
Setelah melakukan berbagai cara untuk membujuk Elina, akhirnya mereka tiba di sebuah Masjid yang akan mengadakan kajian hari ini.
Awalnya Elina menolak dengan alasan dia lelah. Tapi bukan Eliza namanya jika tidak bisa memaksa. Dengan rada tidak ikhlas, Elina pun akhirnya ikut juga.
"Kak Elina kok pucat sih mukanya?" tanya Clara yang melihat Elina yang sedikit pucat.
Mendengar pertanyaan nya Clara, Eliza memperhatikan wajah sepupunya itu. Benar kata Clara, Elina terlihat sangat pucat.
"Elin, kamu sakit?" tanya Eliza khawatir.
"Haa enggak kok, cuma cape aja." jawab Elina sambil mengedarkan kepalanya.
"Aku ke toilet dulu ya, kamu sama Clara duluan aja masuk." pamit Elina kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal Elina, Eliza dan Clara segera memasuki masjid. Di sana ramai sekali orang, kebanyakan para remaja yang seusia nya. Eliza tersenyum saat melihat seorang wanita tersenyum padanya.
Tak lama kemudian Elina tiba-tiba duduk disebelahnya. Hal itu yang membuat nya sedikit terkejut.
"Kak Elin nanti malam bermalam di rumahnya kak Eliz ya, Clara kangen." pinta anak kecil itu dengan puppy eyes nya.
Elina menghembuskan nafasnya kemudian menganggukkan kepala nya, mengiyakan permintaan sepupu kecilnya itu. Tunggu,,, sepupu kecil? Elina segera menatap lekat ke arah anak kecil yang ada disebelah Eliza.
"Loh ini Clara?" tanya nya pada Eliza yang memasang wajah bingung.
"Iya Lin, masa kamu lupa sih?" ucap Eliza.
"Sudah besar ternyata, padahal kemarin masih kecil deh." ujar Elina sambil menyuruh Clara untuk duduk di tengah-tengah.
"Kak Elin, Clara kangen." ucap Clara sambil memeluk Elina.
Elina memeluk Clara lebih erat "Kak Elin juga kangen banget tau sama kamu." balasnya.
Eliza menahan senyum melihat kedua sepupunya itu. Tidak lama kemudian ia melihat seorang Ustadzah yang sedang menaiki mimbar yang ada di masjid ini.
Ustadzah itu bernama Ustadzah Isma. Beliau merupakan sosok yang sangat Eliza kagumi. Eliza sangatlah menyukai cara Ustadzah Isma menyampaikan nasehat. Beliau sosok yang rendah hati dan setiap ucapan yang ia lontarkan selalu menenangkan hati setiap orang.
Eliza berbinar memandang wajah Ustadzah Isma yang teduh itu. Rasanya ia ingin sekali memeluk beliau dengan erat. Eliza yakin, suatu saat pasti ia bisa memeluknya.
Kemudian kajian pun dimulai. Semua nasehat beliau Eliza dengar baik-baik lalu ia renungkan. Dan Elina terlihat menunduk sedari tadi. Sedangkan Clara tiba-tiba tertidur pulas dipangkuan Eliza.
Eliza menatap Elina yang sedari tadi tidak bergerak sama sekali "Elin..." panggilnya sambil menepuk pelan bahu nya Elina.
Mendengar itu, Elina langsung mengangkat wajahnya. Eliza terdiam karena ia terkejut melihat matanya Elina yang sembab.
"Elin, kamu kenapa?" tanya Eliza dengan suara pelan.
"Ah enggak kok, nggak apa-apa." jawab Elina yang baru menyadari bahwa ia tengah menangis sedari tadi.
Tanpa menghiraukan tatapan heran dari sepupunya, Elina memasang mimik serius mendengarkan nasehat dari Ustadzah Isma. Eliza pun kembali memfokuskan dirinya untuk mendengarkan kajian.
"Elin kenapa ya? Nanti aja deh aku tanya ke dia." gumam Eliza bermonolog.
***
__ADS_1
30 menit berlalu, kajian telah berakhir. Mereka segera pulang karena hari kian semakin sore.
Eliza menggendong Clara diikuti dengan Elina dibelakang nya. Padahal Elina mau menggantikan Eliza menggendong Clara, tapi Eliza menolak dengan alasan ia masih kuat.
Eliza kalau sudah tentang anak kecil, pasti ia susah untuk digantikan. Apalagi dalam hal menggendong, ia pasti enggak akan mau bergantian menggendong anak kecil.
"Dasar gadis keibuan." gerutu Elina dalam hati.
"Halwa..."
Mendengar namanya seperti ada yang memanggil, Eliza segera menoleh ke asal suara.
Adnan dan seorang laki-laki disampingnya. Ternyata Adnan yang memanggilnya. Kemudian Adnan dan laki-laki itu mengarah ke arahnya.
"Kamu ikut kajian juga disini Wa?" tanya Adnan pada Eliza seraya tersenyum tipis.
"Iya Nan, hehe." kekehnya.
Kemudian tatapan Eliza mengarah ke lelaki yang ada di sebelahnya Adnan. Lelaki itu menunduk menatap jalanan yang dipijaknya.
