Air Mata Cinta Eliza

Air Mata Cinta Eliza
^Prolog^


__ADS_3

"Tora." gadis berambut hitam lurus berlari ke arah ayunan yang berada didekat bawah pohon.


"Jangan panggil aku Tora, namaku Aarav!" seorang anak lelaki berteriak kesal.


Eliza menutup telinganya "Kan namamu ada Tora nya juga." ucapnya tak mau kalah.


Aarav yang dipanggil Tora hanya menatap kesal ke arahnya Eliza.


Ia sudah berulang kali memberitahu gadis berusia tujuh tahunan itu agar tidak memanggilnya dengan sebutan Tora karena ia menyangka Tora adalah nama perempuan, sedangkan dirinya adalah laki-laki.


"Aku suka memanggil mu dengan sebutan Tora," ucap Eliza tertawa mengejek sembari mengacak rambut anak lelaki yang lebih tua satu tahun darinya.


Tora menyingkirkan tangannya Eliza dari kepalanya "Aku nggak mau main sama kamu lagi!" teriak Aarav dengan kesal.


"Ya udah, aku juga nggak mau main sama kamu lagi!!" Eliza membalas teriakan Aarav dengan lebih keras.


Eliza pergi meninggalkan ayunan dengan matanya yang berkaca-kaca. Aarav yang melihat Eliza seperti ingin menangis segera mencegahnya agar tidak pergi.


"Aku bercanda El, kamu boleh kok memanggilku Tora." ujar Aarav seraya mengulas senyumnya.


"Janji ya! Kamu nggak marah lagi kalau aku panggil Tora," ucap Eliza dengan suara gemetar.


Aarav mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Eliza "Janji," ucapnya.

__ADS_1


Eliza tersenyum hingga menampilkan lesung pipi yang terletak di kedua sisi pipinya. Ia mengapit jari kelingkingnya Aarav dengan jari kelingkingnya yang kecil.


"Aarav... hujan turun," teriak Eliza histeris ketika merasa titik air yang menyentuh telapak tangannya.


Aarav segera mendongak untuk melihat langit yang mengeluarkan butiran-butiran kristal kecil. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aarav berlari menuju ayunan untuk berteduh.


"Eliza... jangan main hujan. Mamamu nanti marah," teriak Aarav menyuruh Eliza untuk ikut berteduh bersamanya.


"Nggak mau, mama nggak bakal marah kok," teriak Eliza sambil menikmati air hujan yang membasahi wajahnya.


"Tora... ayo sini." teriak Eliza yang kembali memanggilnya dengan sebutan Tora.


Aarav yang melihat keseruan Eliza bermain hujan akhirnya ikut juga. Ia keluar dari ayunan bermain hujan bersama Eliza. Mereka tertawa bahagia karena saking senangnya dengan air hujan.


Eliza mengambil gelas Aqua kecil yang ada didekatnya, kemudian ia menampung air genangan hujan di dalam gelas itu. Aarav yakin, setelah ini Eliza pasti akan menyiramkan air itu ke arahnya. Diam-diam Aarav bersembunyi di balik semak-semak yang ada didekatnya.


Setelah menampung air genangan hujan, Eliza berbalik "To..." ucapannya terhenti ketika ia tidak melihat Tora di sekelilingnya.


Di tempat persembunyiannya, Aarav menahan tawa melihat wajah bingung Eliza yang tidak dapat menemukannya.


"Tora... kamu dimana!" pekik Eliza.


"Aarav... aku nggak bakal manggil kamu Tora lagi," teriaknya sambil menangis.

__ADS_1


Dia mengira Aarav marah karena ia kembali memanggilnya Tora. Ia membuang kasar gelas yang berisi air genangan itu dari tangannya.


Aarav yang melihat itu segera keluar dari rerumputan sambil tertawa terkekeh-kekeh.


"Ha ha ha... dasar cengeng!" ejek Aarav.


Eliza menoleh ke asal suara. Wajahnya yang sedih berubah menjadi kesal ketika mengetahui sahabatnya itu sedang mengerjainya.


"Aku marah!" sinis Eliza.


Seketika hujan berhenti. Mereka memandang langit yang tiba-tiba berhenti menurunkan kristal-kristal air kecil itu.


Aarav memandang kearah barat. Matanya berbinar melihat sesuatu yang sangat indah.


"Eliza... ada pelangi tuh!" teriak Aarav sambil menunjuk kearah pelangi.


Eliza mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Aarav. Seketika matanya berbinar-binar. Rasanya ia ingin sekali menaiki lengkungan pelangi itu bersama dengan Aarav.


"Ayo kesana! Pasti ada banyak bidadari yang lagi main air disitu," ajak Eliza dengan sangat antusias.


Aarav menoyor kepala Eliza pelan. "Bidadari apa yang kamu maksud? Kan sudah ku bilang, kalau itu cuma mitos," ucap Aarav dengan geram.


Eliza hanya terkekeh sembari memamerkan giginya. Ia dan Aarav terus berdebat hingga pelangi itu hilang diujung sana.

__ADS_1


Dan hari itu adalah hari terakhir mereka bersama.


__ADS_2