Air Mata Cinta Eliza

Air Mata Cinta Eliza
Chapter 4 : Elina


__ADS_3

"Tuh dua cowok hobi banget nabrak-nabrak orang!" omelnya sendirian.


Halwa berjalan menyusuri koridor sembari terus mengomel. Ia sadar, ia juga salah. Tapi entah kenapa, ia jadi kesal sendiri dengan kedua cowok tadi.


Sesampainya di UKS, ia melihat Lala yang duduk di sebelahnya Elina yang tertidur.


Halwa menghampiri Lala dan Elina "Gimana si Elin?" tanyanya.


"Agak mendingan kok." jawab Lala seraya mengulas senyum.


Kemudian Halwa menaruh soto yang ia beli barusan diatas nakas "Kalau Elina bangun, suruh dia makan ini ya." pinta Halwa.


"Mau kemana Wa?" tanya Lala yang melihat Halwa mau keluar dari UKS.


"Ke kantin lagi. Kelupaan beli minum tadi, hehe." kata Halwa seraya cengar-cengir.


"Ya udah sana gih, siapa tau ketemu pangeran Adnan kan." olok Lala.


Halwa membelalakkan matanya "Ishh Lala!" pekiknya.


Lala tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya Halwa yang kesal "Ya udah sana!" usirnya.


Halwa keluar dari UKS dengan wajah yang ia tekuk setekuk tekuknya. Ia kesal, entah kenapa sahabatnya yang satu itu gemar sekali ngolokin ia sama Adnan. Padahal mereka hanya teman biasa.


Setibanya dikantin, Halwa langsung membeli 3 botol Aqua. Saat menunggu kembaliannya, tatapannya terhenti pada satu objek. Ia melihat cowok tadi, cowok yang menabraknya diperpustakaan tadi.


Halwa terus memperhatikan lelaki itu. Kemudian, tatapan mereka bertemu. Halwa segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ketahuan kan!" pekik Halwa dalam hati.


"Dek ini kembaliannya." ujar Mbak Sinta sambil menyodorkan beberapa lembaran kembaliannya.


Halwa mengambil kembaliannya "Terimakasih mbak." ucapnya.


Kemudian Halwa keluar dari kantin dengan jalan menunduk. Ia malu karena ketahuan sedang memperhatikan lelaki itu.


"Aduh!" pekik seseorang.


Halwa mengelus keningnya sembari mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang berteriak barusan.


"Halwa." ucap orang didepannya.


"Kalau jalan tuh jangan nunduk terus, nabrak lagi kan" sahut seseorang yang ada di hadapannya saat ini.


"Salah mu juga, kamu gak liat liat kalau jalan!" elak Halwa.


Lelaki itu menahan tawa "Gitu aja terus, salahin orang aja terus" ujarnya pura-pura kesal.


Halwa yang melihat Adnan mulai kesal kembali menundukkan wajahnya "Maaf." ucapnya.


Setelah meminta maaf, Halwa beranjak pergi meninggalkan Adnan yang diam membeku. Adnan melihat Halwa sampai hilang di belokan, ia mengernyitkan keningnya bingung melihat ekspresi Halwa tadi.


"Duh, aku salah ngomong atau apa ya." gumam Adnan dalam hati.


Panggilan seseorang membuyarkan lamunan nya Adnan "Nan!" panggilnya.

__ADS_1


Adnan menolehkan wajahnya, ia melihat Aarav yang sedang menuju ke arahnya.


"Ni anak dari tadi di cariin." ujar Adnan.


"Hehee tadi ke kelas bentar, ada yang ketinggalan." jawab Aarav sambil cengar-cengir.


"Tadi tu siapa Nan?" tanya Aarav tiba-tiba.


Adnan mengernyitkan keningnya "Siapa?" tanyanya balik.


"Itu tadi cewek yang nabrak kamu." Aarav memperjelas pertanyaannya.


Mendengar pertanyaannya Aarav, ia menggaruk tengkuknya "Ohh itu, itu Halwa Rav." ujarnya.


Aarav menganggukkan kepalanya mengerti. Ternyata gadis itu namanya Halwa.


"Kenapa?" tanya Adnan yang membuat Araav kaget.


"Enggak kok, nanya aja." jawabnya.


"Aarav!!" teriak seseorang yang membuat Adnan seketika menutup telinganya geram.


Ia datang lagi. Chelsea datang menghampiri Aarav dan Adnan yang sedang berdiri di depan pintu kantin. Sesampainya di dekatnya Aarav, ia langsung bergelayut di lengannya Aarav. Seketika Aarav langsung menyingkirkan tangannya Chelsea.


"Bukan mahram Chel, dosa!" Aarav memperingatkan.


Chelsea yang melihat Aarav marah menekuk wajahnya "Maaf." ucapnya.


