Akhir Cinta Shira

Akhir Cinta Shira
Pesta


__ADS_3

Shira duduk di meja riasnya, ia sedikit memoles pipinya dengan blush on, mengaplikasikan bibirnya dengan lipstik warna peach, ia menjepit rambutnya ke atas dan memberi hiasan jepitan bunga, tampak sederhana tapi terlihat cantik ditambah gaun putih yang ia kenakan,sempurna...


Bell pintu berbunyi....Shira bergegas memakai high heelsnya dan mengambil tas jinjing warna hitam mutiara yang sudah ia siapkan . Ia turun dari tangga pelan pelan bak putri raja. Sementara Eza ditemani bu Maya dan pak Beni duduk di shofa sedang menunggunya, Eza terperangah melihat keanggunan Shira.


Masya' Allah...sungguh seperti bidadari yang turun dari kahyangan...bisik Eza dalam hati


"Anak ibu' cantik banget..." ucap ibunya.


Shira hanya tersenyum sambil mencium tangan ayah ibunya dan berpamitan.


"Om,tante... kami pergi dulu..." Eza berpamitan pada pak Beni dan bu Maya seraya menjabat tangannya.


"Iya, hati hati ya Nak..." Mereka pun pergi meninggalkan Pak Beni dan Bu Maya.


Eza membukakan pintu mobil di samping kursi kemudi. Shira pun bergegas naik, mengucapkan terimakasih pada Eza sambil tersenyum manis. Eza langsung mengemudikan mobilnya menuju tempat dimana pesta akan berlangsung. 45 menit kemudian, mereka sampai...Eza bergegas membukakan pintu untuk Shira. Shira pun turun.


"Tunggu sebentar, jangan kemana kemana!" Eza menyuruhnya untuk menunggu lalu pergi memarkirkan mobilnya. Tak lama Eza sudah menghampiri Shira kembali.


Mereka berjalan menuju pesta, pestanya bukan diadakan di gedung seperti yang dibayangkan Shira, di sini tampak seperti lapangan yang luas dengan bunga bunga, dekorasi yang cukup indah dan mewah. Tapi menurut Shira seperti ada yang kurang, biasanya setiap ia menghadiri pesta pernikahan selalu melihat foto foto prewedding yang dipajang, tapi di sini tak ada sama sekali.


"Mas, kok gak ada foto preweddnya ya?" Shira bertanya pada Eza karena saking penasarannya.


"Gak sempat foto kali...hahaha..." Eza asal menjawab. "Ke sana yuk Ra,..." ajak Eza. Shira mengangguk dan mengikuti Eza. Eza mengajak menikmati segala macam hidangan yang ada.


Bunyi lantunan lagu yang sedari tadi terdengar berganti suara MC wanita dan laki-laki, pertanda acara segera dimulai. Eza langsung mengajak Shira mendekat panggung pelaminan dimana bisa langsung melihat mempelai bukan hanya melihat di layar yang sudah dipasang di mana-mana di area pesta. Shira hanya bisa mengekor Eza, karena di sana tak satupun orang yang ia kenal, mbak Meta dan Bira pun sama sekali tak terlihat saking banyaknya tamu undangan. Kali ini suara Pak Hendru yang terdengar, beliau hanya menyampaikan kalau mulai besok putra tunggalnya yang akan menggantikan posisinya di perusahaan.


Tiba saatnya akad nikah akan berlangsung.... Seorang laki-laki tampan memakai kemeja putih di lapisi dengan jaz warna hitam dan berdasi kupu-kupu menggandeng wanita yang bergaun putih yang terlihat sangat cantik, mereka sangat serasi...berjalan menuju kursi yang tertata rapi, dihias dengan kain putih diberi pita merah di depan panggung pelaminan dimana akad akan diselenggarakan.


Semua mata tertuju pada mempelai.


Di sana sudah duduk seorang penghulu, dua saksi, dan di tengah mempelai ada laki- laki yang tak lain ayah dari mempelai wanita


"Saudara, Ansel?" Pak penghulu memulai akad.


"Saya" jawab sang mempelai laki-laki

__ADS_1


"Saya nikah dan kawinkan engkau Ansell Putra Irawan bin Hendru Ieawan dengan Felisia Varadian binti Anggara Raharja dengan mas kawin 1 set perhiasan seberat 850 gram dan uang tunai sebesar delapan ratus juta lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai..."


"Saya terima nikah dan kaw ......."


"Hentikan....!" Tiba-tiba ada beberapa laki-laki dengan tubuh kekar memakai jaket hitam mendekati mempelai wanita." Maaf, kami terpaksa harus menghentikan acara ini, karena kami harus membawa Nona Vara ke kantor polisi..." ucap salah seorang laki laki tersebut yang tak lain adalah anggota kepolisian. "Maaf, kami harus membawa Nona Vara saat ini juga..." sambil menyerahkan surat penangkapan kepada Ansel.


