
Menu makan malam kemarin memang sangat lezat dan membuatku tidur dengan nyenyak malam tadi. Tak terasa sinar matahari sudah menembus kedalam kamar melalui celah kecil dari jendela dan ventilasi udara. Perlahan mataku mulai terbuka dan menyaksikan dunia secara perlaha. Hal yang pertama kali aku lihat ketika mataku terbuka dengan sempurna adalah jam weker yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, sepertinya aku lupa menyetel alarm karena tadi malam langsung merebahkan badan menikmati empuknya kasur dan sejuknya ruangan.
Waduh gawat! Gue bakalan telat ngampus nih. Mati gue kalau sampai telat di kelas pagi ini, teriakku di dalam hati.
Dalam 30 menit lagi aku sudah harus sampai dikampus. Langsung saja aku bangkit dari kasur bermotif dedaunan yang kondisinya sudah seperti habis diterjang badai, kurapikan alas kasur dengan sekadarnya dan segera membuka tirai jendela begambar suasana hutan itu. Sinar matahari dengan ganas menyilaukan mataku dan sontak membuat terperanjat karena hari ini aku ada kelas pagi. Segera kubuka jendela kamar dan berlari memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur langsung.
Setelah menyelesaikan beragam urusan pribadiku sebagai cewek dengan waktu yang sesingkatnya hingga aku hampir lupa untuk memakai sepatu. Setelah semua siap, kuambil ponsel dari atas meja dan terlihat jelas jam sudah menunjukkan pukul 07.10 pagi. Dalam waktu 20 menit aku sudah harus sampai ke kampus. Dengan gerakan cepat dan singkat kubuka pintu kamar sekaligus menutupnya kembali. Pintu berwarna silver itu terhentak dengan cukup keras sehingga foto yang tergantug disana bergoyang keras.
Masa bodoh dengan kondisi pintu. Gue gak boleh telat! batinku di dalam hati seraya terus meluncur melalui tangga tanpa takut terjatuh karena seluruh rasa takut sudah tertuju pada kelas pagi ini.
Aku membuka pintu rumah dan langsung menutupnya sedemikian rupa hingga pintu itu memiliki nasib yang sama dengan pintu kamarku pagi ini. Untung saja rumah kami ini memiliki sistem pengunci otomatis, sehingga apabila seseorang menutup pintu rumah dia akan otomatis terkunci, bahkan seluruh pintu yang ada termasuk jendela. Sampai di depan rumah aku sekali lagi memaksa diriku berlari menuju pangkalan ojek. Dibanding menunggu ojek dan terlambat, aku lebih memilih berkeringat dan selamat dari keterlambatan. Pangkalan ojek itu tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya berjarak sekitar 50 m. Pangkalan ojek yang merupakan bangunan satu petak lengkap dengan parkiran luar tempat para pengojek memarkirkan motor mereka sambil menunggu penumpang. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit aku sampai di pangkalan ojek ini dan terlihat ojek langganan yang biasa selalu setia mengantar jemput saat aku membutuhkan.
“Pak! Ayok kita berangkat!” seruku melambaikan tangan kepada seorang bapak setengah baya yang sedang menyeruput kopi hangatnya.
Langsung saja aku mengambil helm dari motornya dan disusul bapak ojek yang sudah duduk di atas motornya juga.
“Udah yok neng kita berangkat. Udah telat kan?” kata si bapak ojek menjawab kegelisahanku.
“Ayok, Pak! Buruan pakai ngebut!” pintaku tanpa menjawab pertanyaan si bapak.
Bapak ojek tidak menanggapi permintaanku dengan kata-kata, melainkan dengan tancap gas yang membuatku hampir kehilangan keseimbangan sebenarnya. Tapi tidak apa, ini demi keselamatanku di kelas nantinya.
Gue cuma punya waktu 15 menit untuk sampai ke kelas, ucapku dalam hati sambil terus menepuk bahu si bapak agar terus meningkatkan kecepatan motornya.
