Air Mata Cinta Eliza

Air Mata Cinta Eliza
Chapter 1 : Sahabat Kecil


__ADS_3

Gadis berkerudung biru tengah terburu-buru membereskan buku-bukunya yang berserakan dilantai kamarnya. Dia Eliza Halwatuzahra. Yang hobinya belajar sampai malam dan akhirnya membiarkan buku-bukunya berserakan dilantai.


"Eliza... cepat!" terdengar suara kakaknya berteriak memanggil namanya.


"Sebentar kak," teriaknya seraya cepat-cepat memasukkan bukunya kedalam tas.


Ia merangkul tasnya. Dengan gesit ia menuruni tangga rumahnya.


"Hati-hati Eliza, nanti jatuh!" teriak mamanya yang melihat Eliza seperti kesetanan saat menuruni tangga.


Ketika Eliza sudah sampai dibawah tangga, ia jongkok sejenak untuk menetralkan nafasnya yang kini ngos-ngosan. Kemudian ia menatap sinis ke arah kakaknya yang tertawa santai sambil memakan roti.


"Kak Ray jahat! Suruh Eliza cepat-cepat tapi dia sendiri malah asik makan," kesalnya.


"Hahaa..... biarin!" ujar kakaknya yang bernama Ray.


Ray memiliki nama asli Ray Bonanza. Seorang kakak laki-laki dari Eliza yang gemar sekali mengerjai adiknya. Tapi sejahil-jahilnya Ray, ia amat menyayangi Eliza.


Mamanya menggeleng-gelengkankan kepalanya "Kamu ini Ray, gak bosan apa ngerjain adikmu terus," sahut mamanya.


Dan ini Arneta Halmahera. Wanita paruh baya yang masih terlihat muda di usia nya yang ke 40 tahun. Mamanya kerap dipanggil dengan sebutan Neta. Neta adalah sosok yang sangat penyayang bagi Eliza.


Eliza memeluk Neta sambil cemberut seraya menatap Kak Ray sinis. Kemudian ia melihat ayahnya yang kini menuju ke arah mereka.


Eliza berlari memeluk ayahnya. " Ayah, Kak Ray jahat sama Eliza!" adu Eliza seperti anak kecil.


Dan ini ayahnya. Ayahnya bernama Bonanza Mahesa. Sama seperti mamanya, ayahnya juga terlihat masih muda. Usia ayah dan mamanya hanya beda 3 tahunan.


Mahesa mengelus kepala putrinya "Kamu ini Ray, jangan jahatin putri kecil ayah lagi ya," ujar Ayah memperingatkan.


Eliza menatap ke arah kakaknya sambil menjulurkan lidahnya "kepok!" sarkas Eliza.


"Dasar anak kecil!" ejek Ray melihat adiknya yang manja.


"Biarin!" balas Eliza.


Neta mengajak suami dan anaknya untuk duduk. Setelah mereka duduk, Neta menyiapkan roti untuk mereka sarapan.


"Dek, ambilin dong," suruh kak Ray sambil menunjuk ke arah susu yang terletak di dekatnya Eliza.


Eliza mengambilkan segelas susu kemudian memberikan ke kakaknya.

__ADS_1


Setelah mengoles roti dengan selai coklat kesukaan keluarga mereka, Neta menghidangkan sarapan roti ke mereka.


***


Disisi lain terlihat seorang laki-laki yang berusia 19 tahunan. Ia berjalan menyusuri koridor kampus sambil mendengar murottal Ustadz Mishary Rasyid Al-Afasy lewat earphone yang ada di kedua telinganya. Bibirnya bergerak pelan mengikuti alunan ayat suci Al-Quran.


Lelaki itu bernama Aarav Tora. Lelaki dengan postur tubuh tinggi dan wajahnya yang terlihat bersinar karena selalu terbasuh oleh air wudhu. Senyumnya yang menawan membuat para hawa ingin memilikinya.


Langkahnya terhenti di taman. Kemudian ia duduk di tempat yang biasa ia duduki, lalu ia membuka buku panduan tentang pra nikah yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.


"Woyy!" teriak seseorang yang muncul dari sisi kanan nya.


"Astaghfirullah Adnan! Ucap salam dulu kek, malah ngagetin," ucap Aarav mengingatkan sahabatnya itu.


Sahabatnya yang bernama Adnan Sanjaya itu terkekeh. "Assalamualaikum, akhy Aarav," ucapnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Aarav.


Kemudian pandangan Adnan mengarah pada buku yang dipegang oleh Aarav.


