
Sesampainya dikamar, gadis berbulu mata lentik itu melempar tasnya asal. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya itu.
Ia mendengus kesal "munyak!!!! ihh!!!" geramnya sendirian.
Elina menatap langit-langit kamarnya yang didominasi warna putih biru. Pikirannya kembali mengingat kejadian kemarin sore.
Harusnya dia tak ikut Halwa ke restoran itu. Alhasil ia dibuat kecewa sendiri dengan apa yang dilihatnya. Namun, disisi lain ia juga sangat lega karena dengan mengetahui semuanya ia jadi mengetahui siapa sebenarnya sosok yang selama ini ia pertahankan.
Dia Rino, kekasih Elina semenjak kelas 3 SMA. Ia dan Rino sudah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih. Dan tidak ada yang mengetahui hubungan mereka selain Dika, sahabatnya Elina.
Elina menutup mukanya dengan boneka yang ada didekatnya. Ia mencabik-cabik boneka beruang yang besar itu dengan perasaan kesal. Boneka itu pemberian dari Rino saat mereka perpisahan SMA dulu.
Ia menyesal sudah mempercayai janji-janji manis dari pacarnya itu.
"Jahat!!!!" teriaknya dalam hati.
Drrtt...drttt
Terdengar suara ponsel berbunyi. Elina bangkit dan mencari asal suara itu. Kemudian ia mengambil tasnya yang ia lempar tadi dan segera mengambil ponselnya.
Tetapi, ia meringis pelan ketika melihat keadaan ponselnya. Suara itu bukan dari ponselnya, melainkan dari ponsel kakaknya yang ada disebelah kamarnya. Kamarnya dan kamar kakaknya memang bersebelahan.
Ia mengelus-elus layar ponselnya yang retak "Kyaaa... hp ku kok gini." ringisnya.
Ia mendengus keras "Ini semua karena dia! Dasar, playboy sok ganteng!!" umpatnya.
Seketika air mata Elina luruh membasahi pipinya. Ia menangis pelan, karena ia takut jika kakaknya nanti mendengar tangisannya.
Ia menyesal gak pernah mau mendengarkan kata-katanya Eliza. Padahal Eliza selalu mengingatkan dia tentang bahayanya pacaran. Dan kini, ia hancur karena hubungan yang ia jalin sendiri dengan Rino.
"Hiks... awal Lo!" sahutnya pelan sambil menghapus air matanya kasar.
***
"Ayah... Eliza pulang." suara Eliza yang baru pulang menggema di rumahnya.
"Berisik!" tegur seseorang yang duduk di sofa yang ada diruang tengah.
Eliza mengalihkan pandangannya ke arah orang yang berteriak tadi. Seketika matanya berbinar, ia segera berlari menuju sosok yang sangat ia rindukan itu.
"Bibi!" teriaknya membahana kemudian memeluk erat bibinya dari belakang.
Bibinya mendesis pelan mendengar teriakan maut dari keponakannya itu.
__ADS_1
"Duh Eliza, gak bisa napas nih bibi" ujar bibi nya sambil menyingkirkan lengannya Eliza yang ada di lehernya.
Eliza menyingkirkan lengannya, kemudian ia duduk disamping bibinya sambil menyengir lebar "Hehee, Bi Ana sih, lama banget gak kesini lagi. Kan Eliza kangen, hehee" sahutnya cengar-cengir.
Bibi Ana adalah adik dari Mamanya Eliza dan Mamanya Elina. Nama aslinya adalah Ana Halmahera. Ana merupakan anak bungsu dari keluarga Halmahera. Keluarga Halmahera memiliki 3 anak, dan semuanya perempuan. Mereka adalah Neta (Mamanya Eliza), Dita (Mamanya Elina), dan Ana (Mamanya Clara).
"Bibi sengaja kesini, soalnya pamanmu lagi ada urusan sama ayahmu" jawab Bi Ana sambil memakan cemilan.
Eliza ikut mencomot cemilan yang ada di depannya "Clara mana Bi? Kok gak keliatan?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan nya.
Clara Annabel adalah anak dari Bi Ana dan Paman Bagas (Suaminya Ana). Sepupunya yang duduk dibangku kelas 3 SD itu terlihat dari kejauhan sedang berlari menuju ke arah Eliza.
"Kak El...!" teriaknya.
"Clara...!" teriak Eliza balik.
Clara langsung menghambur ke pelukannya Eliza. Eliza memeluk gemas sepupunya itu.
"Ciee Clara udah gede aja nih." sahut Eliza yang melihat Clara makin tinggi.
Terakhir bertemu dengan sepupunya itu saat ia masih kelas 3 SMA dulu. Bi Ana dan suaminya tinggal di Bandung, jadi Eliza sangat jarang sekali bertemu dengan mereka. Paling mereka berkumpul saat hari raya atau saat ada kerja sama dari ayahnya Eliza dan pamannya itu.
"Kak El kok makin gendutan sih?" cerocos Clara dengan tampang polosnya.
