
Dia mengangguk tanpa ragu. bosan kalau kita bikin pesta renang biasa. pasti seru deh, kalau renang di kolang susu coklat.
gak lucu, protesku. tante Felin pasti marah-marah. dia mengerikan bahu dengan cuek, sama sekali tak terganggu. berani taruhan, pesta ulang tahunku pasti lebih seru dari punyamu.
itulah yang membuatku menerima tantangannya, lalu menuruti ide konyolnya untuk menuangkan susu coklat kedalam kolam. sepanjang siang, kami mereka-reka takaran yang pas untuk takaran susu bubuk dan kemudian diaduk dalam kolam.
menciptakan kombinasi mani serta lengket yang dijamin pasti akan menjadi pembicaraan setiap orang di kelas. benar saja, begitu pesta dimulai teman-teman sekelas kami pun mengabaikan serangkaian makanan yang disediakan dan bergegas menuju kolam dalam pakaian renang terbaik mereka, Tak sabar ingin mencobanya.
singkat kata, pesta ulang tahun harga yang ke-9 adalah sebuah bencana. bayangkan ini, kebun yang basah dengan bercak susu di mana-mana, rumput yang lengket, gerombolan semut yang betah menetap berhari-hari, dan kolam bebek karet yang berakhir di tempat sampah. belum lagi hukuman untuk tetap di rumah selama 2 minggu pagi Arga dan aku. asisten konspirator.
sejenak hari itu, merk susu coklat favorit fotonya Kak menjadi nama panggilan sahabatku. selama bertahun-tahun, tak ada yang merupakan insiden Kolam Susu coklat itu. aku yakin tebakanku benar jika bilang harga sebenarnya diam-diam bangga pada keberhasilannya, dan musik kita pernah mengakuinya, aku kalah telak dalam kompetisi tersebut.
''pernah kepikiran nggak apa yang pengen kamu lakukan selama masih SMA?'' tanyanya kepadaku.
Aku menyerahkan kaleng soda dingin yang hampir habis, membiarkan dia menyesat sedikit isinya sebelum mengembalikannya kepadaku.
'' Aku cuma pengen lulus dan cepat dewasa.'' kuliah pekerja paruh waktu, lulus universitas, mencari pekerjaan tetap, lalu membawa Tina untuk tinggal bersama aku, keluarga dari rumah itu. Buatku itu mimpi yang realistis.
'' Memangnya kamu nggak ingin menikmati masa muda?'' walaupun tahu jelas alasan di balik wajahku, harga tetap mempertanyakannya, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali merasa aku terlalu terburu-buru ingin melewati masa sekarang.
''pergi ke rave party, bikin Band Sendiri, gabung sama OSIS, pacaran.'' paginya masa muda adalah serangkaian penuh petualangan yang perlu dijalani sebelum kedewasaan tiba.
aku mudengus. '' kamu tahu aku nggak suka musik Tekno, nggak bisa main musik, dan terlalu sibuk latihan Club buat komitmen sama OSIS, semntara untuk yang terahir no coment."
''jatuh cinta gak selamanya jadi sesuatu yang buruk, Tin. ''
''memangnya, kamu lupa sama orang tua aku?''
Arga menggeleng. ''justru karena ingat, makanya aku bilang. enggak semua hubungan berakhir sama. aku gak mau kamu menutup diri hanya karena hubungan orang tuamu yang kurang harmonis.''
''kamu ngomong begini karena ada senior yang minta nomor ponsel aku, kan?'' godaku, ingin topik pembicaraan ini cepat selesai.
''iya. dia nggak berhenti neror aku sampai dapet nomor ponsel kamu, tuh. boleh aku kasih, enggak?''
''dia bukan tipeku'' elakku.
__ADS_1
''memangnya, kamu punya tipe?''Arga meleletkan lidahnya, lalu buru-buru menghindar sebelum aku memukul lenganya.
jatuh cinta.
bagiku, hal itu hanya angan semata. konsep cinta yang terlalu rumit di pahami, apalagi untuk dinavigasi.
apakah cinta sejati benar-benar ada? jika ada, bagaimana rasanya? apakah dengan jatuh cinta dua orang akan percaya bahwa bahagia selama-lamanya itu ada?
Dulu , kedua orang tuaku saling mencintai, tergila-gila antara satu sama lain.
aku melihat itu lewat foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding.
mama dan balutan gaun pengantin bermodel klasik yang roknya mengembang lebar bapa dalam jas hitamnya yang rapi. keduanya saling memandang dengan sorot mata lembut yang hanya dapat ku Artikan sebagai cinta.
aku mendapatkan bukti lewat lagu-lagu manis yang diputar di rumah, kepada bapak yang mencium Bibi Mama sebelum berangkat kerja setiap pagi, pada masakan hangat yang tersaji sebelum Bapak pulang ke rumah, dan pada pelukan-pelukan yang mereka kira tak terlihat olehku.
lalu, tiba suatu hari saat mereka tiba-tiba berhenti mencintai. Apakah seperti itu cara kerja sebuah hubungan, dua orang yang saling menyayangi, lalu mereka terbangun pada pagi hari dan menyadari bahwa rasa itu sudah lenyap begitu saja? Apakah cinta memilih untuk pergi, atau merekalah yang justru mengusirnya jauh-jauh? Siapa yang lebih dulu melukai, dan siapa yang persiap membalas? semua itu tak penting lagi sekarang, karena toh cinta itu sudah pergi.
