Ada Jodoh Dari Salah Nomor Telepon

Ada Jodoh Dari Salah Nomor Telepon
Tantangan Arga


__ADS_3

"Aku tak tau, kemana lagi aku harus pergi Dil?" Riko tertunduk membawa ransel miliknya.


"Iya, Rik. Aku ngerti, tinggalah bersamaku. Aku dan pamanku pasti senang kok, kalau kamu mau tinggal dengan kami."


"Tapi, aku takut merepotkan keluarga Paman mu, Dil." Riko merasa sungkan. Selama ini, Riko suka membantu keluarga Adil. tapi, entahlah kenapa Riko merasa sungkan saat ini.


"Tenang saja. kamu tidak akan merepotkan kami," Adil menyakinkan Riko.


"Makasih ya,Dil. Kamu memang sahabat terbaik ku," Riko memeluk Adil begitu erat.


Klik____


"Assalamualaikum___!" Adil mengucap salam, di susul Riko berada di belakang Adil.


Paman Adil menjawab salam dengan begitu penuh semangat.


"Masuk, Riko. Ngapain mematung disitu," ujar paman Adil begitu ramah dan melambaikan tangan berharap Riko gegas masuk kedalam.


"Iya, Paman. Terimakasih."


"Jangan sungkan, ayo masuk. Anggap saja ini rumah sendiri," Paman Adil mengajak Riko untuk masuk kedalam.


"Kami turut menyesal atas keadaan keluarga mu Riko!" Seru Paman Adil merasa kasihan akan masalah yang menimpa keluarga Riko.


"Iya, paman makasih."


"Aku masih tak menyangka bahwa keadaan keluarga pak Airlangga bisa sekacau ini. Bahkan, papa mu sampai masuk penjara!" Paman Adil benar-benar tak menyangka, keluarga kaya dan selalu ada, kini keadaan nya berubah memilukan sepeti ini.


Riko tertunduk menyesal.


"Ah sudahlah. Dil, ajak Riko tidur bersama mu. Maaf ya Riko, kamu harus join kamar sama Adil, sebab disini tak ada kamar kosong lagi."


"Iya, tak apa paman. Aku sudah sangat bersyukur di beri ijin untuk tinggal dirumah paman."


Paman Adil menepuk pundak Riko dan mengangguk mengerti perkataan Riko.


"Yuk, Rik." Ajak Adil pada Riko. Riko segera berdiri dan mengikuti Adil masuk kedalam kamarnya bersama Adil. Kamar tampak kecil, tak seluas kamar Riko dulu. Bahkan seprai nya pun tak aecantik seprai dirumah Riko.


"Maaf Rik, beginilah keadaan nya." seru Adil menyadari diam nya Riko.


"Jangan berkata begitu, Dil. Aku sudah sangat beruntung loh di ijinkan untuk tinggal disini. Coba kalau kalian gak memberiku ijin tinggal, pasti aku sekarang sudah kayak gelandangan. Tempat tinggal tak ada, uang pun tak ada."


"Sabar Rik. Sabar!" Adil menepuk pundak Riko mencoba memahami posisi Riko saat ini. Memang saat ini Riko sedang dalam fase jatuh terpuruk.

__ADS_1


"Sekarang istirahatlah, hari sudah larut malam." Adil merebahkan diri di kasur.


Riko menatap Adil yang begitu mudahnya terlelap dalam tidur. Semudah itukah, memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi?


Riko melihat ponsel miliknya, mengusap dan melihat story' WhatsApp milik Anya. Tak ada yang aneh, hanya sebuah pameran barang berharga pemberian Riko beberapa waktu yang lalu.


Riko tetap menggeser layar ponsel pada story' selanjutnya.


Tapi, di bagian akhir story' ada sebuah caption yang membuat Riko terheran-heran dengan tulisan Anya.


"Setiap ada akibat pasti ada sebab, paham!" Caption yang mengisyaratkan peringatan. Ada apa dengan Anya, kenapa Anya membuat status seperti itu?


Apakah Anya sedang ada masalah? tapi, Riko tak berniat bertanya pada Anya. sebab masalahnya pun mampu membuatnya pusing tujuh keliling.


Riko sama sekali gak bisa memejamkan mata, pikiran nya menerawang kemana-mana. Bahkan, Riko mencoba menghubungi mama Jasmin, tapi nihil. Nomor mama Jasmin tak bisa lagi dihubungi.