"Pyaaaaar....." Tiba-tiba Vara memecahkan kotak kaca perhiasan maharnya dan mengambil pecahan kaca tersebut lalu berlari dan mencoba menawan salah satu tamu undangan. Vara menarik salah seorang gadis dan mendekatkan pecahan kaca tersebut ke leher gadis yang saat ini menjadi tawanannya. Tak ada yang berani mendekat.


"Vara sayang, kita bisa bicara baik-baik...lepaskan dia..." ucap Ansel menyuruh Vara melepaskan tawanannya. Menelan ludah, gugup melihat tawanannya mengeluarkan darah dari lehernya.


"Bawa aku pergi dari sini sel...!" Vara memohon pada Ansel. Sementara tawanannya hanya bisa menangis, berharap ia segera dilepaskan. Sementara Pak Hendru hanya diam, tertegun melihat kejadian seperti ini. Ayah Vara syok dan pingsan melihat anaknya. Suasana terasa mencekam.


Ansel mencoba bernegosiasi dengan para anggota kepolisian. Setelah sesaat bernegosiasi terlihat anggota polisi menganggukkan kepala pertanda setuju. Ansel mendekati Vara. Ia berjalan meninggalkan pesta yang telah berubah keadaan, diikuti dengan Vara yang masih menyeret tawanannya. Sementara Eza yang melihatnya menjadi bingung... dia bingung harus berbuat apa, bingung bagaimana menjelaskan kepada tante Maya dan om Beni nantinya, karena yang menjadi tawanannya adalah Shira.


Ansel melajukan mobilnya, membawa dua wanita yang duduk di belakang. Setelah jauh meninggalkan acara pesta tersebut, Vara melepaskan Shira. Shira langsung menjauh menempel pada pintu mobil menjauh dari Vara, ia merasa ketakukan, ia menutupi mukanya dengan tangannya. Ansel berhenti di sebuah toko baju, ia meminta Vara untuk menunggu sebentar. Ansel masuk dan membeli beberapa stel baju wanita lalu kembali ke mobil.


Setelah 2 jam perjalanan, sampailah di depan sebuah rumah besar, Ansel membunyikan klaksonnya, lalu ada laki-laki membukakan pintu gerbangnya, Ansel memasukkan mobilnya ke garasi.


"Aden..." Sapa laki laki itu.


"Vara, sekarang mandilah setelah itu ganti pakaianmu dengan yang baru..., Aku akan membawa gadis tadi masuk dulu, kasihan dia..." Vara hanya mengangguk.


Ansel lalu menghampiri Shira yang masih berada dalam mobil. Shira semakin ketakutan ketika Ansel membuka pintu mobil, ia langsung menyembunyikan mukanya di belakang kursi jok pojok pintu.


"Kemarilah..., kita masuk dulu...!" Shira makin ketakutan.


"Kamu akan baik-baik saja, percayalah...!" Ansel meyakinkan Shira sambil tersenyum mengulurkan tangan berharap gadis ini mau meraih tangannya dan keluar. Setelah membujuknya akhirnya Shira mau keluar, ia berjalan menggandeng lengan Ansel, ia berlindung seperti ketakukan. Ansel membiarkannya karena merasa kasihan dengannya. Ansel membawanya ke kamar tamu bawah, sampai di kamar, Shira tiba tiba langsung naik ke tempat tidur, ia langsung duduk melipat kaki dan menyembunyikan wajah di kakinya.


"Mandilah dulu, gantilah bajumu dengan yang baru, nanti aku akan kemari lagi..." Ansel langsung meninggalkan Shira bergegas kembali ke kamar Vara. Vara sudah terlihat mengganti bajunya.


"Vara,kita makan dulu yuuk...ini mang Ujang sudah membawakan makanan buat kamu...setelah makan nanti kamu bisa istirahat" Vara menggangguk. Ansel menyuapi Vara perlahan, sampai tidak tersisa makanan di piring. "Sekarang kamu tidur dulu ya...!" "Iya Mas..." jawab Vara seraya membaringkan tubuhnya. Ansel menyelimuti tubuh Vara. Ansel memutuskan untuk membicarakan masalahnya besok pagi, karena sudah larut malam, ia juga memikirkan gadis yang ada di kamar tamu bawah. Setelah melihat Vara tertidur pulas, ia kembali ke kamar Shira. Tapi Shira belum juga berpindah posisi, ia masih berada di pojok tempat tidur dan belum juga mengganti pakaiannya. Ansel naik ke tempat tidur menghampirinya dan duduk di sebelah Shira. Ia mengusap rambut Shira, ada rasa kasihan melihat gadis ini... Ansel mengambil air putih dan makanan yang sudah dari tadi disiapkan di nakas sebelah tempat tidur.


