
"Kenapa Rav?" tanya Adnan yang melihat Aarav masuk kedalam kelas.
Aarav mendudukkan bokongnya dikursi "Pak Satria ngasih ini ke aku," ujar Aarav memperlihatkan secarik kertas ke Adnan.
Adnan mengambil kertas itu dari tangannya Aarav. Ternyata isinya tentang perintah terkait tugas praktek dikelas mereka "Tapi kok tadi mukanya Pak Satria serem gitu ya," sahutnya.
Aarav tertawa pelan mendengar ucapannya Adnan "Pak Satria kan memang begitu, kamu aja yang berlebihan nanggapinnya," sahut Aarav.
Adnan ikut tertawa pelan. Dosen mereka yang satu itu memang memiliki wajah yang serem dan galak, tapi sebenarnya Pak Satria adalah seorang Dosen yang sangat baik dan sangat tegas.
"Sini," pinta Aarav sambil mengambil lembaran itu dari tangannya Adnan.
Kemudian Aarav menempelkan kertas itu dipapan Mading yang ada dikelas mereka. Seketika semuanya berdiri mendekat ke arah Mading untuk melihat apa yang sedang ditempel oleh Aarav.
Aarav dan Adnan memasuki fakultas kedokteran. Yang dimana mereka memilih jurusan ahli bedah. Aarav awalnya tidak menyangka akhirnya ia dipertemukan lagi dengan Adnan, kawan baiknya semasa SMA nya.
"Kelompok kita siapa aja Rav?" tanya Adnan.
"Aku, kamu, Niko, Nita, sama Chelsea." jawab Aarav.
"Gila, ada mak lampir ternyata," gumam Adnan pelan yang masih bisa didengar oleh Aarav.
"Jadi kita gak ada kelas nih hari ini?" tanya Adnan kemudian.
"Gak ada," jawab Aarav.
Adnan naik di atas kursi, kemudian ia berteriak "Gaess.... Kita gak ada kelas hari ini, yok pulang!"
Seketika keadaan kelas riuh menjadi ribut. Segera mereka membereskan buku mereka dan berkeliaran keluar kelas.
"Dih apaan sih ribut-ribut!" sentak seorang gadis yang baru memasuki kelas.
Dia Chelsea. Gadis berkerudung putih dan bermata sipit itu memandang teman sekelas nya dengan sinis. Chelsea adalah teman Adnan dan Aarav semasa SMA dulu. Adnan menghela nafasnya dengan kasar saat melihat kedatangan Chelsea.
"Aarav!" teriak Chelsea setelah melihat keberadaannya Aarav.
Adnan segera menutup telinganya dengan jarinya. Sedangkan Aarav hanya menaikkan alisnya melihat Chelsea yang berteriak memanggil namanya.
"Mereka kenapa, Rav?" tanya Chelsea dengan nada lembut.
"Suara itu juga termasuk aurat. Sebaiknya tegas jika berbicara, jangan mendayu-dayu. Apalagi kalau sama laki-laki yang bukan mahramnya," sahut Adnan tiba-tiba dengan nada menyindir.
Chelsea yang merasa tersinggung langsung menatap Adnan sinis "Kenapa sih? Sewot banget jadi orang!"
Adnan membuang muka. Jika berbicara dengannya, Chelsea pasti teriak-teriak. Coba saja dengan Aarav, lembutnya minta ampun.
"Aarav jawab dong," rengek Chelsea sambil cemberut.
__ADS_1
"Hari ini kita gak ada kelas Chel," jawab Aarav dengan tenang.
Chelsea terlihat berbinar. Kemudian ia duduk di sampingnya Aarav dengan tiba-tiba, hal itu membuat Aarav langsung berdiri dari kursinya.
"Kantin yok," ajak Adnan pada Aarav.
Aarav hanya mengangguk. Mengiyakan ajakannya Adnan. Ia dan Adnan membereskan buku mereka dan segera pergi menuju ke kantin dan meninggalkan Chelsea sendirian.
"Heii kok aku ditinggalin sih!?" teriak Chelsea kesal.
***
"Nan, kamu duluan aja ya ke kantin. Aku mau singgah dulu," ucap Aarav ketika mereka di depan perpustakaan.
"Oke," jawab Adnan.
Adnan lanjut menuju ke kantin. Sedangkan Aarav memasuki perpustakaan. Aarav mau mencari buku referensi untuk kegiatan praktek mereka nanti.
