
Usiaku dan Bang Aksa terpaut 7 tahun. Jadi sekarang saat usia ku mencapai 18 tahun, Bang Aksa sudah 25 tahun, dan dalam usia seperempat abad ini laki-laki yang sejak dulu selalu membantuku tidak pernah mengenalkan teman wanita spesialnya. Hal itu juga berlaku kepada ibu dan ayah. Kalau hanya sekadar teman wanita memang cukup sering main kerumah, soalnya Bang Aksa sejak sekolah dulu termasuk aktif berkegiatan, selain itu setiap ada perkumpulan kerap sekali rumah kami menjadi tempatnya, bahkan sampai sekarang ketika dia sudah bekerja teman-teman kantornya juga sering berkumpul dirumah. Tapi hal itulah yang membuat terkadang aku tidak betah berada di rumah, terutama kalau ada Bang Bayu, salah satu teman kantor Bang Aksa yang juga teman kampusnya dulu. Bang Bayu itu tipikal orang yang berisik, semua dikomentari, dan kalau berbicara selalu berapi-api.
Pernah suatu waktu ketika Bang Aksa dan teman-temannya sedang berkumpul di rumah dan aku baru pulang dengan membawa banyak barang mulai dari makalah hasil revisian, berkas tugas, laporan bina desa, dan segala macamnya. Waktu itu si Bang Bayu berkata,
“Wah rajin bener adek lo sa, pasti kegiatannya banyak ni sampe pulang ke rumah pun yang di bawanya kertas semua”
Sebenarnya memang tidak ada yang salah dari celetukannya, tapi yang membuat salah adalah bagaimana dia mengatakannya dan saat kapan karib abangku itu mengatakannya.
Bang Bayu itu mengatakannya sambil berdiri di depanku yang pastinya menghalangi jalan. Padahal dengan beban barang seperti ini sudah cukup merepotkan, apa lagi dengan gangguan tepat di depan menghalangi, dan yang lebih menyebalkan lagi ialah walaupun sudah kuberikan kode dengan bergumam “aduh!” bukannya menyingkir, malah laki-laki berisik ini masih tetap tidak peka untuk memberikan jalan dan membiarkan aku meletakkan barang-barang ini di kamar. Lebih menyebalkan lagi ketika dia berbicara ke Bang Aksa,
“Adek lo kesusahan ni, parah lo enggak mau bantuin adek sendiri.”
Bang Aksa yang sudah paham bahwa aku bukan kesusahan karena tidak dibantuin, melainkan kesusahan karena temannya yang ngehalangin jalan hanya diam saja sambil menoleh sekilas. Sikap sok cuek-nya dan kebiasaan mengganggu adiknya sendiri yang membuatku terkadang kesal memiliki abang seperti dirinya.
Akhirnya Bang Bayu balik lagi bergabung bersama teman-teman kantornya yang lain, mungkin karena sudah mengerti bahwa dia menghalangi jalanku atau mungkin hanya karena pekerjaan katornya masih belum selesai.
Tak terasa sudah sampai setengah perjalanan kami lalui menuju mall. Bang Aksa sebenarnya sudah punya SIM untuk mengendarai mobil dan keluarga kami sebenarnya juga sudah mampu untuk menambah satu mobil lagi untuknya, malahan aku pikir Bang Aksa sudah bisa membeli mobilnya sendiri. Tapi sama sepertiku, kami lebih tertarik menggunakan angkutan umum, berjalan kaki, atau merepotkan teman sebagai transportasi kami. Terkadang banyak teman kami yang mempertanyakan hal itu, mereka merasa dengan rumah, pekerjaan orangtua, dan lain halnya yang kami miliki sebenarnya cukup pantas untuk memiliki supir pribadi. Namun, kembali lagi antara aku dan Bang Aksa tidak ada yang tertarik seperti itu.
“Eh, iya ,Bang. Si Juang kirim salam sama lo tadi,” ucapku sambil mengisi perjalanan yang tinggal setengahnya lagi.
“Juang siapa?” tanya Bang Aksa tampak tidak peduli. Kelihatannya dia lupa tentang pembicaraan tadi malam.
“Itu ,loh, teman gue yang lo tanyain tadi malam,” kataku sambil mengingatkan.
“Oh, si cowok yang sering anter jemput lo itu?” tanya Bang Aksa yang sebenarnya agak menyebalkan karena mengingat kebiasaan Juang yang selalu mengantar dan menjemputku.
“Iya, kan lo nanyain dia tadi malam,” jawabku dengan cuek dan tak menanggapi godaan abangku itu.
__ADS_1
“Berarti gue tadi kelamaan nunggu karena lo abis bareng dia?” tanya Bang Aksa sambil menggodaku.
