
"Mana mie instan nya?" Mifta langsung menghadang Ayesha yang baru saja pulang dari warung sembako. tanpa membiarkan Ayesha masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
"Ini yuk. Ada di dalam kantong, aku mau sholat jamaah dulu ke surau," Ayesha tergesa-gesa karena kumandang Adzan Maghrib sudah hampir selesai takut tertinggal.
"Mikut, bik." Panggil Zara berlari terkacir-kacir.
"Boleh, tapi jangan nakal. Gak boleh beringsik ya?" Ayesha meminta persetujuan Zara. Zara mengangguk menyetujui permintaan Ayesha. Sebab jika Zara berlarian dan teriak-teriak pasti akan ada seseibu yang memarahi Ayesha karena membawa bocah kecil ke surau. padahal seharusnya senang ada anak kecil yang ikut.
Shaf Sholat sudah rapi, Ayesha menyusul karena Imam sudah mengucapkan Takbiratul ihram. sebelum Ayesha sholat, sekali lagi Ayesha menasehati Zara agar tetap tenang dan ikut sholat.
Awalnya Zara diam saja mengikuti geraka sholat Ayesha, tapi lama kelamaan mulai bergurau dengan teman seusianya. Berlari kesana kemari, berteriak dan tertawa begitu keras, hingga taman Zara terjatuh dari berlari dan menangis begitu kencang.
huwa____hiwa_____
Ayesha tak khusyuk dalam sholat, ingin segera selesai. takut Zara lah pelakunya, hingga membuat anak orang menangis.
Selesai sholat, ibu dari teman Zara langsung mengendong anak nya sambil menghardik Zara begitu ketus.
"Gak ada kamu, Lia gak beringsik! Ada kamu malah, jadi beringsik banget, kalau mak mu saja gak berangkat, mending kamu gak usah datang kesini, lagian ngapain datang kalau cuma mau beringsik. Mending dirumah mu sana, sama Mak mu!" ketus nya.
Ayesha diam saja. Ayesha takut salah ngomong dan akhirnya menjadi perselisihan. tapi seharusnya ibunya Lia ngerti, Zara kan masih anak-anak mau di bilang dan dimarahi seperti apa juga belum maksud.
"Dasar, anak nakal sudah membuat anak ku menangis!" Kali ini ibu Lia mencubit lengan Zara. Hingga Zara menangis histeris. Suasana begitu riuh oleh tangis kedua bocah tersebut.
Ayesha datang mengambil Zara yang dicubit oleh ibunya Lia. Ayesha menyayangkan sikap ibunya Lia yang arogan. Ayesha berusaha menenangkan Zara yang merasakan sakit di pergelangan tangan nya. Jika sampai Mifta tau, Zara di cubit ibunya Lia. Wah, bisa rame perang dunia kedua.
Ayesha menatap ibunya Lia penuh kecewa. kenapa orang sudah tua tak mengerti, namanya juga anak-anak. sebentar berantem sebentar lagi juga bakal baikan.
"Sudah ya Zara, gak apa-apa. Biar bibik usap. Diam ya, jangan menangis lagi, ini tempat ibadah. Kan, tadi bibik sudah bilang, Zara tak boleh nakal, tak boleh beringsik." Zara memeluk Ayesha yang masih terisak kecil.
Ayesha mengusap lengan Zara yang di cubit ibunya Lia. Ayesha agak kesal dengan ibunya Lia, tapi jika Ayesha melawan dan memukul ibunya Lia, sama saja Ayesha seperti ibunya Lia. Seorang ibu, mental belum siap jadi ibu.
"Dasar anak nakal, anak orang miskin, dekil, kumel nakal lagi. mana ada orang yang suka sama anak nakal seperti Zara ini. yang ada pada sebal, lihat saja sudah malas!" Sekali lagi ibunya Lia meromet panjang kali lebar.
__ADS_1
"Sudah ibunya Lia. lanjut dzikir, istigfar. Lia juga sudah diam kan," terang Bu Astari.
"iya, Bu." jawab ibunya Lia sambil melengos menatap Ayesha.
Setelah sholat selesai. Ibunya Lia tak mau bersalaman dengan Ayesha. Wajahnya melengos dan berlalu pergi dengan ngedumel panjang kali lebar.