Semarahkah mama Jasmin pada papa Airlangga, hingga Riko tak dapat menghubunginya.


Kemana perginya mama Jasmin, kenapa mama Jasmin benar-benar hilang dari jangkauan Riko?


"Ma, mama dimana?" Batin Riko mencoba memahami keadaan mama.


******


Riko hanya tersenyum, padahal Riko memang tak tidur sama sekali.


"Rik, hari ini aku ada kerja. Kamu dirumah sendiri gak papa kan?" Tanya Adil sebelum ke kamar mandi.


"Paman dan bibi emang tak dirumah?"


"Tidak lah, paman akan langsung bekerja di tempatku bekerja. Disana memang sedang membutuhkan tenaga tukang bersih-bersih. Bibi sendiri, bekerja cuci gosok dirumah tetangga. Anak paman sudah jelas berangkat ke sekolah."


Riko mengangguk mengerti kehidupan keluarga Adil yang tak semudah Riko bayangkan. mereka harus berjuang agar tetap bisa bertahan hidup.


"Aku juga mau pergi," seru Riko terdengar lirih.


"Mau kemana?"


"Ada deh!" Riko bangkit dari duduk dan keluar dari kamar terlebih dahulu. Adil pun tak mau keppo dengan urusan Riko. Mungkin Riko ada kepentingan diluar sana, siapa yang tahu?


"Riko, sarapan dulu nak. Bibik sudah masak nih," seru bibik Adil.


"Iya, bik. Makasih!" Riko duduk di meja makan sambil menunggu yang lain.

__ADS_1


"Nih teh, diminum." Bibik menyodorkan segelas teh hangat pada Riko. Riko menerima teh pemberian bibik Adil dengan hati yang senang.


Setelah berkumpul mereka sarapan bersama-sama, sebelum berlanjut pada aktivitas selanjutnya.


"Makan yang banyak, Rik." Adil menawari Riko yang masih terlihat sungkan.


"Jangan malu, makan lah yang banyak!" Kali jni Paman Adil turut berbicara.


"Iya, paman. Terimakasih!" Riko mengambil nasi goreng dan telor dadar.


Riko mulai melahap masakan bibiknya Adil. Rasanya tak terlalu buruk, tapi jika di lihat sekilas, masakan bibik Adil sama sekali tak menarik. Hanya sebuah nasi putih yang di bumbui cabe dan bawang serta penyedap rasa. Tanpa topping special, hanya telor ceplok pun, dua telor dadar di bagi empat bagian.


Tapi setidaknya Riko sudah sangat bersyukur bisa menumpang hidup di rumah paman nya Adil. Jika tidak di rumah ini, entah Riko akan lergi kemana lagi?


Selesai makan semua bergerak pada aktivitas masing-masing. Riko sendiri gegas menstarter motor menuju Sirkuit Megantara, ada misi dan ambisi disana.


******


Ckit____


"Sayang____!" Anya berlari menghambur memeluk Riko.


Arga datang dengan rombongan nga.


"Gue tunggu loe di jalan Smashing. Sekarang!"


"Bukan nya kita akan adu balap di sirkuit?" Riko tak mau.


"Balap di sirkuit ini ada hadiahnya uang. Dan oenantangnya banyak, sedang di jalan Smashing hanya ada aku dan kamu yang bakal memperebutkan Anya."


Riko memicingkan mata menolak ajakan Arga.


"Pengecut loe, pecundang yang tak berani melawan ku, pakai rok saja sana!" Hardik Arga melecehkan harga diri Riko. Riko merasa geram dan jengkel dengan ucapan Arga yang terkedan merendahkan.


"Baik, aku terima tantangan mu, Arga!"


"Bagus, itu baru pemberani." Arga tersenyum mengejek.


Mereka pun beramai-ramai menuju jalan Smashing. Jalan yang tidak begitu ramai, hanya ada satu dua kendaraan. Itupun kendaraan dari arah perkebunan yang membawa hasil panen berupa sayuran. Jadi, akan memudahkan mereka melancarkan aksi mereka untuk saling adu skill.


"Gimana sudah siap!"


Arga memandang Riko dengan tatapan mengejek. Riko mendengkus, berusaha tak menghiraukan ejekan Arga.

__ADS_1


__ADS_2