
Biasanya aku akan menghabiskan waktu di dalam kelas setelah perkuliahan usai, entah itu untuk mengulang kembali materi yang baru saja dipelajari, membuat tugas yang sudah diberikan, atau sekadar meminta penjelasan dari teman sekelasku yang lebih mengerti tentang materi yang tidak aku pahami. Tapi hari ini aku langsung meninggalkan ruangan ketika perkuliahan sudah usai. Terlihat suasana kampus saat ini sedang sibuk-sibuknya. Hal ini memang disebabkan sudah mendekati jam makan siang sehingga para mahasiswa saling memburu makan siang yang bisa mereka dapatkan di kantin fakultas sendiri maupun fakultas tetangga.
Fakultas Eksakta dan Teologi Sains bertetanggaan dengan Gedung Organisasi Mahasiswa, Fakultas Teknik, dan Gelanggang Olahraga Mahasiswa. Hal inilah yang menjadikan Fakultas Eksakta dan Teologi Sains ini merupakan salah satu fakultas paling sibuk di kampus ini.
Aku menunggu di halte fakultas yang tepat berada di depan gedung dekanat, sebagai gedung utama fakultas. Halte ini digunakan untuk menunggu bus kampus yang biasanya selalu berkeliling guna membantu transportasi mahasiswa yang tidak punya kendaraan sepertiku ini. Di sini ini sudah cukup banyak mahasiswa yang ikut menunggu bus, semuanya merupakan mahasiswa Fakultas Eksakta dan Teologi Sains. Itu bisa terlihat dari raut wajah mereka, karena biasanya mahasiswa di fakultas ini memiliki raut yang agak berat, dalam arti kata wajahnya selalu menggambarkan beban tugas berat yang dibawa pulang. Aku mengambil ponsel dari dalam tas dan langsung membuka menu kontak. Bang Aksa, segera aku melakukan panggilan kepada kontak dengan nama tersebut seraya menekan tombol memanggil yang tertera disudut kanan bawah ponsel yang belum genap setahun kumiliki ini.
“Halo, Bang! Lo di mana? Gue udah kelar ni di kelas, jadikan kita makan siang bareng?” sergahku langsung tepat setelah diangkat oleh Bang Aksa.
“Iya. Halo! Gue masih di kantor ni. Entar lagi juga kelar. Lo mau dijemput atau kita langsung jumpa di sana aja?” tanyanya yang tampak memang sudah siap dari tadi sampai-sampai menawarkan untuk menjemputku segala.
“Yaudah lo jemput aja, Bang. Gue tunggu di fakultas ya!” Tanpa berpikir panjang memanfaatkan tawaran baik dari laki-laki yang paling dekat denganku di dunia ini.
“Iya dalam setengah jam gue nyampai kampus lo,” jawabnya mengakhiri panggilan.
Setengah jam merupakan waktu yang lama. Aku tidak mungkin menunggu di halte selama itu. Kelihatannya aku memang harus meninggalkan halte dan mencari tempat pelarian yang lain. Jam makan siang pasti akan menyebabkan kantin penuh dengan mahasiswa yang kelaparan, jika hanya untuk makan saja tentu itu tidak akan merepotkan, tetapi kantin saat ini bukan hanya sebagai tempat makan, melainkan juga sebagai tempat mengerjakan tugas, diskusi, rapat, bermain catur, bermain domino atau permainan kartu lainnya, apa lagi kantin juga dilengkapi oleh fasilitas Wifi, sudah jelaslah bahwa kantin ini akan menjadi tempat bernaung para mahasiswa di saat jam kosong. Semua hal tersebutlah yang menjadikan kantin bukan tempat yang bagus untuk menunggu jemputan Bang Aksa.
Langsung saja aku menyusuri lobi fakultas untuk sekadar mencari tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu tiga puluh menit menunggu. Fakultas yang merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi dana kampus ini tertata dengan susunan bangunan yang melingkar dengan gedung dekanat di tengah depan, diikuti oleh gedung laboratorium di sebelah kanannya, gedung kemahasiswaan disebelah kirinya, dan dibagian belakang, tepatnya diantara gedung kemahasiswaan dan auditorium itu berturut-turut tiga gedung kuliah, tepat ditengah rangkaian bangunan di sini itu ada sebuah taman yang cukup besar dan sangat asri, tidak salah menjadi mahasiswa di fakultas ini akan memerlukan biaya yang cukup besar. Di antara semua bangunan yang ada di sini, sepertinya tempat yang cocok bagiku menghabiskan tiga puluh menit menunggu Bang Aksa adalah taman yang terletak di tengah komplek fakultas.
