
"Sholatullah sholamullah ala Toha Rasulullah, Sholatullah sholamullah ala Yasin habibilah"
Ayesha sedang mencuci pakaian sambil melantunkan sholawat yang terdengar begitu merdu.
Perkenalkan namanya Ayesha, gadis manis berusia dua puluh satu tahun. Ayesha tinggal bersama Abang kandung nya, Ahmad Zubair.
Ahmad Zubair sudah menikah dengan seorang perempuan cantik bernama Mifta.
Pernikahan antara Zubair dan Mifta sudah memasuki usia yang ke lima tahun. Bahkan Ahmad Zubair sudah dipanggil Ayah oleh Zara, anak dari Ahmad Zubair dan Mifta yang kini sudah berusia empat tahun.
Semenjak lima tahun terakhir, Ayesha tinggal serumah dengan Ayuk iparnya, yang tak lain adalah Mifta.
Kedua orang tua Ahmad Zubair dan Ayesha sudah lama berpulang ke Rahmatullah. Jadi, Ahmad Zubair mengambil tanggung jawab, untuk menjaga dan melindungi Ayesha.
Ahmad Zubair bukan orang yang kaya, bahkan hasil kerja kerasnya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Ayesha pun tidak lantas mengenggam tangan, dengan tenaga dan skill yang Ayesha punya, Ayesha membuka jasa pembuatan kue.
Jika ada pesanan, maka Ayesha akan gegas membuat kue-kue bikinan nya ke pelanggan. Jika tidak ada yang pesan, maka Ayesha akan menitipkan kue buatan nya ke beberapa warung kelontong.
Selain membantu abangnya dengan berjualan kue, Ayesha juga bekerja di salah satu rumah produksi pembuatan tempe dan tahu.
Tanpa di pinta, Ayesha akan memberikan uang hasil jerih payahnya kepada Ahmad Zubair dan Mifta. Lalu menyisakan sedikit untuk di tabung.
Pagi ini, seperti biasa Ayesha sudah mencuci pakaian di pinggir sungai, yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari rumahnya. Jangan harap Ayesha akan mencuci menggunakan mesin, bahkan terkadang membayar tagihan lampu penerangan saja masih benar-benar harus menghemat.
Ayesha sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sejak pagi, Ayesha akan bangun jam tiga pagi, mendirikan sholat malam dan lanjut membuat kue untuk di titipkan ke warung-warung. Bahkan semua pekerjaan yang Ayesha kerjakan tak luput dari sholawat cinta nya.
Jadi ketika Fajar menyingsing Ayesha sudah siap pergi kerumah produksi tempe dan tahu. Dan bisa bekerja dengan tenang disana.
"Ayesha, pulang dulu!" Mifta terburu-buru mengajak Ayesha untuk pulang. Ayesha yang menyadari Ayuknya mengajak pulang pun merasa heran, ada apa sebenarnya. Tidak seperti biasanya Mifta memanggilnya. Biasanya jam segini Mifta masih berkelana kealam mimpi.
"Ada apa, yuk?" Tanya Ayesha bingung.
"Abang Zubair___, Abang."
"Kenapa dengan Abang, yuk?" Ayesha langsung berdiri dari duduknya. Dan gegas berlari menuju rumah dimana tempat tinggalnya.
Ya Allah____ suara Zubair terdengar begitu sakit. Ahmad Zubair memengang perut dengan kencang, menahan rasa sakit di ulu hati.
Ayesha langsung duduk dan mengenggam tangan Zubair. Ayesha panik dan bingung, apa yang harus di lakukan?
"Yuk, kita bawa Abang ke bidan saja?" Usul Ayesha panik.
"Tapi Ayuk tak ada duit," sesal Mifta menunduk cemas.
"Jangan pikirkan masalah duit yuk, yang terpenting sekarang kita bawa Abang ke bidan saja dulu," Ayesha berlari kerumah tetangga samping rumah.
Ayesha akan meminta kepada tetangga untuk membawa Zubair ke bidan desa. Sebab Ayesha tidak bisa mengendarai sepeda motor, jadi sulit bagi Ayesha untuk mebawa Zubair ke bidan desa.
Setalah mendatangi rumah Bude Wati, Ayesha di sambut hangat oleh bude Wati.