Seketika tawa Bi Ana meledak memenuhi ruangan tengah itu. Eliza mengigit bibir bawahnya untuk meredakan emosi karena dengan polosnya sepupunya sendiri menanyakan hal itu. Eliza memang paling tidak suka jika dibilang gendutan, padahal hobinya memang yang suka makan tanpa memperhatikan porsi makanannya.
"Ihh Mama kok gitu." rengek Eliza.
Mamanya meletakkan minuman diatas meja lalu ikut duduk disamping adiknya sambil memangku keponakannya.
"Memang gitu kok." sahut Neta.
Eliza memanyunkan bibirnya. Ia kesal, selalu saja begitu. Apa salahnya sih ia jadi makin gendutan, padahal dikit aja kok. Begitu pikirnya.
"Liat tuh pipi makin lebar aja." ejek Bi Ana.
Eliza melotot "Bibi juga makin gendutan kok, liat tuh perutnya makin gede." tunjuk Eliza polos ke arah perut bibinya yang membesar.
Neta menggelengkan kepalanya "Bibi kamu kan lagi hamil Eliza, pastilah gede perutnya." sahutnya.
Bi Ana terus saja tertawa pelan melihat Eliza yang semakin terpojokkan. Eliza menepuk keningnya, ia lupa jika bibinya ini sedang hamil anak kedua.
"Bibi gendut karena ada nyawa baru, lah kamu gendut karena ada makanan baru diperut" canda bibinya.
__ADS_1
"Ihh bibi..." Eliza meringis pelan.
Bi Ana tertawa terbahak-bahak.
"Sudah sudah, makin jelek tuh mukanya Eliza." ucap Neta menahan tawa.
Bi Ana berhenti tertawa. Kemudian dia meringis pelan sambil memegang perutnya "Aduh..." ringisnya pelan.
"Eh kenapa dek?" tanya Neta khawatir.
Ana merubah posisi duduknya "Enggak kok kak, gak papa." jawabnya.
"Ih bibii, mending tiduran aja gih di kamar." sahut Eliza khawatir melihat bibinya.
"Enggak papa kok El, sakit biasa aja." ucap bibinya sambil melanjutkan makannya.
Eliza hanya diam. Ia jadi takut sendiri saat melihat bibinya meringis pelan seperti itu. Ia merinding rasanya jika melihat perut gede bibinya itu.
"Oh iya, Elina gak kesini? Clara mau ketemu tuh." sahut Bi Ana.
"Mmm Eliza nanti mau ke rumahnya Elina kok. Clara mau ikut gak ke rumahnya Kakak Elin?" tanya Eliza sambil menatap sepupunya yang sedang dipangku oleh Neta.
Clara berbinar mendengar ajakan Eliza "Mau! Clara kanget banget sama kak Elin!" pekiknya senang.
Eliza mengacak rambut gelombang milik Clara dengan gemas "Ya udah yuk siap-siap." ajaknya.
Clara turun dari pangkuannya Neta. Kemudian ia merentangkan kedua lengannya di hadapan Eliza "Kak El... gendong." pinta nya.
"Kamu ini ya, sudah gede masih aja manja." ujar Eliza sambil menggendong Clara.
"Keikut kamu tuh El, kamu kan manja." ucap Bi Ana seraya menahan tawanya.
Eliza terkekeh pelan "Hehee iya juga sih." ujarnya yang merasa dirinya lebih manja daripada Clara.
Neta dan Ana tersenyum pelan melihat tingkah laku Eliza. Kemudian Eliza membawa Clara ke kamarnya. Dan mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumahnya Elina.
Tadi dikampus dia sudah mengajak Elina dan Lala untuk ikut kajian. Lala menolak dengan alasan ia ada urusan penting, sedangkan Elina tidak memberikan jawaban sepatah kata pun dan memilih langsung pergi meninggalkan ia dan Lala di UKS tadi.
Eliza setiap pulang dari kampus ikut dengan Elina. Karena rumahnya dan rumah Elina hanya berjarak 5 pintu saja, jadi sepupu nya itu selalu mengajak dia untuk pulang bareng. Karena kalau menunggu Kak Ray, pasti bakalan lama banget Eliza nunggu.
Sedangkan Lala, ia pulang sendirian dengan menggunakan mobilnya. Diantara mereka bertiga, hanya Lala dan Elina yang memiliki mobil sendiri. Sedangkan Eliza, ia takut jika harus mengendarai kendaraan beroda empat itu. Dan ayahnya pun pasti tidak akan pernah mengizinkan nya.
Sebenarnya Eliza ingin sekali memakai motornya jika ke kampus, jadi dia tidak perlu bareng sama kakaknya lagi. Tapi ayahnya tidak mengizinkan jika mengingat Eliza yang gemar sekali jatuh dari motor.
__ADS_1
Eliza segera bersiap-siap mengganti pakaiannya. Ia mengambil baju gamis berwarna biru malam dari dalam lemarinya dan segera menggantinya.
Eliza gak mau tahu. Pokoknya Elina harus menemaninya menghadiri kajian sore ini. Dan Eliza yakin, Elina pasti gak bakalan bisa menolak jika nanti melihat ada Clara ikut bersamanya.