Akan Tiba Saatnya

Akan Tiba Saatnya
BAB 4 KELAINAN GENETIK ADIKU


__ADS_3

adiku terlahir dengan kondisi down syndrom, sebuah kelainan genetik pada kromosom 21. manusia normal pada umumnya memiliki 46 kromosom yang mengandung gen pembawa sifat kedua orang tuanya.


kasus Nadia jatuh pada tipe trisomy 21, yang berarti ia memiliki kromosom ekstra pada pasangan kromosom yang kedua puluh satu sehingga jumlah kromosom menjadi 47.


tidak ada yang tau pasti apa penyebab kelainan genetik ini. menurutku, setiap bayi yaang lahir seharusnya diberi kesempatan yang sama rata untuk hidup normal, dan ini tak adil untuk nadia.


ketika mama dan papa membawa Nadia pulang untuk kali pertama, aku ingat keduanya memanggilku dengan ekspresi serius. mata Mama sembab dengan air mata, sedangkan Papa berusaha menahan emosi. sungguh raut yang sangat kontras dengan suasana kamar bayi bertemu dunia bawah laut berwarna-warni yang baru beberapa bulan sebelumnya mereka siapkan untuk menyambut kedatangan adikku ke rumah kami.


Papa bilang, Nadia memiliki trisomi 21, dan Berusaha menjelaskan dengan sederhana mungkin agar dapat dimengerti olehku yang waktu itu masih berusia 12 tahun.


mama berkata, bukan berarti Nadia tidak normal, hanya dia akan berbeda dari anak-anak lainnya. Pernyataan mereka kontradiktif dan membingungkan. Yang kulihat hanyalah seorang bayi mungil dengan mata terpejam, kulit kemerahan, dan bibir berkatup rapat.


Memang, Yaya kepalanya tidak terlalu besar dan hidungnya agak datar, tetapi bagiku, dia adalah bayi terlucu yang pernah kulihat. Belakangan, aku baru menyadari makna dari kata' berbeda' yang Mama Sebutkan.


berbeda berarti Nadia tidak tumbuh secepat anak-anak umurnya. abnormalitas perkembangan kromosomnya membuat Nadia mengalami keterbelakangan fisik dan mental. anak-anak lain menganggapnya aneh karena raut wajahnya yang, lidah yang sering terjulur keluar, dan lehernya yang pendek.


ketika pada umur setahun anak-anak biasanya sudah mampu berdiri dan mengucapkan kata pertamanya, Nadia Baru melakukan pada usia 3 tahun. belum lagi terapi Visio dan wicara yang harus dilakukan setiap hari di sebuah pusat terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang berarti Mama dan Papa harus mengganti pergantian mengantar dan menjemputnya setiap hari.


Awalnya, pertengkaran orang tuaku ucap Kali berkisar seputar Nadia, Apakah mereka seharusnya memasukkan hadiah ke sekolah umum, Mengapa perkembangannya tidak secepat Harapan, Mengapa adikku masih saja kesulitan berbaur dengan orang lain. Bagaimana kewajiban finansial mereka bertambah seiring dengan kebutuhan khususnya dia.


yang membuat Mama terpaksa kembali bekerja, bagaimana mereka saling menuduh karena tidak punya waktu yang cukup untuk menemani Nadia.


Bagaimana reaksi mereka saat ada rekan bisnis atau kerabat yang berdatangan dan mengomentari kondisi adikku.

__ADS_1


lama kelamaan, pertengkaran itu mengoreksi Sisi permukaan dan mengenai sesuatu yang lebih dalam dibaliknya. kritik berubah menjadi ejekan penuh sarkasme, ketidakpuasan dalam hubungan mereka sekarang yang berakhir pada Giant jarangnya mereka menghabiskan waktu bersama.


rasa lelah dalam menghadapi satu sama lain, dan seterusnya, dan seterusnya.


yang kupertanyakan hanyalah satu, jika cinta memang cukup kuat untuk hadir di antara mereka sejak awal, Mengapa begitu mudahnya cinta itu berjalan pergi?


juga Mengapa mereka dengan mudahnya membiarkan semuanya terjadi?


