Akan Tiba Saatnya

Akan Tiba Saatnya
BAB 2 pertengkaran


__ADS_3

jatuh cinta itu merepotkan. merepotkan dan menyakitkan. aku tau itu lewat curhatan teman-teman sekelas, yang sesaat lalu tertawa senang karna cintanya di Terima oleh laki-laki idamanya, lalu berubah menjadi tangisan sesenggukan karna disakiti oleh orang yang sama.


aku tau itu dari tatapan murid-murid perempuan yang mengikuti setiap langkah dan gerak-gerik arga, hanya untuk sakit hati sebab pernyataan cinta mereka tak terbalas.


aku pun mengenalinya dari nada lesu sahabatku, yang bercerita bahwa Kak Nov masih menyimpan perasaan untuk mantan pacarnya, yang kini sudah punya kekasih baru.


semua tentang cinta rumit dan menyakitkan. tidak ada hubungan yang bertahan selamanya. Suatu Hari Nanti, ikatan yang dipuji-puji sebagai suatu yang sakral dan indah itu pada akhirnya akan terputus, entah oleh takdir, atau perbuatan salah satu dari dua insan yang terlibat di dalamnya.


Aku bukannya sinis, aku hanya sudah terlalu sering melihat buktinya.


bunyi pintu dibanting terdengar, sejenak menggetarkan pintu kamar mandi tempatku berada. suara itu diikuti oleh bentakan Yang Tak asing lagi, ya itu suara papa.


'' kenapa kamu tidak pernah berhenti mengeluh tentang hal-hal kecil? Seharusnya, kamu senang aku pulang malam setiap hari, karena tiap kali bertemu, yang kita lakukan hanya bertengkar. aku capek!"


Ya ampun, ini lagi. aku menutup telinga dengan kedua tanganku. yang melintas di benaku hanya satu, Untung saja malam ini adikku, Nadia menginap di rumah nenek.


walaupun telingaku tertutup rapat, bantingan perabot rumah tangga yang diikuti lengkingan suara tetap terdengar. kali ini, aku mendengar seruan mama dengan Cukup jelas.


'' kamu tidak pernah ada di rumah! Sebenarnya, kamu anggap apa tempat ini? Hotel?!'' balas mama tak kalah keras.


'' kamu jangan sembarangan bicara!''


'' Kenyataannya memang begitu, kan? kamu hanya pulang untuk tidur! Siapa yang membereskan rumah, memasak, mengurus anak-anak?''


'' lalu, kamu pikir, uang untuk kamu hamburkan datang dari mana? apa kamu lebih senang aku jadi pengangguran di rumah?''


'' itu lebih baik daripada menghilang entah ke mana, lalu meninggalkan anak-anak tanpa perhatianmu sedikitpun''.


Aduh mulut itu berlangsung selama beberapa menit. Sepertinya orang tuaku lupa bahwa Putri sulungnya ada di rumah, mendengarkan setiap kata dari pertengkaran mereka, seperti yang sudah kulakukan selama bertahun-tahun.


Lalu, untuk sesaat semuanya senyap.


Kesunyian itu tak bertahan lama. teriakan terdengar lagi, sekarang lebih sengit lebih menyakitkan dari sebelumnya. tangis Mama pun terdengar. Aku tak suka mendengarnya.


aku pun menahan nafas, lalu menenggelamkan diri dalam bak mandi yang penuh dengan air, membiarkan suara-suara itu memutar menjadi Celoteh tak bermakna.


membiarkan Pikiranku kosong dan air mataku sendiri berbaur dengan air.


seberapa besar pun aku menyukai ketenangan ini, Aku benci mengakui fakta bahwa aku menyukai karena hanya Hal inilah yang mampu membaurkan suara-suara yang tak ingin ku dengarkan.

__ADS_1


terkadang tenggelam adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku.


suara itu semakin lama semakin tidak terdengar, dan kembali sunyi.


aku pun keluar dari bak air, berjalan menuju kamarku.


Aduh setelah itu aku berjalan keluar dari kamar untuk menuju rumah Arga.


terlihat Arga yang sedang menonton sebuah program tentang kehidupan mamalia laut ketika aku masuk ke kamarnya.


dia tak mengalihkan pandangannya dari layar televisi, hanya bergerak untuk menyisakan ruang agar aku bisa duduk. aku bergabung dengannya, untuk sejenak menonton Bagaimana ikan paus berkembang biak.


kalau harus membuat daftar tempat-tempat paling menenangkan di seluruh dunia, rumah Arga adalah satu-satunya. mungkin ini erat kaitanya dengan fakta bahwa sejak kecil aku menghabiskan begitu banyak waktu di sini.


memanjat pohon mangga di belakang rumahnya, saling mengotori dan benci berarti air di kolam karet yang diletakkan ibunya di sana, atau duduk berjam-jam di kamarnya, asik bermain PlayStation.