"Aneh!" batin Ayesha. dasar makhluk gak jelas. masalah anak-anak pun bisa sampai ke masalah yang lain nya. lagian Lia kan jatuh sendiri karena berlari, bukan Zara yang dorong atau Zara yang membuat Lia menangis.
"Dasar anak nakal!" Sebuah kalimat yang berhasil Ayesha tangkap dari mulut ibunya Lia.
Ayesha berjalan lebih cepat untuk kembali kerumah, tak sepatutnya Ayesha meladeni orang seperti itu. bisa tertular penyakit omel nanti.
"Loh, Zara kenapa matanya berair, habis nangis ya?" Tanya Mifta yang sedang melahap dua bungkus mie instan yang hampir habis. Padahal Ayesha beli empat biji mie instan, satu Abang nya, satu Mifta, satu Zara dan satunya lagi milik Ayesha.
Jika sudah begini, terpaksa Ayesha akan makan barengan sama Zara. kenyang tak kenyang, sebungkus bagi dua.
"Sa, kenapa Zara menangis?" tanya Mifta.
Zara berlari dari gendongan Ayesha memeluk Mifta. Masih ada isakan kecil disana.
"Kenapa?" Mifta menghentikan aktivitas menyantap mie instan.
"Ibunya Lia, cubit aku, Bu." Seru bocah berusia empat tahun itu.
Mifta menatap Ayesha tajam.
"Benar begitu, Sa?" Tanya Mifta dengan mata memerah. Ayesha pun mengangguk pelan.
"Kenapa tak kau balas tuh ibunya Lia. Berani main tangan sama anak kecil, anak kecil ya sama anak kecil. Jangan anak kecil dilawan ibunya. Itu tak adil," terang Mifta tak terima. Ayesha hanya diam diri merasa takut Mifta marah dan mendatangi rumah ibunya Lia.
"Kamu juga jadi orang gob*** nya kebangetan. Masa iya, lihat adiknya dicubit diam saja, malah menangis enggak jelas. Jadi orang itu harus berani melawan, kalau kita diam saja, yang ada semakin di injak-injak tak di hargai."
Mifta keluar rumah dengan mengendong Zara. Pasti tujuan nya kali ini adalah rumah nya Ibunya Lia. Ayesha segera berlari mengikuti Mifta yang sedang terbakar api emosi.
__ADS_1
Dug___
"Woy keluar kau!" Teriak Mifta di depan rumah tak terkunci itu.
Klik...
"Ngapain datang kesini?" Sarkas Ibunya Lia.
"Ngapain-ngapain, apa maksudnya coba nyubit anak orang. Emang situ mau, anaknya di cubit orang!" Balas Mifta.
"Salahnya anak nakal. Sudah anak nakal, masih saja di bela. Dasar gak punya malu!"
"Woy jaga mulut mu tuh ya. Tanya sama anaknya, Lia itu jatuh sendiri apa di dorong Zara. Anak jatuh sendiri, anak orang lain yang disalahkan. Jika mental jadi ibu belum ada, mending masukin aja lagi Lia kedalam."
"Binata** kamu!" Teriak Ibunya Lia geram. Langsung menabrak Mifta yang sedang mengendong Zara hingga terjatuh.
Ayesha langsung mengambil Zara yang menangis ketakutan. Mifta yang melihat anaknya terjatuh bersama dirinya pun, langsung terpancing emosi sampai ke ubun-ubun. Pergulatan pun terjadi.
Saling jotos, saling Jambak dan saling mencakar.
"Tolong_______!" Teriak Ayesha meminta bantuan, Ayesha takut bukan main.
"Tolong____!" Sekali lagi Ayesha berteriak meminta bantuan.
Suami Ibunya Lia keluar dari dalam, langsung berusaha memisahkan kedua wanita yang sedang latihan MMa manual tersebut.
"Tolong__!" Ayesha berteriak lagi. Akhirnya ada beberapa tetangga yang mendekat dan memisahkan kedua wanita yang kuat lagi hebat tersebut.
"Dasar orang miskin, banyak gaya!" Teriak ibunya Lia tak jelas, wajahnya terkena beberapa gurat cakaran kuku Mifta.
Mifta tersenyum smirk.
"Banggakan tuh muka mahal orang kaya!" Jawab Mifta dan berlalu pergi.
__ADS_1