"Minumlah..." Ansel menyodorkan segelas air putih ke mulutnya Shira agar ia mau meminumnya. Shira langsung menghabiskannya. "Sekarang makan ya..." Ansel mencoba menyuapinya, tapi Shira menggelengkan kepalanya. Terlihat gadis ini masih trauma, ia ketakutan dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"Siapa nama kamu?" Shira masih saja diam. Ia menitikkan air mata. "Kamu gak perlu khawatir, kamu akan baik baik saja...,dia tak akan menyakitimu lagi...!" Ansel meraih kepala Shira dan menyandarkan di bahunya, memeluknya agar ia merasa aman. Shira hanya menurut... "Tidurlah...tak akan ada yang mengganggumu lagi, aku akan menjagamu di sini...." sambil mengusap usap rambut yang ia peluk.

__ADS_1


Beberapa saat melihat Shira tidur duduk bersandar di bahunya, Ansel ingat akan keluarga gadis ini, pasti keluarganya khawatir anak perempuannya belum juga kembali. Ia langsung mengeluarkan HP disakunya dan mengirim pesan kepada papanya.


"Pa, tolong cari tau keluarga gadis yang disandera Vara, aku yakin keluarganya sekarang pasti mengkhawatirkannya, Papa bisa melihat wajahnya di CCTV...katakan pada keluarganya bahwa ia baik baik saja, tak perlu mengkhawatirkannya, dia akan aman di sini." Beberapa saat menunggu, Ansel sudah mendapat balasan dari papanya.


"Papa sudah mengurus semua, papa sudah mengunjungi keluarga gadis itu sama Burhan dan Vahreza bawahan papa di kantor, saya mengatakan akan menjamin bahwa putrinya akan baik baik saja" Balasan pesan papanya sudah membuat sedikit lega hatinya...


Pak Hendru POV


Setelah kepergian Ansel, Vara dan Shira dari pesta, Saya langsung mencari teman yang datang bersama Shira. Tak butuh waktu lama karena Eza sendiri juga meminta bantuan saya.


"Pak Hendru, Kemana Mas Ansel akan membawa teman saya Shira...?" tanya Eza khawatir.


"Saya tidak tau kemana Ansel akan membawa mereka, tapi saya bisa pastikan teman kamu akan baik baik saja..." saya menjawab dengan yakin.


"Gimana saya menjelaskan ke orang tua Shira pak? Saya bingung...!" masih dengan wajah memelas karena khawatir.


"Sekarang kita bisa ke rumah teman kamu, saya yang akan menjelaskannya ke orang tuanya..."


"Baik Pak, terima kasih..." ucap Eza


Saya langsung mengajak Pak Burhan. Pak Burhan adalah asisten saya. Saya mengikuti mobil Vahreza menuju rumah Shira. Setelah melalui perjalanan yang lumayan macet, saya sampai di rumah Shira. Ibu Maya terlihat bingung karena putrinya tak terlihat.


"Nak Eza... di mana Shira...?" tanya Ibu maya sambil melihat lihat mencari Shira. Eza hanya diam, ia bingung harus menjawab. Ayah Shira akhirnya menghampiri kami juga. Tapi saya dengan cepat meminta maaf dan menjelaskannya.


"Maaf, Ibu' Bapak, Perkenalkan saya Hendru Irawan, saya atasan Shira di kantor, saya juga yang mengundang Shira untuk datang ke pesta...tapi "


"Kenapa dengan Shira? Dimana dia?" Tak sabar ibu Maya langsung memotong pembicaraan.


"Ibu tenang dulu, putri ibu dan bapak baik baik saja. Hanya saja, saat ini putri ibu sementara harus bersama kami, tapi saya pastikan putri ibu dan bapak baik baik saja, bapak dan ibu tidak perlu khawatir, saya bisa menjamin itu.." Saya mencoba meyakinkan mereka.


"Karena bapak adalah atasan Shira, kami mempercayakan putri kami pada bapak...!" Ayah Shira menjawab dengan yakin sambil mengusap bahu ibu Maya agar bisa mempercayai perkataan saya.


"Terima kasih, saya akan menjaga kepercayaan bapak dan ibu... Sebelum saya berpamitan bolehkah saya meminta nomer telp bapak atau ibu agar saya bisa mudah untuk menghubungi....?"


Pak Beni langsung mengambil sesobek kertas dan memberikannya kepada Pak Hendru. Pak Hendru pun meminta maaf dan berpamitan kepada mereka... Hatinya terasa lega bisa meyakinkan mereka seperti halnya dengan Eza pulang dengan hati tenang.

__ADS_1


__ADS_2