''kak sin?''
hari ini, pakaian Nadia bernoda cat warna, dan ada setitik cat biru di rambutnya.
sejak kecil, Nadia kesulitan menyebut Namaku. Tin menjadi Sin , yang Kuterima dengan senang hati, karena bukan lafalnya yang penting, tetapi ekspresi wajahnya yang berseri-seri setiap kali menyebut Namaku itu.
Aku senang berfikir bahwa adikku yang menganggapku sebagai seluruh dunianya, sama seperti aku menganggapnya duniaku.
''hey, Nadia.'' aku berjongkok, lalu memeluknya, menghirup aroma khas bayi yang masih kental melekat di pakaian dan tubuhnya meski dia sudah berusia 5 tahun.
'' hari ini menyenangkan?''
dia mengangguk antusias'' bola. Gambar. Musik.'' tiga hal itu adalah favoritnya.
'' bagus. bubur dan juga yogurt?'' tawarku, yang segera disambut oleh sorakan ringan.
baru saja kami beranjak untuk menuju dapur ketika bunyi mobil papa terdengar, diikuti dengan bantingan pintu dan langkah langkah kaki yang saling berburu. Rupanya, Mama masih di rumah, belum kembali ke kantor.
__ADS_1
suara-suara penuh amarah yang terdengar dari lantai bawah semakin lama semakin kencang.
'' jadi, salahku kalau kamu merasa nggak puas di rumah? salahku kalau kamu selalu pulang malam dengan alasan lembur yang semakin lama semakin mengada-ngada?''
suaramu Mama membahana, kontras dengan milik Papa yang lebih pelan.
tetapi tak kalah sewot, hak tinggi sepatu mama yang beradu dengan lantai menciptakan bunyi yang cukup tak beraturan.
suara barang-barang di lantai mengiringi teriakan yang semakin keras. aku mengangkat karena dia ke dalam pelukanku, lalu membopongnya menuju kamar bermain.
satu-satunya tempat taman yang selalu dapat menenangkan adikku. Mengunci pintu, lalu kuputar musik dengan volume keras, tetap saja hal itu masih gagal menyamarkan keributan di sana, dalam dekapanku, Nadia mulai gemetaran.
untuk sejenak, rasa marah menguasaiku. Seharusnya, mereka tahu bahwa kami berada di atas. Seharusnya, mereka memikirkan Nadia yang tak menyukai suara kencang, apalagi konfrontasi.
''kak sin?'' iya mengulangi lirih, kali ini nadanya Banyakin. sepasang matanya memancarkan kepolosan serta rasa takut, membuatku membelai rambut kepalanya sambil menutup telinganya rapat-rapat.
Tak lama kemudian, iya mulai menangis. di bawah, kebisingan itu terus berlanjut.
entah Sejak kapan persisnya apa-apa dan mama mulai sering bertengkar. Awalnya, Hanya Ada pendapat yang lama-lama berubah menjadi tidak bersahabat.
nada tinggi yang disalah mengerti, kesalahpahaman yang berlarut-larut, sampai akhirnya menjadi argumen yang tak pernah ada habisnya.
aku ingat salah satu malam saat mereka berdua bertengkar hebat sepulang dari pesta pernikahan seorang kerabat jauh.
aku dan Nadia, waktu itu masih berusia 2 tahun, sedang bermain Lego di atas tempat tidur. Nadia tampak ketakutan dengan suara-suara keras dari bawah, dan sepanjang malam, dia memeluk urat-erat, sampai keributan itu mereda.
Setelah melepaskan pelukan Nadia yang tertidur, baru aku sadari ternyata sedari tadi aku pun meneteskan air mata.
itulah kali pertama aku dengar mereka bertengkar, dan sayangnya bukan untuk kali Yang terakhir.
seiring waktu, bahkan hal-hal kecil pun bisa memicu perdebatan sengit yang baru berakhir saat salah satu dari mereka meninggalkan ruangan.
beberapa kali kata' cerai' terucap. bahkan, keduanya tak lagi berbagi kamar yang sama. acara makan keluarga berubah menjadi arena perang dingin dengan denting sendok garpu Tanpa percakapan, dengan salah satunya perjalanan keluar belum lauk di piring dihabiskan. jika berbicara pun, bukan hal positif yang terlontar.
-bersambung-
__ADS_1