Sebenarnya, dulu Kami sering bermain di rumahku. Namun, begitu menginjak kelas 5 SD, aku mulai lebih sering menghabiskan waktu di rumahnya, dan menciptakan banyak alasan mengenai tempatku sendiri.


begitu saja, harga mengiyakan tanpa banyak tanya. sama seperti hari ini, dia tahu jelas Mengapa.


tanpa berkata-kata atau bertanya, dia menyerahkan sekantong keripik kentang dengan rasa favoritku, lalu membiarkanku menghabiskannya.


'' rumah nenek''


''oh.''


begitu program televisi Usai, harga beranjak dari tempat duduk lalu menyambar sehelai jaket dari atas tempat tidur.


'' cari angin, yuk.?''


ucapnya.


cari angin adalah kode kami berdoa untuk mengitari Kompleks Perumahan dengan mobil tua milik Arga yang dihadiahi oleh orang tuanya untuk ulang tahun yang ke-17.


mobil bobrok itulah yang dikendarai sahabatku setiap hari ke sekolah. dibanding deretan kendaraan mewah yang dimiliki teman-teman sekolah yang lain, harga justru beranggapan bahwa Miliknya lah yang terkeren.


badan mobil tersebut dicat warna hitam, dengan cetakan angka 7 di sisi kanan, dan nomor keberuntungan sekaligus nomor punggung harga di klub renang.


bempernya terlihat seperti akan hancur jika disentuh, dasbornya penuh dengan patung-patung yang kepalanya bergerak-gerak kalau digoyangkan, dan perangkat stereo nya Hanya bekerja Kalau dipukul keras.

__ADS_1


hanya kursi berlapis kulitnya yang masih mulus. harga tidak mengizinkan sembarang orang untuk naik, jadi aku tahu dapat menghuni kursi penumpang adalah sebuah hak istimewa.


setelah beberapa kali berusaha menyalakan mesin tanpa hasil, akhirnya mobil itu berhasil dihidupkan. harga memundurkan dengan hati-hati, lalu memasang sinyal untuk berbelok ke kanan.


Karena kami telah melewatinya puluhan, dan ratusan kali. sejak mendapatkan Surat Izin Mengemudi, harga seringkali mengendarai mobil ini dengan aku di sebelahnya, memutari lingkungan tempat tinggalnya, melewati rumahku kemudian keluar dan melintasi area sekolah.


kami tak pernah absen Farhan di sebuah toko cemilan di tikungan Sebelum lampu merah, membeli cemilan favorit, lalu membaginya Selama perjalanan. selama berjam-jam, inilah yang kami lakukan berkendara dengan jendela terbuka lebar, menikmati Angin Malam yang mendorong hangat di kulit kami.


diliputi kegelapan yang menenangkan. Kadang, kami bahkan tak berbicara sama sekali. seperti sekarang ,Arga Tak perlu bertanya apa yang salah.


dia tak bertanya apa yang bisa dilakukannya agar semuanya baik-baik saja, tidak berusaha membuat lelucon agar aku tersenyum. dia hanya berada di sampingku, mengemudi dengan tenang dan sesekali menjulurkan tangannya untuk merokok ke dalam kantong keripik yang ada di pangkuanku.


untuk itu saja aku bersyukur memiliki teman seperti Arga.


kami saling mengenal di bangku kelas SD, sejak aku mengalahkannya dalam lomba lari sewaktu kelas olahraga berlangsung. meskipun dia adalah orang paling santai yang pernah kukenal, Arga tidak suka, justru, kurasa itulah yang mendekatkan Aku Dan Dia.


kami sama-sama sangat kompetitif, semenjak hari itu, kami menjadikan segala sesuatunya sebagai pertandingan.


Siapa yang lari lebih cepat, Siapa yang nilainya akhir semesternya paling tinggi, Siapa yang paling cepat menghabiskan satu porsi stik. kompetisi sehat yang kadang-kadang berubah gila, demikian Kami menyebutnya.


salah satu kompetisi kilat itulah yang menjadi asal mula nama panggilannya, semua dari kolam karet berisi susu coklat di pesta ulang tahunnya yang ke-9.


Arga adalah nama aslinya, dan panggilan yang adalah suklat.


waktu itu, Tante Riska, Ibu Arga, membelikannya sebuah kolam karet berbentuk bebek, warnanya kuning, dengan pompa khusus yang membuatnya terlihat seperti monster bebek raksasa ketika diisi angin.


Rencananya, kami akan memenuhinya dengan air dan mengadakan pesta renang terhebat di sepanjang sejarah pesta ulang tahun yang pernah ada.


setelah selesai memompa kolam barunya, Arka menoleh ke arahku dan pandangannya dapat kulihat kelihatan usil yang tak asing lagi.


''Tina, kalau kita isi kolam ini pakai sesuatu selain air biasa bagaimana?''


Hah? Aku hanya bisa menunggu kebingungan.


''sirup soda atau sesuatu yang manis, hm.


m... apa ya? tiba-tiba Seperti mendapat ide brilian, dia berseru, susu coklat!


" susu coklat? waktu itu aku skeptis, yakin?

__ADS_1


- bersambung-


__ADS_2