"Oh iya, kenalin ini Aarav. Sahabatku." ujar Adnan memperkenalkan Aarav pada kedua gadis yang ada dihadapannya.
"Aarav..." ucapnya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
Eliza tertegun sembari mengontrol pikirannya yang tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. Kemudian...
"Aarav?" gumamnya dalam hati.
"Apa mungkin, ini Tora ya?" tanya Elina dalam hati.
Adnan yang melihat Eliza dan Elina yang tiba-tiba terdiam menaikkan alisnya bingung.
"Halwa, ini sepupuku Elina dan Clara." balas Eliza memperkenalkan dirinya pada lelaki yang bernama Aarav.
Aarav mengangguk. Ia kembali menundukkan kepalanya. Entah mengapa ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa saat bertemu dengan gadis ini ia selalu merasa seperti ada yang berbeda?
Adnan bisa melihat ada kecanggungan antara Halwa dan juga Aarav. Pikirannya mulai negatif thinking ke sahabatnya sendiri. Ia segera menepis pikiran itu kemudian beralih menatap gadis yang ada di gendongan Halwa.
"Itu adik kamu Wa?" tanya Adnan untuk memecahkan keheningan
"Bukan Nan. Ini Clara, sepupuku." jawab Eliza seraya tersenyum kecil.
Adnan manggut-manggut saja. Tak bisa ia hindari, ia merasa hatinya berdesir melihat Halwa menggendong anak kecil. Ia tersenyum dalam hati.
"Ya udah kita duluan ya Adnan, Aarav." ucap Elina sebelum mengajak Eliza pergi untuk pulang.
Adnan dan Aarav mengiyakan. Kemudian setelah kedua gadis itu pulang, mereka pun pulang juga.
Sepanjang perjalanan pulang, Aarav terus terdiam. Adnan dapat menyimpulkan, pasti saat ini ada yang sedang dipikirkan oleh Aarav.
Adnan menyenggol bahunya Aarav "Oy... lagi mikirin apa sih?" tanyanya penasaran.
Aarav menoleh kemudian menatap langit yang mulai menguning.
__ADS_1
"Entah kenapa rasanya aku seperti pernah bertemu dengan gadis tadi. Siapa namanya Nan, aku lupa." ucap Aarav sambil mengingat-ingat.
"Halwa." jawab Adnan singkat.
Aarav mengangguk "Iya itu, aku merasa seperti pernah ketemu sama dia. Tapi aku enggak tau dimana." cerita Aarav.
Adnan mengerti. Ternyata ini dibalik sikap diamnya Aarav tadi saat berhadapan dengan Halwa. Dan tadi, Halwa pun juga sempat terdiam setelah mendengar namanya Aarav.
Adnan menatap langit kemudian beralih menatap sahabatnya "Dia juga tadi kayak kaget gitu pas dengar namamu Rav." gumam Adnan sendu.
"Betulan Nan?" tanya Aarav.
Adnan mengangguk seraya tersenyum kecil. Entah mengapa, hatinya terasa pedih. Pikirannya mulai mengada-ngada.
"Apa mungkin Halwa sama Aarav ada hubungan ya?" gumam Adnan dalam hati.
Secepat mungkin ia menggeleng cepat. Melihat itu, Aarav bertanya "Kenapa Nan?" tanyanya.
Adnan terkekeh "Hehehehe enggak kok." kekehnya.
Sedangkan disisi lain, Eliza bertanya-tanya tentang lelaki yang bernama Aarav tadi.
"Wa... kenapa sih?" tanya Elina.
Eliza tiba-tiba teringat sesuatu "Harusnya aku yang nanya ke kamu. Kamu tadi kenapa? Kok kaya habis nangis?" tanya nya yang membuat Elina tertegun.
"Ha kapan?" tanya Elina balik.
"Ih Elin, tadi pas kajian. Aku liat matamu sembab kaya habis nangis." tutur Eliza.
Elina merapikan kerudung nya sembari menjawab "Oh itu. Aku terharu aja sama nasehatnya Ustadzah Isma." jawabnya bohong.
Eliza tersenyum. Memang nasehat Ustadzah Isma selalu membuat telinga yang mendengar nya menjadi merenung.
Sedangkan Elina menutup mulutnya rapat-rapat. Sejujurnya bukan itu alasan sebenarnya ia menangis tadi. Memang benar ia terharu, tetapi lebih tepatnya ia tersindir dengan materi kajian tadi.
Betapa banyak dosa yang ia tumpuk selama ini. Rasanya ia ingin menangis lagi jika mengingat nasehat Ustadzah Isma tadi. Ia menatap langit agar air matanya tidak jatuh. Bisa gawat kalau Eliza melihatnya menangis lagi.
"Maafin Elina Ya Allah..." gumamnya dalam hati dengan sendu.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
**🌈🌈🌈
Hai hai👀
Setelah sebulan enggak Up, akhirnya hari ini Author Up lagi. Singkat cerita, maafkan Author ya teman teman🥺😭
Selamat membaca dan berhalu😊
Hehehe~
Dan Terimakasih untuk kalian yang masih setia menunggu Eliza kembali, salam sahabat dari Eliza❤️**
__ADS_1