
''eh ya, kalian lihat cowo berkemeja putih enggak, pas pertandingan tadi?'' indi, salah seorang teman dekatku di club, bertanya. ''tinggi, ganteng, dreamy... ''
'''huuuuu!'' anak-anak yang lainya sibuk melemparinya dengan kentang goreng, alih-alih tampak malu indi malah cengengesan, diantara kami semua, dia memang terkenal ekstrover dalam kamusnya, tak punya urat malu, terutama berurusan dengan kaum adam.
''yang duduk di kursi belakang?''tanpa sadar, aku keceplosan bertanya, lantas terdian karena pertanyaanku baru saja mengonfirmasi bahwa aku memperhatikanya.
untungnya, indi tak memperhatikan, malah berseru heboh.''iya, benar yang duduk belakang! dia anak sekolah mana ya, SMA harapan? perasaan gue gak pernah liat dia deh, setiap kali kita tanding.''
Arga mengangkat alis, ''siapa, Tin?'' tanya kepadaku.
aku ngengedikan bahu. '' gue baru sekali ini lihat.''
''tumben lo merhatiin cowok.'' nadanya penuh keingintahuan, sekaligus separuh bercanda.
maka, aku pun memutuskan untuk membalasnya dengan gurauan. ''maksud lo, lo satu satunya cowo yang harus gue perhatiin gitu? perhatian gue ke lo udah kadaluarsa, Arga.''
dia terkekeh, tetapi ada ketertarikan dalam ekspresinya yang membuatku yakin dia tak sepenuhnya menanggapi candaan ku.
kami terlalu sering mengenal untuk bicara dalam kode. hanya saja, aku tak ingin dia tahu bagaimana jantungku berdegup kencang saat menatap laki-laki bermata elang itu.
bagaimana duniaku seolah jungkir balik hanya lewat satu tatapan yang mungkin sebenarnya tak berarti apa-apa. bagaimana wajahku menghanyat hanya saat mengingatnya.
aku tak dapat memberi tahu Arga karna aku sendiri belum tau alasanya.
dia di depan gerbanggerbang sekolah pada Jumat sore, selepas Salah satu sesi pertandingan renang berakhir.
aku berhenti tiba-tiba, membuat arga yang sedang berjalan di belakangku samping memainkan game di ponsel nya, terjungkal, lalu mengumpat pelan.
lagi-lagi pandangan matanya hanya tertuju kepadaku. hari ini, Dia memakai kaos putih di balik kemeja hijau lumut polos, jeansnya yang belel sedikit kebesaran. rambutnya masih diikat asal di belakang tengkuk, dan kedua tangannya terselip dalam satu celana, membuat font puasanya terlihat rileks sekaligus intimidatif, setidaknya untukkuuntukku.
harga mengikuti arah tatapanku, bingung lagi nulis ini lho diem.''lo kenal?'' tanya aku menggeleng, tetapi firasatku mengatakan sebaliknya. ada sesuatu yang asing sekaligus familiar tentang dirinya. Ah, laki-laki perasaan aneh ini.
Berfikir, Tina. tak biasanya Kau mematung Begini di depan cowok, setampan apapun dia. Biasanya, aku lebih sering dianggap one of the boys, teman perempuan yang berpenampilan dan bertindak seperti mereka.
Kurasa, Aku tak akan pernah memahami mengapa para perempuan kebanyakan senang membicarakan make up, pacaran, dan bergosip. Aku punya lebih banyak kawan laki-laki ketimbang perempuan, dan tak keberatan mendengarkan mereka bersandiwara sembarangan atau membicarakan perihal game berjam-jam.
kaum pria lebih rasional, mudah dipahami, dan Asik diajak ngobrol sehingga aku lebih nyaman berada di tengah mereka. Sepertinya kali ini peraturan kecil itu tidak berlaku.
''hai.'' selagi aku sibuk dengan lamunanku sendiri, dia sudah mendekat, lalu berdiri di hadapanku.
__ADS_1
''h.... Hai.'' bodoh, bodoh. kenapa harus tergagap-gagap di depanya, sih?
dia lebih tinggi dari Yang kukira, bahkan menjulang melampaui Arga yang selama 3 tahun terakhir melesat dari tinggi badan yang dulu kerap diejek kerdil menjadi seperti tiang basket.
dari jarak dekat, aku dapat melihat bahwa Bibir bawahnya lebih tipis dibanding bibir atasnya, sudut-sudutnya melengkung ke atas saat tak mengukir senyum. ada bintik-bintik halus di dagunya, menunjukkan kedewasaan yang membuat ku menilik usianya pasti lebih tua dari kami.
