
Pagi ini matahari enggan menampakkan dirinya. Shira telah siap dengan pakaian kerjanya. Ia hanya menunggu bapaknya menyiapkan motor.
"Shira, ayo...keburu hujan nanti!"
"Iya pak..." Shira langsung membonceng bapaknya. Tak lupa ia berpamitan pada ibunya.
"Pak, nanti bapak tidak usah menunggu Shira pulang"
"Loh, kenapa nduk?"
"Shira harus lembur, karena beberapa hari Shira gak berangkat, jadi banyak pekerjaan yang harus Shira selesaikan."
"Sampai jam berapa?"
"Kurang tau pak, nanti Shira kabari"
"Jangan larut malam pulangnya...!"
"Iya pak, begitu pekerjaan Shira selesai, Shira akan langsung pulang "
Pak Beni menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang kantor tempat Shira bekerja. Shira langsung berpamitan pada bapaknya, menjabat dan mencium tangannya.
"Pak, Shira masuk dulu. Bapak hati hati ya di jalan...!"
"Ya nduk, nanti pulangnya hati hati"
Pak Beni langsung meninggalkan Shira, melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Beberapa hari Shira gak ngantor terasa udah berbulan bulan gak ngantor. Tatanan kantor telah dirubah, yang dulunya hanya biasa saja kini menjadi estetik. Sungguh luar biasa...
Sampai di ruang kerjanya baru ada mbak Meta yang sedang menikmati secangkir teh hitam.
"Pagi mbak Meta..." sapa Shira
"Pagi juga neng geulis...., Seger banget kayaknya pagi ini ..."
"Hehehe....bentar lagi juga kusem mbak... udah siap tempur ini..."
"Oya, berkas berkas kamu kemarin diambil sama Eza."
"Mas Eza sudah datang mbak?"
"Udah, ada noh di ruangannya."
"Aku ke mas Eza dulu ya mbak."
Mbak Meta hanya menunjukkan jempolnya,pertanda setuju.
Shira langsung menuju ke ruangan Eza. Nampak Eza, sedang sibuk dengan komputernya.
'Tok,tok,tok' Shira mengetuk pintu ruang Eza.
"Masuk...!"
Shira membuka pintu perlahan.
"Selamat pagi mas Eza...."
"Pagi Ra, udah masuk kerja ni?" Tampak bahagia Eza menyambut kehadiran Shira.
"Mas, aku mau ambil berkas ni. Kata mbak Meta berkas nya kemarin diambil mas Eza."
Eza mengambil beberapa berkas di mejanya dan menyerahkan kepada Shira.
__ADS_1
"Ra,"
"Kenapa mas?"
"Nanti istirahat aku traktir"
"Wah....makan enak ni..."
"Siiiip...."
"Berkasnya aku bawa ya mas"
"Ok. Nanti kalau sudah selesai serahkan ke aku lagi ya Ra!"
"Siap Bos...."
Shira berjalan kembali menuju meja kerjanya. Ia tampak bersemangat hari ini. Ia mulai bekerja, bergelut dengan beberapa laporan yang tertunda beberapa hari ini. Tak bergeser sedikitpun dari meja kerjanya, matanya tertuju pada layar komputernya, jari lentiknya seakan terus menari di atas keyboardnya. Hingga tak sadar Eza sudah berdiri di belakangnya sedari tadi.
"Sudah jam makan siang Ra" Suara Eza membuat Shira terperanjat.
"Eh,iya mas...bentar, aku beresin dulu."
Tak butuh waktu lama Shira telah siap. Ia membawa tas selempangnya lalu berjalan di samping Eza. Banyak mata tertuju pada mereka berdua. Terutama kepada Shira, yang sempat menjadi obrolan bagi seluruh karyawan kantor karena kejadian di pesta kemarin. Sampai di parkiran, mereka berdua langsung menaiki mobil Eza menuju kafetaria terdekat, yang hanya butuh 5menit dari kantor. Sampai di kafetaria, mereka duduk dan langsung disambut oleh pelayan yang menyodorkan daftar menu pada mereka.
"Hot spice steak, minumnya green diet" Tanpa pikir panjang Shira memesan makanan kesukaannya.
"Grilled steak mustard, strawberry mujito"
"Tunggu sebentar, kami akan segera menyiapkan pesanan bapak dan ibu" Pelayanan itu langsung meninggalkan mereka berdua.
"Ra,aku boleh tanya gak tentang kejadian kemarin?"
"Tanya apa mas?"
"Kemarin kamu dibawa kemana sama Pak Ansel dan istrinya itu?"