Bang Aksa adalah tipe orang yang cuek, tidak hanya dalam lingkungan pertemanan, bahkan dalam lingkungan keluarga sekali pun. Jadi tentu saja pertanyaan Bang Aksa tentang Juang yang tadi malam menarik perhatianku. Jika itu sekadar basa-basi laki-laki berusia 25 tahun ini tidak akan membahas hal semacam itu, melainkan membahas hal yang benar-benar basi seperti bagaimana kuliah, bisa atau tidak mengerjakan tugas, perkembangan di bina desa, dan obrolan basi lainnya.
Pertanyaan Bang Aksa tentang Juang tentu menunjukkan bahwasanya Bang Aksa memiliki sesuatu urusan yang berhubungan dengan Juang, baik itu hubungan secara lansgung maupun hubungan secara tidak langsung. Dengan adanya kebutuhan Bang Aksa atas Juang dan kebutuhan itu bisa terpenuhi melalui aku, ini menjadi alasan Bang Aksa mau menyempatkan untuk menemani ke mall siang ini.
“Jadi kalau sekali lagi lo nanyain gue dengan maksud menggoda perihal Juang, gue enggak bakal bantuin urusan lo sama Juang,” ucapku dengan rasa penuh kemenangan.
“Yee jadi lo ngancam gue ni?” tanya Bang Aksa sambil menyunggingkan senyumnya.
Tampaknya dia merasa terpojokkan olehku.
“Gue enggak ngancam sih, tapi ya gue cuma mau ngasih tau sama lo aja, kalau lo sekali lagi nanyain gue dengan maksud menggoda, lo bisa berurusan dengan Juang tanpa adek lo ini,” sahutku sambil memalingkan wajah ke jendela.
“Hahaha ... Iya deh gue minta maaf karna udah godain lo dari tadi,” jawab Bang Aksa sambil tertawa yang sepertinya senang berhasil menggodaku.
Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata, melainkan dengan wajah cemberut disertai tangan yang tersilang di dada. Tapi sepertinya Bang Aksa memang tidak mau berterus terang tentang urusannya dengan Juang. Itulah abangku yang memiliki perawakan tinggi dan kulit putih tidak begitu senang berterus terang, bahkan dengan keluarga sendiri. Ia lebih senang mengumpulkan dan mencari informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berterus terang. Kali ini dia bertanya tentang hubunganku dengan Juang yang terlihat memburuk di matanya.
Akhirnya aku memutuskan menceritakan ke Bang Aksa tentang kejadian terakhir di desa binaan. Seperti biasa kami selalu mengakhiri kegiatan desa binaan dengan makan bersama beberapa tokoh masyarakat desa tersebut. Namun ada yang berbeda pada hari itu, desa juga kedatangan tamu dari pihak instansi pemerintahan. Setelah makan bersama dan mengobrol santai terkait perkembangan desa, orang-orang dari instansi bertanya mengenai kegiatan dan program yang kami lakukan untuk desa, hanya saja saat itu kebetulan chairman dari kelompok bina desa kami tidak hadir pada kegiatan kali ini, hanya ada Juang yang merupakan co-chair. Selaku orang yang bertanggung jawab pada kegiatan, ia akhirnya berurusan dengan orang-orang instansi. Pembicaraan yang terjadi saat itu cukup lama, sebagian anggota khawatir dengan pembicaraan yang berlangsung, karena terlihat serius dan berkali-kali melihat ke arah para anggota.
Respon Juang ketika itu selaku co-chair langsung menelepon chairman kami setelah menjabat tangan orang-orang pemerintahan itu dan sepertinya menjelaskan pembicaraan dan keputusan yang sudah diambilnya. Juang memberi tahu kami para anggota tepat setelah dia menyelesaikan pembicaraannya dengan senior yang memercayakan pelaksanaan lapangan kepadanya.
“Apa yang disampaikan Juang sama kalian?” tanya Bang Aksa kepadaku. Tampaknya Bang Aksa punya urusan yang cukup penting dengan Aksa, karena tidak biasanya dia tertarik dengan cerita tentang teman-teman ku.
“Iya dia jelasin semuanya tentang pembicaraan dan keputusannya. Karena itulah kami kesal dengan Juang” jawabku kepada Bang Aksa.
“Emang mereka bicarakan apa dengan Juang?” tanya Bang Aksa sambil terus mengemudikan mobil yang terus melaju menuju pusat perbelanjaan di kota kami.
__ADS_1
“Mereka itu sedang melakukan kegiatan semacam pemberdayaan masyarakat desa gitu. Jadi mereka mendata komunitas dan organisasi yang juga bergerak di bidang yang sama untuk diajak bekerja sama. Nah, saat itu pegawai pemerintahan yang hadir di desa tempat kami melakukan bina desa tertarik dengan komunitas kami, sehingga menawarkan kerjasama untuk membantu program pemberdayaan mereka, tetapi hanya 2 orang dari kami yang diminta untuk mengerjakan project ini dan ini yang membuat semya kesal, Juang menerima tawaran tersebut dan mengirim namanya dengan nama chairman kami untuk masuk dalam project itu,” jelasku panjang lebar sambil memandangi gedung-gedung tinggi pencakar langit.