Science Garden, begitulah tertulis di gapura yang berdiri kokoh tepat di depan pintu belakang gedung dekanat. Di taman ini biasanya mahasiswa mengerjakan tugas, berdiskusi, rapat atau sekedar menghabiskan waktu luang, pilihan lain selain kantin tentunya. Hal ini terjadi ketika keadaan di kantin sudah cukup sesak dan tidak lagi memenuhi standar kenyamanan orang-orang sepertiku salah satunya, karena dengan kondisi kantin seperti itu masih ada juga mahasiswa yang memilih kantin sebagai tempat bernaung. Aku sendiri lebih memilih di taman karena cukup tenang walaupun agak panas karena tidak seluruh bagian taman ini terlindung dari rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sekeliling taman, selain itu juga di tengah taman juga terdapat semacam panggung atau pendopo yang cukup besar dengan luas 200 meter berbentuk segi empat yang tiap sudutnya tertanam pohon besar. Panggung atau pendopo ini juga kerap digunakan oleh para mahasiswa untuk kegiatan-kegiatan outdoor.
“Harum ....” seseorang memanggilku dari depan gedung kemahasiswaan.
Kuperhatikan dengan seksama siapa sebenarnya yang memanggil. Seorang lelaki dengan kemeja biru dan tas ransel hitam yang disandang sebelah, lengkap dengan celana katun berwarna hitam serta sepatu kets berwarna senada dengan kemeja yang dikenakannya.
Juang Tahta Adipura. Seorang mahasiswa dari jurusan Biomolekular, salah satu jurusan yang ada di Fakultas Eksakta dan Teologi Sains. Di sini selain Matematika, terdapat enam jurusan lain, diantaranya ada biomolekular, kimia, fisika, biologi, astronomi, dan aktuaria. Khusus biomolekular biasanya diisi oleh mahasiswa yang mayoritas laki-laki, Juang adalah salah satu mahasiswanya.
“Lo mau kemana?” tanya Juang sesaat setelah dia sampai tepat di depanku.
“Belum tau, sih. Rencana mau ke pendopo, soalnya gue mesti nunggu Bang Aksa jemput,” jawabku santai.
“Wah, tumben Bang Aksa mau jemput lo. Kenapa enggak gue aja yang nganterin?” tanya Juang akrab karena memang dia sendiri sudah sering main ke rumahku.
Aku bertemu dengan Juang diawal semester lalu, tepat saaat pelaksanaan orientasi mahasiswa baru tingkat fakultas. Juang adalah salah satu peserta orientasi yang kerap tampil di panggung, tipe orang yang konyol menurutku karena dia ketika berbicara selalu blak-blakan saja, terkesan berbicara tanpa berpikir. Tetapi jika diperhatikan dan dilihat bagaimana dia berkomunikasi dengan blak-blakan tersebut terlihat dan terasa bahwa setiap hal konyol yang disampaikannya memiliki makna atau pesan tersendiri yang sangat membantu di sebuah kondisi, dia terlalu pintar berkomunikasi sehingga hal yang disampaikannya mampu dikomunikasikan dengan baik sesuai maunya.
“Iya, soalnya siang ini gue mau makan siang bareng dengan Bang Aksa, sekalian ada yang mau di beli juga,” jawabku sambil melanjutkan langkah kaki menuju pendopo.
__ADS_1
“Yah, rencananya gue mau ngajakin loh sebenarnya,” gerutu Juang sambil memasang raut wajah kecewa.
Aku berbalik menghadap Juang sambil memasang raut wajah bingung yang dibuat-buat.
“Emang lo mau ngajakin gue ke mana? Bukannya lo sedang sibuk dengan tawaran project yang sedang lo kerjain?” tanyaku dengan senyum menyindir, karena memang masih kesal dengan keputusan yang diambilnya.