Sepanjang perjalanan aku hanya melirik jam tangan dan memerhatikan jalanan di depan untuk memastikan jalan yang akan kami lalui lancar sehingga bisa mengantarkanku tepat waktu ke kampus.
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.20 dan perjalanan ke kampus sudah setengahnya, langsung saja kuhubungi Laras, teman satu kelas pagi ini.
“Halo ras! Gimana keadaan kelas? Pak Tono udah dikelas?” tanyaku dengan sedikit keras karena berlomba dengan deru angin dan suara kendaraan bermotor lainnya.
“Keadaan masih aman terkendali. Anak-anak emang udah pada datang, tapi masih setengahnya lah. Pak Tono juga belum ada keliatan karena dari tadi gue juga bolak-balik ke ruang kerja dosen ,kok,” jawab Laras menenangkan.
__ADS_1
“Absen gue gimana? Udah sama lo?” tanyaku lagi semakin panik dan menepuk-nepuk bahu si Bapak Ojek agar mempercepat kendaraannya. Bapak ojek yang aku tumpangi hanya gelagapan memaksa motornya yang bisa dibilang cukup tua ini melaju lebih kencang.
“Udah aman kok. Lo tenang aja, sekarang lo cuma perlu datang ke kampus dengan cepat!” jawab Laras.
“Bentar lagi gue nyampe ni. Makasih ya, sayang,” jawabku sambil memutuskan panggilan dan menyimpan kembali ponsel ke dalam tas.
Beruntung tidak lama setelah itu kami mulai memasuki zona kampus. Terlihat dari banyaknya warung internet –atau warnet- juga berbagai macam toko percetakan, dan warung jajanan di setiap sisi jalan. Selain itu berbagai gedung besar yang ada di kampusku juga sudah mulai terlihat dari balik atap bangunan yang ada di sini. Hanya butuh beberapa detik setelah itu terlihat tiang tinggi sekitar 20 meter berwarna putih dengan pahatan batu berbentuk logo kampusku di puncaknya. Tiang ini adalah tanda batas kampus, jadi ada 4 tiang seperti ini di setiap sudut wilayah kampus yang memiliki luas sekitar 3.500 hektar. Bapak ojek dengan sigapnya seperti sudah mengerti kondisi yang aku alami langsung saja memasuki gerbang kampus yang memang terbuka untuk umum. Waktu tinggal 5 menit lagi dan beruntung gedung fakultasku tidak terlalu jauh di dalam komplek kampus ini.
Aku adalah mahasiswa Matematika di Fakultas Eksakta dan Teologi Sains Fakultas Eksakta dan Teologi Sains merupakan salah satu fakultas yang megah di kampus karena memiliki 6 rangkaian gedung, yang mana terdiri dari 3 gedung kuliah yang masing-masing memiliki 4 lantai, 1 gedung kemahasiswaan yang memiliki 3 lantai dan memiliki audiotorium, 1 gedung laboratorium 4 lantai dan 1 gedung dekanat 6 lantai. Semua bangunan gedung fakultas ini dibangun serupa dengan gedung yang ada di fakultas lain. Bangunan bergaya modern dengan warna biru yang cerah dan memiliki pahatan batu berbentuk logo kampus di setiap puncak atapnya yang berbentuk landai satu sisi, bentuk pahatan yang sama dengan yang ada di tiang sudut kampus.
“Terimakasih banyak Bapak!” ucapku tepat setelah kami sampai di depan gedung fakultas sembari menyerahkan uang ongkosku.
“Iya neng sama-sama,” balas Bapak Ojek sambil menerima uang dari ku.
“Udah, Pak! Sisanya pegang aja dulu. Entar kalau saya ngojek lagi ambil dari sisa duit pagi ini aja,” ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan ojek yang ingin menyerahkan uang kembalian ongkosku, waktu yang tersisa hanya tiga menit lagi.
