Ajari Aku Mengenal Islam

Ajari Aku Mengenal Islam
menikmati pantai bira


__ADS_3

"Zah, kita jalan-jalan yuk" ajak mira


"Ayo mas ahmad juga udah siap tuh kita keliling dlu" jawab fizzah


"ayo "seru mira


Sedangkan ahmad dan ibra pun berjalan bersama.


"Gimana broo, sukses nggak" ucap ahmad sembari membisikan suatu ke telinga ibra.


"Hahahaha, sukseslah bro" ucap ibra seraya menjabat tangan ahmad.


"Wah ada apa nih kok main jabat-jabatan, kok kita gak di ajak sih " ucap mira dan fizzah bersamaan


"Ini loh zah, aku tanya suami mu sejarah bulukumba ini" ucap ibra mengalihkan pembicaraan, ahmad pun cuma garuk-garuk kepala padahal gak gatal.


"Hahaha, mas ibra ada ada aja mana mas ahmad tau orang dia orang Jawa" ucap fizzah


" Setau mira disana ada deh papan papan kayak pengumuman gitu, disitu lengkap informasinya"ucap mira sambil berjalan menuju tempat yang dimaksud.


"Apaaan tuh Ra, mading kah " ucap fizzah


"Ya sudah ayo, ikut makanya kalian bisa baca disitu lengkap dan detail hahaha" ucap mira sambil tertawa

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai dan mau nggak mau ibra disuruh mira membaca, karena ia ingin tau sejarah bulukumba....


#Bulukumba berasal dari kata Bulukumupa dan pada tingkatan dialeg tertentu mengalami perubahan menjadi Bulukumba. Mitologi penamaan “Bulukumba“, konon bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu “Bulu’ku“ dan “Mupa” yang dalam bahasa Indonesia berarti “masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya“. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke–17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu kerajaan Gowa dan kerajaan Bone.


Di pesisir pantai yang bernama “Tanahkongkong“, disitulah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing.


“Bangkeng Buki” (secara harfiah berarti kaki bukit), yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompo Battang diklaim oleh pihak kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian Timur. Namun pihak kerajaan Bone berkeras mempertahankan Bangkeng Buki sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari Barat sampai ke Selatan.


Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis “Bulukumupa”, yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi “Bulukumba”. Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada, dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten.


Peresmian Bulukumba menjadi sebuah nama kabupaten dimulai dari terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 5 Tahun 1978 tentang Lambang Daerah. Akhirnya setelah dilakukan seminar sehari pada tanggal 28 Maret 1994 dengan narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada (ahli sejarah dan budaya), maka ditetapkanlah hari jadi Kabupaten Bulukumba, yaitu tanggal 4 Februari 1960 melalui Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Hari Jadi Kabupaten Bulukumba. Secara yuridis formal Kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah ditetapkan Lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960 dan selanjutnya dilakukan pelantikan Bupati Pertama yaitu Andi Patarai pada tanggal 12 Februari 1960.


“Mali’ siparappe, Tallang sipahua”. Ungkapan yang mencerminkan perpaduan dari dua dialek bahasa BugisMakassar. tersebut merupakan gambaran sikap batin masyarakat Bulukumba untuk mengembang amanat persatuan di dalam mewujudkan keselamatan bersama demi terciptanya tujuan pembangunan lahir dan batin, material dan spritual,dunia dan akhirat. Paradigma kesejarahan, kebudayaan, dan keagamaan memberikan nuansa moralitas dalam sistem pemerintahan yang pada tatanan tertentu menjadi etika bagi struktur kehidupan bermasyarakat


Kabupaten Bulukumba memiliki 14 Cagar Budaya dan 4 Warisan Budaya Tak Benda yang sudah ditetapkan olah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta bahasa daerah yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan.#


"Mas udah taukan, nanti mira cerita tentang satu kampung yang dianggap menakutkan" ucap mira dengan wajah serius


"Iya su sudaah tau sayank kapan kapan akan sayang cerita ya kita dinikmati pantai ini dulu" ucap ibra dengan memasang wajah masam


"ini gara gara ahmad sih" gumam ibra pelan


"Iya mas" ucap mira berjalan ke pinggir pantai

__ADS_1


Sedangkan pasangan fizzah dan ahmad sudah bermain air terlebih dulu, sambil kejar kejar bak anak kecil, bahkan membuat pasangan mira dan ibra iri.


Selesai mereka segera berganti baju dan mandi lalu makan siang di suguhkan dengan khas makan Sulawesi Selatan, mulai dari coto makassar,pallumarra,konro, mie titi bahkan makanan penutup seperti, pisang ijo, jalangkote, pisang epe dan pisang goreng geprek dan sarabbah.


"bro beta banget nih gue disini malas jadinya balik ke balikpapan " ucap ibra sembari melahap makan yang sudah di sajikan


"Ya, bro gimna pemandangan yang sangat indah makananya pun unik unik dan enak apalgi bareng istri-istri kita" jawab ahmad


"Yah, yah, gak usah pulang bini gak butuh makan kita liburan aja terus disni " ucap fizzah sambil mengomel


Membuat suasana makan siang itu jadi rame...


Selesai mereka menikmati hari liburnya di pantai bira mereka akan berkunjung ke kampung halaman ayahnya fizzah yaitu, di daerah kajang yang konon katanya seram....


Kok bisa serem sih, mungkin ada beberapa readeas yang mengetahui kenpa kok serem....


Selamat baca guys,💙


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2