
Suasana malam di kota ini sangat menyenangkan, seakan kota yang tak pernah mati dengan segala kesibukan dan aktivitas warganya. Hal itu terlihat dari restoran tempat kami makan ini masih saja terus kedatangan pengunjung tanpa henti. Tidak hanya itu, jalan raya di depan restoran ini pun seperti tidak memiliki kesempatan untuk bernapas di tengah lalu lalang kendaraan bermotor yang silih berganti tak pernah henti. Maka tidak heran berbagai macam tempat hiburan keluarga tetap tersedia hingga larut malam nanti.
Aku dan Harum menunggu di parkiran, sedangkan ayah dan ibu yang melakukan pembayaran di kasir. Ini adalah salah satu keuntungan makan bersama keluarga, yaitu bisa makan enak tanpa mengeluarkan uang sedikit pun. Tanpa sadar aku merasakan celana yang sedang kupakai ditarik-tarik dengan sangat halus. Menyadari hal itu, aku langsung menoleh ke bawah dan terlihat ada seorang anak kecil kumuh dan adiknya yang masih bayi dalam gendongan sebuah kain melingkari tubuhnya menjaga agar sang adik tidak terjatuh dari dekapan. Anak kecil ini berusia sekitar 5-6 tahun dan adik yang digendongnya berusia sekitar 1-2 tahun.
“Om, mau makan, om,” ucapnya mengiba sambil mengelus-elus punggung adiknya yang tertidur dalam dekapan sang kakak.
Aku langsung duduk berlutut agar bisa berbicara dengannya lebih nyaman. Harum yang memerhatikanku bersama seorang anak kecil mengambil tisu basah yang terdapat di dalam tasnya, seraya mengusapkan ke wajah anak kecil tersebut dengan lembut.
“Tunggu sebentar ya,” ucapku sambil mengusap lembut kepala anak tersebut,
“Rum, kamu telepon ibu atau ayah. Sampaikan bungkuskan satu porsi lagi,” sambungku kepada Harum yang langsung diikuti dengan anggukan kepalanya yang mantap.
Harum segera berdiri dari posisinya dan mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Sesuai yang aku minta, dia menelepon orang tua kami yang masih di dalam melakukan pembayaran. Setelah berbicara kepada orang tua kami melalui ponsel, ia memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya dan duduk berlutut di sampingku serta memegang pipi anak yang masih tetap berdiri mematung di depan kami.
“Kamu tunggu di sini ya. Itu makanan buat kamu sedang di bawa kemari,” ucapnya turut lembut dengan senyuman manis yang ditujukan kepada anak tersebut.
Tak lama setelah itu ayah dan ibu datang.
“Ini ibu sama ayah bawakan dua bungkus langsung.” Ibu memberikan bungkusan makanan kepada Harum yang masih duduk berlutut di depan anak kecil ini.
“Ini buat makan malam kamu sama adik kamu ya, Dik,” ucap Harum lembut seraya menyerahkan bungkusan makanan yang tadi dipesan kepada anak kecil ini.
“Terima kasih banyak kakak!” seru anak tersebut sambil menerima bungkusan dan memeluk Harum dengan pelan karena sang adik masih tertidur dalam gendongannya, “Terima kasih juga om dan tante yang baik!” sambungnya kepadaku yang masih duduk berlutut dan kepada ayah, serta ibu yang memandangi dengan lembut sambil berdiri.
Setelah mengucapkan terima kasih itu, ia berbalik pergi menjauh dari kami sambil melambaikan tangannya dengan manis dan kami membalas lambaiannya. Aku dan Harum langsung mengambil posisi berdiri karena anak itu sudah tidak terlihat lagi.
“Oh ya, abis ini kita mampir ke mall dulu gimana, Yah?” tanya Harum kepada ayah yang sudah bersiap memasuki mobil.
“Lo mau ngapain ke mall malam beginian?” tanyaku penuh selidik.
“Ada yang mesti gue beli, Bang. Soalnya untuk keperluan ngampus lusa,” jawab Harum.
__ADS_1
“Yaudah, gimana bu?” tanya ayah kepada ibu. Ayah sepertinya mengurungkan niat memasuki mobil hingga mendapat kepastian ke mana mobil ini akan dituju.
Ibu menyetujui untuk malam ini akan singgah terlebih dahulu ke sebuah mall di kota kami sebelum akhirnya kembali pulang ke rumah untuk beristirahat. Namun sekali lagi sepertinya aku membuat adikku kesal karena aku meminta agar kami langsung pulang saja ke rumah untuk beristirahat. Tentu saja permintaan ini secara tegas ditolak oleh Harum karena dia sepertinya memang ingin ke mall. Walaupun begitu, perut kenyang yang sudah terisi oleh makanan lezat ini sudah meminta untuk segera diistirahatkan di atas kasur yang empuk sesegera mungkin. Nampaknya unsur kebutuhan antara aku dan Harum akan dimenangkan oleh Harum. Oleh karena itu, sebelum itu terjadi aku melakukan antisipasi dengan menawarkan agar keinginannya untuk memenuhi kebutuhan di mall itu ditunda hingga besok dengan tambahan pembayaran dan tranksaksi selama di sana aku yang menanggung.
“Beneran, Bang? Yeay! Yaudah, kita langsung pulang aja yok, Yah, Bu,” ajak Harum kegirangan.
“Iya! Entar istirahat makan siang besok gue jemput lo dikampus. Biar gue izin telat aja di kantor. Lo siang enggak ada agenda kan?” tanyaku pada Harum.
“Enggak ada kok, Bang, kosong. Entar jemput aja gue di Fakultas, gue ada kelas pagi besok,” jawab Harum.