Beruntung ruang kuliahku pagi ini tidak berada di lantai enam atau lima, karena jika begitu aku pasti akan terlambat karena akan mengahbiskan banyak waktu dan tenaga untuk menaiki tangganya. Melainkan pagi ini ruang kuliahku berada dilantai dua, tepatnya di ruang B21, itu sebagai kode bahwasanya ruangan berada di gedung B, lantai dua dan di ruang pertama setelah tangga. Ada juga untungnya aku menjadi mahasiswa yang sibuk dan selalu dikejar berbagai kegiatan. Ini berguna dalam situasi seperti yang sekarang aku alami, kejar-kejaran dengan waktu sudah menjadi hal yang biasa bagiku sehingga mempercepat langkah atau bahkan berlari bukan menjadi masalah bagiku.
Ah, sial! Ngapain pakai buang sampah segala, sih! batinku kaget dan menghentikan lari secara spontan.
“Kamu pagi ini masuk kelas saya bukan?” tanya Pak Tono padaku tepat saat mata kami bertatapan.
“Iya benar, Pak! Saya masuk kelas bapak pagi ini dengan mata kuliah Visual Aritmatika,” jawabku mencoba tetap tenang dan perlahan berjalan menuju pinta ruangan.
“Lalu kenapa kamu masih di luar?” tanya Pak Tono.
Sejenak aku merasa pertanyaan Pak Tono sangat mengintimidasi, sehingga ketenangan yang dari tadi aku pertahankan luntur begitu saja saat aku berada tepat dihadapan Pak Tono.
Apa yang mesti gue jawab nih, batinku mulai panik.
“Saya baru saja dari toilet, Pak!” Akhirya aku menemukan jawaban yang cukup baik, walaupun dengan gugup dan sedikit menunduk.
__ADS_1
Pak Tono tidak langsung merespon dengan kata-kata, melainkan memerhatikanku dengan sangat teliti dari bawah hingga ke atas. Dengan tangan terlipat di dada membuat kesan mengintimadasi yang semakin kuat dari Pak Tono ini sendiri. Kulitnya yang sudah keriput terlihat jelas terlipat ketika memerhatikan penampilanku. Namun, tetap karena sorot matanya yang tajam membuatku gugup, meski aku sebenarnya sudah cukup sering menghadapi berbagai macam orang berkat keaktifanku di berbagai kegiatan.
Gawat! Jangan bilang dia tau kalau gue sebenarnya bukan dari toilet, melainkan baru datang. Gugupku semakin menjadi karena dosen ini tidak berhenti mempertahankan posisi berdirinya, termasuk tangan dan sorot matanya tidak berubah bahkan setelah beberapa menit.
“Nasib baik kamu masuk sebelum perkuliahan saya mulai.” Akhirnya Pak Tono berbicara kepadaku, namun dengan sikap berdiri dan tangan yang masih di posisi yang sama. Hanya saja matanya sudah mulai bersahabat.
“Iya, Pak! Saya minta maaf,” ucapku sambil menunduk merasa bersalah.
Pak Tono tidak menanggapi, beliau tak acuh dengan permintaan maaf dariku dan langsung saja masuk ke ruangan meninggalkanku yang masih tertunduk di ambang pintu.
Segera aku masuk dan duduk di kursi yang sudah disiapkan temanku Laras dan unutngnya tasku sudah terlihat manis di atas mejanya. Pak Tono memulai kelas dengan mengecek daftar hadir perkuliahan. Sekali lagi untung saja Laras sudah mengamankan kehadiranku pagi ini. Nampaknya aku harus mentraktirnya makan karena ini. Tapi tampaknya orang yang menerima lemparan tas tadi masih kesal dengan kejutan yang didapatnya pagi ini. Langsung saja aku meminta maaf dengan isyarat mengatupkan kedua telapak tangan sambil memasang wajah menyesal dan memelas, berharap dia mengerti. Wanita cantik dengan rambut terurai panjang itu hanya membalas dengan anggukan dan sedikit senyum yang manis, antara memang dia sudah memaafkanku atau dia hanya tidak ingin memperpanjang urusan ini karena jika urusan ini tidak habis saat ini juga, maka kami akan berkesempatan menjadi mahasiswa pertama yang akan dihardik oleh Pak Tono. Sekali lagi aku menyunggingkan sedikit senyum yang lebih manis dari sebelumnya agar teman cantikku itu bisa benar-benar memaafkan.