Adnan berlalu meninggalkan mereka berdua. Aarav segera mengikuti langkahnya Adnan memasuki kantin dan mereka memilih duduk disudut kantin. Chelsea yang merasa tidak dianggap menatap mereka dengan kesal.


"Munyak! Gitu aja terus kamu Rav." omelnya pelan.


***


Halwa kembali ke UKS dengan wajah yang datar. Lala yang melihat itu mengernyitkan keningnya bingung.


"Kenapa Wa?" tanya nya.


Halwa mengangkat bahunya, ia enggan membalas pertanyaan nya Lala. Lalu ia menaruh 3 botol Aqua yang dibeli tadi diatas nakas.


"Elon!" panggil seseorang yang tiba-tiba masuk UKS.


Halwa dan Lala seketika melihat Dika yang mengarah ke arah mereka.


"Elon kenapa?" tanyanya dengan raut wajah yang khawatir.


"Shutt, berisik! Nanti dia bangun bagaimana?" omel Lala.


"Elina tadi sakit perut Dika." ucap Halwa menjawab pertanyaannya Dika.


"Dia belum sarapan?" tanya Dika lagi.


"Ya biasa, Elina susah banget kalau disuruh sarapan." balas Halwa.


Sepupunya itu memang sangat sulit untuk sarapan. Entah kenapa, ia sangat malas sarapan. Hal itu yang membuatnya sering sakit perut.

__ADS_1


Dika menyandarkan tubuhnya dikursi yang ada didekat nakas "Mau memang dijitak dulu kepala nya, baru mau sarapan." gumam Dika yang masih bisa didengar oleh kedua gadis itu.


Lala dan Halwa saling tatap. Dibalik sikapnya Dika tersebut, mereka dapat menyimpulkan bahwa Dika pasti sangat khawatir saat ini.


Dika yang melihat Halwa dan Lala tersenyum ke arahnya mengernyitkan keningnya "Kenapa sih?" tanyanya heran.


Halwa dan Lala serempak menggelengkan kepala mereka "Enggak, hehe." jawab Lala.


Drrtt... drrtt


Ponselnya Dika bergetar dibalik kantong celananya. Lalu ia mengambil ponselnya dan mengangkat sebuah panggilan dari mamanya.


"Halo Ma, Assalamualaikum" ucap Dika.


Tuut..tuut


Ponselnya tiba-tiba mati. Dika lupa lagi mengeces ponselnya tadi pagi.


"Kenapa pake mati segala sih!" sentaknya kesal.


"Makanya punya hp tuh di ces." sahut Lala.


"Cerewet lu!" sarkasnya.


Lala membulatkan matanya karena dibilang cerewet. Ia hanya mengingatkan, tapi malah dibilang cerewet.


"Aku pulang duluan ya, gak ada kelas kan hari ini?" tanyanya.


"Iya, gak ada. Tadi Pak Bimo bilang, kelasmu juga gak ada kelas hari ini." jawab Halwa.


Dika berdiri dan menyimpan ponselnya kembali ke kantong celananya. Ia menatap sejenak ke arah Elina yang sedang tertidur pulas, kemudian pergi berlalu meninggalkan UKS.


Tak lama setelah Dika pergi, Elina bangun. Ia langsung mencoba bangun dan menyenderkan punggungnya dikepala kasur.


"Minum dong." pinta nya dengan suara lemah.


Halwa segera mengambilkan Aqua memberikannya pada Elina. Elina menerimanya dan segera meminumnya.


"Makan Lin, jangan pake nolak!" sarkas Lala galak.


"Dih baru juga bangun, langsung nyuruh makan. Bernapas dulu napa." kesal Elina sambil menutup tutup botol Aqua yang habis ia minum.


"Ini perintah dari pangeran mu tau!" omel Lala.


Elina mengernyitkan keningnya "Apaan sih, pangeran pangeran segala." ucap Elina.


Lala mencubit lengannya Elina "Cerewet, makan aja kenapa sih, susah banget!" kesal nya.


Halwa tak menghiraukan pertengkaran kedua sahabatnya. Ia memasukkan soto yang ia beli dalam mangkuk yang ia pinjam dikantin tadi. Kemudian ia memberikan soto itu ke Elina.


"Nih makan." sahut Halwa.


Elina kembali tidur dan membalikan badannya membelakangi Halwa dan Lala. Lala yang melihat itu semakin bertambah kesal.


"Elin!! Makan dulu!!" teriak Lala.

__ADS_1


Elina menutup telinganya kuat-kuat. Ia gak nafsu makan hari ini, pikirannya terus saja memikirkan tentang postingan yang ia lihat kemarin sore.


"Jahat!" gumam Elina pelan, dan tanpa ia sadari air matanya menetes.


__ADS_2