"Ada apa, Ayesha?" Tanya Bude Wati yang sedang menyirami bunga.
"Tolong Bude, tolong antarkan Abang Zubair ke bidan?" Pinta Ayesha begitu panik.
"Kenapa Zubair?" Bude Wati pun sangat terkejut dengan ucapan Ayesha.
"Aku tidak tau pasti, Bude. Tapi, Abang begitu kesakitan. terutama di bagian perut bude."
"Ya sudah, tunggu dirumah. Biar bude panggil pakde, sebab pakde masih tidur!" Terang Bude Wati menjelaskan.
"Iya, Bude. Terimakasih," Ayesha segera berlari kerumahnya. Mifta terisak sambil mengenggam tangan Zubair. Sedang Zara juga ikut menangis karena takut melihat ibunya menangis.
__ADS_1
"Sa, gimana, apa Bude Wati mau?" Mifta berkata dengan sayup.
"Iya, yuk. Tunggu bentar, Pakde Abdul sedang di bangunkan oleh Bude Wati."
Tak lama kemudian pakde Abdul datang bersama bude Wati.
"Ayo bantu pakde?" Pakde Abdul membawa Zubair untuk naik ke motor. Dengan tertatih, Ayesha membantu pakde Abdul mengandeng Zubair menuju motor.
"Sa. Kamu duduk di belakang Zubair. Takut Zubair jatuh karena tidak tahan menahan bobot tubuhnya sendiri?" Titah bude Wati.
"Iya, bude," Ayesha langsung naik di jok belakang dan memeluk Zubair dengan erat.
Perlahan motor berjalan menuju bidan desa.
Di sepanjang perjalanan, Ayesha terus melantunkan sholawat walau hanya dalam hati. Sungguh Ayesha begitu cemas dan khawatir, Ayesha takut terjadi sesuatu hal dengan Zubair. Sungguh Zubair sangat berarti bagi Ayesha, hanya Zubair yang Ayesha punya. Ayesha tidak mau Zubair kenapa-napa.
Vkit___
Motor pun berhenti. Dengan perlahan pakde Abdul dan Ayesha membawa Zubair masuk kerumah bidan.
"Kenapa, pak?" Tanya bidan desa.
"Tidak tau Bu. Tiba-tiba Zubair merintih kesakitan," jelas pakde Abdul.
"Rebahkan sini, biar saya periksa!" Bidan desa tampak mulai memeriksa Zubair.
Ayesha terus bertasbih dan berdzikir dalam hati, Ayesha berharap Zubair baik-baik saja.
"Bagaimana Bu, sakit apa Zubair?" Tanya pakde Abdul.
"Tidak apa-apa pak. Sepertinya mas Zubair terlalu capek, tapi tidak dirasa. Bahkan sakit pun di tahan dan tidak dirasa. Dan akhirnya begini!" Terang bidan desa memasang selang infus.
Kondisi Zubair terlihat jauh lebih tenang. Mungkin rasa sakitnya berkurang, setelah bidan menyuntikan obat ke tubuh Zubair.
"Jadi, belum bisa langsung pulang ya, Bu?" Tanya pakde Abdul.
"Belum, pak. Nanti setelah infusnya habis baru boleh pulang. Biar mas Zubair ada tenaga, lemas banget soalnya."
"Baik, Bu. Terimakasih banyak?" Ucap pakde Abdul.
"Iya, sama-sama pak."
Ayesha duduk di tepi ranjang, senyum terbit di wajah Ayesha. Rasa lega dan syukur hadir dalam hati Ayesha.
"Sa. Pakde pulang dulu ya? Pakde mau mengabarkan keadaan Zubair pada Mifta, takut Mifta khawatir tentang keadaan Zubair."
"Iya, pakde. Pakde terimakasih?" Ucap Ayesha bersungguh-sungguh.
"Iya, sama-sama," pakde Abdul menepuk bahu Ayesha. Mata Ayesha sudah berlinang air mata, Ayesha tidak tau bagaimana kejadiannya jika tidak ada pakde Abdul yang menolong membawa Zubair ke bidan desa.
Pakde Abdul pun pergi meninggalkan Ayesha, sesekali Ayesha melirik ke arah Zubair yang memejamkan mata. Mungkin pengaruh obat, jadi Zubair tertidur.
