
"Hai, Game Boy.'' aku melingkarkan tangan di sekeliling pundaknya, menyaksikan memperhatikan daya tanpa berkedip sebelum melayangkan tembakan pada teman seregunya sendiri.
tulisan you win dalam warna merah terang menyala di layar, lalu Arga melayangkan kepala tangan ke udara untuk merayakan kemenangan virtualnya.
'' udah lama gue curiga sama si top ini,'' pamernya bangga.
'' Gue memang nggak pernah salah, insting gue itu, lho, level CIA.''
''cih.'' aku meledek, tetapi tanpa rasa gusar.'' kalau lo alihkan sedikit aja perhatian dari permainan itu, lo akan ingat kalau berhutang dua loyang pizza sama gue, satu sesi latihan, dan satu sesi belajar matematika bareng.''
'' Sejak kapan lo semangat belajar matematika?'' tanyanya heran.
'' sejak pelatih bilang siapapun yang dapat nilai di bawah rata-rata nggak bisa ikutan pertandingan, dan nilai merah berarti keluar.''
aku membuat gesture menyayat leher dengan tangan.
'' Aku butuh nilai 7 Buat ujian selanjutnya, atau terancam di depak dari Club. Memangnya, lu mau Sahabat Kesayangan lo ini nggak ada di Club lagi? Terus, Siapa yang bakalan ngalahin lo dalam lomba 100 meter?''
'' iya, iya. Besok deh, gue bayar semua.''
'' lagian, fokus lu Seharusnya sama ujian, p o m g, dan pertandingan.''
''iyaaaaaa, bu guru Tina.''
aku melayangkan tunjukkan pelan di bahunya.
'' nyokap gue nggak bisa datang ke pomg.''
'' Nadia?' tepatnya'' atau kerjaan?''
''mungkin, memang lagi gak ada yang bisa di tinggalkan Tin, lo kan tau nyokap lo protekrif banget kalau soal Nadia.''
''gue tahu. ''ujarku lirih, bagiku dan mamah, Nadia sangat sangatlah penting.
Arga mengacak rambutku,''kita bolos POMG aja, deh, gue temenin.''
ucapanya membuatku tersenyum. ''nah gitu dongdong, akhirnya tersenyum juga walau masih sepat.''
__ADS_1
''sialan lo. ''
dia terbahak. ''serius, TinaTina. kalau lo butuh gue buat bolos POMG,gue siap.''
aku tahu dia serius dengan ucapanya.''thanks, Arga. tapi, ini bukan waktunya buat macam-macam.''
tahun lalu, aku dan Arga membolos hari pertama orientasi siswa, sehingga kami mendapat teguran keras dari sekolah, plus hukuman ekstra dari kakak kelas.
belum lagi kasus kami, melewatkan, beberapa kelas diemin sesi latihan tambahan, di kolam renang.
pelatih andre sampai pusing di buatnya. Dia menyebut kamu duk troblemaker, dan aku tau ketika mengucapkanya, ia tak sedang memberi pujian.
Dia membalas tatapanku dengan senyuman khasnyakhasnya, lalu kami turun untuk makan malam bersama orang tuanya.
suasana ramaia seperti biasa, hangat, seperti biasa.
harusnya aku bersyukur. hanya saja, berkumpul di tengah-tengah kluarga yang hangat mampu membuatmu merasakan dia hal, turut merasakan kebahagiaan ituitu, aku justru merasa sedih, karna rasa itu tidak pernah hadir di kluargamu sendiri.
Arga mengantarkanku pulang tepat sebelum pukul 09.00 malam, yang ditentukan papa.
persamaan dengan mobil Arga yang berhenti di depan pagar, terlihat mobil Papa yang sudah terparkir di garasi, kulihat lampu belakangnya yang masih menyala sesaat sebelum mesin dimatikan.
papa berbalik, menggunakan kemeja bergaris yang terlihat sedikit agak kusut, dasinya dilonggarkan, dan wajahnya yang terlihat sangat letih, ''Tin, baru pulan?'' tanyanya.
''iya, sama Arga''
dari mobilnya, harga Melambaikan tangannya sebelum ia pergi, kemudian aku teringat sesuatu yang belum kuberikan kepada papa.