"Trus?"
"Ya, aku dianterin pulang, tapi bapak sama sekali gak terima mas, dia mukul pak Ansel,untung saja bapak marahnya cuma sebentar."
"Bapak kamu mukul Pak Ansel??Hebat...hhhhhh"
"Kok malah ketawa sih mas?"
"Gak apa apa Ra. Dah, makan dulu Ra, biar tambah berisi..."
"Oya, besok sabtu gimana kalau kita jalan Ra? Ngerefresh otak gitu..."
"Kayaknya boleh juga itu mas, biar otaknya gak cuma keisi laporan aja."
Shira hanya nyengir dan memulai makan pesanannya dan menghabiskannya.
"Huft, kenyang.......makasih ya mas sudah ditraktir."
Selesai makan mereka kembali ke kantor. Mereka kembali bergelut dengan pekerjaannya masing masing. Hari ini Shira bener bener harus lembur.
"Udah jam 4. Kamu jadi lembur Ra?"tanya mbak Meta.
"Iya mbak, masih belum kelar ini..."
"Maaf Ra, aku gak bisa nemenin kamu."
"Gak papa mbak, paling kalau gak kelar terpaksa lanjut besok."
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya Ra ..."
"Ok.mbak...TTDJ ya ...."
Kali ini Shira hanya sendiri, tanpa ia sadari jam sudah menunjukkan jam 7 malam, ia masih disibukkan dengan berkasnya. Di luar hujan deras disertai angin dan kilatan.
'Hold me now, touch me now
I don’t wanna live without you
Nothing’s gonna change my love for you
You oughta know by now
How much i love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love
Panggilan WA masuk. Tanpa pikir panjang Shira langsung terima panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...,Shira?"
"Iya pak."
"Kamu masih di kantor?"
"Masih pak, ini sebentar lagi juga kelar kok pak."
"Sebentar lagi saya ke ruangan kamu"
"Iya pak, saya tunggu, wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Akhirnya selesai juga" batin Shira. Shira lalu merapikan meja kerjanya, bersiap untuk pulang. Tapi masih ada seseorang yang harus ia tunggu. Ia menunggu sambil melihat suasana luar dari jendela, hujan belum menandakan akan berhenti, angin semakin kencang, kilatan merah mewarnai langit malam ini. Dingin mulai menusuk tulang.
"Secangkir teh mungkin cocok untuk menghangatkan badan" pikirnya. Saat ia keluar menuju pantri, 'DYAAAARRRRRRRR' tiba tiba listrik padam. Seketika semua menjadi gelap, ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya mengambil ponsel untuk penerangan , berjalan dengan meraba raba.
"AWWWW" Teriak Shira. Baru beberapa langkah dari pintu untuk masuk, ia bertabrakan dengan seseorang. Mereka sama-sama terjatuh, tepatnya Shira tertindih badan orang itu, beruntung tangan orang itu masih bisa menahan badannya agar tidak terlalu kuat menindihnya. Beberapa orang mencoba mencari asal teriakan itu menggunakan senter ponsel mereka, dan .....taraaaaaaa....listrik menyala dengan bantuan genset kantor. Beberapa orang yang mencari sumber teriakan tadi melihat kejadian itu, bak sepasang insan yang sedang memadu kekasih.
"Mbak" Panggil salah satu dari mereka. Shira langsung mendorong tubuh tegap itu agar berdiri dan tak menindihnya lagi.
"Pak Ansel..!!" Mereka kaget begitu melihat Pak Ansel. Pak Ansel lalu berdiri, sedikit melonggarkan dasinya dan merapikan kerah bajunya. Sementara Shira terlihat sangat malu di depan mereka, begitu juga dengan mereka yang melihat kejadian itu, mereka merasa tak enak dengan bosnya.
"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Ansel dengan wibawanya.
"Maaf Pak, tadi kami dengar teriakan dari sini."
"Maaf pak, kami gak tau, kami permisi dulu pak." Mereka buru buru pergi meninggalkan mereka berdua.
"Shira."
"Iya pak, saya minta maaf pak." Dengan tertunduk dan menahan rasa malu Shira meminta maaf.
"Ini ponsel kamu." Pak Ansel menyodorkan ponsel milik Shira. Pak Ansel tak ingin membahas kejadian yang baru saja mereka alami, untuk menghilangkan rasa canggung.
"Terimakasih pak, ini ponsel milik bapak."
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu pak."
__ADS_1
"Aku antar."
"Gak usah pak, terima kasih,saya biasa naik ojek pak." Sedikit berlari Shira meninggalkan Ansel.