Akan Tiba Saatnya

Akan Tiba Saatnya
BAB 7 pertandingan antar sekolah


__ADS_3

aku berdiri di balok Star, kedua tangan Terentang di udara sebelum aku lemaskan di sisi-sisi tubuh. arena tepi kolam ramai oleh pengunjung, kebanyakan para orang tua murid. aku dapat melihat tante Feline dan juga Om Jonathan di antara mereka, dan berusaha tak merasa terlalu kecewa saat tak menemukan Papa dan Mama.


di sebelah kiriku, ada Rita, Murid SMA harapan yang bertubuh tinggi besar, selama ini menjadi lawan terkuatku. aku mengenalnya sejak SMP, sejak nama kami terdaftar pada grup pelatihan renang di pusat kebugaran yang sama, tempat kami berlatih intensif selama libur akhir semester.


Rita adalah salah satu unggulan untuk mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade mendatang. selain telah berlatih sejak usia amat dini, kelebihan rita adalah staminanya yang prima.


oleh karena itulah, dia selalu ditempatkan di lintasan Tengah, yang diperuntukkan bagi perenang-perenang tercepat. berada di sampingnya, membuatku lebih terpacu untuk menang.


kufokuskan pandangan lurus ke depan, berusaha melupakan Arga, melupakan Rita, melupakan pelatih, dan hiruk pikuk di sekelilingku. hanya ada diriku dan detak jantungku yang berdebar kencang.


dor!


letusan pistol terdengar, diamplifikasi oleh pengeras suara yang terpasang di arena. aku melompat dari balok, tubuhku terasa ringan di udara sebelum mendarat ke air. hanya samar-samar kurasakan sejuknya air melingkupi seluruh tubuhku sebelum aku melesat.


kedua pasang tangan dan kakiku bergerak harmonis, mengikuti ritme yang terasa sangat alami bagiku. Inilah duniaku. di sinilah aku seharusnya berada.


aku tiba di ujung kolam dalam hitungan detik. bagiku menyentuh dinding kolam, serta merta aku terbalik dan kembali meluncur ke sisi sebaliknya. tak ada sedetikpun yang harus disia-siakan. setiap tarikan dan buangan nafas terkoordinasi dengan ayunan tangan.


tak sekalipun aku membiarkan fokusku kabur. barulah setelah cari-cari ku merasakan papan sentuh pengukur waktu otomatis yang menandai garis akhir, aku muncul ke permukaan lalu menarik nafas dalam-dalam.


telingaku kembali menangkap suara bising dunia, dan tersenyum lebar kalah salah satunya merupakan seruan penuh semangat milik Arga.


1 menit 6 detik. tidak buruk, dan aku masih punya cukup waktu untuk mengalahkan rekor pribadiku sendiri hingga mencapai waktu kurang dari semenit. di sampingku, Rita mencatat 1 menit 5 detik. rasa kecewa dengan cepat merayap, tetapi kutepiskan jauh-jauh. semua ini belum berakhir perjalananku masih panjang.


sebelum menyingkir dari kolam renang, Rita menyentuh lenganku sambil tersenyum dengan raut bersahabat.

__ADS_1


'' pertandingan yang ketat. Sampai ketemu di kejuaraan renang nasional,'' ucapnya.


aku menganggapnya sebagai tantangan sekaligus pujian.


'' Sampai ketemu di kejuaraan renang nasional,'' janjiku.


ketika beranjak meninggalkan kolam, aku merasakan Sepasang Mata turut menyertai langkahku, seolah sudah mengamatiku sejak tadi. Aku menoleh, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari pemiliknya.


di sana, untuk kali pertama, aku melihatnya.


pemuda itu duduk di baris belakang kursi penonton. posturnya tegak, ekspresinya datar dan sulit dibaca. dia mengenakan kemeja putih yang kontras dengan warna kulit yang sawo matang. rambutnya ikal, sedikit lebih panjang dari seharusnya, tiket terendah di bawah tengkuk.


dari tempatku berdiri, aku tak dapat melihat dengan jelas fitur-fitur wajahnya, tetapi satu hal yang dapat kupastikan, dia tampan dengan cara yang sulit ku jelaskan. Namun, yang paling menonjol adalah sorot matanya yang intens, seolah sedang mengamati mangsa, seolah aku lebih dari sekedar seorang yang tertangkap oleh pandangannya. gerak-geriknya mengingatkanku akan seekor elang.