Akhirnya kami semua sepakat untuk langsung pulang ke rumah guna mengistirahatkan badan yang sudah lelah, namun perut sudah kenyang. Perjalanan berlangsung tentram dan tenang karena tidak ada obrolan yang terjadi.
“Jadi cowok yang biasa nganter jemput lo mana Harum? Enggak ada kelihatan belakangan ini.” Aku membuka obrolan di tengah keheningan.
“Siapa yang lo maksud bang?” selidik Harum sambil mentap tajam mataku.
Aku pun bergeming tanpa menanggapi tatapan matanya yang tajam itu, sedangkan ayah dan ibu hanya mendengarkan tanpa berkomentar.
“Itu yang sering lo ceritain ke gue kalau pulang dari desa,” jawabku santai.
“Iya yang itu. Kan dia sering nganter jemput lo kan?” tanyaku kembali ke pernyataan awalku.
“Iya kalau gue sedang ada urusan sama bina desa, gue emang sama dia terus. Kenapa, Bang? Tumben nanyain,” tanya Harum cuek. Entah mengapa saat aku menanyakan tentang teman lelakinya yang bernama Juang itu mood nya berubah.
Niatku menanyakan temannya itu bukan hanya sekadar ingin menjahili ataupun menggoda adikku, tetapi karena memang ada beberapa urusan yang mungkin akan membutuhkan bantuan seseorang yang dipanggil Juang itu.
“Iya, gue udah lama enggak ngeliat dia bareng lo. Kalian berantem? Atau dia enggak ikut bina desa bareng lo lagi?” tanyaku penuh selidik.
“Kami enggak berantem, cuma gue sedang kesal aja sama dia,” jawab Harum ketus.
“Emang dia ngapain lo, sampai lo kesal segala?” tanyaku menaruh perhatian sambil memeluk pundak adikku yang satu-satunya itu.
__ADS_1
“Dia enggak ada ngapain gue secara pribadi sih, tapi dia buat keputusan yang ngerugiin anak-anak,” jawab Harum sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.
“Emang keputusan apa yang dibuatnya? Eh tapi gue mau nanya dulu, si Juang itu sebagai apa sih di tempat kalian?” tanyaku sebagai bentuk perhatian terhadap masalah yang dihadapi Harum.
“Iya dia tu di sana sebagai co-chair komunitas, makanya itu anak-anak pada kesel sama dia karena posisi itu, tapi keputusan yang diambilnya seakan lupa atas tanggung jawabnya itu,” jawab Harum menjelaskan.
“Gue kok jadi bingung ya,” jawabku karena memang Harum menjelaskan dengan sangat absurd dan tak menentu, entah hal itu mungkin dikarenakan mood-nya yang sedang jelek.
“Udah ah. Besok aja gue ceritakan waktu lo nemenin gue bang,” sambung Harum mengakhiri obrolan dengan kepala kembali tegak yang tampaknya sudah mulai kesal aku tanyain terus.
“Iya deh gue ngerti,” jawabku sambil mengangkat kedua tangan sebagai tanda melupakan sejenak pertanyaan yang tadi mau ditanyakan.
Harum hanya membalas dengan menyandarkan kembali kepala nya ke pundak ku sambil sibuk melihat social media. Sepanjang sisa perjalanan kami terhanyut dalam kesibukan masing-masing. Ayah dan ibu sibuk mengobrol berdua, Harum sibuk memainkan ponselnya, dan aku sibuk menanggapi beberapa pembahasan di media komunikasi ponselku. Tampaknya besok dikantor akan ada pertemuan antara pimpinan perusahaan dengan pihak korporasi yang baru untuk rapat koordinasi. Tentu dengan begitu aku tidak boleh telat datang ke kantor.
Tidak lama setelah itu mobil kami pun memasuki pekarangan rumah. Perjalanan pulang terasa cepat, sepertinya karena aku sudah lelah dan mengantuk, ditambah perut yang kenyang, sehingga yang terpikirkan di sisa perjalanan hanyalah tidur.
Setelah mobil masuk ke dalam garasi dan mesinnya dimatikan, kami semua serempak turun.
“Kalian langsung naik ke atas aja ya, ayah sama ibu mau langsung ke kamar buat istirahat,” kata ayah.
“Baik, Yah!” jawab aku dan Harum serempak.
“Kalian istirahat yang nyenyak ya dan selamat tidur,” kata ibu lembut sambil mencium kening Harum dan mengusap rambutku. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak kami kecil, hanya sekarang ibu tidak lagi mencium keningku karena memang aku sendiri yang tidak mau, karena mengingat usia juga tentunya.
Setelah itu ayah dan ibu memasuki kamar mereka yang berada dilantai satu, sedangkan aku dan Harum naik ke lantai dua karena memang kamar kami berada dilantai atas.
Sesampainya di atas, Harum langsung menuju ke kamarnya,
“Gue langsung ke kamar ya, Bang. Jangan lupa janji lo buat besok,” ketus Harum sambil membuka pintu kamarnya.
“Iya gue ingat kok. Entar kalau ada perubahan gue kontak lo deh,” jawabku dengan lembut.
__ADS_1
“Yaudah gue masuk dulu.” Harum meninggalkanku memasuki kamar.
Setelah itu aku langsung menuju kamar dan membuka pintunya. Kamar ini terasa dingin karena tampaknya saat keluar tadi aku lupa mematikan pendingin ruangan. Jaket yang tadi dipakai kuletakkan sembarang saja di kursi santai yang terletak di pojok kamar, karena memang aku harus bangun lebih awal besok pagi agar tidak terlambat ke kantor. Tak lama setelah itu, aku pun tertidur.