sebentar lagi akan diadakan pekan pertemuan orang tua dan guru di sekolahku. ini berarti guru-guru akan membicarakan perihal nilai kami, ujian pertengahan semester Yang sebentar lagi akan tiba, dan dalam kasusku, Bagaimana aktivitas klub dan pertandingan mendatang mempengaruhi performaku di kelas.


undangan resmi yang dicetak di atas kertas karton putih dengan border emas, warna khas sekolah kami, sudah tip dibagikan sejak beberapa hari yang lalu, yang berarti aku harus segera menyerahkan kepada Papa dan Mama. Kutetap sepasang amplop bertuliskan nama kedua orang tuaku, yang tergeletak di meja belajar selama berhari-hari, tak mampu menunda lebih lama lagi.


setelah berlama-lama memastikan seragamku sudah rapi, isi Tasku sudah lengkap, dan hal-hal tak penting lainnya yang pada umumnya tak terlalu kuperhatikan.


benar saja, Mama sedang duduk di salah satu kursi pantry yang terletak di depan sebuah per marmer, secangkir teh hangat digenggamnya dengan kedua tangan. samar Aroma Melati menguar, membuatku teringat pada masa kecil saat aku dan mama berpura-pura mengatakan pesta ala kerajaan di kamar bermain.


kami berdua duduk di atas kursi plastik dan saling menuangkan minuman yaitu Teh Poci kayaknya dua sahabat yang tak terpisahkan, aku sang gadis kecilnya, dan mama orang favoritku di seluruh dunia.


Namun, Mama yang kini berada di sini bukanlah wanita yang seperti dulu lagi, rambutnya yang panjang Diikat Di belakang kepala, membentuk rapih yang diwajibkan oleh bank tempatnya bekerja seragamnya tanpa celah dan sepatu hak tinggi membuatnya kelihatan tangguh.


tak lupa wajahnya di pulau seriasan, diakhiri dengan sentuhan lipstik warna merah muda yang membuat Mama terlihat sangat cantik. selalu demikian, namun, ketika aku tatap matanya dan berharap dapat menemukan pantulan diriku tercermin di sana, aku tahu sesungguhnya Mama tak lagi melihatku.


saat melihat Mama yang sudah terlalu banyak berubah, aku merasakan begitu banyak emosi tumpah ruah menjadi satu, sedih, kecewa, dan marah. rasa-rasa itu tak dapat kujelaskan satu persatu, hanya menggerobati dari dalam dan pelan-pelan memutar menjadi sebuah kekosongan. Hampa, rumah ini telah hampa sejak dulu, hanya saja kami semua berpura-pura tidak merasakannya.

__ADS_1


''mah''


Mama tak menyadari bahwa sedari tadi aku berdiri di belakangnya, menatap punggungnya yang membungkuk, perlawanan dengan imaji wanita karir sukses yang bisa ditampilkannya kepada dunia.


ekspresi sedih yang kadang Kutangkap saat dia lengah lenyap seketika, tergantikan oleh raut defensif yang membuatnya terasa selangkah lebih jauh dari tempat aku berada.


''tina'' suaranya pelan, lalu mama ber dehem sekali. '' ada apa?''


ragu-ragu, kuserahkan undangan miliknya.'' ini ada undangan dari sekolahku, tepat pada hari Minggu.''


Mama mengerutkan hidung. ''lagi? Pukul berapa?''


sepertinya Mama lupa bahwa kali terakhir dia menghadiri rapat sekolah adalah saat pengambilan Raportku 2 tahun yang lalu, tahun lalu Mama dinas keluar kota, dan aku membawa pulang Raportku sendiri.


'' pukul 01.00 siang, datang ya, ma. Bu Nana bilang ada banyak yang mau disampaikan.''


raut cemas itu kembali hadir. '' tentang apa? nilai kamu nggak merosot lagi, kan?''


tahun lalu, nilaiku sempat turun karena terlalu sibuk dengan urusan klub. pelatih memastikan hal itu tidak terjadi lagi atau aku keluar dari tim, dan sejak itu aku tak pernah berhenti memperbaiki nilaiku supaya tetap berada di atas rata-rata.


aku memang tidak pandai dalam belajar, terutama matematika, itu bagian Arga. tetapi aku selalu berusaha, Andai Mama melihat itu.


- bersambung -

__ADS_1


__ADS_2