Alisnya tebal, membingkai sepasang mata yang hitam pekat, sama seperti warna rambutnya. segala sesuatu tentang dirinya intens, misterius, dan mengagumkan.
dia mengeluarkan tangan, menjabat milikku yang mendadak berkeringat pada saat tak tepat.
Dion. namanya Dion.
'' Tina.''
dia memiringkan kepala.'' Tina Toon?'' tanyanya.
kali ini, aku berhasil mengupayakan senyum kecil.'' Hanya Tina''
'' oke.''
tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri, dapat kurasakan Arga memperhatikan pertukaran kata diantara kami dengan bingung sekaligus penasaran. aku tahu ada banyak pertanyaan di ujung lidahnya, tetapi aku bersyukur ketika sejenak kemudian, dia menyentuh punggungku ringan sambil berkata,'' Gue tunggu di mobil.'' aku tak ingat telah menjawab atau mengangguk.
lagi-lagi, aku menggeleng.'' teman.''
'' gue menikmati pertandingan kemarin.''
di luar kebiasaan, pipiku merona malu. kepercayaan diri yang biasanya kurasakan menguap entah ke mana.
''Rita selalu membicarakan hal-hal baik tentang lo. Kata-katanya, lo lawan tangguhnya.''
aku mendongak, berhenti menghindari tatapannya.'' Kamu kenal Rita?'' aku merona lagi, kamu terdengar terlalu akrab. terlalu sok dekat.
'' sepupu,'' jawabnya.
ah, jadi itu alasannya hadir di sekolah kami tempo hari, dan mengapa dia memperhatikanku.
''tapi, gue ke sini bukan karena Rita. gue ke sini karena lo.''
Bagaimana caranya untuk tidak bertemu semerah kepiting rebus jika seseorang dengan mudahnya mengatakan sesuatu seperti itu? aku mengumpulkan sedikit sisa-sisa keberanian yang ada dan bergurau,'' apa kamu selalu seblak-blakan ini sama orang yang baru dikenal?''
__ADS_1
'' hanya pada orang-orang yang pantas mendapatkannya.'' jawabnya santai.
'' dan, orang yang gue suka..''
skak mat. aku Resmi Kehilangan kata-kata.
'' mau pergi ke suatu tempat.?
tanganku Berhenti memainkan resleting pada tes ketika pertanyaan itu terlontar.'' rasanya ajakan itu terlalu akrab untuk dua orang yang baru saja saling kenal.'' ucapku.
'' lagi pula, Temanku Sedang menunggu.''
bukannya tersinggung, dia justru tersenyum kecil. senyum itu tak meninggalkan wajahnya, bahkan saat keheningan yang cukup lama berlalu dan aku mulai merasa gerah dengan reaksinya.'' kenapa senyum-senyum?'' tanya kau kepadanya.
'' karena gue baru saja memahami sesuatu.''
Oke, cowok Ini bukan saja misterius dan penuh kejutan. dia juga membingungkan.
ku miringkan kepala sambil menatapnya.
'' sesuatu apa? cara bicara kamu berbelit-belit,''
'' memahami kalau lo bukan seorang yang bisa dengan mudah ngasih kepercayaan.'' dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya cepat.
'' oke. kalau begitu, gue akan datang lagi besok.''
belum sempat aku memprotes, dia sudah berlalu dari sana, tapi kemudian dia berbalik, lalu berkata.
'' sampai ketemu lagi, Tina.''
aku melongo, hanya mampu menatap sosoknya yang menjauh.
Dion.
nama itu kembali menyeruak di pikiranku. nama yang aneh, tapi rasanya cocok untuk dirinya.
keesokan harinya, dia benar-benar datang. lalu hari selanjutnya, juga seterusnya.
setiap kali dia menunggu di depan gerbang sekolah, seolah menungguku untuk keluar dan menemuinya. dia datang dan pergi sesuka hatinya. terkadang kami bicara sekadar mengobrol kan hal-hal standar seperti Cuaca dan renang.
__ADS_1
Terkadang, kami hanya saling memandang sebelum aku berpaling kepada teman-temanku dan dia berlalu dari sana. dapat kurasakan tatapan Arga yang bertanya-tanya, suka rawit bingung dan dari teman-teman kami yang lain. sedangkan bagiku, kedatangannya menimbulkan berbagai rasa yang tak dapat ku Deskripsikan.