Air Mata Cinta Eliza

Air Mata Cinta Eliza
Chapter 2 : Tentang Mereka


__ADS_3

Sesampainya dikelas, Eliza dan Lala melihat Elina yang sedang duduk kursi dengan tangan yang tertumpu di atas meja. Raut wajahnya Elina menunjukkan ia lagi bad mood.


Dia Elina Argio. Sepupu sekaligus sahabat dari Eliza dan juga sahabatnya Lala. Elina memiliki paras yang cantik, lebih pendek dari Eliza dan agak sedikit lebih cuek daripada Eliza.


"Elin... kenapa sih?" tanya Lala sambil menyampirkan lengannya di bahu Elina.


Eliza duduk dikursi yang ada didepannya Elina, "Tau nih. Pagi-pagi udah cemberut aja, jelek tau!" ejeknya.


Elina menyingkirkan lengannya Lala yang bertengger di bahunya, "Lepas La!" sentak Elina.


Eliza menopang dagunya, "Kenapa sih Lin?" tanya nya lagi.


Elina mengabaikan pertanyaannya Eliza dan menghela nafasnya sejenak. Kemudian ia menatap ke arah pintu kelas, seperti mencari-cari keberadaan seseorang.


Eliza mengikuti arah pandang Elina yang mengarah ke luar kelas, "Nyari siapa sih?"


Lala juga ikut memandang ke arah luar kelas, "Lagi nungguin Dika ya?" tebak Lala.


Otomatis Elina mencubit pipi Lala dengan sangat keras, "Sembarangan!" sarkasnya.


"Aduh, luntur kan make up nya Caramel!" sentak Lala sambil memegang pipinya.


Eliza yang melihat kelakuan alay nya Lala hanya mampu menahan tawanya.


"Caramell Caramell... Sok imut dih!" ucap Elina sinis.


Lala mengulas senyumnya yang paling manis, "Lala kan memang imut sayang," ucapnya.


Elina memutar matanya malas. Gak ada habis-habisnya kalau dia ladenin Lala. Sampai se abad pun tuh anak bakalan ngoceh terus tanpa henti.


"Berisik!" sarkas Elina.


Orang yang ditunggu-tunggu Elina akhirnya datang. Ia Dika, nama lengkapnya Dika Purnama. Temannya Elina semasa SMA itu suka banget buat Elina lama menunggu.


Lelaki dengan tampang easy going dan berperawakan tinggi kurus datang menghampiri Elina dan kawan-kawan.


Dika tersenyum, "Hai Elon," sapa nya setiba di mejanya Elina.


Elina menyentak meja, "Gua Elina bukan Elon!" teriak nya marah.


Sontak penghuni kelas memperhatikan Elina yang tiba-tiba berteriak.

__ADS_1


"Apa Lo liat-liat?!" sentak Elina yang kesal karena jadi objek pandangan mereka semua.


Semuanya tak menjawab dan kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Kalau sudah mengamuk begitu, mereka pada nggak mau buat Elina tambah mengamuk lagi dikelas.


Dika hanya cengar-cengir pelan melihat Elina yang mengamuk.


"Maaf," ucap Dika sembari menjewer kedua telinganya sendiri.


Elina menatap sinis "Mana buku gua," ucapnya.


Lala membelalakkan matanya melihat emosinya Elina yang nggak sulut sulut sedari tadi "Lin, galak banget sih!" ucap Lala.


Elina tidak menghiraukan ucapannya Lala. Dia terus saja menatap Dika dengan sinis.


Dika mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Ini," ucap Dika. Kemudian ia menaruh buku tebal bersampul biru di atas mejanya Elina.


"Lo kenapa Lin? Kok pucat?" tanya Dika kemudian.


Serentak Eliza dan Lala melihat wajah Elina yang tiba-tiba pucat. Melihat tatapan khawatir dari mereka bertiga, Elina segera berucap, "Nggak sarapan tadi,"


"Lain kali harus sarapan Elon. Nggak baik kalau nggak sarapan pagi," geram Dika.


Dika berbeda kelas dengan mereka bertiga. Tapi fakultas mereka sama. Sama-sama di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Yang dimana mereka berempat sama-sama mengambil Jurusan Sastra Indonesia.


