Air Mata Cinta Eliza

Air Mata Cinta Eliza
Chapter 7 : Curiga


__ADS_3

Malam ini, Elina menginap di rumahnya Eliza. Jika bukan karena Clara, Elina mungkin tidak mau. Dan saat ini Elina dan Clara berada di kamarnya Eliza.


Pintu terbuka menampilkan Eliza yang mengenakan mukenah nya. Ia sehabis sholat berjamaah di ruang sholat tadi beserta keluarga besarnya. Elina tidak ikut sholat berjamaah karena ia sedang berhalangan. Jadinya ia menemani Clara yang sedang bermain boneka.


"Assalamu'alaikum," ucap Eliza seraya memasuki kamar.


"Wa'alaikumussalam," jawab Elina.


"Ke bawah yuk, di panggil mama makan malam," ajak Eliza seraya melepaskan mukena nya.


Elina menggendong Clara lalu menuruni kasur "Ayuk," jawabnya seraya melenggang pergi meninggalkan Eliza.


"Ih Elin tunggu," omel Eliza.


Eliza menyusul Elina yang pergi duluan. Ia menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Lalu sesampainya di dapur, ia mendapat hadiah jitakan dari bibinya.


"Aduh, bibi," ringis Eliza.


Bibi Ana melototkan matanya ke arah Eliza "Kamu ini ya, kenapa itu nggak di matiin tadi oven nya? Liat tuh, kue mu gosong," omel Bi Ana.


Eliza terbelalak seraya beranjak menuju ke arah mamanya yang terlihat sedang mengangkat kue nya "Huaa, kue Eliza hancur,,," pekiknya.


"Kamu ini, mama kan sudah bilang dari tadi, harusnya kamu matikan dulu tadi. Kamu nya malah bilang nanti-nanti terus, jadi gosong kan," sahut Neta.


Eliza mencolek-colek kue nya "Padahal Eliza buatin ini untuk Clara sama Elin buat jadi teman nonton drakor nanti, eh malahan gagal," lirihnya.


Bibi Ana terbahak-bahak mendengar penuturan nya Eliza. Eliza segera menatap bibinya dengan tatapan bingung "Bibi kok ketawa?" ucap Eliza bingung.


Bi Ana duduk di kursi lalu meneguk air putih "Enggak kok El," jawabnya.

__ADS_1


Eliza memasang wajah cemberut. Elina menahan tawa melihat ekspresi nya Eliza. Sedangkan Clara turun dari pangkuan nya Elina dan menghampiri Eliza. Ia menarik pucuk baju Eliza yang membuat Eliza menoleh.


Eliza menjongkokkan bokongnya "Clara kenapa sayang?" tanya nya lembut.


"Kue nya untuk Clara aja ya kak," pinta nya dengan semringah.


Eliza tersenyum pelan "Iya sayang, nanti kita makan bareng ya di kamar," ucap Eliza seraya mengelus rambut hitamnya Clara.


Ana menghela napas panjang seraya tersenyum kecil melihat keponakan nya yang berlaku lembut terhadap anaknya.


"Eh iya Lin, mama kamu kapan ke sini?" tanya Ana.


Elina mendongak "Habis Isya mama ke sini bi, soalnya papa belum pulang kerja," jawab Elina.


Ana mengangguk mengiyakan. Lalu ia berdiri mengambil beberapa gelas dan menaruhnya di meja makan. Sedangkan Eliza yang sedari tadi tidak bosan-bosannya merenungi nasib kuenya yang hancur gosong.


"Helloooo,,, Ray ganteng datang," teriak seseorang yang membuat telinga Eliza sakit.


Ray mendelik " Dih, suka-suka ku dong," jawabnya seraya menarik kursi untuk duduk. Eliza meliriknya kesal seraya menyebikkan bibirnya.


Tatapan Ray mengarah ke arah Clara yang ada di pangkuannya Elina "Eh Clara, sini-sini sama kakak Ray yuk," panggil nya.


Clara menggeleng "Ndamau, kak Ray bau," sahutnya.


Elina refleks terbahak-bahak mendengar penuturan nya Clara "Hahaha..." tawanya pelan.


Ray meringis pelan "Astaghfirullah, kak Ray nggak bau kok, sudah mandi tadi. Suer deh," ujarnya.


Clara menggeleng sedangkan Elina menahan tawanya "Ketawa aja Lin, nggak usah di tahan-tahan," sahut Ray.

__ADS_1


Elina terkekeh pelan. Sedangkan Eliza pergi ke ruang tamu untuk memanggil ayah dan om Bagas untuk makan malam. Tak lama kemudian, mereka semua berkumpul dan makan malam bersama.


*Di kamar


Eliza mempersiapkan perlengkapan kuliah besok, sedangkan Elina berbaring santai seraya memainkan ponselnya. Eliza memicingkan matanya, ia tertegun melihat ponselnya Elina yang pecah.


Eliza menghampiri Elina "Elin, hp mu kenapa? Kok bisa pecah gitu?" tanya nya.


Elina menoleh lalu menghela napas panjang "Ku lempar Wa, makanya pecah begini," jawabnya.


Eliza membelalakkan matanya "Kamu lempar? Kenapa kamu lempar?" tanya nya lagi.


Elina bangkit dari posisi duduknya "Itu semua karena Rino, dia tuh..." pekik Elina yang kemudian menggantungkan ucapannya.


Eliza tertegun. Rino? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Elina? Lelaki yang dekat dengan Elina hanya Dika yang Eliza tahu. Lalu siapa Rino? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Eliza.


"Rino siapa Lin?" tanya Eliza seraya menatap matanya Elina dengan lekat.


Elina mengigit bibir bawahnya "Emm itu, anu, dia teman SMP ku," jawab nya.


Eliza melirik tidak percaya "Hem kamu bohong ya?" tudingnya.


"Enggak Wa, beneran deh," jawab Elina.


Eliza bangkit dari posisi duduknya lalu ia menyelimuti Clara yang tengah tertidur pulas. Lalu ia beralih menyalakan lampu tidur.


"Iya deh oke, aku percaya," ucap Eliza.


Eliza tidak ingin memaksa Elina untuk bercerita, ia yakin Elina pasti akan cerita juga nantinya.

__ADS_1


"Untung aja," batin Elina dalam hati seraya menghela napas lega.


__ADS_2