Ada Jodoh Dari Salah Nomor Telepon

Ada Jodoh Dari Salah Nomor Telepon
Apa sih yang gak buat kamu


__ADS_3

"Pak Nasib, papa sudah pergi ya?" Tanya Riko pada satpam yang menjaga rumah.


"Iya, mas. Sudah sejak pagi tadi pak Bos pergi."


"Oh, makasih ya, pak!" Riko pun meninggalkan pak Nasib di gerbang pintu masuk. Rencananya Riko akan mengikuti perlombaan balap motor, sesuai janjinya dengan Adil.


Riko memahami jika saat ini, Adil sedang dalam kesulitan ekonomi. Adil harus membiayai paman nya yang masuk kerumah sakit, sementara Adil hanya seorang karyawan biasa. Gaji Adil hanya cukup untuk makan dan kebutuhan yang lain. Semenjak kedua orang tua Adil wafat, Adil di asuh oleh paman nya, adik dari almarhum ibu Adil.


Di sepanjang perjalanan Riko melamun, membayangkan kehidupan Adil yang tidak menyenangkan. Riko yang hidup bersama kedua orang tua dengan harta yang melimpah pun terkadang masih saja kurang bersyukur.


Bukan Riko tak bersyukur masih di beri orang tua yang lengkap. Tapi, pertengkaran kedua orang tua Riko terkadang membuat Riko jengah dan bosan berada dirumah.


"Hay___ Dil. Sudah sampai sini saja, kamu!" Riko menghentikan motor tepat di depan Adil. Senyum Adil mengembang sempurna.


"Iya, Riko." Adil mendekati Riko yang tampak masih mengantuk. Tampak mata Riko masih agak sembab.


"Masih ngantuk?" Tanya Adil memandang mata Riko.


"Tidak, Dil. Ada-ada saja kamu!"


Anya datang dengan tas barunya. Berjalan dengan cepat menghampiri Riko.


"Riko____!" Anya langsung memeluk Riko.


"Senang banget, nya!" Ledek Adil. Karena wajah Anya begitu happy dan sumringah.


"Ya pasti senang lah. Perempuan mana coba yang gak senang, di beliin tas mahal loh sama pacarnya?" Ledek Anya merendahkan Adil.


Adil terdiam. Jangan membahas apapun masalah materi, jelas Adil orang yang sangat sederhana. Bisa menikmati makan dan hidup tenang saja, Adil sudah sangat bahagia.


"Syukur kalau kamu senang, nya!" Riko berkata dengan kebahagiaan.


Akhirnya perlombaan dimulai, dan hari itu Riko memenangkan lomba, hadiah dari lomba tersebut pun, Riko berikan pada Adil baik untuk biaya pengobatan paman nya atau kebutuhan yang lain.


Riko tau, Adil sangat memerlukan suntikan dana. Hidup Adil yang sering kesusahan membuat Riko terkadang merasa kasihan pada nasib Adil


"Terimakasih banyak, ya ko? Aku tidak bakal lupa, kebaikan apa saja yang telah kamu beri untuk keluarga ku?" Terang Adil memgenggam uang pemberian Riko dengan hati yang bergetar.


"Tenang saja. Kayak sama siapa saja kamu ini, Dil. Dengar ya, kita ini sudah seperti saudara, Jadi sudah sepatutnya kita saling membantu."


"Sekali lagi, makasih ya, ko?" Adil begitu bersyukur memiliki sahabat seperti Riko.


Riko menganggukan kepala. Lalu Riko pergi bersama Anya untuk healing ke beberapa tempat wisata dekat kota.


Cinta yang terajut antara Riko dan Anya sudah berjalan hampir tiga tahun lamanya, bahkan mereka sudah setuju untuk segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.


Baik Anya maupun Riko sudah sangat saling cocok. banyak kesamaan diantara keduanya, yakni sama-sama suka healing contoh kecilnya.


"Riko, apakah kamu mencintaiku setulus hati?" Tanya Anya tiba-tiba masih dalam perjalanan menuju tempat salah satu wisata.


"Kenapa tanya begitu? Kamu kan sudah mengerti, betapa aku mencintai mu, Anya. Nyatanya aku akan segera meminangmu, lantas apa yang masih menjadi keraguan dihatimu, Anya?" Jawab Riko.

__ADS_1


"Kalau ada orang yang menyukai aku, apa yang bakal kamu lakukan dengan orang itu?" Kali ini Anya berkata dengan nada sedikit pelan dan ragu.


"Siapa orang nya?" Tanya Riko kesal.


"Kamu marah!" Anya merasa takut. Tiba-tiba Riko menghentikan motor di pinggir jalan.


"Jelas aku marah. Kamu ini pacar aku, sebentar lagi kita akan menikah. Kenapa masih saja ada orang yang menganggu hubungan kita."


"Tapi aku tidak nanggapinya kok, dia hanya bilang kalau suka sama aku. Hanya itu saja!" Anya memegang lengan Riko berharap Riko tak tersulut api cemburu.


"Siapa dia?" Tanya Riko ingin tau dari Anya.


"Ah___ sudahlah honey, itu tidak penting. Yang penting kamu sudah tau. Aku hanya mengatakan jika ada tiga lelaki yang menginginkan aku menjadi pacar mereka. Tapi, aku sudah menolak mereka kok."


"Apa!" Riko terkejut.


Anya mengangguk mengatakan kebenaran. Riko tidak percaya dengan ucapan Anya, ada rasa khawatir di dalam benak Riko. Riko takut, Anya hanya akan di jadikan bahan taruhan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.


"Baby, jangan marah donk!" Anya menggoyangkan lengan Riko. Karena Anya sadar, wajah Riko memerah. Pasti Riko sedang menahan amarah.