"Lo mau nikah Rav?" tuding Adnan.


Aarav sudah menduga, Adnan pasti akan bertanya seperti itu. Karena kini di genggamannya ia memegang buku tentang nikah, otomatis Adnan pasti mengira Aarav ingin segera menikah.


Adnan menganggukkan kepalanya "Oohh.. kirain kan," ucapnya.


"Itu ilmu penting tuh Nan. Jadi nanti kita tau bagaimana cara menjalani rumah tangga kalau sudah menikah," kata Aarav.


"Haha itu nanti dulu. Yang penting tuh ngejar cita-cita dulu. Nanti kalau gua udah jadi dokter terus buat rumah sakit di Prancis, baru dah gua cari calon istri," ucap Adnan tersenyum seraya menatap langit.


Aarav mengaminkan ucapan sahabatnya. "Aamiin, semoga terkabul," ucapnya.


"Jodoh gak akan kemana," ucap Aarav lagi.


Aarav teringat sahabat kecilnya. Dulu sewaktu lulus SD, dia pindah ke Jogja. Alhasil, ia berpisah dengan sahabat kecilnya itu. Dia ingat hari terakhir selepas mereka bermain hujan bersama, ia dan Eliza pergi ke sebuah rumah pohon yang ada didekat rumah mereka. Dan keesokan harinya, tangisan keras Eliza mengiringi kepergiannya.


Ia ingat bagaimana sedihnya dulu saat Eliza melihatnya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pindah. Berulang kali Kak Ray mencoba menenangkannya saat di bandara, yang ada Eliza malah tambah menangis.


Aarav mengacak rambutnya. Sungguh, ia sangat merindukan Eliza saat ini.


"Woy, kenapa sih?" tanya Adnan yang melihat Aarav tiba-tiba mengacak rambutnya dengan geram.

__ADS_1


Aarva tak menjawab melainkan ia memandang ke atas langit. Langit yang cerah itu tiba-tiba terlihat mendung. Ia dapat menduga, sebentar lagi hujan pasti akan turun.


"Eliza pasti senang kalau liat ini," gumam Aarav pelan.


Adnan yang mendengar Aarav bergumam pelan hanya bisa mengernyitkan keningnya bingung.


***


Hujan turun dengan derasnya. Eliza yang sudah sampai di halaman kampus berlari untuk berteduh. Ujung kerudungnya sedikit basah. Bukannya masuk ke kampus, ia malah berdiri sejenak sambil melamun menatap hujan.


Pikirannya kembali menerawang saat hari terakhir ia bersama dengan sahabatnya.


Flashback on


"*Tora.. kamu betulan mau pindah?" tanya Eliza dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Iya, jangan nangis ya. Suatu saat kita pasti bertemu lagi," ucap Tora menenangkan Eliza.


Eliza menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Lalu ia berdiri sambil memegang pohon yang ada dirumah itu.


"Pohon ini mendengarkan kata-katamu barusan. Suatu saat ia pasti menagih janjimu untuk kembali," ucap Eliza sambil memegang pohon.


Aarav ikut berdiri dan memegang pohon itu "Baiklah, pohon ini akan menagih janjiku suatu saat untuk kembali," ucapnya.


Eliza tersenyum. Ia tenang karena Aarav sudah berjanji akan kembali suatu saat.


Dan hari itu adalah hari terakhir mereka bersama*.


Flashback off


Eliza tersenyum menatap hujan. Ia yakin, suatu saat Tora pasti kembali menyapanya. Seperti hujan, yang pasti akan datang kembali setelah ia pergi.


"El!" suara yang ia kenal berteriak memanggil namanya.


Eliza menoleh, melihat sahabatnya yang tengah berlari mengarahnya "Hati-hati Lala, licin!" pekik Eliza yang melihat sahabatnya berlari.


Nama lengkapnya Caramel Lala. Lala adalah sahabat Eliza semenjak kelas 3 SMA. Dan siapa sangka, kini ia bertemu lagi dengan Lala di Universitas Gentara.


Lala menyengir lebar "Hehee, maaf," ucapnya.


"Kok malah bengong di sini sih, yuk masuk." Lala mengajak Eliza masuk ke dalam kampus sambil menggandeng tangannya Eliza.

__ADS_1


Eliza dan Lala segera pergi menuju kelas sambil berceloteh di sepanjang koridor yang mereka lewati. Bukan mereka sebenarnya, lebih tepatnya hanya Lala saja.


__ADS_2