
"Riko___, maaf aku baru balas. Aku baru pulang dari mengaji."
"Tidak apa-apa Ayesha. Aku ngerti," Jawab Riko penuh pengertian.
Ini kisah ku, ada jodoh lewat T_sel. Kejadian ini terjadi saat tahun 2007.
Namaku Riko Airlangga, saat itu usia ku genap dua puluh lima tahun. Aku anak dari seorang pengusaha sukses. Hidup ku selalu di penuhi dengan gemerlap keindahan dunia. Tapi berubah drastis saat usaha papa ku hancur dan mengalami kebangkrutan. Inilah kisah hidup ku yang penuh dengan Lika liku kehidupan.
"Riko, mau kemana sayang?" Mama menghentikan langkah kaki Riko.
"Mau nongkrong sama temen-temen, ma. Aku pergi dulu ya, ma?
"Iya. Tapi pulang nya jangan malam-malam ya! Kamu kalau sudah kumpul sama temen-temen mu, suka lupa waktu," Terang mama mengingatkan.
"Iya mama ku sayang."
Riko mencium sang mama dan berlalu pergi, menemui teman-teman nya di base camp. Atau lebih tepatnya tempat Riko dan kawan-kawan ngobrol bersama.
Setelah lima belas menit berlalu, sampailah Riko di tempat berkumpulnya teman-teman. Suara musik begitu mengelengar. terdengar suara tawa dan canda dari teman-teman Riko.
"Hay Riko? Sini____, sini." Teriak Adil memanggil Riko yang baru saja datang. Riko pun gegas menghampiri Adil. Karena Adil adalah sahabat terdekat Riko.
"Riko, besok ada pertandingan balap motor. Hadiah nya lumayan gede loh. Ikut ya, kamu pasti menang!" Adil memberi informasi tentang lomba.
"Ck___, dimana?" Riko menghidupkan korek api dan membakar pada rokok yang sudah ada di tangan.
"Ah biasa di sirkuit Jend. Subroto," terang Adil antusias.
"Kenapa enggak loe saja yang main?" Tanya Riko.
"Idih meledek!" Adil tertawa, menyadari ketidak bisaan nya.
"Riko____" Anya datang dengan wajah bersungut sebal.
"Ada apa Dear?" Tanya Riko sambil mengusap pipi Anya yang begitu lembut.
"Aku mau tas ini. Lihat, cantik kan?" Anya menyodorkan ponsel berisi foto tas limited edition.
"Cantik!" Riko manggut-manggut menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Kamu mau?" Tanya Riko menatap mata Anya.
__ADS_1
"Mau banget sayang. Tapi harganya cukup mahal," Sesal Anya berharap pada Riko. Anya yakin semahal apapun permintaan Anya, pasti akan Riko turuti. yah, sebucin itu Riko pada Anya.
"Kalau kamu suka. Kita akan membelinya, jangan pikirkan masalah harga. Intinya apa sih yang enggak buat perempuan secantik kamu." Riko mengusap pipi Anya.
"Beneran nih, makasih ya sayang?" Anya bergelanyut manja di pelukan Riko.
"Iya sayang, sama-sama. Gimana apa kamu senang?"
Anya tersenyum dan mengangguk senang sekali.
"Ssst ada manusia disini woy, dikira obat nyamuk apa?" Hardik Adil merasa di cuekkin.
"Derita si jomblo! Gegas cari ganti si Dea, Bro," Ledek Riko.
"Tidak semudah itu, bro!" Jawab Adil dan mengingat kejadian setahun silam. Dimana Dea dengan lantang meminta putus dari Adil.
Semua itu bukan salah Dea, tapi salah Adil. Adil menyadari itu semua. Karena egois dan mau menang sendiri, akhirnya Dea meminta putus. Padahal Adil tau, bahwa Dea teramat mencintainya.
"maafkan aku, Dea?" batin Adil.
"Sayang ayo minum?" Anya memberikan segelas minuman beralkohol pada Riko.
Dengan cepat Riko menenggaknya hingga habis.
Suara musik membuat suasana tambah asyik bagi sekelompok muda mudi yang sedang happy-happy di sebuah base camp. Apalagi di temani minuman keras, menambah kesan menyenangkan bagi penikmatnya.
Setelah puas minum dan berpesta Pora, Riko pulang kerumah. Dengan mata agak buram tidak jelas karena pengaruh alkohol, Riko mengendarai montor menuju rumah."