Dan entah kenapa Elina dan Lala memiliki keminatan yang sama dengan Eliza. Sama-sama bercita-cita ingin jadi penulis. Maka dari itu, mereka memilih jurusan sastra Indonesia. Sedangkan Dika, hanya ikut-ikutan saja dengan Elina.


Dika kembali ke kelasnya. Setelah raganya hilang di balik pintu, Elina menghela nafas lelah.


"Nyesal kan marah-marahin Dika tadi," cerocos Lala lagi.


Elina tidak mengubris ucapan kedua sahabatnya itu. Dia membuka bukunya yang diberikan Dika tadi, kemudian mulai mengerjakan tugasnya yang belum selesai.


Hari ini perasaan nya sangat buruk. Hal itulah yang menyebabkan dia marah-marah seperti tadi. Setelah emosi nya mereda, Elina berjanji akan meminta maaf pada Dika.


Eliza mengajak Lala kembali ke tempat duduk mereka. Lala duduk di belakangnya Eliza, sedangkan Eliza duduk di belakangnya Elina.


***


"Nan," panggil Aarav.

__ADS_1


Adnan yang saat itu memainkan ponselnya menoleh sejenak ke asal suara, "Kenapa Rav?" tanya nya.


"Nanti sore ada acara nggak?" tanya Aarav sambil mengeluarkan bukunya.


"Hmm enggak sih, kenapa emang?" tanya Adnan balik.


Aarav tersenyum "Datang ke kajian yok," ajaknya.


Adnan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Di mana?" tanya nya.


"Di masjid Abu Bakar," jawabnya.


Melihat Aarav yang sepertinya ingin sekali menghadiri kajian itu, akhirnya ia mengangguk mengiyakan ajakan Aarav.


"Oke," jawab Adnan yang kemudian kembali fokus pada ponselnya.


Aarav tersenyum senang. Akhirnya sahabat nya itu tidak menolak. Biasanya nya sih Adnan selalu menolak, tetapi kali ini ia senang karena Adnan tidak menolak ajakannya.


"Oh iya Rav, cewek yang kamu ceritain itu bagaimana?" tanya Adnan tiba-tiba.


Aarav terdiam. Pikirannya kembali bergelayut memikirkan Eliza. Gadis yang selama ini ia cari. Ia berharap Eliza masih ada di kota ini, kota yang menjadi saksi akan persahabatan mereka.


Aarav tak menggubris pertanyaan dari Adnan. Ia malah mulai menuliskan sesuatu di bukunya.


Aarav jadi ingat dulu ketika ia mau pindah ke Jogja. Dan kini ia kembali lagi ke kota ini, Kota Samarinda. Itu semua karena permintaan neneknya agar ia melanjutkan kuliah disini. Orang tuanya Aarav juga tidak keberatan jika Aarav harus berkuliah disini. Aarav senang akhirnya ia bisa kembali lagi ke kota ini.


Orang tuanya membiarkan Aarav untuk hidup mandiri di kota besar ini. Aarav memang harus belajar hidup mandiri. Setiap sebulan sekali jika tidak ada halangan, Aarav pasti akan pulang ke Jogja untuk menjenguk keluarganya.


Namun, karena kesibukannya terkadang Aarav juga tidak bisa pulang ke Jogja. Nenek dan Orang tuanya Aarav dapat mengerti keadaannya.


Mereka hanya berpesan pada Aarav, jangan suka menunda-nunda waktu untuk terus belajar. Mereka ingin melihat anak semata wayangnya itu sukses di kemudian hari. Dan Aarav anak yang berbakti, semua pesan dari orang tua dan neneknya ia dengar baik-baik dan ia laksanakan dengan ikhlas.


Hal itulah yang dikagumi oleh Eliza dari sosok Aarav Tora. Sosok laki-laki hebat yang berbakti kepada Allah dan orang tuanya.


Melihat Aarav yang melamun sedari tadi, Adnan mengguncang-guncangkan tubuhnya Aarav, "Rav Rav, dari tadi dipanggil Pak Satria tuh!"


Aarav tersentak, ia tersadar dari lamunannya. Kemudian ia melihat ke arah Pak Dosen yang sedang berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan tajamnya.


Aarav segera mendatangi Pak Satria.


"Maaf Pak," ucap Aarav sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Ikut saya ke ruangan," ucap Pak Dosen yang berkumis tipis itu.


Aarav mengangguk. Kemudian ia mengikuti Pak Satria menuju ke ruangannya.


__ADS_2