Riko menatap wajah Anya dalam. Lalu membalas genggaman tangan Anya.


"Dengar Anya___, jauhi mereka. Aku takut mereka hanya akan mempermainkan mu saja. Mereka tak serius dengan ucapan nya." Riko tampak begitu perduli.


"Iya, sayang," Anya memeluk Riko dengan penuh cinta. Tidak perduli itu di tempat umum sekalipun. Nyatanya cinta memang buta.


"Sayang, aku mau ini?" Anya menunjukkan sebuah gambar pada Riko yang sedang memeluknya. Tampak gambar disebuah ponsel milik Anya yang menyala.


"Coba diperbesar layarnya!" Sungut Anya sebal. Bisa-bisanya Riko tidak memahami gambar apa yang berada dalam ponsel Anya.


"Jadi, kamu mau ini?" Riko memandang wajah ayu Anya dengan senyum manis.


Anya mengangguk dengan begitu manja. Membuat Riko gemas dan bahagia.


"Ayo beli?" Ajak Riko tanpa basa basi. Bahkan, tanpa ada penolakan. Langsung mengiyakan setiap permintaan Anya. Dan hal itulah yang membuat Anya semakin menyukai sifat Riko.


"Sekarang?" Tanya Anya tidak percaya.


"Tentu, kapan lagi memang nya? Ayo segera naik ke jok motor belakang?" Ajak Riko begitu happy tanpa beban.


Akhirnya Anya begitu senang dan bahagia. Apapun yang Anya mau, apapun yang Anya inginkan, dengan mudah Riko bisa memberikan.


Sudah tampan, kaya, baik dan tidak pelit lagi. Ah sudah paket komplit. Anya merasa menjadi wanita paling beruntung di muka bumi. Tidak akan Anya lepaskan kebahagiaan ini walaupun hanya untuk sesaat. Anya akan mempertahankan hubungan antara cintanya dan cinta Riko sampai akhir nanti.


Perlahan motor melaju menuju sebuah toko perhiasaan, persis dimana perhiasaan yang Anya mau itu berada.


Anya benar-benar syok saat melihat harga cincin yang ia mau. Harganya hampir sama dengan membeli sebuah rumah. Tapi tanpa ragu dan tanpa melihat harga, Riko begitu mudah membayar biaya tagihan cincin tersebut.


"Sayang, thank you!" Anya menatap wajah Riko penuh bahagia.


Sebuah senyuman Riko peruntukkan untuk Anya, sang kekasih hati. Riko memakaikan cincin tersebut ke jemari Anya, cincin itu terlihat begitu indah dan manis di jemari Anya.

__ADS_1


"Wah, cantik banget!" Anya memuji jemari indah nya.


"Iya. Sangat cantik, saat yang memakai pun memang teramat cantik!" Balas Riko dengan bahagia. Bagi Riko, saat bisa melihat Anya bahagia itu adalah sebuah rasa yang tak ternilai harganya.


Tring___tring__


Panggilan masuk.


Riko mengambil ponsel dari saku, melihat siapa sang penelpon.


"Siapa?" Anya keppo.


"Mama" Jawab Riko malas.


"kok tidak di angkat? Angkat lah, siapa tau penting!" Anya berkata dengan begitu lembutnya.


Riko mendengkus, lalu mengangkat telepon dari Mama Jasmin dengan perasaan malas.


"Pulang sekarang! Ada hal penting yang ingin mama sampaikan." Suara mama Jasmin dari balik telepon.


"Ada apa sih ma! Tidak bisa nanti kah? Aku sedang sibuk," Jawab Riko.


"Sibuk apa? Sibuk jalan-jalan sama pacar matre mu itu, apa yang sedang kalian lakukan? Apa kamu sedang menghambur-hamburkan uang lagi?" Cerca mama Jasmin terdengar tidak suka.


"Ma! Mama ini bilang apa sih?" Riko tampak tidak suka dengan penjelasan mama Jasmin, mama Jasmin selalu saja merendahkan sifat Anya yang terkesan matre.


"Pulang sekarang!" Tekan mama Jasmin.


Riko pun langsung menutup panggilan. Wajah Riko tampak bete, baru saja akan happy-happy dengan Anya. Mama Jasmin sudah menelpon dan menyuruhnya gegas pulang.


Ada hal penting apa, sampai begitu memaksa Riko untuk segera pulang! Tidak bisakah di tunda nanti, atau besok.


"Sayang, ada apa?" Anya menyadari perubahan pada wajah Riko yang berubah menjadi bete.


"Aku di suruh pulang!" Tegas Riko bete.


"Ya, ayo kita pulang!" Seru Anya yampak biasa saja.


"Tapi____!" Riko belum merasa puas healing bersama Anya. Masa iya, harus segera pulang.


"Kan, bisa esok lagi jalan-jalan nya. kayak gak ada waktu aja deh!"


"Kamu tidak apa-apa, Anya?"


"Memangnya kenapa? Itukan mama kamu Riko, sebentar lagi, mama Kamu juga bakal jadi mama aku. Jadi kita harus belajar ngerti dong!"


"Makasih ya, nya." Riko terlihat begitu bersyukur memiliki Anya yang sangat pengertian padanya.


Anya tersenyum senang. Apalagi saat melihat jemari lentiknya, Ah rasanya begitu bahagia. Apa yang Anya mau sudah Anya dapatkan. Sebuah cincin keluaran baru dengan tampilan yang memang Anya sukai.


Tak apa, hari ini healing nya tertunda sesaat. Besok juga bisa pergi jalan-jalan lagi.

__ADS_1


__ADS_2