ketika pandangan kami bertemu, dia tak segera mengalihkannya seperti seharusnya seseorang terpergok Tengah mengamati orang lain. dia malah terus menatap, tak sekalipun tersenyum atau mengubah ekspresi.


apa-apaan.. ?


meskipun bingung, aku tak dapat menghiraukan perasaan aneh itu, bahwa untuk sekian detik, aku merasa seolah arena kolam berubah senyap, dan bising yang ada memutar menjadi keheningan total. seolah Hanya Aku Dan Dia yang berada di sana.


seakan hanya dia yang dapat kulihat, begitu pula dengan dia. Padahal, Baru kali ini aku melihatnya.


rasa penasaran mengalahkan gengsiku sehingga aku pun beranjak keluar. Namun, saat aku kembali ke arena, dia sudah tak lagi berada di sana.


Kami menabrakkan gelas-gelas plastik berisi soda dingin, lalu menyantap pizza layaknya manusia kelaparan, seluruh anggota klub renang, minus pelatih Andri yang harus menghadiri rapat guru, hadir disiktis hari ini.

__ADS_1


sixtis adalah sebuah restoran cepat saji bergaya dinner ala Amerika era 60han, dengan sofa-sofa merah empuk dan lantai keramik bermotif wajik, kami menemukannya secara tak sengaja, lebih tepatnya, aku dan Arga lah yang kali pertama menemukan tempat ini. waktu itu, Kami sedang berkendara malam-malam, dan tak sengaja melihat papan nama LED bermodel antik yang bersinar terang benderang dengan tulisan sixtis.


ketika membuka jendela mobil di area parkirnya, yang tercium adalah aroma panekuk yang menggiurkan, maka kami pun masuk ke sana.


Sejak malam itu, sixtis resmi di daulat menjadi tempat hangout kami semua, terutama setelah hari pertandingan seperti sekarang.


'' 1 detik, Tina.'' di sebelahku, Vella teman Club kami, mengunyah pizza sembari bicara.'' Rita memang nggak terkalahkan.''


aku mengkumam tak jelas, hanya separuh mendengarkan. kepalaku masih penuh dengan imajinasi laki-laki yang tadi menghuni baris terakhir kursi penonton. ada sesuatu tentang sorot matanya yang seperti magnet, menarik siapa pun ke dalam gravitasinya.


'' it's oke, kita masih ada waktu sebelum pertandingan final dan nama-nama yang lolos seleksi ditentukan.'' harga menyempirkan lengan di pundakku, lalu meremasnya pelan.'' lagi pula, lo kelihatan lebih imut dalam pakaian renang daripada Rita.''


aku menepuk tangannya Sambil tertawa.'' lebay, by the way, selamat, lurus menjadi perenang tercepat di SMA Pelita.'' dengan 54 detik, harga pantes mendapatkan gelar itu walaupun aku masih sungkan mengaku anak laki-laki yang dulu selalu berenang jauh di belakangku kini sudah mampu mengalahkanku.


'' masih belum sehebat kak Eli.'' ujarku merendah, tetapi aku tahu dia benar. senior kami, kak Eli Gustia, adalah Prodi Club renang sekaligus favorit pelatih Andri, sebelum terdiagnosis kanker otak 2 tahun lalu dan terpaksa keluar dari club.


setelah perawatannya Usai, kak Eli masih sesekali mengunjungi kami, tetapi tak sekalipun bergabung lagi dalam latihan.


''you'll get there. '' aku berkata walau tahu makna tersirat dibalik kalimat Arga barusan lebih sekedar perihal hitungan waktu.


kak Eli pernah memiliki segala yang Arga inginkan status sebagai perenang paling hebat dalam sejarah SMA Pelita, cukup hebat untuk menjadi kandidat kuat sebagai perwakilan Indonesia di Olimpiade.


dan satu lagi, kak Eli punya Kak Nov, sampai mereka putus tak lama setelah Kak Eli terdiagnosis sakit.


Arga hanya tersenyum kecil, lalu menghabiskan sisa makanan di loyang, percakapan barusan berlalu begitu saja.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2