tidak peduliah itu kontras dengan sikap menyebalkan dan hobi mengerjainya itu. Tapi walaupun begitu sampai sekarang dia tidak ada pacar.


“Lo udah selesai makan kan?” pertanyaan Bang Aksa membuat lamunanku tentang dirinya buyar.


“Udah kok, dari tadi lagi” jawabku sambil mengambil ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja makan.


“Yaudah lo tunggu di sini, gue mau bayar dulu ke kasir,” pinta Bang Aksa sambil beranjak dari kursi dan meninggalkanku menuju kasir.

__ADS_1


Sambil menunggu Bang Aksa, aku mengecek ponsel yang dari tadi terletak begitu saja diatas meja makan.


Terlihat disana banyak notifikasi masuk melalui aplikasi media sosial Whatsapp. Ada dari Laras, dari Bang Bukti, dan ada beberapa grup i lainnya. Perhatianku tertuju kepada satu Whatsapp group yang sudah terdapat puluhan notifikasi di dalamnya, ‘Bina Desa Cerdas’ grup Whatsapp dari komunitas Bina Desa yang sejak tadi kami bicarakan. Padahal baru saja aku membicarkan komunitas kami ini dengan Bang Aksa. Kenapa sekarang tiba-tiba sudah begitu sibuk grup chat ini. Perasaanku tidak enak.


__ADS_2