Tempat yang kami tuju sudah terlihat diujung jalan.
Setelah kejadian itu sebenarnya tidak ada perubahan baik dari sikap, kebiasaan, dan rencana kerja dalam tubuh internal bina desa. Secara khusus pun antara Juang dan chairman tidak ada yang berbeda. Hanya saja sebagai anggota yang bergantung kepada dua sosok pemimpin yang selama ini menggerakkan roda perkumpulan dan operasional kegiatan, tentu mengkhawatirkan atas keputusan yang diambil. Selain itu, jika dibandingkan antara terus menggerakkan komunitas bina desa yang menuntut untuk konsisten, kerja keras, dan sabar, atau membersamai project pemerintah yang dipastikan memiliki personel yang professional, fasilitas memadai, dan anggaran tersedia, apa lagi dengan kesempatan jenjang karir yang akan didapatkan bersama instansi pemerintahan. Orang pada umumnya akan memilih untuk meninggalkan dan beralih. Tapi yang membuat komunitas bina desa ini bertahan adalah kami dipimpin oleh dua orang yang tidak sama dengan kebanyakan orang, melainkan dua orang ini adalah sedikit dari sekian banyak orang yang bergerak dengan dasar idealisme. Ini yang membuat kami para anggota terkejut atas keputusan yang diambil oleh pemimpin yang kami kira idealis ini.
Untung saja saat ini memasuki masa Ujian Tengah Semester (UTS). Jadi untuk dua pekan kedepan tidak akan ada kegiatan bina desa karena para member diharuskan fokus menghadapi UTS dengan maksimal, karena member yang berprestasi di kelas akan lebih baik dalam memberdayakan masyarakat dan memotivasi mereka agar terus berusaha berprestasi.
“Kalau gitu apa yang jadi masalah bagi kalian?” tanya Bang Aksa sambil menurunkan kecepatan mobil karena kami sudah sampai di tempat tujuan.
“Maksudnya, Bang?” tanyaku yang tidak paham arah pertanyaan Bang Aksa.
“Iya kalian kesal sama Juang karena keputusannya menerima dan ikut menjadi bagian project itu, kan? Padahal Juang nya sendiri enggak ada berubah atau berkurang kontribusinya ditempat kalian, masih tetap menjalankan perannya di sana. Jadi kenapa kalian harus kesal dengan dia?” jelas Bang Aksa kepadaku.
Sejenak aku memang berpikir apa yang dikatakan oleh Bang Aksa ada benarnya juga.
“Tapi itu kan sekarang, kita enggak tau nanti gimana, bang. Apalagi itu kan project dari instansi pemerintahan, kalau seandainya kontribusinya bagus pasti akan selalu ada tawaran untuk project lainnya dan akhirnya dia akan ninggalin komunitas,” sergahku kepada Bang Aksa dengan sedikit emosi karena memang itulah kekhawatiran terbesar kami.
Kehilangan seorang Juang Tahta Adipura dari komunitas bina desa.
“Kenapa takutin yang nanti? Lagi pula itu cuma pengandaian kalian aja yang begitu takut kehilangan dia. Selama dia enggak berubah maka kalian enggak berhak juga berubah. Jangan sampai dia berubah karna sikap kalian berubah,” jelas Bang Aksa sambil memarkirkan mobil di bagian yang masih cukup sepi.
Aku terdiam dan berpikir atas penjelasan Bang Aksa.
Sekelebat terbayang di ingatanku respon yang kami berikan kepada Aksa saat dia mengabari apa yang sudah menjadi keputusan dan juga tentang sikap kami kepadanya setelah hari itu.
“Hei, udah jangan dipikirin banget apa yang gue bilang,” seru Bang Aksa dari luar mobil, tak sadar ternyata Bang Aksa sudah berada di luar mobil.
__ADS_1
“Iya ni gue keluar. Tungguin gue tau,” seruku kembali kepada Bang Aksa sambil membuka pintu mobil.
Kami tiba di pusat perbelanjaan ini tepat saat jam makan siang. Kemungkinan besar suasana di dalam cukup ramai terlihat dari penuhnya mobil yang terparkir di sini. Tapi itu tidak masalah bagiku karena berjalan bersama Bang Aksa adalah salah satu kesenangan yang tak pernah hilang sejak aku kecil, bahkan hingga sekarang. Ini karena Bang Aksa sangat jarang sekali ingin menghabiskan waktu bersamaku, tapi ketika dia sedang ingin menghabiskan waktu bersama adiknya, maka itu akan menjadi kegiatan menghabiskan waktu yang paling menyenangkan.