“Udah dong jangan dibahas lagi, kan gue enggak ke mana-mana, masih bareng kalian juga,” jawabnya dengan rasa bersalah yang terlihat sengaja ditampakkan kepadaku.
“Iya, lo masih bareng anak-anak juga, tapi kan siapa yang tau nanti. Apa lagi project yang lo ambil langsung dari instansi, ada peluang karirnya loh, sedangkan ditempat kita ini hanya own project yang dijalankan secara cuma-cuma dan sukarela.” Menyesal sudah melayaninya berbicara, apa lagi tentang hal yang diributkan sejak beberapa hari yang lalu. Kekesalanku bertambah karena dia tetap saja tidak menyadari ketakutan yang menyebabkan kami semua kesal dengan pilihannya. Langsung saja aku tinggalkan dia yang masih memperlihatkan wajah bersalah dan meneruskan berjalan menuju pendopo.
“Yaudah! Ayok gue temenin lo nungguin Bang Aksa,” jawab Juang menyejajarkan langkah kakinya agar dapat berjalan tepat di sampingku.
Aku tak memperdulikan tanggapannya atas kekesalanku.
Kondisi pendopo siang ini tidak terlalu ramai oleh mahasiswa. Pendopo dengan empat tangga di tiap sisinya, juga ada bangku dari keramik melingkari setiap pohon yang tumbuh di sudut-sudut pendopo ini. Bangku itu merupakan tempat favoritku, rimbunnya pohon akan memberi keteduhan dan silir angin yang berhembus acap kali menghasilkan sebuah sentuhan lembut di kulitku, apa lagi kalau sudah mulai musim gugur, menyaksikan daun-daun kering lepas dari ranting dan jatuh melayang terombang-ambing oleh angin itu sangat menenangkan hati, terutama dari tugas dan tuntutan kegiatan yang menyesakkan dada.
“Tempat yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu menunggu,” pikirku.
Segera setelah memastikan bahwa bangku yang akan kududuki itu bersih, tas yang di punggung pun turut mendarat di bangku tersebut. Sejurus kemudian punggung yang sudah mulai lelah merapat pada bagian belakang kursi, mengikuti pantat yang beradu dengan bangku.
“Lo enggak mau nyoba daftar jadi pengurus Himpunan atau BEM gitu?” tanya Juang dengan santai sambil ikut duduk, hanya saja dia duduk di samping tiang pendopo sehingga posisi kami saat ini berhadapan.
“Belum tau lagi ,nih. Tadi udah pada ditawarin, sih, sama senior jurusan,” jawabku sambil membuka kembali catatan kuliah pagi tadi.
“Tunggu apa lagi? Daftar lah, kalau udah ada penawaran kayak gitu, lo pasti bakal lulus jadi pengurus,” rayu Juang dengan bersemangat. Entah kenapa dia hobi sekali menawariku berbagai macam kesibukan dan kegiatan. Yang pertama adalah kegiatan kepanitiaan Dies Natalis Universitas, yang kedua adalah kegiatan Bina Desa, di keduanya aku selalu tertarik dan akhirnya terhasut bujuk rayunya, bisa jadi ajakan yang ketiga ini turut menjadi sesuatu ketertarikan juga dan aku menerima tawaran dari para senior dan si Juang sendiri.
“Gue pikir-pikir dulu deh, sambil memilah-milah kesibukan gue. Entar gue sendiri yang kelabakan kalau sampai tabrakan sana-sini,” jawabku sambil membayangkan kesibukan yang akan aku jalani nantinya. Sebenarnya aku tidak takut menjadi sibuk, itu adalah gaya hidupku. Bahkan sejak sekolah dulu aku turut aktif hampir di semua ekstrakurikuler dan juga sebagai pengurus OSIS, aku mengatakan untuk pikir-pikir hanya karena kekesalanku kepada Juang.
Semangat Juang menjadi menggebu ketika aku berkata untuk berpikir-pikir terlebih dahulu. Hal ini seperti memberi bensin di kobaran api, sehingga api yang tadinya sudah mulai padam kembali membesar membakar sekitarnya. Kekesalanku yang awalnya membuatku bertekad untuk mengacuhkan Juang, malah menjadi sebaliknya aku terjerumus dalam pembicaraan dan termakan rayuannya. Tentu saja ini merupakan langkah dari Juang untuk mencari teman seperjuangannya, karena bisa dipastikan Juang sudah mendaftar di salah satu organisasi bergengsi di kampus ini.
