
Sholawat adalah salah satu penenang bagi Ayesha. Di tengah gemuruh dan peliknya hidup yang harus di lalui, Ayesha gemar melantunkan sholawat.
Jika ada sebagian doa yang tertolak, sebab ada setitik doa yang mengandung keburukan. Misalnya, dasar orang jahat, tak doain biar cepet mamp**. Maka dalam doa itu ada keburukan, karena kita berusaha mendoakan hal yang buruk untuk orang lain.
Lantas bersholawat lah, karena sejatinya tidak ada sholawat yang di tolak.
Saat sholat pun ada sholawat ya, karena itulah betapa luar biasanya manfaat dari sholawat.
Barang siapa mencintai sholawat, insyallah kelak akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya, yang tak lain adalah Baginda Rasulullah Muhammad sholallahu alaihi wasalam.
Bersholawat dengan cinta, pengen A, sholawat, pengen B, lantunkan sholawat.
Allah bersholawat, malaikat bersholawat, berkat sholawat hidupnya nikmat dan insyallah menjadi orang yang selamat dunia akhirat.
Ayesha adalah seorang perempuan yang sangat gemar dan menyukai sholawat. Bahkan hampir tiap hari selalu bersholawat. Ayesha melantunkan sholawat dengan sepenuh cinta.
Setelah membuka celengan, Ayesha mulai menghitung lembar demi lembar uang pecahan, antara seribu, dua ribu, lima ribu dan sepuluh ribu.
Uang ini adalah hasil dari jerih payah Ayesha menjual kue dan bekerja di pabrik Tahu. Gaji Ayesha delapan ratus ribu setiap satu bulan bekerja di pabrik pembuatan tahu dan tempe.
Setiap delapan ratus, Ayesha memberikan lima ratus untuk Mifta. Ayesha pikir dana rumah tangga juga besar, jadi sedikit demi sedikit Ayesha membantu ekonomi dirumah. Seratus ribu untuk uang jajan Zara, dan sisanya dua ratus Ayesha tabung.
berjualan kue, dengan modal dua ratus ribu. Ayesha bisa membuat tiga ratus potong kue, terdiri dari seratus kue lapis, seratus gorengan tempe crispy, dan seratus gorengan tahu isi. Dari kesemuanya jika dijual, Ayesha mendapat uang dua ratus empat puluh ribu. jadi, Ayesha mempunyai untung empat puluh ribu setiap hari.
dua ratus untuk membeli bahan lagi, empat puluh ribu Ayesha gunakan untuk membeli sayuran, sisanya Ayesha akan menabung nya.
Ayesha sengaja mengumpulkan uang nya. Karena memang Ayesha menyukai menabung.
Setelah di hitung, jumlah uang Ayesha selama hampir setahun ini, ada sekitar tiga juta rupiah. Ayesha senang sekali mendapati uang di di tabungan nya sudah terkumpul sebanyak ini.
Rencananya sih, Ayesha pingin banget buka kedai warung makan di depan rumah. Tapi, Ayesha harus lebih semangat lagi menabung nya.
Ayesha menyimpan uang hasil buka tabungan di bawah kasur lusuh miliknya. Lalu Ayesha gegas menjajakan kue buatan nya. yah, hari ini Ayesha akan keliling. Jika di titipkan di warung, ini sudah sangat terlambat karena hari sudah siang.
"Kue____ kue____" Ayesha menawarkan kue buatan nya kepada setiap orang yang dijumpainya.
Akhirnya, setelah masuk waktu Ashar, dagangan Ayesha sudah habis terjual. karena tadi ada yang borong, seorang ibu rumah tangga yang sedang merenovasi rumah. Jadi, dagangan Ayesha cepat habis terjual.
Ayesha mengunjungi Ahmad Zubair di rumah bidan desa. Senyum Ayesha mengembang saat melihat Ahmad Zubair sudah bisa berjalan sendiri.
__ADS_1
"Assalamualaikum," Sapa Ayesha.
"Walaikumsalam." Ahmad Zubair menatap lekat wajah adik perempuan nya. wajahnya kusut dan hitam. Apakah, karena berjualan keliling menjadikan kulit Ayesha yang sejatinya bersih menjadi hitam.
"Bagaimana, bang. apa sudah baik kan?" Tanya Ayesha mendekati Ahmad Zubair.