Buru-buru, kuambil undangan pom dari ransel.
hendak menyerahkannya mungkin, papa akan meluangkan waktu untuk rapat dengan wali kelasku. Mungkin, papa akan menghadiri pertandinganku, walaupun hanya pertandingan kecil antar sekolah saja.
ku ingat dulu waktu papa dan mama tidak pernah absen menghadiri lomba-lomba yang kuikuti, meskipun hanya lomba-lomba konyol seperti membawa kelereng dengan sendok di mulut pada hari kemerdekaan.
atau lomba renang yang diadakan sekolah dengan medali plastik sebagai hadiahnya, mungkin, kali ini pun..
''paa''
__ADS_1
''papa capek, Tin. ada proyek yang harus segera diselesaikan di kantor, jadi seminggu kedepan, papa akan sibuk dan akan sering pulang malam. kalau ada urusan kita ngobrol lagi besok saja, ya.''
dengan itu lalu Papa menutup pintu garasi lalu beranjak masuk ketika dia berdiri di ambang pintu, barulah Ayah menyadari bahwa aku masih berdiri di tempatku tadi.
selembar undangan di balik punggung tak jadi ku serahkan.
''Tina?udah malam, ayo masuk.''
aku menarik nafas dalam-dalam sebelum mengikutinya, pada khirnya, undangan itu berahir di tempat benda itu berasal, yakni di tempat sampah.
pertandingan renang antar sekolah bermula pada hari rabu. sesuai dengan pelajaran berahir, pertandingan akan di langsungkan diantara klun renang sekilah-sekolah yang berada dalam area regional sama.
para pemenang akan bertanding lagi satu sama lain, hingga terdapat sejumlah nama yang lolos seleksi untuk mengikuti pertandingan antar provinsi, yang akan berlangsung selang beberapa bulan kemudian.
hari ini, lawan Kami adalah tim renang dari SMA Harapan, SMA Harapan terkenal sebagai salah satu sekolah yang tangguh, baik dari segi akademis maupun kegiatan ekstrakurikulernya.
selama bertahun-tahun, tim basket kami yang diketahui oleh Oliver Saputra, serta tim sepak bola dan tim renang SMA Pelita selalu adu kebolehan dengan mereka.
harapanku sederhana memang dalam pertandingan kategori 100 meter gaya bebas Putri. setelahnya masih ada pertandingan antar provinsi, sebelum masuk ke ajang nasional lalu pemilihan menuju Olimpiade.
lupakan rave party, pesta sweet seventeen besar-besaran kegiatan Osis, dan pacaran. tujuan masa SMA Aku adalah untuk fokus pada apa yang ada di depan mata yaitu renang.
aku berdiri di sudut, memastikan seluruh perlengkapanku telah siap. Rambutku yang dipotong pendek telah tersembunyi dalam topi renang, tak sehelai pun keluar dari tempatnya.
baju renangku nyaman dan tak terlalu ketat. kacamata renang keberuntungan yang sudah bertahun-tahun kupakai bertengger di atas kepala. tubuhku terasa bugar setelah beristirahat semalam, sarapan bernutrisi, dan adrenalin yang menggelegak. Aku Tak sabar untuk segera menceburkan diri ke dalam air.
dari tempatku berdiri, dapat kulihat anggota klub renang SMA Harapan Baru saja memasuki Arena. kolam renang Sekolah kami adalah salah satu yang terbaik, dengan ukuran Olimpiade dan fasilitas bertaraf internasional.
setiap pengunjung memiliki loker sendiri, dan dapat berlatih kapan saja dengan bermodal kartu keanggotaan. lampu-lampu khusus Di Instalasi di langit-langit yang menjulang tinggi, dan berbaris-baris bangku penonton disediakan untuk kebutuhan pertandingan.
Salah satu hal favoritku adalah berada di bawah sorotan lampu, dengan kursi penonton yang penuh dengan gegap Gempita dari letusan pistol Star, sorak sorai, dan bunyi para atlet yang ada kecepatan di dalam air.
Aku berusaha mendapatkan perhatian Arga, Tetapi dia tampak sedang sibuk mencari sesuatu atau tempatnya, seseorang. kak Nov. dagunya tertunduk kecewa saat tak menemukan sosok yang dicarinya, tetapi sesaat kemudian pandangan mata kami bertemu, lalu di wajahnya terukir seulas senyum lebar yang membuatku turut tersenyum.
Good luck, bibirnya membentuk dua silabel itu, dan aku mengangguk mantap.
you too.
__ADS_1
Jika ada satu hal yang ku yakini di dunia ini, inilah saatnya. aku sudah siap.
-bersambung-