“Lo pasti udah daftar kan?” tanyaku secara langsung agar dia bisa berhenti merayuku secara agresif.
“Wah, hebat bener lo bisa nebak,” ucap Juang dengan gaya sok-sok malu yang menyebalkan.
“Enggak perlu ilmu hitam atau indera keenam untuk nebak yang gituan. Seorang Juang Tahta Adipura tidak akan mungkin melewatkan kesempatan untuk berkarir di organisasi kampus,” jawabku dengan bersemangat karena kali ini kami bergantian menggoda secara agresif.
__ADS_1
“Hahaha lo bisa aja. Bilang aja lo tadi udah ngeliat gue keluar dari gedung kemahasiswaan kan?” tanya Juang dengan nada mencibir, walaupun terlihat sekali dari raut wajah dan respon tubuhnya yang menyatakan dia tengah malu.
Bersyukur ponselku langsung berdering ketika pembicaraan sudah mulai dikuasai oleh Juang.
Segera kuambil ponsel yang tersimpan di dalam tas. ‘Bang Aksa’, layar ponsel menunjukkan nama yang menyebabkan ponselku berdering itu.
Aku memberi kode kepada Juang dengan telapak tangan diangkat dan dihadapkan ke arahnya sambil menggoyangkan ponsel sebagai tanda bahwa ada yang sedang menelpon. Juang mengangguk patuh dan menunda pembicaraan.
Ternyata Bang Aksa sudah menunggu di depan fakultas. Beruntung karena itu aku bisa segera menghindari Juang karena semakin lama mengobrol dengannya aku akan semakin bersikap baik kepadanya. Tentunya ini tidak boleh terjadi mengingat kekesalan yang harusnya aku perlihatkan kepada Juang.
“Makasih banget ya Juang udah nemenin gue. Bang Aksa udah nunggu didepan fakultas tuh. Gue cabut dulu yah,” ucapku pamitan kepada Juang sambil bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan taman.
“Yaudah jangan lupa tawaran dan pesen gue tadi, kalau lo butuh apa-apa kabarin aja gue,” jawabnya sambil berjalan menyejajari langkah kakiku.
Aku hanya menjawab dengan senyuman dan kedipan mata seraya terus melangkah menuju depan fakultas.
“Titip salam sama Bang Aksa ya, bilangin gue kangen ngobrol bareng lagi,” ucap Juang sambil berjalan terpisah karena dia tampaknya kembali menuju Gedung Kemahasiswaan.
Di depan fakultas aku melihat mobil terparkir dengan seorang lelaki setengah baya berdiri bersandar pada mobilnya sambil sibuk memainkan ponselnya.
“Bang Aksa!” sapaku sambil setengah berlari menuju mobilnya.
“Yaudah ayok jalan, gue dah kepanasan nungguin lo nih” kata abangku langsung membukakan pintu mobil.
“Mobil siapa nih yang lo bawa?” tanyaku setelah masuk ke dalam mobil dan memerhatikan isi keseluruhannya. Mobil yang bernuansa hitam merah ini sangat terasa elegan dikendarai.
“Mobil temen kantor gue, gue pinjem khusus buat adek gue,” jawab Bang Aksa sambil menggoda.
“Ah lo bisa aja dasar abang alay,” ucapku karena malu.
“Emang lo dari mana aja tadi sih? Gue kira nyampe di fakultas lo langsung muncul, eh enggak tau nya gue mesti kepanasan nungguin lo dulu,” keluh abangku sambil mencibir.
“Iya maap. Lagi pula kan enggak mungkin gue nungguin lo di sini aja. Ngapain gue sendirian selama setengah jam,” jawabku dengan ketus karena Bang Aksa masih memermasalahkan perihal tadi.
“Iya enggak apa deh, karena gue juga yang ngajakin lo kan?” jawab abangku sambil mengacak-acak rambut. Hal yang selalu dilakukannya sejak aku masih kecil.
__ADS_1