"Alhamdulillah, sa. Abang merasa jauh lebih enakan," jawab Ahmad Zubair.
"Berarti sore ini, Abang sudah boleh pulang?" Tanya Ayesha.
Ahmad Zubair mengangguk.
"Iya, sudah boleh pulang. Tapi, aku tak berani pamit sama Bu bidan, sebab kita kan belum bayar obat Abang mu." Mifta terdengar agak ketus.
Ahmad Zubair terdiam wajahnya menunduk kebawah.
"Maaf aku merepotkan kalian?" Sesal Ahmad Zubair.
"Tidak, bang. jangan berkata begitu, lagi waktunya sakit ya sakit lah, bang. Yang terpenting sekarang Abang sudah sehat, sudah lebih baik. Karena itu yang terpenting." Jelas Ayesha.
Mifta hanya mencebikkan mulut.
Ayesha berjalan menuju ruang tamu Bu bidan Desa. Untuk menanyakan kondisi Ahmad Zubair.
"Iya, gimana Ayesha?" Tanya Bu bidan Desa.
"Apa abang sudah boleh pulang sore ini, Bu?" Tanya Ayesha.
"Boleh, Sa. Keadaan Abang mu sudah membaik, yang penting obatnya harus diminum secara teratur. Untuk sementara waktu, bilangin Abang mu jangan bekerja dulu. istirahatlah, sehari sampai lima hari kedepan. biar kondisi tubuh Abang mu benar-benar bisa pulih."
"Baik, Bu."
"Ayo ikut aku, akan ku tulis resep obat buat Abang mu," ajak Bu bidan desa menuju ruangan Ahmad Zubair terbaring.
Bu bidan desa tampak mengambil beberapa lembar keping obat, dan mulai menulis resepnya.
"Ini diminum setelah makan semua. kecuali yang ini, ini diminum sebelum makan. Jadi, satu jam sebelum makan tolong obat yang ini diminum terlebih dahulu. Setelah itu, makan dan minum obat yang ini." Bu bidan Desa menjelaskan dengan sangat jelas.
"Baik, Bu. untuk biaya nya berapa ya Bu?"
__ADS_1
"Untuk biaya nya, karena Abangmu pakai infus juga tadi ya. Jadi, total semuanya tiga ratus ribu."
"Uangnya nanti aku antar ya, Bu. soalnya aku tak bawa."
"Lah itu, sa." Mifta menunjuk di wadah kue jualan Ayesha.
"Itu hanya ada dua ratus empat puluh ribu, yuk." Jawab Ayesha lembah lembut.
"Iya tak apa-apa. besok-besok lagi juga tak apa-apa." Terang Bu bidan.
"Insyallah nanti lah Bu, aku antar." Bu bidan mengangguk setuju.
"Terimakasih ya, Bu." Ucap Ahmad Zubair.
"Iya, bang. semoga segera sehat ya?"
"Aamiin..."
"Kami permisi, Bu. Sekali lagi terimakasih!" Seru Ayesha.
"Iya, sama-sama." Bu Bidan tersenyum begitu tulus.
"Memang abangmu bakal kamu ajak jalan kaki sampai rumah?" Mifta langsung berucap saat menyadari tak ada kendaraan di depan rumah Bu bidan.
"tidak, yuk. aku sudah menelpon pakde Abdul, sebentar lagi juga pakde Abdul bakal datang kok." jawab Ayesha pelan.
Benar saja, tak lama kemudian Pakde Abdul datang dengan sepeda motornya.
Ahmad Zubair gegas naik ke atas motor, tidak dengan Mifta dan Ayesha yang harus berjalan kaki untuk sampai rumah.
******
"Sudah cepat sana, antar uang kerumah Bu bidan desa. Nanti dikira kita nipu lagi," ketus Mifta saat baru saja mereka sampai.
"Aku mau mandi dan sholat Ashar dulu yuk. habis itu baru aku akan mengantar uangnya."
"Nanti pulang dari rumah Bu bidan, mampir ke warung sembako ya. Beli mie instan atau apa kek, aku lapar. Uang gak ada," seru Mifta menselonjorkan kaki.
"Iya, kak. Memang aku mau mampir kesana, mau beli bahan buat kue juga. Zara kamu mau jajan apa dek, biar nanti bibik belikan?" Tanya Ayesha.
__ADS_1
Zara lun menyebut merk jajan kesukaan nya.