
Tidak terasa fizzah dan mira sudah berada tepat di kampung halaman mereka selama satu minggu. Rasanya berat meninggalkan kampung halaman, namun fizzah dan mira harus mampir ke rumah bos dan masih ingin berwisata di kota makassar atau kota daeng....
Sebelum mereka pulang fizzah,mampir dulu dirumah kakak buyutnya yang berada di "kajang ammatoa".
" kok agak merinding yah"ucap ibra
"apasih mas, hahahha " jawab fizzah tertawa
"iya loh za" lanjut ibra
"itu karena kaling telalu banyak mendengar dongeng -dongeng buruk" ucap fizzah
"Iya loh yang aku juga agak merinding" lanjut ahmad
"Sama aja kalian berdua, disini kendengarannya aja yang serem, mereka yang mengalami hal hal mistis itu karena mereka menggangung penduduk sini, sebenarnya ini itu gak kenapa kenapa,sama aja sama kampung yang lain atau kota yang lain, karena setiap tempat itu gak bisa di pungkiri mereka punya sejarah tertentu." ucap fizzah menjelaskan
"iya benar tuh kata fizzah" ucap mira
"Akhirnya mereka mulai memasuki perkampungan Kajang amatoa dan ternyata mereka sangat sangat ramah dan sopan, ibra dan ahmad pun sangat kaget dengan penyambutan mereka, suku Kajang Ammatoa yang terletak di kabupaten Bulukumba, Kecamatan Kajang, Sulawesi Selatan. Desa ini dinamakan Tana Toa yang merupakan tanah yang tertua di dunia dikarenakan kepercayaan masyarakat adatnya.
__ADS_1
Secara geografis, luas wilayah Desa Kajang Ammatoa sekitar 331,17 ha dan memiliki kondisi hutan yang sangat lebat. Hampir seluruh dusun yang berada di dalamnya di kelilingi hutan dan tidak ada jalan beraspal di dalam kawasan ini.
Kawasan adat masyarakat Kajang berada dalam wilayah administrasi Desa Tana Toa, berjarak 56 km dari kota Bulukumba.
Di antara suku yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan, Suku Ammatoa Kajang merupakan salah satu kelompok masyarakat yang kokoh memegang tradisinya.
Bagi para wisatawan yang hendak mengunjungi Suku Kajang Ammatoa Sulsel diwajibkan berpakaian serba hitam dari atasan sampai bawahan, karena hal itu sudah menjadi identitas masayarakat Suku Ammatoa Kajang.
Spesifikasinya terdapat pada atribut yang dikenakan, seperti baju celana yang hampir menyentuh lutut, sarung, daster, ikat kepala yang dikenakan bagi kaum lelaki, yang semuanya berwarna hitam dan juga tidak beralas kaki.
Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta.
Berkunjung ke Desa Kajang Ammatoa, belum lengkap tanpa mempelajari kearifan lokal masyarakat dalam melestarikan budaya dan adat istiadatnya yang telah bertahan ratusan bahkan ribuan tahun.
Pengunjung akan disuguhkan dengan wisata budaya yang sangat berkesan dan tentunya akan menjadi pengalaman menarik untuk diceritakan nantinya."
Seharian penuh fizzah dan yang lain menghabiskan harinya disana, mereka tidak hanya berkunjung ke tempat keluarga namun mereka juga di suguhkan dengan beberapa tarian dan sempat mempelajari bahasa daerah Kajang ammatoa meski bulukumba terkenal dengan Suku Bugis, Namun bahasa di bulukumba yaitu ada dua bahasa, satu bahasa Bugis dan satu lagi bahasa Konjo dan bahasa Konjo ini agak mirip dengan bahasa orang makassar.....
"Gimana serukan, gak seperti apa yang kalian dugakan. " tanya mira
__ADS_1
"iya benar banget. " ucap ibra dan ahmad
"Selama kalian berperilaku baik dan sopan serta menghargai mereka, mereka pun akan berperilaku baik terhadap kita" ucap fizzah
"Iya benar itu zah, " jawab mira
"Memang benar hehehe, karena kita kalian ingin dihargai dan di hormati, tapi kalian tidak bisa menghargai mereka sama kalian jangan pernah menilai sesuatu dari orang lain karena orang lain itu belum tentu memberi informasi yang benar dan betul" sambung fizzah
"benar tuh sayang" ucap ahmad.
"Ya sudah yuk, kita siap-siap dulu besok pagi kan kita harus balik ke kota."ucap fizzah
" iya yuk, mama gak ikut kah yang"ucap ahmad
"Mama ikutlah, masa nggak heheheh" jawab fizzah
Mereka pun membereskan semua pakaian mereka dan sedikit oleh-oleh untuk kerabat di balikpapan....
selamat membaca semua jangan lupa di vote hehehe
__ADS_1