“Lo beneran beruntung pagi ini, Rum,” bisik temanku Laras di sela penjelasan Pak Tono tentang materi operating combination.
“Gue udah mau pingsan tadi sebenarnya waktu ngeliat Pak Tono ternyata udah di ambang pintu. Untung aja jendela ruangan kebuka, jadi yah tinggal gue lempar aja ini tas,” bisikku lebih pelan karena memang masih gugup setelah diintimidasi oleh Pak Tono pagi ini.
Laras tidak meresponku lagi karena seperti biasa, di kelasnya Pak Tono semua mahasiswa tidak berani macam-macam, apa lagi kalau seandainya Pak Tono sudah kehilangan mood karena keterlambatanku pagi ini.
Aku benar-benar sudah membawa suasana mencekam pada kelas pagi ini.
Kuliah pagi ini merupakan salah satu mata kuliah paling sulit di semester kedua dan diisi oleh salah satu dosen paling di takuti oleh seluruh mahasiswa matematika. Kombinasi yang lengkap untuk membuat seluruh mahasiswa memaksa dirinya untuk memfokuskan pikiran dan perhatian ke dalam perkuliahan.
Belajar dengan rasa takut berlebihan ternyata berefek pada perasaan kita dalam menghitung waktu yang sedang dijalani karena ternyata kelas sudah berada di penghujung waktunya.
“Baik. Perkuliahan pagi ini saya kira cukup sekian, untuk pertemuan selanjutnya silakan Anda semua siapkan jurnal ilmiah matematika tentang aritmatika dari 4 tahun terakhir yang setiap tahunnya telah Anda siapkan masing-masing satu jurnal,” jelas Pak Tono sambil menutup perkuliahan dan memasukkan kembali portable yang sedari tadi digunakannya untuk menjelaskan materi.
Bagus, seperti biasa Pak Tono enggak bakal biarin kita meninggalkan kelasnya dengan perasaan tenang, gerutuku dalam hati.
Aku yakin seluruh mahasiswa yang mengikuti kelas Pak Tono pagi ini merasakan hal yang sama, itu semua terlihat jelas dari raut wajah kekecawaan dan kekesalan mereka yang dipendam sekuat tenaga, karena jika Pak Tono tahu respon negatif ini, bukan kasihan atau toleransilah yang diberikannya, melainkan tambahan tugas yang akan membuat para mahasiswa makin merasakan penyesalan atas kelas pilihan pagi ini. Pak Tono memang begitu, terkenal atas ketegasan dan kedisiplinannya. Ia selalu memastikan mahasiswanya tidak ada yang bersantai dan bermain-main, karena itu dia selalu memberikan tugas yang di luar batas kewajaran.
Dosen yang tetap rapi bahkan setelah tiga jam mengajar tanpa henti itu berlalu meninggalkan papan tulis yang sudah terlihat seperti kode rahasia intelejen, sangat rumit dan membingungkan. Berbeda dengan Pak Tono yang tetap rapi setelah mengajar selama tiga jam, para mahasiswa yang awalnya cerah menyambut pagi kelihatan sangat berbanding terbalik setelah tiga jam belajar. Termasuk cewek cantik yang hari ini menjadi penyelamatku karena berhasil menangkap tas yang secara tiba-tiba muncul dari balik jendela. Rambut panjang terurainya berubah menjadi kuncir kuda yang sudah diikat entah sejak kapan dan senyum manis yang tadi memberikan maaf kepadaku berubah menjadi cemberut berkepanjangan. Semua mahasiswa yang di ruangan hanya bisa tertegun dan terdiam melepas kepergian Pak Tono dengan segala kekecewaan dan kekesalan dari tugas yang ditinggalkannya.
__ADS_1
Pagi yang freak sebenarnya untuk memulai hari. Tapi tak apalah, setidaknya setelah ini aku akan pergi bersama Bang Aksa dan pastinya akan bisa memanjakan diri di mall dengan ditemani abang kesayanganku itu. Tanpa sadar aku setelah ini akan bertemu dengannya.