Akan Tiba Saatnya

Akan Tiba Saatnya
BAB 5 makna kecil


__ADS_3

kutelan rasa pahit yang muncul di kerongkongan ku.'' bukan,ma. mungkin Mau ngomongin persiapan ujian pertengahan semester, sama pembagian jurusan untuk kelas 3 nanti, Tina jadi senior kelas 3 SMA.''


ekspresi khawatir di wajah mama memudar, tetapi tak sepenuhnya.''oh. kalau begitu, papa bisa mewakili,kan?''


Ah. tentu saja, selalu papa. Papa yang datang Sewaktu aku terluka saat latihan, apa yang menemui Wali kelasku, Papa yang menjadi jawaban untuk setiap pertanyaan yang tak ku mengerti. Papa yang membelikan pembalut saat aku menstruasi kali pertama, Papa juga yang dengan canggung pengantarku ke mall untuk membeli pakaian dalam baru semasa anak gadisnya puber.


Papa yang ku kirimkan pesan saat aku tak punya jemputan untuk pulang ke rumah, atau memiliki keperluan penuh urgensi di sekolah. Papa,nPapa Dan Papa.


Sementara, mama baru kembali ke rumah setelah makan malam pendingin dan akhirnya tak tersantap. Mama memiliki tatapan kosong di matanya setiap kali ku ajak bicara. Mama menyibukkan diri dengan segalanya, kecuali aku.


Mama selalu berasumsi tempat kosong itu akan diisi oleh Bapak, tempat itu tetap tak berpenghuni, menunggu sampai ia kembali.


'' Mama harus antar Nadiia terapi, Tina. kamu tahu itu.'' Iya Mencoba menjelaskan.


Ya, aku tahu. aku tahu Nadia tidak bisa dibiarkan menunggu sendirian. aku tahu adikku adalah prioritas Mama yang utama. aku tahu, tapi ingin tetap mencoba.


kemarin Mama menyentuh ujung pipiku, hanya sejenak sebelum ditariknya kembali. Tangannya dingin. Suaranya melembut ketika bertanya,'' kamu mengerti kan, Tina?''


aku hanya mengangguk.'' nanti Tina tanya papa.''


'' kasih Wali kelasmu nomor ponsel mama. Kalau ada apa-apa yang penting, bisa telepon mama.''


mama diam, kembali sibuk dengan cangkirnya yang kini berisi teh dingin. sebelum pergi, Aku ingin memastikan satu hal.


''ma, minggu ini juga ada pertandingan. kalau sempat, datang ya.''


tatapan kosong itu tak menghilang.'' pertandingan apa?''

__ADS_1


aku tersenyum Getir.'' enggak, bukan apa-apa.''


Terkadang, hal kecil seperti fakta bahwa Mama melupakan satu-satunya topik yang kubicarakan selama 2 minggu terakhir justru menjadi sesuatu yang paling menyakitkan.


kontras dengan rumahku, kondisi di rumah harga sama sekali tidak bisa disebut sepi. dengan dengungan kipas angin ratu dengan bunyi peralatan masak, suara televisi dan radio bersahut-sahutan Dalam volume keras, gonggongan anjing dan bunyi permainan komputer saling mengiringi.


dan di tengah-tengah kebisingan itu, hiduplah Arga, tante Velin dan Om Jonathan. orang tua Arga lebih berumur dibandingkan orang tua teman-teman supaya kami.


mereka menikah pada usia yang cukup lanjut, dan berusaha hampir satu dekade sampai akhirnya dikaruniai anak. dari apa yang kudengar, itupun bukan usaha yang mudah, melibatkan puluhan kunjungan ke dokter, obat-obatan, berbagai tes, dan proses persalinan yang menyakitkan.


hampir saja Arga kehilangan ibunya saat ia lahir. Mungkin, itulah yang malah menguatkan mereka bertiga sebagai keluarga. Sebagai wisata satu-satunya anak, wajar jika Arka menjadi anak emas dalam keluarganya.


Namun, hal sebaliknya pun berlaku harga sungguh protektif terhadap orang tuanya. pernah sekali teman kelas kami mengejek mereka dengan sebutan Kakek dan nenek, dan petangnya, harga berakhir di ruang guru dengan tangan berdarah dan Gigi lawannya yang patah.


tante Velin dan juga Om Jonathan adalah jenis pasangan yang masih berpegangan tangan saat menyeberangi jalan, masih saling menyuapi dan memotong kan makanan untuk satu sama lain.