Aarav berjalan mundur sambil terus mencari buku yang ia cari di deretan buku buku itu. Namun...
Tiba-tiba...
Brukk
"Aduh!" teriak seseorang.
Aarav segera membalikkan badannya. Ia terlonjak kaget melihat seorang gadis yang terduduk di lantai dengan buku yang berserakan.
Gadis itu meringis pelan "Makanya kalau jalan itu liat liat dong!" sentaknya.
Aarav melihat gadis itu yang mencoba untuk berdiri. Kemudian pandangan mereka bertemu. Sesaat Aarav membeku di tempatnya. Sama seperti gadis itu yang tiba-tiba terdiam.
"Kenapa sih?!" omelnya seketika.
"Astaghfirullah," gumam Aarav sambil menundukkan kepalanya.
Gadis itu hanya mengernyitkan keningnya. Kemudian Aarav segera memberikan bukunya. Lalu, Aarav meminta maaf dan segera pamit dari hadapannya.
"Sekali lagi maaf, aku duluan," pamitnya.
Kemudian Aarav beranjak pergi meninggalkan gadis yang masih terdiam di tempatnya.
"Kenapa sih? Aneh banget!" omel gadis itu yang masih bisa di dengar oleh Aarav.
Setelah keluar dari perpustakaan, kakinya melangkah ke arah kantin. Hatinya merasa gelisah setelah bertemu gadis tadi, apalagi pada saat melihat tatapannya itu.
"Astaghfirullah..." ucap Aarav berkali-kali.
__ADS_1
"Tapi kok aku kaya pernah ketemu ya sama dia?" batin Aarav dalam hati.
***
Eliza POV
"Dasar cowok aneh!!" umpat nya dalam hati.
"Sabar Eliza... sabar," ucapnya menenangkan dirinya sendiri.
Bagaimana ia tidak kesal, cowok tadi menatapnya seperti sedang melihat hantu saja. Jelas Eliza merasa kesal dan tersinggung. Semengerikan apa sih wajahnya, sampai-sampai ekspresi cowok tadi membuatnya muak.
"Tapi,,, kok aku kaya pernah liat dia ya, dimana ya?" tanya Eliza pada dirinya sendiri.
Eliza mengangkat bahunya tidak peduli. Ia segera mengembalikan buku-buku yang di pinjam.
Sebenarnya buku itu bukan dia semua yang pinjam. Ia hanya meminjam 2 buku, sedangkan sepupunya 3 buku. Dan Elina meminta tolong menitip untuk mengembalikan buku pinjamannya juga. Eliza sepupu yang baik, jadi ia terima saja karena Elina saat ini ada di UKS.
Yaa, Elina sakit perut. Jadi sekarang ia ada di UKS dengan ditemani oleh Lala. Setelah mengembalikan bukunya, ia segera kembali menuju UKS untuk menemani sepupunya itu.
Namun, ketika mau keluar perpustakaan tiba-tiba kepalanya seperti menabrak sesuatu.
"Aduh!" pekik Eliza.
"Eliza," sahut orang yang ada di depannya.
Eliza mengangkat wajahnya, terlihat di hadapannya Adnan yang sedang berdiri sambil mengulas senyumnya.
"Makanya jalan tuh jangan nunduk nunduk, nabrak kan," ujar Adnan sambil menahan tawanya.
"Enak aja. Kamu itu yang gak hati-hati kalau jalan," omelnya.
"Hahaa... iya deh, aku minta maaf ya," ujar Adnan mengalah.
Halwa mengelus-ngelus keningnya "Ngapain disini?" tanyanya.
"Nyari teman," jawab Adnan sembari melihat ke dalam perpustakaan.
Eliza hanya ber oh ria saja.
"Kamu sendiri ngapain?" tanya Adnan balik.
"Balikin buku," jawabnya.
Adnan menahan nafas. Rasanya cadangan oksigen di paru-paru nya habis jika sedang berhadapan dengan Eliza.
"Yaudah aku duluan," ujar Eliza kemudian pergi berlalu dari hadapannya Adnan.
__ADS_1
Selepas kepergiannya Eliza, Adnan menghantupkan kepalanya sendiri ke dinding perpustakaan. Kemudia dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ini hati gak bisa diam apa kalau ketemu Eliza," Adnan mengomel sendiri dalam hati.