"Riko kamu yakin, mau pulang sendiri?" Adil menemui Riko yang dalam keadaan setengah mabuk.
"Tenang saja, bro. Aku bisa!" Riko meninggalkan Adil yang termangu menatap kepergian Riko.
Adil sendiri Yatim sejak masih kecil. Ibunya pergi merantau keluar negeri tapi sampai kini, tidak ada kabar tentang sang ibu. Adil sudah pasrah menjadi anak yang sudah tak berayah dan beribu.
Adil tinggal bersama paman nya, yang bekerja sebagai sopir di rumah Riko. Dari itulah, Riko dan Adil berteman sejak kecil.
Sang mama yang mengetahui Riko pulang dalam keadaan mabuk pun marah.
"Kapan kamu akan berubah, Riko? Selalu saja begitu, pulang dalam keadaan mabuk."
"Apa sih ma! Siapa yang mabuk?" Jawab Riko berlalu masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Dor____ pintu kamar Riko tertutup.
"Iya itu hasil didikan mu. Kamu selalu sibuk dengan geng sosialita kamu, sampai lupa mendidik anak untuk menjadi anak yang mau ngerti tentang kerja dan tanggung jawab, kerjaan nya cuma hura-hura, ngabisin duit." Hardik papa Airlangga.
"Oh jadi papa nyalahin mama. Papa enggak mikir, ada peran papa disini? Apa papa lupa, papa tidak ada waktu untuk Riko walau sekedar mengajaknya ngobrol bersama. Papa selalu sibuk dengan urusan papa, Kerja, kerja dan kerja." Balas mama
"Mengurus anak itu tugas kamu, ma."
"Tugas mama, papa bilang. mengajarkan dan menyayangi Anak itu tugas kedua orang tuanya, pa. Bukan cuma mama saja!"
"Terserah mama saja!" Teriak Papa Airlangga.
"Mau kemana kamu, pa?" Balas mama Jasmin.
"Nyari hiburan, suntuk di rumah melulu."
"Jangan bilang papa mau menemui gundik papa itu. Iya, pa. Papa mau menemui gundik papa, si Stella!"
"Jaga bicara mu, ma. Jangan selalu menuduh papa yang bukan-bukan! Dengar, ma. Antara papa dan Stella tidak ada hubungan apa-apa, hubungan kami murni sebagai Karyawan dan atasan. Itu saja tidak lebih."
"Bohong kamu, pa. Aku tidak percaya, dasar tukang ngibul!" Hardik Mama Jasmin.
Papa Airlangga tidak memperdulikan ocehan mama Jasmin. Papa Airlangga terus saja keluar rumah. Sumpah serapah keluar dari mulut mama Jasmin. Bahkan mama Jasmin sudah memutuskan ingin bercerai dari papa Airlangga.
"Dasar lelaki brengs**." Umpat mama Jasmin tidak mau berhenti.
"Berhenti atau aku akan pergi dari rumah ini?" Teriak mama Jasmin. Papa Airlangga pun menghentikan langkah kakinya. Menoleh dan menatap nyalang mama Jasmin.
"Dengar ya, pa. Aku sudah bosan berumah tangga dengan mu. Aku mau kita pisah!"
"Ma. kamu ini ngomong apa sih! Kita ini sudah tua, sudah bukan waktunya lagi untuk bermain pisah-pisahan."
"Papa yang sudah tua. Mama tidak merasa sudah tua, boleh di adu antara mama dan gadis berusia dua puluh tahun diluar sana," Mama Jasmin menyombongkan diri.
"Bahkan masih banyak brondong yang mau sama mama, pa."
"Mereka itu mau bukan sama kamu. Tapi suka dengan uang kamu, ma. Ingat umur ma, Kamu sudah tua."
"Nasehat itu genggam di pikiran papa. Apa papa tidak sadar, papa lah yang tidak berpikir." Mama Jasmin pergi meninggalkan papa Airlangga. Mama Jasmin kali ini tidak main-main dengan ucapan nya.
"Mau kemana kamu, ma?" Papa Airlangga mengenggam lengan mama Jasmin.
__ADS_1
"Pergi darimu!"
"Jangan pergi, ma." Papa Airlangga berteriak memanggil mama Jasmine yang sudah berjalan terkacir-kacir