Mereka adalah pasangan yang selalu diam-diam bertukar senyuman, seolah berbagi rahasia antara mereka. sorot mata mereka melembut saat menatap satu sama lain, kayaknya dua remaja Kasmaran yang baru berpacaran kemarin.


mereka membuat orang lain ingin percaya pada cinta yang bertahan selamanya, bahkan untuk seseorang yang skeptis seperti aku.


''hai, Tina!'' Om Jonathan sedang membaca koran sore di ruang keluarga ketika aku masuk. ada semangkuk kacang yang telah dikupas di sampingnya. '' sini, bergabung, tin.''


Aku duduk di sampingnya, mengambil beberapa butir kacang, lalu mengunyah pelan-pelan. enak.''arga, om?''


Om Jonathan menggerakan dagu ke arah tangga.'' biasa, game, seperti nggak ada hari esok. begitu ya, kebiasaan anak zaman sekarang?'' ujarnya.


Aku Tersenyum.'' ya, kebanyakan''

__ADS_1


'' di zaman Om dulu, nggak ada yang namanya video game. sepulang sekolah, kami bekerja untuk menafkahi keluarga dan cari uang buat biaya kuliah.'' Om Jonathan mengatakannya tanpa nada menggurui, dan aku sudah sering mendengar cerita tentang masa mudanya.


'' tapi, dia masih sempat mampir ke toko tempat tante bekerja dan menggoda tante setiap sore.'' tante Velin tiba-tiba datang, membawa 4 gelas jus jeruk dingin, lalu menyerahkan satu kepadaku.


'' jadi, Tina jangan percaya semua yang Om bilang.'' ujarnya kepadaku.


aku menyengir.'' siap, tante.'' sahutku kepada tante Feline.


''duh, buka rahasia perusahaan saja, nih..'' Om Jonathan pura-pura cemberut.'' ngomong-ngomong, minggu depan POMG, ya? mamamu bisa datang?''


aku tertegun sejenak, tidak yakin Bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut,'' sepertinya nggak, om.'' akhirnya aku menjawabnya.'' Mama sibuk dengan terapi Nadia karena bulan ini dokter ini coba tahap yang lebih lanjut,'' tambahku lagi.


setelah menguasai kemampuan dasar seperti berdiri dan berjalan sambil berpegangan pada rel, serta bermain dengan bola dan menyuap dirinya sendiri, nadia dianggap sudah siap untuk jenis aktivitas yang baru.


''oh, bagus sekali, '' komentar tante Felin. ''tapi, apakabarmu,cris? bagaimana nilai-nilaimu yang mau di sekolah? pelajaran matematika masih susah, enggak? atau nanti mau Tante temani saat bertemu Bu susi?''


kata-kata Sederhana itu membuatku tersenyum untuk sesaat. Aku berusaha menetralkan ekspresi sebelum menjawab,'' lumayan, tante. Kelas medial banyak membantu, sih. kalau masalah p o m g, Mungkin Nanti papa yang datang.'' itu tak sepenuhnya bohong. tadi sore, aku sudah mengirimkan pesan ke ponsel Papa meski belum dibalas sampai sekarang.


'' Kalau ada perlu, jangan sungkan, ya.'' Om Jonathan mengoper sisa kacang kepadaku, lalu mengusirku pelan-pelan.'' Ya sudah Tolong bantu Om alihkan anak gila teknologi itu dari komputernya karena dia butuh sinar matahari sore.''


aku tertawa kecil, rasa sedih sekaligus haru yang sempat merayap seketika sirna,'' oke, bos.''


di kamarnya, harga sedang asyik dengan permainan baru yang ditemukannya bulan lalu, hasil dari pembicaraan dengan Rifki, teman satu klub kami. permainan itu membutuhkan peserta untuk membentuk tim, lalu menyusun strategi untuk menang.


hanya saja ada satu pengecualian dalam tim itu, tak semua anggota dapat dipercaya.


itulah yang seru dari game ini, Tina, itu kata Arga waktu aku mulai mengeluh karena dia mengurangi waktu hangout kami demi bermain game nya.

__ADS_1


ini kayak latihan hidup, nggak Semua orang bisa lo percaya, pakan yang kelihatannya baik ataupun punya motif bagus sekalipun, semua orang yang punya agenda tersembunyi, dan seseorang yang lu pikir kenal dekat bisa jadi seseorang yang ternyata sama sekali asing.


- bersambung -


__ADS_2