Ayesha kembali duduk di kursi yang sudah tersedia. Melirik kearah jam di dinding yang sudah menunjukkan jam tujuh pagi. Ayesha bingung, pasti pemilik produksi tahu dan tempe menunggu nya. Tapi Ayesha tidak bisa berbuat apa-apa, Ayesha harus menjaga Zubair.
Bahkan Ayesha lupa membawa ponsel jadul milik nya. Ayesha menghembuskan napas kasar. Diam dan menunggu Mifta datang.
Setelah sekian lama Ayesha menunggu, akhirnya Mifta datang. Mifta datang bersama bude Wati.
"Sa. Bagaimana Abang?" Tanya Mifta khawatir.
"Alhamdulillah, yuk. Abang baik-baik saja."
__ADS_1
Miftah segera menemui Zubair. Wajah pucat Zubair tersenyum mendapati kedatangan Mifta dan Zara serta bude Wati.
"Bang, makan dulu ya?" Tawar Mifta dan membuka bungkus nasi di genggaman nya.
Zubair tersenyum mengangguk.
"Iya makan dulu, terus minum obat. Biar segera sembuh," imbuh bude Wati.
Dengan telaten Mifta menyuapi Zubair. Ayesha hanya diam mematung memandang Mifta menyuapi Zubair. Ayesha melirik ke arah jam lagi. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Yuk, aku kerumah pak Ali ya? Aku mau menjelaskan hari ini tidak bisa masuk. Tidak enak aku yuk, tidak berangkat kerja tanpa memberi kabar," Ayesha pamitan pada Mifta.
"Ya sudah sana!" Jawab Mifta sambil memakan nasi sisa makanan Zubair.
"Sa. Jangan lupa duit buat bayar Abang," lirih Mifta membisiki Ayesha. Mifta takut Ayesha lupa akan biaya Zubair.
"Iya kak. Aku usahakan ya?"
"Pakai uang tabungan mu saja!" Lirih Mifta menjelaskan. Ayesha mengangguk setuju.
Akhirnya Ayesha pergi berjalan kaki menuju rumah pak Ali. Pemilik produksi tahu dan tempe. Di sepanjang jalan Ayesha berpikir, bagaimana jika pak Ali marah? Ah itu urusan nanti.
Setelah berjalan hampir sepuluh menit, Ayesha sampai di rumah pak Ali.
"Eh, sa. Kok baru datang?" Tegur pak Ali.
"Maaf pak, hari ini aku ijin mendadak. Sebab Abang Zubair sakit mendadak pagi tadi, pak."
"Zubair sakit apa?" Tanya pak Ali mencoba mengerti keadaan Ayesha.
"Kejang-kejang, pak. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah baikan."
"Syukurlah kalau begitu. Jadi hari ini kamu mau libur?" Tanya pak Ali.
"Kalau di ijinkan, sih iya pak."
"Boleh lah, sa. Sudah sana urusin dulu Abang mu!" Pak Ali begitu pengertian.
"Terimakasih banyak ya, pak?" Ayesha begitu senang.
"Iya."
Ayesha lekas pulang ke rumah, karena perut sudah sangat keroncongan.
Belum sampai di rumah, Ayesha melihat cucian pakain tadi pagi masih menumpuk di atas bak. Dengan sigap Ayesha mengambil dan mencuci pakaian kotor dan segera menjemur nya, mumpung hari masih panas.
Selesai menjemur pakaian. Ayesha masuk kedalam rumah. Kue-kue nya masih rapi di atas meja. Ini sudah terlalu siang untuk menjual kue-kue nya. Tapi tidak apa-apa, Ayesha akan tetap menjualnya setelah sarapan.
Ayesha masuk ke dapur.
Klik__
Nasi dalam panci sudah habis. Ayesha mencari kemana perginya nasi, perasaan tadi pagi Ayesha sudah masak nasi.
Setelah di cari-cari tidak ketemu, akhirnya Ayesha memakan kue buatan nya sendiri.
Ayesha berjalan ke kamar nya, di pegang lah sebuah celengan dari bambu tersebut.
Dengan sebuah pisau, Ayesha membelah bambu.
Byar___
__ADS_1
"Alhamdulillah___" Ayesha memunguti uang tabungan nya. Ayesha sangat bersyukur mendapati uang tanungan nya yang lumayan banyak.